Pasca Sarjana
Universitas Muhammadiyah Malang
Pasca Sarjana
Universitas Muhammadiyah Malang

Multikulturalisme untuk Pemerdekaan Sosial

Author : Administrator | Kamis, 12 Desember 2013 10:18 WIB
Berita UMM
 

Sabtu, 7/12/2013 Program Studi Doktoral Pascasarjana UMM menyelenggarakan kuliah umum yang bertajuk “Pendalaman Studi Multikulturalisme”. Kuliah ini menghadirkan antropolog Sandra Hamid, Ph.D. dari Jakarta. Topik utama yang diperdebatkan kali itu adalah, ternyata dari sekian banyak perspektif mengenai multikulturalisme, ada satu unsur fundamental yang sangat penting, yaitu pemerdekaan sosial.

Doktor alumnus University of Illinois, Urbana, Amerika Serikat ini menandaskan bahwa, multikulturalisme bukan sekedar gagasan yang mengafirmasi relativisme kebudayaan. Lebih jauh dari pada itu, persinggungan lintas budaya sesungguhnya berakar pada prinsip-prinsip keadilan sosial dan kemanusiaan. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia adalah hal yang utama untuk dikedepankan.

Studi yang didampingi oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin ini (Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM), hendak memperdalam perspektif yang berbeda. Karena itulah kemudian, dijelaskan hasil penelitian Anna Lowenkaupt Tsing, dalam karya monumental, “In the Realm of the Diamond Queen Marginality in an Out-of-the-Way Place” (1993). Seperti yang diceritakan Sandra, etnografi Anna berkisah tentang suku bangsa orang Dayak Meratus. Nasib kehidupan yang mereka alami sungguh menyedihkan.

Sebenarnya, mereka adalah contoh dari korban ekspansi pasar kapitalisme dunia, merebaknya kolonialisasi negara modern dan kekalahan melawan politik kebudayaan dari orang-orang terpelajar kota, yang menganggap dirinya beradab (civilised). Tidak heran bila orang Meratus, dijuluki “orang bukit”, yang sebenarnya justru sangat merendahkan mereka. Kendati sesungguhnya, mereka saat ini sedang menghadapi teror kerusakan lingkungan, ancaman disintegrasi sosial dan pengotakan sosial pada lingkungan alam mereka.

Jelas, dengan pembabatan hutan untuk ekspor kayu yang sangat berkualitas dari hutan mereka, tidak hanya menghilangkan hutan hunian, tetapi juga hunian sosial yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Mereka tersesat dan asing di rumah mereka sendiri. Saat ini, tidak tahu lagi jalan menuju sungai dan di mana mereka menemukan buah yang jatuh dari pohonnya. Menyedihkan.

Secara historis, perjalanan hidup orang Dayak Meratus memang pahit. Dari abad ke-14 hingga ke-19, kerajaan-kerajaan besar Nusantara mengklaim bahwa daerah itu adalah daerah yang tunduk di bawah kekuasaannya. Pada abad ke-19 sampai menjelang abad ke-20, Belanda benar-benar menguasainya. Tahun 1949, pegunungan meratus menjadi bagian dari Indonesia.

Dari waktu ke waktu, Meratus memang dikenal memiliki kekayaan hutan yang sangat berkualitas untuk dijual ke pasar dunia. Anna Tsing mengungkapkan bahwa, di sekitar akhir abad ke-16, sebuah pelabuhan dari Kerajaan Banjar di delta Sungai Barito, telah dibangun. Kawasan regional daerah itu, menjadi lebih penting atas dampak dari pembangunan. Kerajaan ini, memiliki aliansi dengan Kerajaan Demak dan menjadi sponsor Islamisasi.

Missionarisme Banjar yang identik dengan Islam, mencoba “memberadabkan” orang-orang Dayak yang dianggap “non-Islam”. Meskipun secara politik dan ekonomi, tidak bisa dibantah bila sebenarnya, orang-orang Dayak inilah yang berperan sangat penting bagi perkembangan kehidupan Banjar.

Mengambil hikmah dari pengalaman orang Meratus ini, menurut sudut pandang Multikulturalisme, sesungguhnya yang terpenting bukanlah mengakui bahwa mereka memiliki budaya sendiri, atau kepemilikan suatu paradigma hidup yang apa adanya. Lebih radikal lagi adalah, apakah mereka memiliki kesempatan dalam dialog berbangsa selama ini, sama seperti halnya banyak suku bangsa yang lain?

Fakta yang tidak bisa dipungkiri, meratus yang mempercayai Balian atau Kaharingan, tidak dibenarkan melakukan ritual mereka oleh negara, serta dipaksakan agar –sekali lagi- diberadabkan agar termasuk dalam bagian keagamaan Hindu-Bali. Sunggguh dengan demikian, penindasan atas keyakinan yang sangat asasi, telah menimpa orang Meratus ini. Hak asasi mereka telah dirampas oleh otoritas politik negara.

Konteks kehidupan Meratus, adalah bentuk penjajahan budaya lain di bawah hegemoni negara dan konservatisme-missionaris agama-agama besar yang berkuasa, yang mengklaim dirinya sebagai agen modernitas. Mereka tidak pernah mendapatkan perlakuan yang lebih adil. Dengan demikian, dalam proses membangsa, Meratus kebingungan untuk menyampaikan artikulasi mengenai sejarahnya sendiri. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyumbangkan warna budaya “primitif”-nya itu setara dengan jalan pikiran dan cara hidup para elite nasional, yang merasa modern dan paling paham mengenai visi kebangsaan.

Menurut Sandra, ini semua mengenai “The Making of Indonesian’s Marginalised Culture”. Representatif The Asia Foundation Indonesia ini menggaris-bawahi, sebenarnya pandangan terhadap studi multikulturalisme ini lebih bersifat post-kolonial. Para peserta kuliah yang terdiri dari para calon doktor, disarankan untuk membaca karya-karya Edward Said seperti “Orientalism” atau “Culture and Imperialism” di samping buku Anna Tsing yang diuraikannya tadi.

Meskipun demikian, banyak kritik diajukan bagi studi post-kolonialisme oleh Said. Misalnya Lisalowe menganggap bahwa, wacana perlawanan Said menciptakan kesombongan lebih jauh dari Barat. Karena itulah maka, harus dimaklumi bersama bila sesungguhnya artikulasi “pembebasan” lebih penting dari pada perbedaan. Kata kuncinya dalam kuliah ini adalah keadilan sosial dan kemanusiaan.

Sebagai penutup dari kuliah, Sandra menjelaskan bahwa, Multikulturalisme adalah jalan untuk memperjuangkan akses dan sumber-sumber kehidupan secara lebih adil, tanpa penindasan.

 

Kuliah Tamu Program Studi Doktor Oleh  Sandra Hamid, Ph.D
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image