Pasca Sarjana
Universitas Muhammadiyah Malang
Pasca Sarjana
Universitas Muhammadiyah Malang

MERETAS JEJARING KE NEGERI-NEGERI JIRAN: Catatan Perjalanan ke Manila dan Cebu, Filipina

Author : Administrator | Senin, 24 Februari 2014 10:08 WIB

MERETAS JEJARING KE NEGERI-NEGERI JIRAN: Catatan Perjalanan ke Manila dan Cebu, Filipina 

Entry Point: Melepas Sengkarut

 

Saya membayangkan perjalanan ke  Filipina  bisa dilakukan sesuai  dengan rencana. Sekitar dua bulan  sebelum keberangkatan, saya dengan empat kolega—Rinikso Kartono, Zainul Anwar, Rahayu Hartini dan Ribut Wahyu Eryanti--  yang ditugaskan oleh Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang,  Dr. Latipun, sebagai  tim yang akan ke Filipina  telah melakukan beberapa persiapan. Karena  kunjungan ke Filipina  sebagai implementasi peta jalan (roadmap) pengembangan kerja sama Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang  dengan beberapa universitas di kawasan ASEAN, maka  prioritas persiapan kami adalah memastikan universitas yang akan dikunjungi. Setelah berselencar(browsing) di dunia maya, kami memutuskan mengunjungi duuniversitas di Filipina.

Universitas pertama terdapat di Manila  yaitu  University of Santo Tomas (UST) dan University of Philippines (UP) yang terletak di Cebu, salah satu provinsi yang menjadi destinasi para  pelancong internasional. Kami kemudian melakukan korespondensi via email.

 “Dear Prof. ArifinThank  you for your message and your interest in visiting the University of Santo Tomas. We can receive your delegation on February 17 or 18 at 2:00 pm at the Office of Intenational Relations and Programs Ground Floor of the Main Building UST Campus. Please let us know your agenda and the topics and Departments you would want to visit prior to your actual visit so we can make the necessary arrangements. We also would like to know the number of people from your University visiting us. Best regards and see you at UST”,  tulis  Prof. Lilion Sison, Director Office of International Relations and Programs University of Santo Tomas  dalam email yang saya terima pada 13 Januari  2014.


Jawaban penerimaan dari Prof.Lilion  Sison menggenapi penerimaan Prof. Lorna S. Almocera, Associate  Dean for Academic Affairs, University of the Philippines Cebu yang saya terima pada 27 Desember 2013: “Dear Professor ArifinIt is an honor to welcome you to the University of the Philippines Cebu. In case you need information regarding our college and the programs we offer, feel free to email me.  We look forward to your visit to discuss collaborations between our two institutions


Respons hangat
Prof. Lilion Sison dan Prof. Lorna S. Almocera mempermudah persiapan ke tahapan berikutnya yang lebih teknis  seperti pemesanan tiket pesawat dan hotel yang dilakukan secara daring (online). Kami mematok jadwal keberangkatan ke Filipina  pada Minggu, 16 Pebruari 2014. Namun sebagaimana frasa dalam bahasa Latin, homo proponit, sed Deus disponit (manusia berencana, Tuhan yang yang menentukan), persiapan yang sudah dinilai  matang diinterupsi oleh erupsi Gunung Kelud  pada Kamis malam (13/2/2014).

Erupsi Gunung Kelud di Kediri yang berjarak 100 km lebih dengan Kota Malang, memang tidak  menimbulkan dampak serius  di Kota Malang.  Tetapi  abu vulkanik yang disemburkan oleh Gunung Kelud  ternyata mampu membuyarkan jadwal penerbangan yang menuju Bandara Udara Juanda di Surabaya selama dua hari.Padahal kami telah memesan tiket keberangkatan dari Surabaya. Tak  pelak kami yang tergabung dalam tim kunjungan ke Filipina  dilanda kekhawatiran. Apalagi dua  tim yang sudah berangkat dan dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke beberapa universitas di Vietnam, Myanmar dan Kamboja  menghadapi ketidakpastian jadwal  penerbangan dari Kualalumpur menuju Surabaya.

 

(Erupsi  Gunung Kelud,  Kediri)

 

Kami lalu mengalihkan tempat keberangkatan ke Bandara Abdurrahman Saleh di Malang  yang bisa dikatakan steril dari sebaran abu vulkanik Gunung Kelud. Pada akhirnya kami menentukan pilihan ke bandara yang dulunya bernama Pangkalan Udara Bugis itu. Perubahan pilihan ini juga berdampak pada perubahan rute  perjalanan. Pada  mulanya kami akan menempuh rute dari Surabaya-Kualalumpur-Manila-Cebu-Kualalumpur-Surabaya, lalu berubah menjadi Malang-Jakarta-Kualalumpur-Manila-Cebu-Kualalumpur-Suarabaya

 
(Dampak Erupsi  Gunung Kelud  di Bandara Juanda, Surabaya)

 

 

 
 

 

The Unthinkable about Philippines 

Dibandingkan dengan kawasan ASEAN lainnya, katakanlah Malaysia, Singapura, Thanland, dan Brunei, Filipina bisa dikatakan jarang  menjadi sasaran destinasi kalangan perguruan tinggi  di Malang,  setidaknya bagi Universitas Muhammadiyah Malang.  Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang  telah menjalin kerja sama yang baik dengan beberapa perguruan tinggi dan organisasi Islam yang terdapat di Malaysia, Singapura dan Thailand.
 
Sekedar  menyebut salah satu alasan,  antara Malang  dan Filipina  terbentang jarak geografis yang jauh dan membutuhkan waktu yang lumayan lama, sekitar  enam jam. Berarti kurang lebih sama dengan waktu tempuh penerbangan dari Surabaya ke Melbourne dan Sydney,  Australia. Jika ditambah dengan waktu yang dihabiskan untuk transit, maka lama perjalanan dari Malang-Manila memakan waktu 16 jam. Selama itulah waktu yang kami tempuh dari Malang  ke Manila.  Mengapa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang memutuskan berkunjung ke Filipina?

Pilihan   terhadap Filipina  sejalan dengan pilihan terhadap negara-negara lainnya yang terdapat di kawasan ASEAN yang merupakan sasaran perwujudan peta jalan memperluas jejaring  Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang  di kawasan ASEAN. Pada  mulanya bisa dibilang murni akademik. Tidak pernah terpikirkan bahwa antara Filipina  dan Indonesia terdapat titik singgung dalam banyak aspek.  Kami bahkan menduga Filipina  merupakan entitas lain

Pesawat Air Asia yang kami tumpangi dari Kualalumpur mendarat di Bandara Nino Aquino International Airport pada Senin (17/2/2014) jelang subuh. Selepas dari pemeriksaan imigrasi yang berlangsung sederhana dan cepat, kami segera beranjak ke tempat pemesanan taxi. Sejak dari pemesanan taxi sampai kami tiba di Hotel  Best Western yang terletak di kawasan Makati,  kami menemukan dua hal yang menarik yang salah satunya menemukan persinggungan dengan kita, tetapi  satu hal lainnya merupakan titik yang membedakan.

  K
eramahan yang diperlihatkan petugas keamanan dan sopir taxi merupakan titik persinggungan dengan masyarakat kita. Keramahan petugas keamanan dan sopir taxi serta beberapa orang  yang kami jumpai terlihat dari cara mereka menyapa kami. Ungkapan “mom” sering  kami dengar jika mereka menyapa Prof Yayuk (Rahayu Hartini) dan Bu Ribut (Ribut Wahyu Eryati) dan  “sir” jika menyapa saya, Pak Rin (Rinikso) dan Pak Zainal  (Zainal  Anwar).

       
“The Filipino people have many commont traits. Perhaps the most important trait of the Filipino is their hospitality. They welcome visitors, wether Filipinos or non-Filipino, with open arms and warn hearts, tulis Teodoro A. Agoncillo  dan Fe B. Mangahas dalam Philippine History: Expanded and Updated Edition, buku  yang saya beli di Alaya Center,  Cebu, Filipina.   Saya sengaja  membeli buku  tentang Filipina  karena terdorong di antaranya oleh dua  keunikan tersebut. Dalam  buku  ini kita dapat memahami ciri-ciri  (traits) dan nilai-nilai (values) yang melekat pada masyarakat Filipina.


Selain keramahan (hospitality), kita akan menjumpai salah satu nilai yang dapat mempertemukan Filipina dan Indonesia, yaitu  pakikisima, a sense of togethernes atau  comradeship (persahabatan). Saya semakin meyakini bukan sekedar adanya persinggungan, melainkan juga persamaan karena dalam buku tersebut terdapat ilustrasi dalam bentuk gambar yang menceritakan tentang orang-orang yang secara bersama-sama mengangkat rumah yang akan dipindah ke lokasi baru. Ilustrasi ini mengingatkan saya dengan orang-orang di Madura yang secara bergotong-royong mengangkat kerangka rumah yang juga akan menempati lokasi baru.

Kemiripan antara Indonesia dan Filipina  juga tampak pada postur alamnya. Sebagaimana di Indonesia, di Filipina terdapat banyak gunung berapi (volcanoes) yang masuk dalam kategori aktif seperti Mayon  dan Taal. Lebih kultural lagi, kemiripan bahkan persamaan kami rasakan ketika  kami tiba di Cebu.  Sejak dalam penerbangan dari Manila  ke Cebu (Rabu, 19/2/2014), kami dikejutkan dengan beberapa kosa kata dalam bahasa Visaya yang biasa digunakan oleh masyarakat Cebu yang mirip  dengan bahasa lokal kita. Salah satunya adalah inyong yang berarti kamu yang juga sering  terdengar dalam logat Banyumasan tetapi  dalam arti kita. Masih banyak kemiripan lainnya seperti kangkong (kangkung), manuk (burung), dan lima (lima). Mendengar beberapa kosa kata yang mirip  tersebut, saya berseloroh ke anggota tim agar kita melakukan kajian antropologis untuk menelisik akar kemiripan antara Filipina  dan Indonesia.


      Itu yang merupakan beberapa titik singgung bahkan persamaan. Suatu  hal yang membedakan antara masyarakat Indonesia dengan Filipin yang kami jumpai sejak mendarat di Bandara Udara Internasional Nino Aquino adalah kemampuan mereka dalam bahasa Inggris. Fenomena ini membuat kami heran, bukankah Filipina  pernah menjadi jajahan Spanyol? Seharusnya bahasa Spanyol yang lebih dikuasai oleh masyarakat Filipina  daripada bahasa Inggris. Kami layak heran karena orang-orang yang kami ajak bicara, bahkan di dalam tranportasi sekelas jeepnysetara dengan angkotterampil berbahasa Inggris. Fenomena ini juga kami jumpai di Cebu.Rasa penasaran saya terhadap fenomena kultural di Makati,  Manila  dan Cebu itu terjawab dalam buku  Philippines History. Rupanya setelah  bebas dari
 
         kolonialisme Spanyol  selama  tiga abad  lebih, sejak 1899 Filipina  di bawa pengaruh Amerika. Kedatangan bangsa Amerika inilah  yang membawa banyak terhadap tampilan budaya Filipina  termasuk dalam bertutur dalam bahasa Inggris.  Perubahan ini bermula setelah  Amerika memperkenalkan the public system yang disebut oleh Teodoro A. Agoncilla  dan Fe B. Mangahas, penulis Philippines History, sebagai  prestasi terbesar Amerika di Filipina.   
        
Nah, keterampilan orang-orang Filipina  berbahasa Inggris  terasah sejak di bangku SMA, lebih-lebih di perguruan tinggi  yang menggunakan bahasa Inggris  sebagai pengantar. Tentu  pengaruh lokalitas tak terhindarkan pada cara penuturan bahasa Inggris  orang-orang Filipina  seperti yang kami dengar dari beberapa sopir dan  petugas keamanan. Pak Rinikso bahkan dibuat terpingkal-pingkal setelah  mendengar cara pengucapan bahasa Inggris  sopir taxi yang mengantar kami ke Istana  Malacanang dan UST. Cara bertuturnya dalam bahasa Inggris mengingatkan Pak Rinekso pada salah satu etnis di Indonesia ketika  berbicara dalam bahasa Inggris.  Kata “from”, diucapkan prom.  “Far menjadi pa”.
Lucunya lagi, kata here (di sini) diucapkan begitu  saja sebagaimana tulisannya, here.One of the World's Largest Catholic Universities: UST
           Sehari sebelum melakukan kunjungan ke University of Santo Tomas (UST)— dalam situs resmi ditulis Pointifical  and Royal University of Santo Tomas:   The Catholic  University of Philippines—kami sempat menyusuri  jalan-jalan di Makati dan Manila.  Tujuan  kami sebenarnya ingin mengetahui dari jarak dekat Istana  Malacanang (Malacanang Palace) yang terletak di tepi Sungai  Pasig. Sayangnya tujuan kami hanya tercapai separuhnya. Taxi yang kami tumpangi tidak  memiliki akses yang dapat mendekatkan kami ke bagian sisi depan (fasade)  Istana  Malacanang. Kami hanya bisa menikmati bagian belakang istana yang dihuni oleh Presiden Filipina  sekarang, Benigno Aquino III. Selepas menengok sisi belakang istana  yang dibangun oleh Don Luis Rocha pada 1750 itu, kami minta  diantar ke UST yang akan kami kunjungi ke esokan  harinya, Selasa (18/2/2014).
 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

Perjalanan dari Makati  ke Manila  yang menjadi pusat pemerintahan Filipina  dan lokasi UST sebenarnya tidak  terlalu menyenangkan.  Kemacetan sering  terjadi  di beberapa ruas  jalan di Makati dan Manila.  Beberapa ruas  jalan di Makati  dan Manila  yang tidak  lebar dijejali oleh berbagai alat trasportasi pribadi dan umum seperti taxi dan dua  transportasi umum yang unik adalah jeepney  dan tricycle. Sebagaimana perjalanan menuju IstanaMalacanang, perjalanan ke UST juga

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

tidak  begitu  nyaman. Melihat  dari dalam taxi yan menerobos ketidaknyamanan dan kemacetan rupanya sempat memengaruhi penilaian kami terhadap UST, apalagi postur bangunan kampus tampak menua. “Aduh, kok ruwet seperti ini jalan menuju UST,”keluh salah seorang kawan.

 
 
 
 
 
 

 

 

 


Jeepney Tricycle

 

 
 
 
 
 
 

                                                    

 
 
 
 
 
 

 

 


 

 
 
 
 
 
 

Pada  keesokan harinya, Selasa (18/2/2014),  kami melakukan kunjungan secara resmi  ke UST. Kami datang ke UST lima belas menit  lebih cepat dari jadwal  yang sudah ditentukan oleh pihak  UST, yaitu  jam 02.00 siang. Kami memang sengaja datang lebih awal karena khawatir terjebak  kemacetan. Kami melupakan ungkapan: “Don’t judge a book by its cover, saat menilai UST dari dalam taxi apalagi dalam himpitan kemacetan. Begitu kami memasuki Gedung Thomas Aquinas Research  Complex (TARC) The Graduate School UST, kami teringat pada ungkapan yang sering  dikutip oleh Tukul  Arwana itu.  Melihat  dan menikmati UST dari dalam terasa  berbeda dengan melihat UST dari jalanan yang macet Kami disambut hangat dan ramah tiga staf admin Office for International Relations and Programs. Ketiga staf yang berparas muda dan energetik ini mengajak kami ke ruang kerja  Prof. Marilu  R. Madrunio, Direktur The Graduate School UST.  Sekitar lima belas menit  kami  ngobrol santai  di ruang kerja perempuan yang juga sebagai  guru besar penuh bidang bahasa Inggris. Lima belas menit  kemudian, seorang perempuan berusia di atas 60 tahun memasuki ruangan direktur The Graduate School.  Rupanya yan datang

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

adalah Prof. Lilion Sison, Director  Office for Internatiuonal Relations and Programs, yang berkomunikasi dengan saya via email beberapa kali.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

Tepat jam 02.00 siang kami dibawa ke  ruang pertemuan yang berada di lantai dua  gedung TARC.  Dalam ruang inilah   selanjutnya kami terlibat perbincangan yang tidak  begitu  resmi  dan akrab.  Sambil menikmati sajian minuman teh  dan kopi serta makanan ringan, kami mendengarkan paparan pengelola tiga program studi:  psikologi, hukum dan studi  pembangunan. Tiga program studi ini telah memiliki program doktor.  Selepas dari presentasi singkat tentang tiga program studi,  pada sesi berikutnya kami menikmati pemutaran video tentang UST.  Antara Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM) dengan UST terbentang perbedaan sejarah  pendirian yang begitu  jauh, bahkan dengan sejarah Muhammadiyah. UST berdiri pada 1611, sementara UMM baru  berdiri pada tiga setengah abad  kemudian, yakni 1964. Jadi terbentang jarak 351tahun. Maka wajar jika UST menyebut dalam situs resminya (

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

www.ust.edu.ph

 

 
 
 
 
 
 

): is the oldest existing university in Asia. In terms of student population, it is the largest Catholic university in the world in a single campus. Namun dibalik  perbedaan

 

 

 
 
 
 
 
 

 

 

sejarah  pendirian, saya memikirkan adanya kemungkinan substansi spiritualitas yang sama antara UMM dengan UST. Masih pada situs resmi UST, saya menemukan pernyataan misi UST sebagai  berikut:  “The University of Santo Tomas, the Pontifical and Catholic University of the Philippines, inspired by the ideals of St. Dominic de Guzman and guided by the teachings of St. Thomas Aquinas, dedicates herself to the pursuit of truth through the production, advancement, and transmission of


 

 
 
 
 
 
 

the service of the Church, the nation, and the global community. Pernyataan misi ini mengingatkan saya pada sosok Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah (1912) yang,   nama,  semangat dan ajarannya, menginspirasi pendirian dan pengelolaan UMM.

 
 
 
 
 
 

 

 

  

 

 
 
 
 
 
 

                     Foto bersama dengan pengelola The Graduates School, UST

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

          Sekitar lima jam kami berada dalam kampus UST. Selama berkunjung ke UST dalam rentang waktu yang tidak bisa dikatakan lama itu,  kami mencatat setidaknya empat hal menarik:

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

          Pertama, Program Pascasarjana--UST menyebut dengan The Graduate School-- menjadi unit yang "terpisah" dengan undergraduate (college)."Keterpisahan" ini terlihat pada manajemen, gedung dan administrasi akademik. The Graduate School UST menempati gedung yang relatif tua.Tapi fasilitas  yang dimiliki memadai. Gedung The Graduate School UST sebenarnya tidak  terlalu besar dan wah.Tetapi mereka bisa menggunakan secara efisien dan optimal sehingga semua aktivitas bisa dilakukan di gedung The Graduate School. Di sisi kanan front office, misalnya, terdapat kantin yang bersih  di mana  mahasiswa dan dosen bertemu, berdiskusi dan makan bersama (Saya membayangkan kita memiliki kantin sehingga saya tidak  perlu  menyeberang jalan di depan kampus sekedar mencari makan). Penggunaan kelas kuliah juga efisien dan optimal. Kami diantar ke beberapa kelas yang digunakan sebagai  tempat kuliah dan ujian tesis/disertasi (UST memiliki ruang khusus untuk ujian tesis dan disertasi [ujian tertutup]. Kapasitas kelas perkuliahan maksimum untuk 21 orang.  Jadi memang didesain sebagai  kelas kecil lazimnya perkulihan di pasca.  Fasilitas  di kelas sebenarnya tidak  jauh berbeda dengan yang kita miliki. Hanya saja yang membedakan adalah kepedulian pada  pengelolaan kelas yang confortable.

 
 
 
 
 
 

 

 

          Selain LCD, semua kelas terhubung dengan jaringan internet. Pemanfaatkan papan tulis juga perlu diapresiasi. Space papan tulis dibagi  dua: sebagian untuk menulis, sebagian lagi untuk tayangan LCD. Dengan demikian di kelas tidak  ada screen khusus untuk LCD.Di dalam kelas juga tidak  terdapat kabel yang tampak berantakan yang menganggu kenyamanan perkuliahan. Masih tentang kelas, di The Graduate School terdapat kelas yang dipisahkan oleh dinding yang dapat dibuka dan ditutup.

 

 
 
 
 
 
 

        
         K
edua,  di The Graduate School terdapat ruang pelayanan dan staf khusus--sekali lagi khusus-- yang melayani pendaftaran ujian tesis dan disertasi. Pendaftran ujian juga diatur dalam waktu tertentu, tidak  dilakukanh setiap  saat. Dengan cara demikian, SOP ujian bisa terpenuhi.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 


         K
etiga, selain kunjungan ke beberapa ruang, kami juga diajak  museum kampus. Di museum ini kami ditunjukkan beberapa foto,gambar dan artifak.  Saya membayangkan kampus kita memiliki museum Muhammadiyah yang dapat menyimpan dan menyajikan berbagai artifak  Islam dan Muhammadiyah.

 
 
 
 
 
 

 

 


 Museum kampus UST


 

 
 
 
 
 
 

Keempat, pada akhirnya kam ingin menyampaikan peluang kerja sama dengan The Graduate School. Prof. Yayuk telah membicarakan kemungkinan kerja sama faculty  exchange di bidang hukum. Prof. Lilin Sison bahkan berbisik ke saya bahwa dia akan merekomendasikan agar The Graduate School dapat mengundang dosen  yang ahli di bidang Syariah  Law yang bisa mengajar di UST. Direktur The Graduate School menawarkan pemuatan artikel  di Asian Journal  of English  Language Studies  (AJELS). Dan ini yang menarik, Prof. Lilian Sison yang telah saya sebut  namanya berkali-kali, di samping Profesor Kimia, dia juga adalah anggota Asian Conference of Religions  for Peace (ACRP) yang pernah menyelenggarakan konferensi di UMM pada 7-9 Juni 2013. Karena  itu, Prof. Lilion Sison kenal dan berkawan baik dengan Prof. Din Syamsuddin, Chairman ACRP. Nah, dengan Prof. Lilion Sison ini, kami membicarakan kemungkinan menyelenggarakan konferensi yang mengangkat isu interfaith dan multiculturalism dialogue. Pemikiran Prof.Lilion  Sison ini bersambut dengan gagasan Prof. Abdil Ghaffar  (nama  resmi  sebelum konversi ke Islam adalah HENRY FRANCIS B. ESPIRITU) dari The University of Philippines, Cebu.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

 

 

 Foto bersama Prof. Lilion Sison

 

 

 
 
 
 
 
 

 

Menemukan Mutiara: Taqdir Perjumpaan dengan Prof. Espiritu

 

 

 

 
 
 
 
 
 

        Pada  Rabu, 19 Pebruari, kami melanjutkan kunjungan ke University of Philippines at Cebu (UP). Penerbangan dari Manila  ke Cebu di tempuh selama  1 jam 20 menit.  Suasana kebatinan kami antara saat berkunjung ke UST dengan UP berbeda. Saat di UST, kami merasa masih  di bawah mereka. Maklum sekali karena UST berdiri pada abad  ke-17 yang telah memiliki jejaring internasional lumayan kuat. Sementara di UP, kami merasa ada di atasnya. Manakala melihat gedung UP dan menyusuri ruang-ruang dan fasilitas  yang ada di dalamnya, mengingatkan kami ke kampus PTM di kawasan Indonesia bagian timur.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 
 
 
 

 (Tampak depan kampus UP,  Cebu)

 
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

 

 

Foto bersama dengan pengajar UP, Cebu

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

            Namun demikian, di balik keterterbasan fasilitas  UP, kami menemukan mutiara. Secara kebetulan kami bertemu dengan Prof. Henry Francis B. Espirito  yang mengajar di Fakultas Ilmu Politik. Pada tahun 2000, Prof. Espirito  memutuskan menjadi seseorang muallaf setelah  beberapa tahun sebelumnya melakukan kajian tentang khazanah spiritualitas Islam di Turki dan di India.  Jadi memang pada mulanya ingin melakukan kajian Islam secara akademik, tetapi  kemudian dia tertarik dan memutuskan menjadi muallaf pada tahun 2000. Di UP dia menjadi satu-satunya dosen  yang beragama Islam. Bahkan  di keluarganya dia juga satu-satunya orang  yang beragama Islam karena isterinya tetap  bertahan sebagai  pemeluk Aglikan. Prof. Espirito  sekarang sedang mendalami kajian terhadap al Ghazali dalam kaiatannya dengan isu pluralisme dan multikulturalisme.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 

 

 

 
 
 
 
 
 
 

 

 

 

Prof. Espirito  atau  Prof. Abdil Gaffar


 

 
 
 
 
 
 

            Kami sungguh beruntung bertemu dengan Prof. Espirito  atau  Prof. Abdil Gaffar karena kami terlibat perbincangan yang serius  tentang kemungkinan kerja sama. Ada beberapa poin yang ditekankan oleh Prof. Espirito  tentang kemungkinan kerja sama, yaitu: (1) writing collaboration; (2) possibility for research; (3) faculty exchange (MoU/A) bisa dikirim via email; (4) student exchange; (5) short  term student trip; (6) publishing exchange, dan; (7) conference.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

       Tujuh poin kemungkinan kerja sama itu kami bicarakan saat diundang makan malam di sebuah restoran India.  Dari ketujuh poin tersebut, Prof. Espirito memberikan penekanan pada poin yang ketujuh (7). Itulah mengapa saya katakan, gagasan Prof. Lilion Sison nantinya bersambut dengan gagasan Prof. Espirito.  Prof. Espirito  bahkan menawarkan tema besar konferensi, yaitu:

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

        ASEAN UNIVERSITIES AND THE CHALLENGE TOWARD PLURALISM. Pada konferensi ini ada beberapa topik  yang perlu  dibicarakan, yaitu:  (1) Islamic Revival and the Challenge of Pluralism; (2) Inter-ASEAN Geographyand Boundary Dispute: It’s Chalangge to Pluralism; (3) The ICT Digital Devide:  It’s Challenge on Pluralism; (4) Inter-Religious Conflict and It’s Challenge to Pluralism; (5) Prospects in Education for Pluralism and Multiculturalism.

 
 
 
 
 
 

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 

        Saya kira gagasan Prof. Espirito  yang bersambut dengan Prof. Lilion mudah- mudahan bisa dilaksanakan pada tahun 2015. Kita sudah memiliki resource hasil kunjungan ke universitas lainnya di Vietnam, Kamboja,  Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Selain hal-hal  di atas, saya perlu  menambahkan pelajaran dari UP. Di UP ada kebijakan begini: publikasi di jurnal  internasional diberi  insentif  sebesar  Rp.

 
 
 
 
 
 

 

 

30.000.000.Hotel  (Sentral,  Kualalumpur, 22 Pebruari 2014)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image