Internalisasi Nilai Kepribadian Muhammadiyah di Sekolah Menengah Atas

Pergulatan kepentingan ideal dan kepentingan praktis saat ini masih menjadi telaah yang tidak pernah berhenti untuk diteliti sesuai kapasitas kemampuan dan waktu yang tersedia. Tak hanya terjadi pada politik serta social masyarakat saja, namun juga terjadi dibidang pendidikan. Perlunya pendidikan dalam hal nilai kepribadian saat ini menjadi salah satu tolak ukur bagi masyarakat dalam memilih sebuah Lembaga pendidikan. Adanya kebutuhan masyarakat akan dapat mendidik anaknya menjadi insan yang beragama, humanis, berkemajuan seta mampu menggapai masa depan yang baik menjadikan banyak sekolah harus mampu menyajikan pembelajaran yang lebih baik. Mengetahui akan adanya kebutuhan tersebut dimasyarakat membuat Masluhi, salah satu mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang ini membuat sebuah penelitian yang berfokus tentang seperti apa pembentukan nilai kepribadian Muhammadiyah yang ada di sekolah menengah atas (SMA) Muhammadiyah Tanjung Redep Kalimantan Timur. Dasar Pemikiran Guru PAI Yang membuat penelitian ini menarik adalah Masluhi mendapati beberapa dasar pemikiran dimana yang pertama, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Kemuhammadiyahan di SMA tersebut berpandangan bahwa eksternalisasi merupakan bentuk realitas terhadap penyimpangan perilaku yang meresahkan, serta memprihatinkan pada kondisi masyarakat dan pergaulan siswa. Penyimpangan perilaku terbentuk di mulai dari pembiasaan yang dilakukan secara berulang – ulang sehingga mewarnai watak keseharainnya. Kedua, realitas obyektifasi terhadap penyimpangan perilaku siswa, yang dilakukan secara berulang – ulang, menunjukkan adanya realitas obyektif (kondisi masyarakat) perilaku tersebut dikendalikan. Kondisi masyarakat turut memberikan pengaruh terhadap perilaku siswa, pada saat kondisi obyektif masyarakat menyertainya. Ketiga, internalisasi nilai yang dilakukan oleh Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Kemuhammadiyahan dalam merubah sekaligus membentuk kondisi obyektif yang terjadi di masyarakat ke dalam kesadaran subyektif siswa pada 10 kepribadian Muhammadiyah yang selaras, mendorong cara bertauhid yang lurus, membangun hubungan kematangan jiwa dan raga dengan Allah dan manusia. Internalisasi Kepribadian Muhammadiyah Dalam penelitiannya Masluhi mendapati beberapa temuan terkait prosesn internalisasi kepribadian Muhammadiyah dimana yang pertama melalui penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada dokumen satu sebagai adaptasi tekstual pelembagaan yang dijadikan pedoman, arah kebijakan dalam menuntun guru, siswa dan warga sekolah. Secara kontekstualnya dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, habitualisasi dan keteladanan yang dikembangkan di sekolah. Kedua, Internalisasi nilai – nilai berkeislaman yang benar, berkemajauan dan jiwa philantrophis siswa dan pelembagaan secara objektivasi menuntut adanya peran guru dalam melegitimasi 10 kepribadian Muhammadiyah pada indikator karakteristik yang berkepribadian Muhammadiyah. Sikap dan perilaku siswa disimbolkan dalam perkataan, sikap dan perbuatan dalam kesehariannya. Ketiga, internalisasi nilai yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dan Kemuhammadiyahan dilakukan pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan habitualisasi, melalui proses perencanaan yang matang. Pembentukan perilaku siswa melalui penyampaian materi, pemahaman hingga teraktualisasikan dalam kehidupan kesehariannya. Dorongan guru dan habitualisasi memudahkan internaliasasi nilai – nilai kepribadian Muhammadiyah menjadi kultural sekolah. Hal ini menegaskan bahwa internalisasi nilai – nilai kepribadian Muhammadiyah yang berbasis kultural telah mampu memberikan solusi terhadap realitas yang dihadapi siswa serta sejalan dengan sifat kepribadian Muhammadiyah yang selalu amar ma’ruf nahi munkar. Guru mempunyai tanggung jawab, profesional, ikhlas membimbing dan role model (keteladanan) dalam membangun peradaban yang berkemajuan melalui spirit sifat 10 kepribadian Muhammadiyah. Masluhi menyadari bahwa penelitian yang dilakukannya tentu jauh dari kata sempurna. Sehingga ia juga menyampaikan bahwa dengan penelitian ini ia berharap penelitiannya dapat menjadi referensi atau rujukan bermanfaat pada lembaga amal usaha Muhammadiyah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dan mampu memberikan kontribusi pemikiran dalam memberikan sumbangan pengembangan teori pendidikan secara praktis bagi kalangan lembaga pendidikan, sekolah dan instasnsi terkait.
Jaringan Relasi Kuasa Politik Identitas Berbasis Modal Simbolik

Reformasi yang digelindingkan tahun 1998 telah melahirkan dan menghadirkan produk Undang-Undang No. 22 tahun 1999, kemudian berganti menjadi Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah atau dikenal UU Otonomi Daerah. Lahirnya UU ini membuka peluang dan mendorong aspirasi daerah dengan keinginan memiliki kewenangan mengurus daerah sendiri, serta memilih pemimpin (lokal) yang disepakati lewat Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) secara langsung dan demokratis. Terbukanya atmosfir demokrasi di Indonesia melalui desentralisasi, telah memberi kesempatan kepada siapa saja untuk menaiki status sosial yang selama rezim Orde Baru tidak akan mungkin diraihnya. Melalui partai politik, impian setiap aktor politik untuk berkuasa lalu diwujudkan, bahkan diperjuangkan. Tumbangnya rezim Orde Baru yang ditandai dengan mekarnya reformasi, memulai suatu babak baru politik. Pasca pemekaran wilayah kabupaten/kota di Maluku Utara, hadir elit-elit lokal yang tampil secara mengejutkan. Kehadiran elit lokal adalah dengan memanfaatkan modal simbolik yang dimiliki untuk membangun relasi kekuasaan dengan politik identitasnya, yang di kemudian hari diikuti juga oleh lingkaran keluarga. Politik identitas yang diperlihatkan, menunjukkan bahwa kekuasaan diraih dengan penggunaan sumberdaya kekuasaan, pencitraan, dan berbagai cara, yang kerap menimbulkan resistensi di tengah masyarakat. Hanya saja, tekanan, terutama melalui etnis, institusi partai politik, dan kekuatan finansial lebih dominan menjadikan elit lokal mudah memenangkan kompetisi. Melalui alasan dan gejala yang diuraikan di atas, M. Rahmi Husen, salah satu mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat jaringan relasi kuasa politik identitas berbasis modal simbolik studi kasus pada Pemilukada tahun 2020 di Kabupaten Halmahera Selatan dan Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara sebagai topic penelitian disertasinya. Hal ini dijelaskan M. Rahmi Husen, bahwa berdasarkan pendekatan yang dilakukan memang lebih mengutamakan aspek “proses” dari pada “hasil” yang memungkinkan untuk mengedepankan perspektif emik. Karena dalam kenyataannya, proses relasi kuasa, terutama politik identitas memerlukan pendalaman yang siklis, karena tentu hampir pasti, persoalan identitas amatlah beresiko. Untuk itu guna memperoleh gambaran seutuhnya diperlukan sebuah “kasus” Pemilukada tahun 2020 di dua wilayah tersebut. Dengan kasus tersebut, perspektif dapat dikaji dan didalami untuk dapat membuka fenomena di balik kenyataan dari relasi kuasa tersebut. Lebih lanjut mahasiswa yang akrab disapa Pa Naid ini juga mengungkapkan ketika Pemilukada tiba, setiap aktor politik lokal di Maluku Utara bertumpu pada adagium memperjuangkan harkat, martabat, dan kesejahteraan marga dan etnis tertentu, dan itu harus melalui momen Pemilukada. Karenanya, dapat dipahami dalam ajang Pemilukada, makin menguatkan solidaritas marga dan etnis dalam sistem sosial kemasyarakatan terutama di Kabupaten Halmahera Selatan dan Kabupaten Kepulauan Sula. Dalam praktik politik identitas berbasis modal simbolik, M. Rahmi Husen mengkaji beberapa faktor yakni, subyektivisme dan pengalaman mental aktor dalam mempraktikkan politik identitas, urgensi harkat dan martabat etnis bagi aktor, optimalisasi modal simbolik bagi upaya pemenangan Pemilukada, aktor memanfaatkan lapangan (ranah) dan jaringan, serta konfigurasi jaringan sosial dalam pemenangan Pemilukada. Bagi Maluku Utara, politik berbasis identitas, lebih ditentukan dari terbangunnya jejaring kekuasaan melalui aktor-aktor lokal yang menguatkan relasi kuasanya pada tingkat keluarga dan etnis serta memanfaatkan kekuatan modal ekonomi, modal politik, modal budaya, dan modal simbolik. M. Rahmi Husen menjelaskan, apa yang dilakukan aktor lokal setiap Pemilukada merupakan praktik politik local, yang mencakup: Kekuasaan politik lokal ditentukan oleh fungsionalitas politik identitas yang bersinergi dengan jaringan modal simbolik. Selanjutnya, keberhasilan kekuasaan politik lokal yang memanfaatkan politik identitas dan modal simbolik tersebut, lebih didukung persetujuan rakyat atas sesuatu yang dipercayai dan diyakini yang diusung aktor untuk memperjuangkan harkat, martabat, dan kesejahteraan marga dan etnis, serta politik identitas tersebut terkonstruksi berdasarkan habitus yang berupa pengalaman mental dan subyektivisme aktor politik. Selain itu, jaringan relasi kuasa politik identitas berbasis modal simbolik terpelihara sepanjang praktik terjadi proses eksternalisasi-internalitas dan internalisasi-eksternalitas di ranah/field politik lokal. M. Rahmi Husen menjelaskan bahwa praktik politik lokal dalam sistem sosial Indonesia memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam memaknai politik identitas, di mana setiap daerah di Indonesia memandang dan mempraktikkan politik identitas sebagai sesuatu yang “absah”, yang tidak memecah belah antar warga. Dalam politik modern, lanjut M. Rahmi Husen, politik identitas justru dinilai negatif. Padahal, politik identitas di Indonesia dapat menjadi bantalan untuk menguatkan integrasi yang dapat mewarnai demokrasi. Pa Naid berharap, sepanjang praktik politik identitas itu bertujuan mulia, yakni memperjuangkan harkat, martabat, dan kesejahteraan rakyat, maka politik identitas itu dapat diterima.
Konstruksi Identitas Sekolah Islam Terpadu Dalam Wacana Poskolonial

Dikotomi lembaga pendidikan memberikan stigma negatif kepada lembaga pendidikan Islam sebagai lembaga pendidikan kelas kedua. Salah satu faktor fakta ironis ini beririsan dengan identitas lembaga pendidikan Islam yang belum disusun dan belum dipahami dengan baik, sehingga identitas yang menguat di publik, lembaga pendidikan yang bernuansa agama cenderung berfokus pada penguatan agama saja. Untuk mengambil contoh konkret, Sekolah Islam Terpadu adalah lembaga pendidikan Islam yang sangat sulit diidentifikasi identitasnya secara jelas. Sehingga banyak anggapan bahwa lembaga pendidikan ini adalah sekolah yang bercorak ekstrimis dan cenderung eksklusif. Problem tersebut membuat Ach. Nurholis Majid, mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat tema identitas dalam disertasinya. Menurutnya, tema identitas di satu sisi dapat memantik konflik, sebagaimana di lain sisi ia juga dapat menjadi pemicu perdamaian. Kegelisahan akademis Nurholis tentang identitas semakin menguat setelah membaca beberapa penelitian yang menyandingkan sekolah Islam Terpadu sebagai sekolah yang ambivalen bahkan ada yang cenderung mengidentikkan dengan ekstremisme dan eksklusivisme. Pria kelahiran pulau nun jauh di Masalembu ini, semakin yakin memilih sekolah Islam Terpadu, karena beberapa alasan, salah satunya karena selama ini Sekolah Islam Terpadu tampak diwakili oleh tiga kata, “sekolah”, “Islam”, dan “terpadu”. Alih-alih tiga kata ini menjadi penegas identitas, dua kata awal yang disebutkan berurutan menjadi persoalan tersendiri. Pertama-tama, agaknya sangat kesulitan merumuskan makna diksi “sekolah” yang melekat pada lembaga pendidikan Islam ini. Berbeda dengan pesantren, misalnya, yang mencoba menegaskan dirinya dengan mengambil jalan akulturasi, dan madrasah yang ditujukan untuk menjembatani pendidikan pesantren dan umum. Penggunaan istilah “Islam” pun demikian. Istilah ini tidak bisa dimaknai secara universal sebagai agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Ada pertalian yang kuat dengan pemahaman terhadap dogma agama. Dalam kajian transnasional saja sudah jelas ada tiga kelompok Islam yang membentuk demarkasi penting. Misalnya, tentu tidak bisa sama antara kelompok Islam “Sunni-Arab Timur Tengah” yang memiliki misi purifikasi akidah, dengan “Sunni India” yang mencoba kembali pada ajaran Islam dengan dakwah dan tasawuf, dan “Syiah Iran” yang mengusung konsep imamah. Tidak menemukan penegasan makna “Islam”, berarti mengaburkan tujuan-tujuan penting suatu lembaga pendidikan. Apakah “Islam” dalam konteks Sekolah Islam Terpadu adalah membuat garis demarkasi dengan pendidikan “Kristen” yang selama ini “dianggap” lebih unggul dari pendidikan Islam, ataukah berposisi “head to head” dengan sekolah Islam lain yang berbeda pemahaman tentang Islam atau bahkan berbeda ideologi, ataukah “Islam” yang moderat. Kompleksitas persoalan Sekolah Islam Terpadu bukan hanya tampak pada persoalan nomenklatur, tetapi juga posisinya yang berada di bawah kementerian pendidikan nasional, yang di saat bersamaan memiliki kurikulum tambahan di luar kurikulum nasional. Keterpaduan kurikulum seperti ini jelas akan menimbulkan ambivalensi yang pada akhirnya mempersoalkan mana yang lebih utama. Sementara di sisi lain, dalam perspektif liyan, hal ini merupakan strategi Sekolah Islam Terpadu dalam meneguhkan identitasnya lewat pendidikan. Problematika tersebut, memberi gambaran betapa sulitnya memahami identitas Sekolah Islam Terpadu. Padahal, identitas seharusnya merefleksikan suatu gagasan secara presisi—yang secara teori mestinya tidak menimbulkan kebingungan. Ketika suatu komunitas memiliki identitas, seharusnya dapat dengan tegas menyatakan siapa dirinya, sikap dan tindakan apa yang dipilih. Itulah sebabnya, penting untuk memahami konstruksi identitas yang dimiliki Sekolah Islam terpadu sehingga dapat memahami motivasi performa aktivitas pendidikan di dalamnya.Ketidakjelasan identitas bukan hanya bermasalah pada performa aktivitas, tetapi juga dapat menjadi celah politik identitas yang menindas. Menurut Calhoun, jika suatu kelompok mengalami kebingungan untuk memahami identitas dirinya, bukan saja akan membuat orang lain gagal melihat siapa sebenarnya kelompok yang dilihat, tetapi juga akan melahirkan penindasan atas kelompok tersebut yang disebabkan oleh pandangan yang salah. Permasalahan-permasalahan yang dibaca oleh Nurholis membuatnya berfokus pada penyingkapan struktur bangunan identitas Sekolah Islam Terpadu dan bagaimana identitas tersebut dibangun. “Pembentukan identitas, akan sangat berkaitan dengan kesadaran masa lalu, hubungan dengan lembaga lain, dan persoalan yang sedang terjadi. Titik tekan kajiannya pada bagaimana identitas itu dibentuk dan dinegosiasi, ditegaskan, dan dibedakan dengan yang lain, serta bagaimana melakukan penyangkalan atas stereotype yang ada. Nurholis menjelaskan dua temuan dalam penelitiannya. Pertama, konstruksi identitas Sekolah Dasar Islam Terpadu di Sumenep terdiri dari tiga unsur penting, yakni keislaman, keterpaduan dan kelokalan. Identitas keislaman merupakan ciri utama sekolah Islam terpadu. Keislaman yang dimaksud adalah Islam ahlussunnah wal jamāah yang dapat mengarah pada organisasi tertentu dan sebaliknya. Identitas keislaman ini tidak tunggal, setiap sekolah dapat mengisi dan memasukkan pemahaman keislaman dalam identitas secara beragam. Sekolah Islam Terpadu juga mengidentifikasi diri sebagai sekolah terpadu yang mengintegrasikan pengetahuan umum dan pengetahuan agama dalam kurikulum pendidikan. Identitas ini mendorong sekolah Islam terpadu untuk mendudukkan keduanya secara seimbang, walaupun dalam beberapa hal tampak adanya upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Keterpaduan tidak hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam peran guru dan orang tua (sekolah-rumah) yang dilaksanakan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Selain itu, identitas keterpaduan juga dipahami sebagai keterpaduan dalam diri tenaga pendidik dan tenaga kependidikan (integritas jiwa pendidik) yang mengarah pada komitmen pendidik untuk melaksanakan pendidikan secara ikhlas. Setiap unsur SDM dalam sekolah Islam Terpadu harus memosisikan diri sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas keberhasilan pendidikan. Keterpaduan berikutnya adalah keterpaduan lembaga-lembaga pendidikan di dalam satu yayasan. Disisi lain, identitas kelokalan menjadi pencari khusus antara sesama sekolah Islam terpadu. Jika dua identitas sebelumnya adalah identitas yang umum, walaupun dengan substansi yang beragam, tetapi identitas kelokalan lebih mencirikan identitas masing-masing sekolah. Identitas ini merupakan bagian yang secara spesifik menandai sekolah. Dalam konteks ini, dapat dicontohkan sekolah bernuansa qurani, sekolah bernuansa madrasah dan sekolah filantropis yang sangat berimplikasi pada kurikulum, tujuan, dan strategi pendidikan agama Islam. Identitas kelokalan diambil dari cita-cita khusus pendiri dan pengurus sekolah. Temuan kedua yang dipaparkan oleh Nurholis adalah proses konstruksi identitas. Menurutnya, Sekolah Islam Terpadu berdinamika dalam empat hal fundamental yakni narasi masa lalu, perjuangan dan pergerakan, keliyanan dan inspirasi identitas. Narasi masa lalu merupakan cerita-cerita yang mengantarkan sekolah pada pemahaman diri dan referensi untuk menentukan identitas. Narasi masa lalu adalah titik tolak sekolah untuk melihat ke dalam dan ke luar sekaligus untuk menentukan posisi identitas. Narasi-narasi masa lalu ini setidaknya menggambarkan fakta yang dihadapi dan pengalaman masa lalu yang telah dilalui. Sebagai contoh, sekolah Islam terpadu memahami fakta ironis, pengetahuan agama tidak menjadi suatu hal yang diprioritaskan di sekolah-sekolah umum, di sisi lain, madrasah juga tidak memiliki efek sipil yang kuat. Narasi semacam ini mengantarkan sekolah pada identitas
Ketidakberdayaan Aktualisasi Diri Para Pedagang Kaki Lima

Lapangan pekerjaan merupakan salah satu sector publik yang sampai saat ini masih memiliki banyak sekali permasalahan. Pada saat sektor publik (pemerintah) dan pihak swasta belum mampu untuk menyiapkan lapangan pekerjaan secara formal yang sesuai dengan aturan perundang-undangan ketenagakerjaan, maka sektor informal dianggap sebagai salah satu katup pengaman guna menampung tenaga kerja dan solusi dari tenaga kerja yang menganggur. Dengan demikian keberadaan sektor informal sangat besar dalam penyelamatan ekonomi. Ketika para pekerja formal terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mereka masuk sektor informal untuk bertahan hidup. Hubungan antara sektor formal dengan sektor informal itu bersifat hirarkis, karena sektor informal terletak di posisi yang subordinat, karena dianggap sebagai shadow economy yang memiliki daya tawar (bargaining) rendah.Beberapa orang menganggap bahwa keberadaan PKL dalam sektor informal merupakan sebuah penopang kesenjangan ekonomi, meskipun tidak sedikit juga yang menganggap sebagai sumber masalah dalam tata ruang kota. Pedagang kaki lima berusaha mengaktualisasikan semua kemampuan untuk meraih keuntungan, serta berusaha menarik pembeli dengan berbagai cara. Namun upaya tersebut sering menemui kendala yang menyebabkan ketidakberdayaan PKL. Ketidakberdayaan PKL dapat dilihat dari beberapa sisi yaitu sisi individu, sisi kebiasaan serta sisi kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. Hal ini lah yang membuat Sriyana, salah satu mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang ini menyoroti topik tersebut dalam penelitian disertasinya. Dalam disertasinya, Sriyana menjelaskan bahwa ia tertarik untuk menganalisa seperti apa bentuk-bentuk ketidakberdayaan para pedagang kaki lima dalam hal ini aktualisasi diri mereka menghadapi banyak tantangan dari berbagai sisi. Mahasiswa asal Kalimantan ini pun berfokus dengan mengambil lokasi penelitian di sebuah pasar besar di daerah kota Palangka Raya untuk mengumpulkan informasi baik melalui observasi mupun wawancara dari para PKL dalam pasar tersebut. Sriyana mengungkapkan bahwa dirinya mendapati dua bentuk temuan terkait penghalang ketidakberdayaan dalam aktualisasi diri pedagang kaki lima di Pasar Besar Kota Palangka Raya seperti adanya Penghalang primer dimana hambaran ini secara langsung menyebabkan ketidakberdayaan pedagang kaki lima yang berasal dari ketidakberdayaan struktural dan penguasa wilayah. Ketidakberdayaan struktural yang disebabkan oleh kebijakan dari beberapa individu yang tidak berpihak kepada pedagang kaki lima. Hal ini ditunjukkan dari beberapa kebijakan penggusuran tempat mereka berdagang dengan alasan menggangu kualitas tempat umum, namun dibalik penggusuran tersebut tidak diberinya solusi berupa relokasi tempat mereka dapat berdagang. Sedangkan ketidakberdayaan karena penguasa wilayah yaitu pedagang kaki lima tidak bisa lepas dari intimidasi dan ketergantungan kepada tacut atau garutak pasar sebagai penguasa lapak dan lokasi tempat berdagang pedagang kaki lima. Temuan berikutnya adalah adanya Penghalang sekunder dimana hambatan ini secara tidak langsung menyebabkan ketidakberdayaan pedagang kaki lima yang berasal dari ketidakberdayaan secara kultural dan keterampasan psikologi. Ketidakberdayaan kultural adalah ketidakberdayaan pedagang kaki lima yang disebabkan oleh faktor budaya yang terlembaga dalam bentuk nilai-nilai seperti apatis maupun fatalistik. Sedangkan keterampasan psikologi adalah hasil pengalaman pribadi individu yang membandingkan suatu perlakuan atau tindakan yang tidak adil yang menyebabkan kemarahan dan ketidakpuasan. Dari penelitian ini Sriyana memberikan saran dan harapan yang ditujukan ke beberapa pihak terkait seperti Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian memberikan pembinaan kepada pedagang kaki lima berupa inovasi, motivasi dan produktivitas serta pendidikan karakter sehingga menumbuhkan nilai-nilai budaya kerja dan etos kerja yang tinggi dan produktif dengan menjunjung tinggi kearifan lokal. Selain itu juga kepada pemerintah Kota Palangka Raya sebagai fasilitator, pemerintah Kota Palangka Raya harus mampu mengembangkan potensi pedagang kaki lima sehingga pedagang yang mandiri, menjadi produktif dan tidak tergantung dengan pihak lain. Hal ini bisa dilakukan melalui peningkatan keterampilan usaha, dukungan sarana dan prasarana, dukungan teknologi, expansion of the network, serta tersedianya market information yang dilakukan secara terencana, gradual, komprehensif, terpadu, serta lintas sectoral. Terlebih lagi memberikan solusi berupa lokasi permanen bagi pedagang kaki lima sehingga tidak selalu terintimidasi oleh penguasa wilayah (tacut atau garutak pasar).
Rasionalitas Tindakan Masyarakat Pesisir Melayu Deli Dalam Mempertahankan Eksitensi Budaya Lokal Kota Medan

Pemaknaan eksistensi terkadang dipengaruhi langsung oleh perubahan serta retribelisme budaya secara globalisasi. Kedua pemaknaan ini berdampak pada artinya hidup berbudaya. Karena fleksibelitas dan adaptasi dengan perkembangan zaman serta perubahan budaya terdampak dengan globalisasi. Hal ini dikarenakan cukup pesatnya perkembangan penyebaran informasi. Fenomena daya tarik yang terjadi merupakan bagian dari ganjaran sosial yang merupakan asal usul struktur sosial. Fenomena yang terjadi perubahan budaya bukan hanya struktural akan tetapi perubahan secara intrinsik dan ekstrisik pun terjadi dalam budaya. Perubahan Intrisik dapat berupa kasih sayang, pujian, kehormatan dan lain-lain sedangkan ekstrinsik dapat berupa uang, barang-barang atau jasa konsep pertukaran seperti teori Hooman. Kota Medan merupakan kota multietnik yang terdiri dari beberapa suku atau kebudayaan diantaranya Melayu, Batak, Minang, Jawa, dan suku lainnya. Suku Melayu Deli merupakan suku asli yang menghuni kota Medan. Penyebarannya di Kawasan Deli tua, Pinggiran Sungai Deli dan Labuhan yang terkonsentrasi secara geografis. Pada awal tahun 2021 eksistensi Suku Melayu Deli dianggap mengalami perguncangan setelah Walikota Medan Bobby Nasution mengeluarkan Peraturan Walikota Nomor : 025/02.K/VIII/2021 yang dalam kebijakan tersebut Walikota memerintahkan Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Medan memakai baju daerah di hari jumat. Kebijakan ini juga banyak mengalami kontradiktif beberapa penggiat dan oganisasi masyarakat melayu Deli menyatakan Walikota harus meninjau kembali atas kebijakan tersebut, Permasalahan terhadap aktifitas serta interaksi yang dibangun oleh masyarakat Melayu Deli di Kota Medan, terdapat pula sebuah kelompok masyarakat yang tetap mempertahankan aktifitas dan serta melakukan sebuah tindakan-tindakan. Tindakan yang dilakukan oleh kelompok sosial ini juga dilihat sebagai tindakan yang dilakukan untuk menegakkan perilaku turun temurun.. Beberapa perubahan serta pengaruh adanya urbanisasi, serta evolusi sosial diatas baik faktor internal dan eksternal yang menjadikan Jehan Ridho Izharsyah, salah satu mahasiwa program Doktor Sosiologi mengangkat sebuah penelitian disertas dengan judul Rasionalitas Tindakan Masyarakat Pesisir Melayu Deli Dalam Mempertahankan Eksistensi Budaya Lokal Kota Medan. Menggunakan paradigma interoretatif melalui interaksi dan hubungan sosial, serta pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplanatori, eksplorasi, dan deskriptif permaslahan tunggal masyarakat melayu deli yang ada di kawasan pesisir Medan ini mendapati bahwa makna Tindakan yang dilakukan Masyarakat Pesisir Melayu Deli dalam mempertahankan eksistensi budaya lokal Kota Medan dilakukan dengan menitik beratkan kepada pemahaman serta persfektif interpretative tindakan. Makna sosial secara substantive menempatkan posisi tatanan sosial dan penguatan budaya didalamnya dengan tindakan yang telah terbiasa dilakukan dan dalam keadaan sadar. Hal ini terlihat pada terjadinya tindakan yang dilakukan masyarakat melayu pesisir dalam melihat adanya dinamika kelompok sosial yang terjadi pada perjalanan serta sejarah kebudayaan melayu di kota Medan, sehingga munculah ide serta tindakan substantive, tindakan sosial hingga terbentuklah gerakan filantropi budaya seperti Forum Masyarakat Adat Deli (FORMAD) sebagai gerakan sosial budaya dalam menjalankan syiar budaya melayu. Tindakan ini dapat dikatakan sebagai tindakan dengan alat dan tindakan rasional yang berorientasi kepada hasil karena dilakukan secara sadar, upaya ini dilakukan karena terlihatnya dinamika yang kuat serta adanya akulturasi yang lama kelamaan dapat mengancam eksistensi kebudayaan melayu deli itu sendiri. Kemudian, Masyarakat melayu deli pesisir dalam mengambil keputusan hingga berprilaku masih berorientasi kepada kebiasaan dan warisan leluhur yang kuat hal ini terlihat dalam aktifitas masyarakat pesisir melayu deli masih melakukan rangkaian kegiatan tradisional seperti: adat istiadat dalam kandungan, kelahiran, turun tanah, sunat rasul/khitanan, perkawinan, kematian. Ada juga Upacara upah-upah, mandi balimau, upacara ikrar menjadi saudara dan lain sebagainya. Kemudian dalam memutuskan suatu perkara atau pemilihan kepala hingga kepemimpinan juga masih menganut musyawarah yang kuat hingga adanya petuah dari datuk hingga orang yang di tua-kan. Tindakan ini dikatakan sebagai Tindakan Tradisional/ Tindakan Karena Kebiasaan (Tradisional Action). Selanjutnya, tantangan yang lain ialah masyarakat pesisir melayu deli memiliki subyektifitas yang tinggi dalam menilai dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Walaupun mereka mencoba melakukan perjuangan (Struggle Culture) dalam melawan kondisi lingkungan hingga tekanan ekonomi yang cukup tinggi. Tetapi mereka cukup sulit keluar dari keadaan atau situasional tersebut Sehingga muncullah rasa fesimistis serta persfektif antara kepercayaan hingga keputus’asaan. Tindakan ini dianggap sebagai prilaku afectuality. Temuan berikutnya adalah dalam upaya menjaga serta mempertahankan nilai kebudayaan melayu deli, masyarakat pesisir melayu deli di kejuruhan Metar Bilad Deli dan Wilayah Kejuruan Percut melalui Forum Masyarakat Adat Deli (FORMAD) menjalin sebuah interaksi serta kolaborasi sebagai wujud tindakan afektif kepada Pemerintah (Collaboration to Government), kepada Dunia Usaha (Collaboration to Business), kepada Universitas (Collaboration to University), kepada Organisasi Non Pemerintah atau Masyarakat Madani (Collaboration to Non-Government Organization or Civil Society), hingga kepada Media Massa (Collaboration to Mass Media).Tindakan-tindakan tersebut di singkronisasikan kepada program yang disusun seperti Klinik Pantun Nusantara (Cakap-Cakap), Pemberian Ucapan terima kasih Kepada Tokoh Melayu, Kegiatan Sosial (Bakti Sosial), Media Informasi dan Komunikasi (Metar Bilad Tv), Pengembangan Keilmuan (Science Development) dan lain sebagainya. Tidak hanya sampai disitu, berdasarkan tindakan, kolaborasi hingga interaksi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir melayu deli terbentuklah sebuah pola baru yakni Harmonical Structural Wisdom yaitu aktifitas Masyarakat pesisir melayu deli dalam menjalin ukhuwah serta interaksi sosial yang dilakukan dengan pola kerukunan serta gotong-royong dalam paguyuban tersebut. Pola Bargaining Habit Culture yaitu adanya aktifitas-aktifitas khusus yang dilakukan oleh masyarakat pesisir melayu deli misalnya kegiatan saling bertukar makanan tradisional pada upacara hari besar keagamaan, pesta perkawinan, serta peringatan hari besar keagamaan. Combination Kooptasi leader yaitu pola kepemimpinan dengan melakukan kombinasi dengan pola tradisional yang ada. Misalnya dalam memilih kepemimpinan sekalipun norma kelompok masih sangat kuat. Combination Historical Culture yaitu pola yang dilakukan dengan adanya kombinasi antara makna sejarah hingga adanya sebuah pola baru yang terjadi. Penggabungan antara kebiasaan serta keadaan sekarang dengan kebiasaan waktu lampau. dan terakhir Interactional plan Action yaitu pola interaksi yang dilakukan dengan penuh perencanaan. Pemaknaan penuh perencanaan ini adanya semacam kekuatan dalam menjalankan interaksi secara totalitas dan telah mengukur bagaimana tahapan hingga dampak yang akan terjadi hal ini kemungkinan besar dikarenakan mereka memiliki rasa traumatik dari sejarah masa lampau. Melalui penelitian ini mahasiswa asal Sumatera Utara ini berharap perlu adanya tindakan khusus terhadap penguatan kembali kepada nilai-nilai budaya lokal yang telah ada di Medan. Selain itu pembangunan kompetisi pemikiran pemerintah dapat memperhatikan level kehidupan masyarakat pesisir melalui aktifitas serta program pemberdayaan masyarakat sehingga menimbulkan rasa semangat serta optimistis yang tinggi dalam melihat lingkungan serta menjaga keutuhan yang ada. Berikutnya perlunya pihak kesultanan, raja atau datuk kewilayahan dan kejuruhan, masyarakat melayu deli hingga kelompok kepentingan
Tindakan Sosial Keluarga Slum Area Dalam Membentuk Kepribadian Anak di Kota Medan

Kota Medan sebagai kota metropolitan masih banyak ditemukan pemukiman kumuh yang padat dan tidak teratur salah satu kawasan kumuh yang terletak di tengah Kota Medan yang dahulu dikenal oleh masyarakat dengan nama “Kampung Sejahtera”. Masyarakat yang mendiami kawasan ini sangat beragam mulai dari penduduk lokal maupun etnis Tamil sudah cukup lama tinggal didaerah ini. Mayoritas masyarakat slum area tinggal di pemukiman ini yang memiliki kualitas, hidup yang sangat buruk. Kemiskinan dan keterbatasan fiskal kawasan kumuh telah mempengaruhi tingkat pendidikan secara signifikan yang sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Kajian penelitian Tindakan Sosial Keluarga Slum Area Dalam Membentuk Kepribadian yang dilakukan Sigit Hardiyanto, mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang merupakan hasil kajian riset membahas tindakan sosial pervasif normatif dalam membentuk kepribadian. Tindakan sosial pervasif disini dapat dilihat sebagai tindakan yang senantiasa dilakukan oleh orang tua kepada anak secara berulang-ulang. Penerapan kedisiplinan, norma agama sebagai kontrol sosial dan keteladanan orang tua dinilai sangat membantu dalam membentuk kepribadian anak sesuai dengan kaidah nilai dan norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya. Pentingnya pendidikan kepribadian yang dilakukan oleh orang tua kepada anak pada keluarga slum area suku lokal dan Tamil di Kota Medan dapat dituangkan dalam bentuk perilaku orang tua seperti kasih sayang, pemberian motivasi, kemampuan memahami dan mendengarkan dan memiliki kemampuan sebagai problem solver. Kemampuan orang tua dalam membangun kepribadian kepada anak mengacu kepada keteladanan orang tua yang dapat dituangkan dalam bentuk perilaku orang tua seperti kasih sayang, pemberian motivasi secara terus menerus, kemampuan memahami dan mendengarkan dan menjadi pemberi solusi terhadap masalah yang dihadapi anak. Kekuatan aktivitas komunikasi yang senantiasa dilakukan orang tua dalam membentuk kepribadian pada keluarga slum area suku lokal dan Tamil di Kota Medan terdapat pada penanaman perilaku berbasis spiritual keagamaan seperti doktrin takut dengan Tuhan, penerapan kedisiplinan pada anak. Adapun metode komunikasi yang dilakukan dalam membentuk kepribadian anak dengan cara penerapan interaksi secara verbal dan nonverbal. Interaksi verbal disini dilakukan dengan cara memberikan nasihat, gambaran realitas memahami lingkungan sosial tentang dunia sekitar. Komunikasi nonverbal disini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk bermain, kegiatan refreshing keluarga yang didasarkan pada pendekatan perilaku/ behaviorisme yang senantiasa dilakukan orang tua yang mau melakukan sebuah perubahan yang mengikuti pola perilaku kepribadian yang diinginkan sesuai dengan sikap sosial di lingkungan masyarakatnya. Dalam rangka membangun kepercayaan dan keyakinan anak lewat komunikasi, dibutuhkan kredibilitas orang tua (komunikator) yang tercermin dari perilaku orang tua. Hal ini sebagai kunci utama dalam rangka membangun hubungan yang harmonis, terbuka, saling respek. Pentingnya hubungan interpersonal yang dilakukan memerlukan tindakan-tindakan orang tua untuk mencapai kepribadian anak yang diharapkan.
Analisis Kontruksi Sosial Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengelolaan Sampah Pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan

Salah satu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari terkait masalah lingkungan adalah banyaknya sampah rumah tangga yang dibuang tanpa memilah sesuai dengan jenisnya terlebih dahulu. Sampah merupakan limbah dari suatu material yang sudah tidak terpakai lagi. Sebenarnya sampah dapat dikelola dan akan menghasilkan nilai ekonomi. Sampah dibedakan menjadi sampah organik dan an-organik. Sampah organik dapat dijadikan pupuk tanaman dan sampah an-organik dapat didaur ulang atau sebagai komoditas perdagangan. Disinilah dapat dilihat pentingnya keberadaan Bank Sampah. Bank Sampah menjadi wadah awal pengelolaan sampah dan juga sebagai sarana bagi masyarakat untuk menabung karena bernilai ekonomi, sekaligus sarana memberdayakan masyarakat. Keberadaan akan bank sampah ini menarik perhatian Efendi Augus, salah satu mahasiswa program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang yang akhirnya dijadikan topik dalan penelitian disertasinya. Penelitian yang membahas bagaimana proses Konstruksi Sosial Eksternalisasi, Objektivikasi, Internalisasi atas pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah ini dilakukan di Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Mengusung model penelitian lapangan (fiel research) Efendi menggunakan paradigma definisi sosial dalam mempelajari persoalan-persoalan yang diteliti, aturan-aturan yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan yang dipelajari. Tindakan sosial yang dilakukan aktor dalam pemberdayaam masyarakat melalui pengelolaan sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan teori Tindakan Sosial (social action theory) Weber dan teori Konstruksi Sosial Peter Berger dan Lukmann. Pendekatan ini sengaja dipilih karena mempermudah peneliti dalam menganalisis dan menjelaskan proses terbentuknya realitas secara sosial melalui mekanisme dialektis pada Pemberdayaan Masyarakat melalui pengelolaan sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Lokasi penelitian di Bank Sampah Mutiara Kota Medan Kecamatan Medan Denai Kelurahan Binjai, dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Menggunakan teknik analisis data dan menggunakan uji keabsahan data dengan trianggulasi. Hasil penelitian penelitian yang ditemukan oleh mahasiswa asal Sumatra Utara ini adalah adanya perubahan pemaknaan yang meliputi penilaian dan pengelolaan sampah serta Pemberdayaan Bank Sampah. Penelitian ini berlangsung ketika masyarakat mulai memahami makna sampah yang diekspresikan melalui aktivitas atau tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengenalan makna sampah diawali dengan ide atau gagasan melalui program Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Melalui program yang dilakukan oleh Bank Sampah Mutiara Kota Medan memberikan pengaruh pada perubahan makna sampah dengan melakukan pemanfaatan sampah. Program ini merupakan sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus yang dilakukan oleh Bank Sampah Mutiara Kota Medan hingga memberikan perubahan nilai pada sampah yaitu tahap penghijauan dan daur ulang. Kegiatan ini dilakukan selama proses interaksi yang berlangsung dengan masyarakat sehingga menciptakan makna baru yang dihasilkan dari hubungan interaksi yang berlangsung dengan kesadaran dari aktor terhadap suatu ide atau gagasan baru. Tindakan yang dilakukan pada proses eksternalisasi melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan Bank Sampah Mutiara Kota Medan merupakan suatu bentuk akumulasi dan stok pengetahuan sosial yang dapat ditransfer dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga menghasilkan suatu pengalaman untuk menciptakan makna baru melalui proses interaksi yang dilakukan secara terus menerus sehingga dapat membedakan realitas berdasarkan tingkat keakraban. Hasil lainnya ditemukan bahwa terjadi tindakan yang berulang (habitualisasi) melalui program pemberdayaan yang dilakukan oleh Bank Sampah Mutiara Kota Medan yaitu sosialisasi. Interaksi sampah dan pengelolaannya secara berulang-ulang perlu pembiasaan. Seperti yang dikemukakan Berger: “Setiap tindakan yang sering diulang pada akhirnya akan menjadi pola yang kemudian dapat direproduksi dengan usaha sesedikit mungkin”, oleh karena itu, perlu dipahami oleh pelakunya bahwa hal ini adalah sebagai pola. Seperti yang dikemukakan Berger: “Tentu saja tindakan yang telah menjadi kebiasaan mempertahankan karakternya yang bermakna bagi individu, meskipun makna yang terlihat di dalamnya tertanam sebagai hal rutin dalam persediaan pengetahuan umumnya”. Dalam mekanisme pengelolaan Bank Sampah Mutiara Kota Medan untuk meningkatkan ekonomi keluarga pada umumnya ada imbalan sejumlah uang melalui mekanisme, pemilahan sampah skala rumah tangga, penyetoran, penimbangan, pencatatan hasil sampah yang dilaporkan, yang akhirnya dimasukkan kedalam buku tabungan. Dampak program Bank Sampah Mutiara Kota Medan melalui aspek kesehatan dan lingkungan secara umum adalah menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan. Pada fase objektivasi, masyarakat merupakan produk kebiasaan yang diciptakan oleh proses eksternalisasi itu sendiri. Selain itu proses Konstruksi Sosial Internalisasi Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan juga ditemukan bahwa masyarakat yang menjadi anggota Bank Sampah mengaktualisasikan nilai yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya melalui pemilahan, pengelolaan sampah, daur ulang bersifat ekonomi dan lingkungan bersih dan sehat. Pengurus Bank Sampah Mutiara Kota Medan berinovasi dengan mendatangi sekolah-sekolah dengan melakukan sosialisasi program Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Proses Internalisasi ini mereka lakukan dengan cara mensosialisasikannya. Setelah mereka mendapatkan informasi adanya Bank Sampah berikutnya mereka masuk menjadi anggota Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Berikutnya Keterlibatan nasabah di Bank Sampah Mutiara Kota Medan meningkatkan perilaku hidup sehat dan bersih karena mereka telah punya pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka dapatkan dari program pemberdayaan Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Mereka senantiasa terus melakukan kebersihan lingkungan rumah tangga, melakukan pemilahan sampah dengan baik. Selain itu mereka juga mengajarkan nilai sampah kepada anak cucunya dimana ini menjadi peran orang tua untuk memberikan pengetahuan karena memiliki ikatan emosi Proses Konstruksi Sosial tahap eksternalisasi, Objektifikasi, dan Internalisasi dimulai dari ketertarikan masyarakat terkait pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan, ditambah lagi sosialisasi dari Pengurus Bank Sampah Mutiara Kota Medan yang intens. Kontruksi sosial ini bisa dilanggengkan sampai saat ini, karena sosialisasi yang terus menerus dilakukan oleh pengurus Bank Sampah serta dukungan dari berbagai pihak seperti Pemerintah Daerah. Selain itu Konstruksi sosial ini dianggap berhasil karena adanya output yang jelas dan menjadi kebutuhan masyarakat, yakni konsep Bank sampah dengan menjual sampah mendapatkan uang. ProgramBank Sampah Mutiara Kota Medan dijadikan aktivitas bagi masyarakat baik secara kognitif maupun afektif dalam bentuk pelatihan Lingkungan bersih dan sehat dan pelatihan pengelolaan sampah organik, daur ulang sampah an- organik bernilai ekonomi. Efendi berharap dari penelitian ini agar Bank Sampah Mutiara Kota Medan membentuk kelompok sasaran baru dalam mengupayakan perubahan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang baik dan benar. Bagi Pihak pengelola Bank Sampah Mutiara Kota Medan disarankan melakukan kerjasama dengan instansi yang peduli terhadap lingkungan. Bank Sampah dalam pengelolaan sampah dapat dijadikan rule model bagi pola pemberdayaan masyarakat melalui pemamfaatan sampah. Bagi Pemerintah Daerah agar membentuk Bank Sampah yang dikelola oleh Badan Usaha
Resistensi Paguyuban Pedagang Pasar Tradisional dalam Konflik Penolakan Kebijakan Revitalisasi

Pasar tradisional merupakan penggerak ekonomi masyarakat. Saat ini pasar tradisional tengah mengalami banyak tantangan. Persaingan ini menjadi tidak seimbang karena perbedaan modal antara pedagang di pasar tradisional dengan pasar modern. Fenomena konflik revitalisasi pasar tradisional adalah bukti ketidak berdayaan sektor informal berhadapan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh kelembagaan pemerintah. Hal tersebut menggambarkan betapa pembangunan kurang bersimpati kepada masyarakat sebagai pedagang pasar tradisional. Dampak paling nyata dari revitalisasi pasar, adalah resistensi atau penolakan dari paguyuban pedagang melalui penguatan modal sosial dalam Paguyuban Pedagang Pasar Tradisional Blimbing yang mereka bentuk selama ini. Penguatan Modal sosial (social capital) pedagang pasar tradisional tidak hanya sebatas wacana dan diskusi di kalangan akademisi dan ahli sosial, tapi yang terpenting bagaimana konsep itu dapat digali dari kehidupan masyarakat. Melalui alasan dan fenomena tersebut, Sulismadi yang salah satu mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat penguatan modal sosial paguyupan pedagang pasar tradisional Blimbing Kota Malang sebagai topik penelitian disertasinya. Hal ini ia jelaskan karena berdasarkan pada pendekatan yang tidak mengabaikan kepentingan paguyuban pedagang, tetapi bagaimana mengangkat paguyuban pedagang dengan kesadaran. Bahwa paguyuban pedagang pasar tradisional mampu mengangkat harga diri paguyuban dengan lebih baik. Dalam Resolusi konflik, Sulismadi menjelaskan bahwa penolakan kebijakan revitalisasi pasar dilakukan melalui paguyuban dan tim tujuh, sebagai wadah silahturahmi dan koordinasi pedagang dalam menyikapi fenomena perubahan dan dinamika yang terjadi serta bertujuan untuk mendayagunakan kekuatan paguyuban pedagang pasar, Paguyupan telah melakukan pendekatan secara demokratis melalui resolusi konflik, secara persuasif melalui cara; negosiasi, mediasi dan advokasi, dengan harapan mendapatkan solusi antar pihak yang terkait dan juga dapat mengakomodir aspirasi paguyuban, sehingga menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan para pemangku kepentingan (stake holder). Lebih lanjut mahasiswa yang akrab dipanggil pak Sulis ini juga mengungkapkan bahwa Fenomena penolakan ini mengindikasikan bahwa Sistem politik dan aturan perundang-undangan bukan menjadi acuan utama untuk memahami pola hubungan negara dan masyarakat sebagai pedagang pasar tradisional. Sistem politik demokrasi tidak dengan sendirinya menempatkan hubungan negara dengan masyarakat pedagang pasar tradisional sebagai bentuk hubungan yang berasaskan kebebasan, keadilan, dan persamaan. “Bisa jadi, dalam sistem politik demokrasi dan peraturan undang-undang mencerminkan ketiga asas tersebut, kenyataannya pedagang pasar tradisonal hanya dijadikan sebagai objek kekuasaan” ujarnya. Revitalisasi pasar tradisional yang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan kelayakan pasar tradisional. Koordinasi dan kerjasama antar pemangku pasar tradisional merupakan langkah yang harus dilakukan agar program tersebut dapat memberikan hasil dan manfaat yang maksimal bagi semua pihak yang menjadi bagian dari pasar tradisional. Namun program perbaikan pasar tradisional seringkali menimbulkan konflik yang terjadi pada ranah koordinasi antar pemangku kepentingan pada tahap perencanaan program, sehingga membuat salah satu pihak merasa dirugikan karena tidak dilibatkan sejak awal perencanaan program, seperti yang terjadi pada program revitalisasi pasar tradisional Blimbing, Kota Malang. Konflik yang terjadi di pasar tradisional Blimbing ini merupakan permasalahan yang melibatkan Paguyuban Pasar Tradisional Blimbing dan PT. KIS (Karya Indah Sukses). PT. Karya Indah Sukses telah menawarkan sejumlah konsep dalam perjanjian kerjasama dengan Pemerintah Kota Malang mengenai Pasar Blimbing, namun isi perjanjian tersebut tidak mengakomodir aspirasi dan konsep para pedagang pasar tradisional Blimbing. Sulismadi mendapati sebenarnya para pedagang tidak menolak revitalisasi namun ada beberapa hal yang menyebabkan tidak terjadi kesepakatan yaitu perbedaan kepentingan (konsep). Investor dan pemerintah ingin pedagang bergeser ke belakang dan isi depan diisi oleh kondotel dan kios baru, kios baru di jalan raya akan disewakan kepada calon pedang baru. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kepentingan para pedagang, para pedagang menginginkan agar tempat berjualannya direnovasi tanpa digeser mundur dan tidak membangun kondotel dan kios di pinggir jalan raya tetap ditempati oleh para pedagang lama. Kebijakan Revitalisasi pasar tradisional Blimbing Kota malang untuk menjadi pasar modern (Modern Market) ditengarai berpotensi dapat merugikan paguyuban pedagang pasar. Atas kebijakan yang merugikan tersebut pedagang sebagai masyarakat sipil melakukan penolakan dengan berbagai cara antara lain : Protes demontrasi para pedagang; Memanfaatkan media untuk press realease,; Dialog dengan pemerintah /legislatif,; Doa bersama–istiqotsah,; Meminta advokasi LBH, KOMNAS HAM ; Menyiapkan pagar betis jika terjadi penggusuran, memasang spanduk/baliho protes Revitalisasi Pasar Tradisional Blimbing Kota Malang yang mempunyai kerjasama dengan PT. KIS telah berakhir masa kontrak Revitalisasi sehingga tidak dapat terlaksana dan akan dilakukan peninjauan kembali oleh Pemerintah Kota Malang di tahun 2023 ini.
Pembentukan Kesalehan Mahasiswa Melalui Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Dewasa ini perilaku mahasiswa mengalami penurunan tingkat kesalehan, diantaranya tawuran antar mahasiswa, minum alkohol hingga hilang kesadaran, mengkonsumsi narkoba, melakukan aksi pencurian, perilaku seks bebas, terlibat geng motor, pembunuhan dan seterusnya. Beberapa faktor yang menyebabkan turunnya derajat ketaqwaan di kalangan mahasiswa antara lain kurang terintegrasinya nilai-nilai keislaman, ketidakstabilan mahasiswa, baik dari segi ekonomi, sosial masyarakat dan politik, pendidikan yang tidak berjalan. layak dalam keluarga, suasana dalam ruangan, tangga lusuh, pengenalan obat-obatan terlarang dan kontrasepsi, banyak artikel tidak berbudaya, gambar pornografi, program televisi non-pendidikan, seni terlarang, tidak menghormati persyaratan moral dasar, kurangnya bimbingan untuk mengisi waktu luang dengan baik cara dan mengarah pada perkembangan moral, tidak ada atau kekurangan tempat untuk membimbing dan menasihati mahasiswa. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, maka perlu adanya upaya untuk minimalisir kejadian-kejadian di atas, diantara cara untuk menghasilkan mahasiswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlakul karimah/mulia perilakunya, seperti tujuan pendidikan nasional tersebut. Hal inilah yang membuat Robie Fanreza, salah satu mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang berfikiran bahwa dengan cara mempelajari agama Islam pada lembaga pendidikan formal baik pada tingkat pendidikan dasar menengah (sekolah dasar hingga perguruan tinggi) maupun tingkat pendidikan tinggi (Kampus) dapat mengurangi dampat dari fenomena tersebut dan mengemasnya dalam sebuah penelitian disertasi. Penelitian yang berfokus pada bagaimana pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini dilakukan dengan mengambil lokasi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan penitiannya, Robie melakukan wawancara dan observasi secara langsung ke Badan Pembina Harian, Pengurus Badan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan mahasiswa dengan bertujuan untuk mengetahui secara langsung setiap proses pembinaan yang dilakukan. Pada disertasinya Robie menuliskan bahwa dirinya mendapati temuan dimana ada peningkatan kesalehan mahasiswa, hal ini dapat dilihat dari ketepatan mahasiswa melakukan sholat lima waktu, cara berpakaian mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan dalam membaca alquran dengan benar, disiplin terkait dengan waktu, peduli terhadap lingkungan, serta mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan. Ia juga mendeskripsikan terkait kesalehan mahasiswa meliputi dua kategori yaitu kesalehan individual yang didukung oleh kajian intensif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, dan dikembangkan oleh lembaga pengembangan tilawatil Qur’an. Sedangkan, kesalehan sosial didukung dengan adanya program kerja yang dimiliki oleh kelembagaan kemahasiswaan seperti bakti sosial, paket dakwah ramadhan, dan penggalangan dana bagi korban bencana alam. Hal ini tentunya terintegrasi dengan pemikiran Muhammad Sobari, yang menyatakan bahwa kesalehan individual dan sosial saling teritegrasi, hal ini dikarenakan harus adanya penguatan kesalehan yang bersumber dari invidual, dan dikembangkan menjadi kesalehan sosial. Dalam organisasi muhammadiyah, kesalehan indivual dan sosial merupakan spirit teologi al maun yang digagas oleh Ahmad Dahlan, dalam mengembangkan organisasi. Maka untuk itu, saat ini teologi al maun terus menjadi konsep dalam pengembangan amal usaha Muhammadiyah. Temuan berikutnya adalah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara melakukan proses program dan kegiatan melalui Badan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk dan meningkatkan nilai kesalehan mahasiswa. Mahasiswa dididik dalam berbakti, etika, kemajuan, dan keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Membentuk ketakwaan mahasiswa dengan mengambil mata kuliah agama Islam dan mata kuliah kemuhammadiyahan dimulai dari semester pertama sampai dengan semester keempat dengan beban 2 sks diikuti oleh program-program yang ditawarkan oleh Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diselenggarakan sebagai program studi intensif tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam dua hari. Pembentukan kesalehan mahasiswa melalui program mentoring yang dilakukan setelah mengikuti program Kajian Intensif Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan. Mahasiswa mengikuti ujian komprehensif sehingga membentuk tingkat disiplin dalam kesalehan ritual atau pribadi, sosial dan professional. Juga melakukan Sembilan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari di kampus. Selanjutnya melalui program dan kegiatan Badan Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara mampu membentukan kesalehan pada mahasiswa. Kesalehan mahasiswa mampu menyimbangkan kesalehan ritual atau individual dengan kesalehan sosial serta kesalehan professional. Pembentukan kesalehan dengan nilai-nilai keislaman berorientasi pada pembentukan sikap, perilaku saleh, dan kepribadian mulia. Pembentukan kesalehan mahasiswa sebagai upaya untuk mampu membudaya atau kebiasaan berakhlakul karimah. Pembentukan kesalehan merupakan sebuah proses tidak secara instan melainkan harus melalui tahapan-tahapan. Dibalik temuan yang ia tuliskan, mahasiswa asal Sumatera Utara ini juga menyematkan beberapa harapannya dimana pembentukan kesalehan kepada mahasiswa melalui Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan perlu dipertahankan dan ditingkatkan, karena muatan pembentukan kesalehan sangat relevan dengan tuntutan kurikulum, desain kegiatan yang dirancang selain menggembirakan juga memberikan pengaruh yang positif terhadap mahasiswa, serta memberikan pengalaman nyata tentang membentuk kesalehan yang sebenarnya dalam kehidupan mahasiswa. Tidak lupa juga ia memberikan saran kepada lembaga terkait sinergisitas antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, masyarakat ditambah aktivitas lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran dapat membentuk perilaku pergaulan dalam berinteraksi, sosialisasi yang saling mempengaruhi dan memudahkan terjadinya pembentukan kesalehan. Kepada para dosen sebaiknya perlu memperhatikan mahasiswa pribadi yang mempunyai potensi utuh seperti kesalehan individual, kesalehan sosial dan kesalehan professional. Dikarenakan potensi ini akan berkembang apabila melalui pendekatan yang baik. Mahasiswa seharusnya diarahkan menjadi sosok pribadi yang saleh.
Potensi Penggunaan Limbah Organik Nasi Kering Sebagai Sumber Energi Pada Broiler

Sampah organik saat ini masih menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh data yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Indonesia menghasilkan 30 juta ton limbah pada tahun 2021. Limbah organik menyumbang 12 juta ton dan 40% dari sampah organik tersebut adalah limbah dari sisa makanan. Nasi sisa menyumbang limbah sebesar 276.000 ton per tahun yang belum terkelola maksimal dan menunjukkan bahwa ada potensi besar untuk mengolah limbah organik ini menjadi bahan pakan alternatif untuk ternak seperti nasi kering. Permasalahan lain ditunjukkan pada sektor peternakan terutama pada bidang peternakan broiler. Tingkat kematian yang tinggi dan performans yang buruk diakibatkan oleh heat stress tinggi sebagai akibat climate change yang terjadi tiap tahunnya. Terlebih lagi Indonesia adalah negara tropis dengan suhu lingkungan diatas 24℃ padahal broiler adalah jenis ternak yang bertumbuh maksimal pada suhu 19℃ sampai dengan 21℃. Keadaan ini diperparah dengan harga pakan yang semakin tinggi karena bahan baku mayoritas impor. Pengolahan sisa bahan organik menjadi nasi kering menjadi solusi untuk tiga permasalahan sekaligus. Selain dapat mengurangi masalah limbah, juga memberikan alternatif pakan yang lebih murah daripada jagung dan mampu mengatasi heat stress sehingga memperbaiki performance broiler. Nasi kering merupakan jenis pati resisten yang baik digunakan untuk ayam pada kondisi heat stress karena kalori rendah dan dapat memperbaiki sistem pencernaan. Melihat potensi akan limbah makanan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak membuat Rusli Tonda, mahasiswa S3 Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ini membuat sebuah penelitian untuk menganalisis potensi penggunaan nasi kering sebagai bahan pakan sumber energi dan sebagai bahan pakan fungsional mengurangi heat stress. Mahasiswa asal Sulawesi Selatan ini menggunakan beberapa tahap dalam melakukan penelitiannya dimana tahap pertana adalah menguji sampel nasi kering yang beredar di pasaran. Sampel nasi kering ini diambil dari tiga daerah wisata yaitu daerah P1 (Lumajang), P2 (Pasuruan) dan P3 (Malang). Hasil sampel di tahap pertama untuk menguji kandungan dari nutrisi nasi kering dari tiga tempat wisata tersebut menunjukkan tidak ada tidak ada perbedaan signifikan nasi kering yang ada di pasaran terhadap kandungan nutrisi. Selanjutnya di tahap kedua adalah membuat nasi kering dari limbah makanan untuk masuk pada uji proksimat. Rusli mengungkapkan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nasi kering berpotensi sebagai bahan pakan pengganti jagung dan bekatul karena memiliki kandungan protein kasar 7% sampai dengan 12% yang sama dengan jagung dan bekatul. Selain itu, nasi kering memiliki kandungan serat kasar dan lemak kasar yang rendah (dibawah 5%) sehingga menjadi keunggulan produk olahan sampah ini sebagai bahan pakan sumber energi. Tak hanya sampai disitu, dengan menggandeng PT. Zakiyah Jaya Mandiri yang ada di Lumajang, Jawa Timur sebagai mitra, Rusli melakukan eksperimen penerapan langsung pada Broiler serta melakukan uji hematologi di Laboratorium Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta Indonesia. Penggunaan nasi kering dapat mengurangi tingkat heat stress pada ayam broiler yang dibuktikan dengan frekuensi panting lebih rendah. Semakin tinggi frekuensi panting ayam menunjukkan semakin tinggi pula tingkat stress yang dialami. Bobot jantung memperlihatkan adanya pembesaran atau pembengkakan pada P0 yang menandakan kerja jantung ayam bekerja lebih berat sebagai akibat dari kondisi heat stress. Begitupula jumlah leukocytes pada P0 yang berada pada ambang batas toleransi (40.000 /mm3) yang menandakan bahwa meningkatnya jumlah leukocytes sebagai akibat dari tingkat stress yang tinggi. Rasio H/L pada P0 juga mengalami penurunan drastis dibawah angka normal (0,3 – 0,7). Sedangkan perlakuan dengan menggunakan nasi kering berada pada angka normal. Penggunaan nasi kering juga meningkatkan produktivitas broiler yang dibuktikan dengan PBBH lebih besar. Semakin besar pertambahan bobot badan harian maka akan semakin baik produktivitas. Nasi kering juga menekan tingkat FCR menjadi lebih rendah. Semakin rendah FCR yang diperoleh maka semakin baik performans broiler. Indikator terakhir yang menunjukkan bahwa nasi kering mampu meningkatkan produktivitas adalah dengan meningkatnya IP yang diperoleh. Semakin tinggi IP yang didapatkan maka semakin baik pula produktivitas dari broiler tersebut. Rusli juga memaparkan bahwa pemberian nasi kering meningkatkan nilai ekonomi peternak karena dari aspek kualitas memiliki protein sama dengan jagung tetapi kandungan serat kasar lebih rendah sehingga cocok untuk ayam yang memiliki sistem pencernaan yang sederhana. Atas dasar itulah sehingga produktivitas bisa lebih meningkat. Selain itu, biaya pakan lebih rendah jika dibanding dengan pakan yang disubtitusi seperti jagung. Nasi aking juga memiliki potensi bisnis yang menjanjikan karena dapat mengurangi pencemaran lingkungan jika dikelola secara maksimal. Mengolah limbah sisa nasi menjadi bahan pakan untuk broiler menjadi inovasi baru yang berkelanjutan.