Pembelajaran AIK Perlu Bertransformasi agar Relevan bagi Generasi Z

Upaya menjaga relevansi pendidikan Islam di tengah perubahan zaman menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Muhammadiyah. MALANG – Upaya menjaga relevansi pendidikan Islam di tengah perubahan zaman menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Muhammadiyah. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jombang, Jawa Timur, menyoroti pentingnya transformasi pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) agar lebih sesuai dengan karakter Generasi Z. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh agenda strategis Muhammadiyah yang menempatkan dakwah kepada generasi milenial, Z, dan alfa sebagai prioritas utama. Dengan jumlah Generasi Z yang mencapai hampir 28 persen dari populasi Indonesia, kelompok ini menjadi kunci keberlanjutan gerakan Muhammadiyah di masa depan. Namun, di sisi lain, muncul tantangan baru karena karakteristik Generasi Z yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka dikenal sebagai digital native yang kritis, visual, dan menyukai interaktivitas, tetapi juga rentan terhadap disorientasi nilai di era digital. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pembelajaran AIK yang masih menggunakan pendekatan konvensional berpotensi kehilangan relevansi. Pembelajaran yang terlalu berfokus pada hafalan dan ceramah dinilai kurang mampu menjawab kebutuhan generasi saat ini, sehingga berisiko hanya menjadi rutinitas formal tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Selain itu, terdapat kesenjangan dalam penggunaan teknologi serta pendekatan pembelajaran yang belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana relevansi pembelajaran AIK bagi Generasi Z, sekaligus mengidentifikasi pandangan siswa serta upaya yang dilakukan guru dalam menghadapi tantangan tersebut. Fokus utama penelitian adalah memahami pengalaman belajar dari sudut pandang siswa sebagai subjek utama pendidikan, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus deskriptif. Penelitian dilakukan secara mendalam di SMP MBS Jombang dengan melibatkan siswa kelas IX dan guru AIK sebagai informan utama. Teknik pengumpulan data meliputi observasi langsung di kelas, wawancara terstruktur, serta analisis dokumentasi seperti rencana pembelajaran dan hasil karya siswa. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang utuh dan kontekstual mengenai dinamika pembelajaran AIK.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara substansi, pembelajaran AIK masih dianggap relevan oleh siswa Generasi Z. Materi yang diajarkan mampu menjadi panduan moral dan spiritual, terutama dalam menghadapi tantangan dunia digital. Siswa mengaku bahwa nilai-nilai yang dipelajari membantu mereka menyaring informasi dan bersikap bijak, misalnya dalam penggunaan media sosial. Namun, pada aspek metode pembelajaran, ditemukan adanya kesenjangan yang cukup signifikan. Siswa menginginkan metode yang lebih interaktif dan variatif, seperti penggunaan video, kuis digital, serta diskusi kelompok yang lebih aktif. Meskipun metode ceramah masih digunakan, siswa menilai pendekatan tersebut perlu dikombinasikan dengan strategi yang lebih menarik agar pembelajaran tidak monoton. Di sisi lain, guru telah menunjukkan berbagai upaya untuk meningkatkan relevansi pembelajaran. Guru berusaha mengaitkan materi dengan isu-isu aktual, seperti fenomena viral di media sosial, serta mulai memanfaatkan teknologi sederhana seperti proyektor dan aplikasi kuis. Meski demikian, upaya tersebut masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan infrastruktur digital, waktu persiapan, serta kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan asrama. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran AIK tidak hanya ditentukan oleh materi, tetapi juga oleh desain pengalaman belajar secara keseluruhan. Pembelajaran yang efektif bagi Generasi Z adalah yang mampu menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Pertama, diperlukan penguatan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran berbasis digital dan interaktif. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan desainer pengalaman belajar. Kedua, sekolah perlu menyediakan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung integrasi teknologi secara bijak dalam pembelajaran. Ketiga, pengembangan kurikulum perlu lebih responsif terhadap aspirasi siswa, sehingga pembelajaran benar-benar berpusat pada kebutuhan mereka. Selain itu, penelitian ini membuka peluang bagi pengembangan model pembelajaran AIK yang menggabungkan interaksi langsung di lingkungan boarding dengan pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Pendekatan hybrid ini dinilai mampu menjawab tantangan pendidikan Islam di era modern tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasinya. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran AIK tetap memiliki peran penting dalam membentuk karakter Generasi Z. Namun, agar tetap relevan, diperlukan transformasi dalam metode dan pendekatan pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan AIK tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk generasi yang beriman, kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam yang berkemajuan. *** *) Oleh: Iwantoro, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam  Universitas Muhammadiyah Malang.  

Model IWPC Tingkatkan Keterampilan Bahasa Siswa Secara Signifikan

Sebuah penelitian terbaru dalam bidang pendidikan bahasa mengungkapkan bahwa model pembelajaran Integrated Writing and Practice Cycle (IWPC)   MALANG – Sebuah penelitian terbaru dalam bidang pendidikan bahasa mengungkapkan bahwa model pembelajaran Integrated Writing and Practice Cycle (IWPC) mampu meningkatkan keterampilan berbahasa siswa secara signifikan, khususnya dalam aspek menulis dan berbicara. Temuan ini menjadi angin segar bagi pengembangan metode pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang selama ini dinilai masih kurang efektif dalam mengintegrasikan keterampilan produktif. Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan umum dalam pembelajaran bahasa, di mana keterampilan menulis dan berbicara sering diajarkan secara terpisah. Kondisi ini menyebabkan siswa kesulitan menghubungkan kemampuan berpikir dalam tulisan dengan praktik komunikasi lisan. Padahal, kedua keterampilan tersebut memiliki hubungan yang erat dalam proses komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang mampu mengintegrasikan keduanya secara sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan serta menguji efektivitas model IWPC dalam meningkatkan keterampilan produktif siswa. Model ini dirancang sebagai pendekatan pembelajaran berbasis siklus yang menggabungkan kegiatan menulis dengan praktik komunikasi lisan. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami teori bahasa, tetapi juga mampu menggunakannya secara aktif dalam berbagai konteks komunikasi. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development). Model IWPC dikembangkan melalui beberapa tahapan, mulai dari perancangan konsep, validasi oleh ahli, hingga uji coba di lapangan. Dalam implementasinya, model ini terdiri atas beberapa tahap utama, yaitu eksplorasi ide, pengembangan tulisan, latihan penggunaan bahasa, praktik komunikasi, serta refleksi dan umpan balik. Tahapan tersebut disusun secara sistematis dalam bentuk siklus pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara bertahap dan berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model IWPC memiliki tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitas yang tinggi. Dari aspek validitas, model ini dinilai sesuai dengan prinsip pedagogi modern oleh para ahli. Dari sisi kepraktisan, guru dan siswa memberikan respons positif terhadap penerapan model ini karena dinilai mudah diterapkan dan menarik. Sementara itu, dari aspek efektivitas, terdapat peningkatan yang signifikan dalam kemampuan menulis dan berbicara siswa setelah menggunakan model IWPC.   Secara kuantitatif, peningkatan hasil belajar siswa berada pada kategori sedang hingga tinggi. Sementara itu, secara kualitatif, siswa menunjukkan perkembangan dalam kemampuan mengembangkan ide, penggunaan kosakata yang lebih variatif, serta penyampaian gagasan yang lebih terstruktur. Selain itu, siswa juga menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Keberhasilan model ini tidak terlepas dari penerapan strategi scaffolding, yaitu pemberian dukungan belajar secara bertahap oleh guru. Pada tahap awal, siswa diberikan bimbingan yang cukup melalui contoh, latihan terstruktur, dan umpan balik. Seiring dengan meningkatnya kemampuan siswa, dukungan tersebut secara perlahan dikurangi sehingga siswa dapat belajar secara mandiri. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membantu siswa mengatasi kesulitan belajar serta meningkatkan kemandirian mereka dalam menggunakan bahasa.   Implikasi dari penelitian ini sangat penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris. Model IWPC dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, komunikatif, dan bermakna. Selain itu, model ini juga mendorong perubahan peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator yang membimbing siswa dalam proses belajar. Meskipun demikian, penelitian ini juga memiliki keterbatasan, antara lain terkait dengan konteks implementasi yang masih terbatas serta kebutuhan waktu yang relatif lebih panjang dalam penerapan model. Oleh karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menguji efektivitas model ini dalam berbagai konteks pembelajaran yang lebih luas. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa integrasi antara kegiatan menulis dan praktik komunikasi dalam satu siklus pembelajaran merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan keterampilan produktif siswa. Model IWPC tidak hanya memberikan kontribusi praktis dalam pembelajaran di kelas, tetapi juga memperkaya kajian teoretis dalam bidang pedagogi bahasa. *** *) Oleh: Ebit N. Rauf, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan  Universitas Muhammadiyah Malang.  

News Script of Dissertation

The selection of this dissertation subject is based on the rising need to investigate more integrative and reflective approaches in current education. 1. Background of the Study MALANG – The selection of this dissertation subject is based on the rising need to investigate more integrative and reflective approaches in current education. In recent years, educational research has highlighted not just cognitive growth, but also the role of values, emotions, and transforming events in learning. Despite this transition, there is still a large gap in the integration of transformational learning theory, axiological viewpoints, and the use of narrative media, such as cinema, as instructional resources. Traditionally, films have been used in educational settings only as additional teaching aids or motivating media. They are frequently positioned as supplementary materials rather than as standalone pedagogical texts capable of expressing significant educational content. This narrow viewpoint has resulted in an underestimating of films’ ability to depict profound learning processes, particularly those involving personal change, ethical contemplation, and value creation. Furthermore, previous research on axiology in education has mostly focused on formal educational environments, such as curriculum design and classroom activities. As a result, the effect of narrative media in fostering moral awareness, empathy, and ethical knowledge remains largely unknown. This difference is even more pronounced in the context of transformational learning, which requires shifts in viewpoint, critical reflection, and meaning-making processes. In response to these restrictions, this research tries to study how instructional films might serve as narrative representations of transformational learning while also embodying axiological principles. This project will analyze chosen films to have a better understanding of how learning is depicted as a holistic process that incorporates cognitive, emotional, and ethical elements. As a result, the issue is not only timely, but also helps to broaden the area of educational research in a more integrative and thoughtful manner. 2. Rationale for the Research Method This study adopts a qualitative research methodology with a content analysis design, which is regarded as the most suited method for investigating meanings, values, and representations inherent in cinema tales. Qualitative research provides for a thorough examination of complicated events, particularly those involving interpretation, symbolism, and contextual knowledge.   Content analysis was chosen precisely because it allows the researcher to carefully examine narrative structures, character development, dialogue, and visual components in the films. This technique allows for the identification and interpretation of both explicit and implicit meanings in respect to the transformational learning and axiology theoretical frameworks. Furthermore, qualitative content analysis allows for greater flexibility in capturing the richness of data. Films, like narrative texts, contain several meanings that quantitative methods cannot properly investigate. As a result, this technique enables the researcher to identify patterns, themes, and categories that represent transformational learning processes and value-oriented dimensions.   To assure the legitimacy and trustworthiness of the conclusions, this study used triangulation, which includes data triangulation, theoretical triangulation, and methodological triangulation. These tactics increase the validity of the study and give a more complete grasp of the phenomena under inquiry. 3. Research Process The research method follows a systematic and iterative technique based on the Miles, Huberman, and Saldaña model. This comprises data gathering, condensation, presentation, and conclusion drafting and verification. The first step, data collecting, is choosing and analyzing three instructional films: Dead Poets Society (1989), Freedom Writers (2007), and The Miracle Worker (1962). These films were chosen for their strong educational themes, representations of teacher-student interactions, and depictions of transformational learning experiences. Data is gathered in the form of dialogues, scenes, character interactions, and narrative sequences that depict learning processes and value construction. The second stage, data condensation, aims to reduce and organize the data by coding and categorization. The researcher finds important elements associated with transformational learning, including unsettling problems, critical reflection, viewpoint shift, and the incorporation of new meaning views. At the same time, axiological values such as empathy, responsibility, moral awareness, and regard for human dignity are recognized and classified. The third stage, data display, is presenting studied data in a structured and ordered format. Tables, thematic descriptions, and narrative explanations are used to show how the identified themes relate to the theoretical frameworks. The last stage, conclusion drawing and verification, include analyzing the results and confirming them through ongoing comparison and introspection. To improve the dependability of the results, the researcher goes over the data several times to make sure the interpretation is accurate and consistent. 4. Research Findings The results of this study show that instructional films’ narrative frameworks may well depict the processes of transformational learning. Disorienting problems, critical reflection, reflective discourse, viewpoint transformation, and the integration of new meaning views are among the crucial phases of transformational learning that are identified by the study as being shown in the movies. The study also discovers a strong correlation between axiological ideals and transformative learning in the movies. The characters’ growth and interactions mirror these ideals, showing how learning entails moral and emotional development in addition to cognitive improvements. The three movies all consistently depict values like empathy, accountability, respect for variety, and human dignity. The fact that movies may serve as instructional texts that incorporate the ethical, emotional, and cognitive aspects of learning is another important discovery. Films offer a rich and captivating medium for depicting intricate educational experiences through storytelling, enabling spectators to participate in introspective and transforming processes. Additionally, a conceptual framework called the Transformative-Axiological Film-Based Learning Model (TA-FBLM) is proposed in this study. This approach offers a fresh viewpoint on how movies might be utilized as reflective learning aids in educational settings by combining aspects of transformational learning theory, axiological principles, and narrative pedagogy. 5. Conclusion and Future Expectations This research concludes by showing that instructional films are useful tools for investigating transformational learning and value-based education. The research offers a thorough grasp of how learning is portrayed as a full and significant process by fusing transformational learning theory with axiological analysis and cinema narrative interpretation. By applying transformative learning theory to the field of cinematic analysis, the

Pengembangan Asesmen Peduli Lingkungan pada Peserta Didik SMP Adiwiyata

Kesenjangan antara program pendidikan lingkungan yang masif melalui sekolah Adiwiyata dengan ketersediaan alat ukur yang mampu menangkap perubahan karakter secara utuh. Latar Belakang: Mengapa Tema Disertasi Ini Diangkat? MALANG – Kesenjangan antara program pendidikan lingkungan yang masif melalui sekolah Adiwiyata dengan ketersediaan alat ukur yang mampu menangkap perubahan karakter secara utuh. “Selama ini, sekolah Adiwiyata sangat baik dalam membangun budaya ramah lingkungan, tetapi asesmen karakternya masih bersifat umum, belum sistematis, dan belum membedakan antara aspek pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Berdasarkan studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Rantau Selatan (sekolah Adiwiyata), ditemukan bahwa: Tidak ada instrumen baku untuk mengevaluasi karakter peduli lingkungan. Asesmen hanya mengandalkan observasi umum tanpa indikator terpisah untuk moral knowing, moral feeling, dan moral action. Terdapat ketimpangan persepsi antara guru dan peserta didik tentang perubahan karakter (guru cenderung menilai lebih tinggi dibanding peserta didik). Kerangka teoritis yang digunakan adalah pendidikan karakter dari Thomas Lickona (1991) yang menyatakan bahwa karakter yang utuh mencakup tiga dimensi: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Namun, selama ini belum ada model asesmen yang mengintegrasikan ketiganya secara simultan dalam konteks sekolah Adiwiyata tingkat SMP. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi model asesmen yang mampu mengukur karakter peduli lingkungan secara komprehensif, valid, reliabel, praktis, dan efektif. Alasan Pengambilan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implementation, Evaluation). Pemilihan metode ini didasarkan pada kebutuhan untuk menghasilkan produk berupa model asesmen yang teruji secara sistematis. Model ADDIE juga dipilih karena sifatnya yang prosedural, fleksibel, dan memungkinkan evaluasi formatif di setiap tahap. Adapun rincian metode: Tahap Analyze – Melibatkan 126 responden (110 siswa, 16 guru) untuk analisis kebutuhan, serta wawancara dengan kepala sekolah dan wakil kurikulum. Analisis kurikulum dilakukan untuk melihat integrasi isu lingkungan dan ketersediaan instrumen asesmen. Tahap Design – Merancang kisi-kisi instrumen berdasarkan tiga dimensi (86 butir pernyataan awal) dan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan 15 pakar (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Labuhanbatu, guru SMP Negeri 2 Rantau Selatan, dan guru MTs Negeri 1 Labuhanbatu. Tahap Develop – Validasi isi oleh 4 ahli (pendidikan, psikologi/asesmen, penilai Adiwiyata) dan validasi konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan software LISREL 8.8. Uji kepraktisan melalui angket respon guru dan siswa. Tahap Implementation – Uji efektivitas pada 198 siswa dari sekolah Adiwiyata dan non Adiwiyata menggunakan uji Mann-Whitney U dan korelasi Spearman. Tahap Evaluation – Evaluasi formatif dan sumatif untuk menilai kelayakan akhir model. Alasan penggunaan CFA adalah untuk memastikan bahwa konstruk teoretis (moral knowing, feeling, action) benar-benar didukung oleh data empiris. “Dengan CFA, kita tidak hanya menguji validitas butir, tetapi juga kesesuaian struktur faktor laten, yang jarang dilakukan pada penelitian asesmen karakter sebelumnya. Proses dan Hasil Penelitian Proses: Penelitian dilaksanakan dari bulan November 2025 di Kabupaten Labuhanbatu. Tahap analisis kebutuhan menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap karakter peduli lingkungan siswa mencapai 82,57% (kategori tinggi), sementara persepsi siswa hanya 79,53% (cukup tinggi). Kesenjangan ini menandakan perlunya instrumen objektif. Analisis kurikulum juga menemukan bahwa asesmen belum terintegrasi dengan program Adiwiyata. Moral knowing (35 butir, 6 indikator: kesadaran moral, pengetahuan nilai moral, pengambilan perspektif, penalaran moral, pengambilan keputusan, memahami diri sendiri). Moral feeling (33 butir, 6 indikator: hati nurani, harga diri, empati, cinta kasih & kebaikan, pengendalian diri, kerendahan hati). Moral action (18 butir, 3 indikator: kompetensi moral, keinginan, kebiasaan). Setelah validasi isi oleh pakar (dua tahap revisi), seluruh validator menyatakan model sangat valid dengan rerata skor 3,85 (skala 1–4). Beberapa perbaikan dilakukan pada redaksi kalimat dan pemisahan indikator yang tumpang tindih. Hasil Validitas Konstruk (CFA): Nilai Standardized Loading Factor (SLF) semua indikator ≥ 0,677 (mendekati atau di atas 0,70). Average Variance Extracted (AVE) untuk moral knowing = 0,556; moral feeling = 0,567; moral action = 0,757 (semua > 0,50). Construct Reliability (CR) masing masing 0,732; 0,746; 0,837 (> 0,70). Cronbach’s Alpha: 0,83; 0,85; 0,91 (reliabilitas tinggi). Goodness of fit: RMSEA = 0,0445 (≤ 0,05, kategori close fit) dan p-value = 0,6043 (> 0,05), menunjukkan model fit dengan data empiris. Hasil Uji Kepraktisan: Respon guru: 85,42% (sangat praktis) Respon siswa: 83,67% (sangat praktis) Aspek yang dinilai meliputi kemudahan penggunaan, kesesuaian isi, kejelasan tampilan, dan manfaat.   Hasil Uji Efektivitas (Implementasi): Model diterapkan pada 198 siswa dari sekolah Adiwiyata dan non Adiwiyata. Uji Mann-Whitney U menunjukkan: Moral knowing: tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok (*p* = 0,501) → artinya pengetahuan lingkungan relatif merata. Moral feeling dan moral action: berbeda signifikan (*p* < 0,05), dengan sekolah Adiwiyata lebih tinggi. Korelasi Spearman antara kategori sekolah dengan moral action (*r* = 0,283) dan moral feeling (*r* = 0,250) termasuk moderat, sedangkan dengan moral knowing lemah (*r* = 0,132). Ini membuktikan bahwa model asesmen sensitif terhadap konteks dan mampu membedakan tingkat karakter berdasarkan kultur sekolah. Menariknya, korelasi antar variabel di sekolah Adiwiyata menunjukkan hubungan yang sangat lemah bahkan negatif antara moral knowing dengan moral action (*r* = 0,009). Hal ini mengindikasikan bahwa program Adiwiyata lebih langsung membentuk tindakan moral melalui pembiasaan, tanpa harus melalui pemahaman kognitif yang tinggi – sebuah temuan yang memperkuat teori pembelajaran sosial Bandura. Dengan demikian, secara kritis dapat dinyatakan bahwa penelitian ini melampaui pendekatan deskriptif sebelumnya dengan menghadirkan model asesmen yang tervalidasi secara struktural dan mampu membedakan tingkat karakter berdasarkan konteks institusional. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model asesmen peduli lingkungan memiliki validitas konstruk, reliabilitas internal, sensitivitas kontekstual, serta efektivitas implementasi yang memadai. Model ini dapat digunakan baik pada sekolah Adiwiyata maupun non-Adiwiyata sebagai instrumen pengukuran dan diagnosis karakter peduli lingkungan peserta didik SMP. Meskipun demikian, sebagaimana ditegaskan dalam epistemologi ilmu sosial, model pengukuran merupakan representasi teoretis yang bersifat aproksimatif terhadap realitas, sehingga pengujian lanjutan pada konteks yang lebih luas tetap direkomendasikan untuk memperkuat generalisasi temuan. Kesimpulan Penelitian Model asesmen peduli lingkungan yang dikembangkan telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Hasil Confirmatory Factor Analysis menunjukkan bahwa struktur konstruk moral knowing, moral feeling, dan moral action terkonfirmasi secara empiris dengan tingkat kecocokan model yang baik. Selain itu, nilai Construct Reliability dan Cronbach’s Alpha yang memenuhi batas minimum menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang memadai dan layak digunakan sebagai alat

Model Komprehensif Layanan Bimbingan Konseling bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SLBN Dompu

Transformasi Bimbingan Konseling di Pendidikan Khusus Jadi Sorotan, Pendekatan Lama Dinilai Tak Lagi Efektif MALANG – Transformasi layanan bimbingan dan konseling (BK) dalam pendidikan khusus menjadi isu penting dalam dunia pendidikan saat ini. Perubahan paradigma dinilai mendesak seiring meningkatnya kompleksitas kebutuhan siswa berkebutuhan khusus yang tidak lagi dapat ditangani dengan pendekatan konvensional. Dalam kajian terbaru, layanan BK tidak lagi cukup berfokus pada penyelesaian masalah semata. Pendidikan modern menuntut pendekatan yang lebih komprehensif, mencakup pengembangan potensi individu secara menyeluruh, termasuk aspek emosional, sosial, hingga kemandirian peserta didik. Pendekatan Lama Dinilai Tidak Relevan Pendekatan konvensional yang selama ini digunakan dinilai tidak efektif karena cenderung seragam dan berorientasi pada kelemahan siswa. Padahal, siswa berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang sangat beragam, baik dari sisi intelektual, emosional, maupun sosial. Akibatnya, layanan yang diberikan sering kali tidak tepat sasaran dan kurang mampu mengoptimalkan potensi peserta didik. Bahkan, pendekatan berbasis kekurangan (deficit-based) berisiko menimbulkan dampak psikologis negatif, seperti rendahnya rasa percaya diri dan ketergantungan pada bantuan orang lain. Dorongan Transformasi ke Pendekatan Komprehensif Para ahli menekankan pentingnya transformasi menuju model layanan BK yang lebih adaptif, fleksibel, dan berpusat pada peserta didik. Pendekatan baru ini tidak hanya berfokus pada masalah, tetapi juga mengembangkan kekuatan dan potensi siswa melalui strength-based approach. Transformasi ini juga mencakup integrasi tiga fungsi utama layanan BK, yakni preventif, developmental, dan kuratif. Dengan pendekatan tersebut, layanan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mampu mencegah masalah serta mendukung perkembangan jangka panjang siswa. Tantangan di Lapangan Meski secara konsep sudah berkembang, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah fragmentasi layanan, di mana program BK berjalan secara terpisah dan tidak terintegrasi. Selain itu, dominasi pendekatan responsif yang hanya menangani masalah setelah muncul masih menjadi pola umum. Hal ini diperparah dengan keterbatasan jumlah konselor, beban kerja tinggi, serta kurangnya dukungan sistem dan kebijakan. Kelemahan struktural dan administratif juga menjadi hambatan serius. Layanan BK kerap belum memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan, sehingga perencanaan dan pelaksanaannya belum optimal. Peran Teknologi dan Kolaborasi Di era digital, layanan BK juga dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pemanfaatan platform digital dinilai dapat meningkatkan akses layanan, terutama bagi siswa berkebutuhan khusus. Selain itu, kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci keberhasilan. Konselor perlu bekerja sama dengan guru, orang tua, tenaga medis, dan pihak lain untuk memberikan layanan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Menuju Pendidikan yang Inklusif Transformasi layanan BK diharapkan mampu mendukung terwujudnya pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadilan. Dengan pendekatan yang tepat, siswa berkebutuhan khusus tidak hanya mampu mengatasi hambatan, tetapi juga mengembangkan potensi secara optimal. Para pakar menilai, keberhasilan transformasi ini akan sangat menentukan kualitas pendidikan khusus ke depan, sekaligus memastikan setiap peserta didik mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya. *** *) Oleh: Syatriadin, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.  

Model Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Influencer Digital di Perguruan Tinggi

Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara mahasiswa belajar bahasa Inggris di era pendidikan abad ke-21. MALANG – Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara mahasiswa belajar bahasa Inggris di era pendidikan abad ke-21. Fenomena ini menjadi fokus kajian dalam disertasi Nurhaida Lakuana (2026) yang meneliti praktik pembelajaran bahasa Inggris digital melalui educational influencers di Universitas Muhammadiyah Luwuk, Sulawesi Tengah. Penelitian ini mengkaji mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang secara aktif memanfaatkan platform digital seperti TikTok, YouTube, dan Instagram sebagai sumber belajar alternatif. Studi ini tidak hanya menggambarkan perubahan perilaku belajar mahasiswa, tetapi juga mengungkap bagaimana media sosial bertransformasi menjadi ruang pedagogis baru di luar sistem pembelajaran formal. Dalam konteks perkembangan teknologi dan kebijakan pendidikan nasional, digitalisasi pembelajaran telah mendorong terjadinya pergeseran paradigma dari pembelajaran berbasis kelas menuju pembelajaran yang lebih terbuka, fleksibel, dan berbasis jejaring digital. Kehadiran educational influencers sebagai aktor baru dalam ekosistem pendidikan memperkuat transformasi tersebut dengan menghadirkan konten pembelajaran yang komunikatif, kontekstual, dan mudah diakses oleh generasi digital. Disertasi berjudul “Pembelajaran Bahasa Inggris Digital dengan Educational Influencers” ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif preferensi platform pembelajaran, karakteristik konten digital, pendekatan pedagogis yang digunakan oleh influencer, serta implikasi penggunaannya terhadap keterampilan berbicara mahasiswa.   Selain itu, penelitian ini juga berupaya merumuskan model konseptual pembelajaran yang relevan dengan dinamika pembelajaran bahasa Inggris di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus berbasis paradigma konstruktivis-interpretatif. Sebanyak 21 mahasiswa semester tiga yang mengikuti mata kuliah Academic Speaking menjadi partisipan utama penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi aktivitas pembelajaran, serta analisis konten digital, yang kemudian dianalisis secara tematik untuk memahami pengalaman belajar mahasiswa secara holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok, YouTube, dan Instagram menjadi tiga platform dominan dalam pembelajaran bahasa Inggris digital. TikTok dimanfaatkan untuk pembelajaran singkat dan interaktif berbasis microlearning, YouTube digunakan untuk eksplorasi materi yang lebih mendalam dan terstruktur, sementara Instagram berfungsi sebagai media pembelajaran visual yang kontekstual dan komunikatif. Variasi penggunaan ini mencerminkan fleksibilitas mahasiswa dalam menyesuaikan strategi belajar dengan karakteristik masing-masing platform. Dari sisi konten, keterampilan berbicara (speaking) menjadi fokus utama yang paling banyak diakses mahasiswa karena dianggap paling aplikatif dalam komunikasi sehari-hari. Konten kosakata (vocabulary) dan tata bahasa (grammar) digunakan sebagai pendukung dalam memperkuat kompetensi berbahasa. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung memilih konten yang bersifat praktis, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan nyata mereka. Dari perspektif pedagogis, educational influencers menerapkan pendekatan yang bersifat eklektik dan adaptif dengan mengintegrasikan Communicative Language Teaching (CLT), Context-Based Learning, dan Task-Based Language Teaching (TBLT). Pendekatan ini diperkaya dengan unsur edutainment dan multimodalitas yang tidak hanya meningkatkan keterlibatan belajar, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih autentik dan bermakna. Implikasi penggunaan konten digital ini terlihat dalam dua dimensi utama. Secara instruksional, mahasiswa mengalami peningkatan dalam aspek pengucapan, kelancaran berbicara, penggunaan kosakata, serta ketepatan struktur bahasa. Sementara itu, secara afektif, terjadi peningkatan kepercayaan diri, motivasi belajar, serta keberanian untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran digital tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi psikologis pembelajar. Kebaruan utama penelitian ini terletak pada pengembangan model pembelajaran yang dinamakan Digital-Influencer Enhanced Speaking Model (DI-ESM). Model ini merupakan hasil sintesis dari praktik belajar autentik mahasiswa yang mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten dalam kerangka TPACK. Model DI-ESM menempatkan educational influencers sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran nonformal yang secara signifikan memperkaya pembelajaran formal di perguruan tinggi. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas kajian pembelajaran bahasa Inggris digital dengan menghadirkan perspektif baru tentang peran educational influencers sebagai agen pedagogis nonformal. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi rujukan bagi dosen, pengembang kurikulum, dan institusi pendidikan dalam merancang pembelajaran yang lebih adaptif terhadap karakteristik generasi digital. Ke depan, penelitian ini diharapkan dapat mendorong integrasi yang lebih sistematis antara pembelajaran formal dan informal, serta membuka ruang bagi pengembangan model pembelajaran bahasa Inggris yang lebih kontekstual, inovatif, dan berkelanjutan di era digital. *** *) Oleh: Nurhaida lakuana, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.  

Well-being Based Learning Perkuat Pembelajaran Inklusif dan Kesejahteraan Mahasiswa

Sri Wahyuni, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, menghasilkan disertasi tentang pengembangan model pembelajaran Well-being Based Learning (WBBL) MALANG – Sri Wahyuni, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, menghasilkan disertasi tentang pengembangan model pembelajaran Well-being Based Learning (WBBL) untuk perguruan tinggi inklusi. Penelitian yang dilaksanakan pada pembelajaran mata kuliah Ortopedagogi di Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Lancang Kuning ini menunjukkan bahwa model yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar sekaligus mendukung kesejahteraan mahasiswa penyandang disabilitas. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa pendidikan tinggi inklusif tidak cukup hanya membuka akses bagi mahasiswa disabilitas, tetapi juga harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang mendukung kesejahteraan mereka secara utuh. Dalam praktiknya, mahasiswa disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan media pembelajaran, aksesibilitas, hingga dukungan akademik dan sosial. Kondisi tersebut dapat menurunkan motivasi, keterlibatan, dan kenyamanan mereka selama proses perkuliahan. Disertasi ini menegaskan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi inklusi perlu bergerak dari sekadar ramah akses menuju benar-benar memperhatikan kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial mahasiswa.   Judul disertasi Sri Wahyuni adalah “Pengembangan Model Pembelajaran Well-being Based Learning (WBBL) dalam meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi Inklusi.” Fokus utamanya ialah merancang model pembelajaran yang dapat digunakan pada mata kuliah Ortopedagogi untuk mahasiswa Pendidikan Khusus, dengan menempatkan well-being sebagai dasar pengalaman belajar. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa model, tetapi juga buku model, panduan mengajar bagi dosen, dan modul pembelajaran bagi mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan, menguji validitas, menguji praktikalitas, dan menguji efektivitas model WBBL. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sri Wahyuni menggunakan pendekatan research and development dengan model ADDIE, yakni analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Responden analisis kebutuhan terdiri atas 24 mahasiswa dan 2 dosen pengampu mata kuliah Ortopedagogi. Validasi model dilakukan oleh 5 ahli, sedangkan uji coba terbatas melibatkan 3 mahasiswa dan uji lapangan melibatkan 24 mahasiswa. Efektivitas model dianalisis menggunakan paired sample t-test dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model WBBL yang dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan akademik dan implementatif. Hasil validasi memperlihatkan skor rata-rata 0,80–0,85, yang termasuk dalam kategori valid. Uji praktikalitas juga menunjukkan hasil positif, dengan skor rata-rata 81,77%–88,47%, sehingga model dinilai praktis digunakan oleh dosen maupun mahasiswa. Temuan ini memperlihatkan bahwa WBBL tidak hanya dapat dipahami secara konseptual, tetapi juga realistis untuk diterapkan dalam pembelajaran. Temuan yang paling menonjol tampak pada hasil uji efektivitas. Nilai rata-rata pretest mahasiswa sebesar 50,63 meningkat menjadi 84,58 pada posttest, dengan hasil uji t berpasangan t(23) = -16,824; Sig. = 0,000. Ini berarti terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah penerapan model WBBL. Selain meningkatkan pemahaman materi, model ini juga mendorong keterlibatan aktif mahasiswa melalui diskusi, kerja kelompok, presentasi, dan refleksi pembelajaran. Dengan demikian, kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi desain pembelajaran inklusif dengan dimensi kesejahteraan mahasiswa sebagai inti proses belajar, bukan sekadar unsur pendamping. Secara ilmiah, disertasi ini memperkaya pengembangan model pembelajaran di perguruan tinggi inklusi dengan menempatkan well-being sebagai fondasi pedagogis. Secara praktis, hasil penelitian ini memberi rujukan bagi dosen, program studi, dan perguruan tinggi untuk merancang pembelajaran yang lebih manusiawi, adaptif, dan memberdayakan mahasiswa disabilitas. WBBL juga berpotensi mendukung penguatan kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan tidak berhenti sebagai karya disertasi, tetapi dapat diimplementasikan lebih luas pada mata kuliah lain dan menjadi rujukan pengembangan kebijakan pembelajaran inklusif di perguruan tinggi. Dengan hadirnya model WBBL, pendidikan tinggi inklusi diharapkan semakin mampu menghadirkan proses belajar yang bukan hanya efektif secara akademik, tetapi juga menyejahterakan mahasiswa sebagai manusia seutuhnya. *** *) Oleh: Sri Wahyuni, Mahasiswa Doktor Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.  

Kajian Mikroplastik pada Ikan Bertingkat Trofik di Teluk Kupang sebagai Sumber Belajar Digital Biologi Kelautan

Disertasi ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan pencemaran mikroplastik di ekosistem laut yang saat ini menjadi isu global dan mendapat perhatian serius dalam kajian ilmu kelautan. MALANG – Disertasi ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan pencemaran mikroplastik di ekosistem laut yang saat ini menjadi isu global dan mendapat perhatian serius dalam kajian ilmu kelautan. Teluk Kupang sebagai salah satu wilayah pesisir di Indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang tinggi, namun di sisi lain menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia seperti pemukiman, perikanan, perdagangan, dan pariwisata. Aktivitas tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya limbah plastik yang kemudian terdegradasi menjadi mikroplastik dan masuk ke dalam rantai makanan laut. Pemilihan tema penelitian ini didasarkan pada pentingnya memahami bagaimana mikroplastik terdistribusi dan terakumulasi dalam organisme laut, khususnya ikan yang memiliki peran penting dalam ekosistem serta sebagai sumber pangan bagi manusia. Selain itu, penelitian ini juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembelajaran Biologi Kelautan yang masih minim berbasis data lokal. Oleh karena itu, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada aspek ilmiah, tetapi juga dikembangkan menjadi sumber belajar digital berupa e-handout yang kontekstual.   Penelitian ini menggunakan dua pendekatan utama, yaitu penelitian eksploratif dan penelitian pengembangan (Research and Development). Pendekatan eksploratif digunakan untuk mengkaji karakteristik, distribusi, dan akumulasi mikroplastik pada ikan berdasarkan tingkat trofik, sedangkan pendekatan pengembangan digunakan untuk menghasilkan sumber belajar digital yang valid, praktis, dan efektif. Penelitian eksploratif dilakukan di tiga lokasi perairan Teluk Kupang, yaitu perairan Lasiana, kawasan sekitar PT TOM, dan perairan Oeba. Ketiga lokasi ini dipilih untuk mewakili variasi aktivitas manusia yang berbeda, mulai dari kawasan wisata dan pemukiman, area budidaya, hingga wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Sampel penelitian terdiri dari 36 ekor ikan yang mewakili kelompok herbivora dan karnivora, yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Prosedur penelitian dimulai dari pengambilan sampel oleh nelayan menggunakan metode pancing ulur. Sampel kemudian disimpan dalam kondisi dingin untuk menjaga kualitas sebelum dianalisis di laboratorium. Tahapan selanjutnya adalah pembedahan untuk mengambil organ target, yaitu saluran pencernaan, insang, dan daging ikan. Proses ekstraksi mikroplastik dilakukan menggunakan larutan KOH 10% yang bertujuan untuk menghancurkan bahan organik, dilanjutkan dengan filtrasi dan pengeringan.Identifikasi mikroplastik dilakukan menggunakan mikroskop dengan bantuan kamera digital untuk mendokumentasikan bentuk dan warna partikel. Ukuran mikroplastik diukur menggunakan perangkat lunak analisis citra. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif serta menggunakan uji statistik untuk melihat perbedaan berdasarkan lokasi dan tingkat trofik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan pada seluruh organ ikan, baik pada kelompok herbivora maupun karnivora. Jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber, diikuti oleh fragmen, film, dan pellet. Warna yang paling banyak ditemukan adalah biru dan hitam, sedangkan ukuran mikroplastik didominasi oleh ukuran kurang dari 0,25 mm. Distribusi mikroplastik menunjukkan bahwa semua lokasi penelitian telah terpapar pencemaran, dengan tingkat akumulasi tertinggi ditemukan di wilayah Oeba yang memiliki aktivitas antropogenik tinggi. Ikan karnivora cenderung menunjukkan jumlah mikroplastik yang lebih tinggi dibandingkan ikan herbivora, namun perbedaan tersebut tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan tingkat trofik. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap adanya potensi bioakumulasi dan transfer mikroplastik dalam rantai makanan laut. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh ikan melalui proses makan maupun respirasi, kemudian terdistribusi ke berbagai organ. Pada tahap pengembangan, penelitian ini menggunakan model ADDIE yang terdiri dari lima tahapan, yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Tahap analisis dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, sedangkan tahap desain dan pengembangan difokuskan pada penyusunan materi ehandout berbasis hasil penelitian. E-handout dikembangkan dalam format digital yang dapat diakses melalui berbagai perangkat, baik secara online maupun offline. Materi dalam e-handout mencakup konsep mikroplastik, hasil penelitian, kegiatan praktikum, serta evaluasi pembelajaran. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa e-handout memiliki tingkat validitas sangat tinggi dari aspek materi, media, dan bahasa. Uji praktikalitas menunjukkan bahwa ehandout mudah digunakan dan mendapat respon positif dari mahasiswa dan dosen. Sementara itu, uji efektivitas menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep, keterampilan proses sains, dan sikap peduli lingkungan mahasiswa setelah menggunakan e-handout. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa mikroplastik telah terdistribusi luas dalam ekosistem Teluk Kupang dan berpotensi mempengaruhi organisme laut serta manusia. Pengembangan e-handout berbasis hasil penelitian terbukti menjadi inovasi yang efektif dalam mendukung pembelajaran Biologi Kelautan yang kontekstual. Ke depan, diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengelolaan pencemaran mikroplastik serta mendorong integrasi hasil penelitian ke dalam pembelajaran. Selain itu, diharapkan adanya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya menjaga kelestarian ekosistem laut. *** *) Oleh: Ernawati, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.  

Developing The Apmet: A Metacognitive-Based Learning Model For Diverse Listening Tasks

This research has been undertaken due to the problems encountered by the students in EFL listening classes. MALANG – This research has been undertaken due to the problems encountered by the students in EFL listening classes. Listening has always been regarded as a very important skill in any language learning program because it offers the first form of input and helps build other skills. In an academic environment, students have to be able to understand spoken English well enough to engage in class discussions and comprehend the lesson. Thus, listening can be considered a receiving skill and at the same time a crucial element of communicative competence. Nevertheless, many students still encounter problems in comprehending spoken English even at the university level. These problems arise when the students encounter fast-talking native speakers using unfamiliar words and various accents. Moreover, being an active skill, listening is difficult to control, unlike reading. Consequently, the students find it hard to follow the speaker’s line of thought and get a proper grasp of the meaning of the message. Furthermore, these difficulties can be described not only in terms of language-related issues but also in terms of cognition and metacognition. Listening skills presuppose cognitive functions like attention management, retention of information, and information processing, while learners should control their thinking processes throughout the whole listening procedure. Many of them do not know what strategy to use before starting to listen to something, while monitoring comprehension and evaluating understanding is also important for successful listening. That is why their difficulties with listening can be attributed to the lack of proper metacognitive awareness. In this case, students behave in a passive way, being unable to manage their listening activity independently. They depend upon external help from instructors, using repetition, transcription, and other aids when facing comprehension difficulties, instead of employing strategies to deal with such obstacles to learning. Therefore, it becomes clear that a proper educational approach should include not only work with the final product of listening, but also process management. The research had its roots in both theoretical and practical concerns. Theoretically speaking, earlier researches showed that metacognitive strategies played an essential role in improving listening comprehension because they helped learners in planning, monitoring and evaluating comprehension. Nevertheless, those researchers usually paid their primary attention to the effectiveness of particular strategies or short-term intervention without developing any systematic framework that would be based on metacognitive aspects. As for the practical side, the observations conducted in the class showed that students often found it difficult to perform different types of listening tasks, like identifying the main idea, listening to and comprehending oral messages, and paying enough attention to what is being said. In addition, the strategic incompetence of the students could be seen in the fact that they were not able to identify strategies used or regulate and control the process of comprehension in case of any malfunctioning. In fact, the development of these passive behavior techniques is possible only because of the lack of metacognitive regulation, as these students do not develop listening skills on their own but rather depend on external sources. Thus, these deficiencies in theoretical terms, along with practical problems, create the need for creating a metacognitive model of learning that would bridge the gap between the two aspects. The present research tries to fill this gap by introducing the concept of the APMET model, which enhances existing metacognitive models with the addition of Awakening and Transcending stages. Research Method In this research, the Research & Development method was used through the ADDIE model. The ADDIE model entails five stages of development, including Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The ADDIE model is the one that was chosen for this research since it allows an iterative process in developing instructional models. First, the listening needs of the learners were determined in order to be able to come up with a model that will meet their specific needs. Besides that, the model was designed, developed, and enhanced using the ADDIE model. At the same time, expert evaluation was carried out to guarantee the accuracy and appropriateness of the APMET model for practical usage in the classrooms. Research Process A needs analysis was first conducted at the beginning of the research in order to determine students’ problems with listening comprehension and needs for learning. This process allowed us to formulate results that served as the basis for designing an instructional model. A learning model named APMET was designed as a result of the needs analysis in which the principles of metacognition were adopted. Five stages of the model include Awakening, Planning, Monitoring, Evaluating, and Transcending. At each stage, students are guided in managing their listening comprehension processes. Finally, after validation, the model was implemented in six classroom sessions.   Results Results show that the APMET approach is a valid and useful pedagogical tool to support students’ listening learning outcomes. Based on the expert validation process, it was found out that this model has good relevance in terms of content, theoretical concept and practicability, making it fit to be implemented in classroom instruction. On the other hand, in the process of implementing this teaching approach, students actively participated in each stage, especially in the steps of planning, monitoring, and evaluating their listening. In addition, the respondents expressed positive perceptions about the guided lesson, especially in terms of their awareness regarding the process of listening and greater confidence in conducting listening activities. This positive attitude and perception were further supported by students’ listening learning outcomes, as indicated by the average score of 78.42, exceeding the performance criteria. Conclusion The APMET model entails a process that not only supports learners’ listening skills but also facilitates the development of their metacognitive thinking skills. The achievement of this goal can be made possible by the process involved in the stages of awareness, planning, monitoring, evaluation, and finally transferring the strategies learned to new situations. Through this process, the learner is facilitated in the regulation of the listening task

Inovasi Pembelajaran Translation Berbasis Web Tingkatkan Kemampuan dan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Inovasi dalam dunia pendidikan kembali hadir melalui penelitian disertasi Refika Andriani, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. MALANG – Inovasi dalam dunia pendidikan kembali hadir melalui penelitian disertasi Refika Andriani, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia mengembangkan model pembelajaran berbasis web yang tidak hanya meningkatkan kemampuan menerjemahkan mahasiswa, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri mereka dalam proses belajar. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di perguruan tinggi di Pekanbaru sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan pembelajaran di era digital. Perkembangan teknologi pada era revolusi industri 4.0 telah mendorong perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Namun, pada praktiknya, pembelajaran translation di perguruan tinggi masih banyak yang bersifat konvensional dan berpusat pada dosen. Penggunaan teknologi, khususnya alat bantu terjemahan digital, belum terintegrasi secara optimal. Selain itu, faktor psikologis mahasiswa seperti rendahnya self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri juga menjadi hambatan dalam menghasilkan terjemahan yang berkualitas.   Melihat kondisi tersebut, Refika Andriani mengembangkan sebuah model pembelajaran inovatif melalui disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Web-Based Independent Learning Berbantuan CAT Tools Terintegrasi Self-Efficacy untuk Mata Kuliah Translation.” Model ini menggabungkan tiga komponen utama, yaitu pembelajaran mandiri berbasis web (web-based independent learning), penggunaan Computer-Assisted Translation (CAT) tools, serta penguatan self-efficacy mahasiswa dalam satu sistem pembelajaran yang terintegrasi. Fokus utama penelitian ini adalah menciptakan model pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar mandiri berbasis teknologi, sekaligus meningkatkan kualitas hasil terjemahan mahasiswa. Model ini dirancang agar mahasiswa dapat mengakses berbagai sumber belajar secara fleksibel melalui internet, menggunakan CAT tools untuk membantu proses penerjemahan, serta mengembangkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan saat melakukan editing hasil terjemahan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran yang tidak hanya valid secara teoritis, tetapi juga praktis dan efektif dalam implementasinya. Secara khusus, penelitian ini menargetkan peningkatan kemampuan kognitif mahasiswa dalam menerjemahkan serta peningkatan aspek afektif berupa self-efficacy. Selain itu, model ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi dosen dalam mengelola pembelajaran translation berbasis teknologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan pendekatan model ADDIE yang meliputi lima tahap, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Pada tahap analisis kebutuhan, penelitian melibatkan 152 mahasiswa dari tiga program studi di dua perguruan tinggi. Selanjutnya, model yang dikembangkan divalidasi oleh enam ahli untuk memastikan kualitasnya. Uji coba terbatas dilakukan untuk menilai tingkat keberterapan dan praktikalitas model, sementara uji efektivitas menggunakan desain eksperimen semu dengan pendekatan one-group pre-test dan post-test yang dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang tinggi dengan kategori valid hingga sangat valid (≥85%). Dari sisi praktikalitas, model ini memperoleh skor rata-rata sebesar 81,6% yang menunjukkan bahwa model mudah digunakan dalam pembelajaran. Sementara itu, tingkat keberterapan mencapai 82,3% yang menunjukkan bahwa model dapat diimplementasikan dengan baik dalam konteks nyata pembelajaran di kelas. Yang paling signifikan, model ini terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Nilai rata-rata kemampuan terjemahan mahasiswa meningkat dari 66,75 pada pre-test menjadi 82,94 pada post-test. Selain itu, skor self-efficacy mahasiswa juga mengalami peningkatan dari 3,12 menjadi 3,50. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik (p < 0,05), yang menegaskan bahwa model ini mampu memberikan dampak nyata terhadap capaian belajar mahasiswa. Kebaruan utama dari penelitian ini terletak pada integrasi tiga elemen penting dalam satu model pembelajaran yang utuh. Selama ini, penelitian terkait pembelajaran berbasis web, penggunaan CAT tools, dan self-efficacy cenderung dilakukan secara terpisah. Model yang dikembangkan oleh Refika Andriani berhasil menggabungkan ketiganya secara konseptual dan operasional, sehingga memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pembelajaran translation. Dari sisi kontribusi, penelitian ini memberikan sumbangan penting bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam bidang pembelajaran bahasa dan terjemahan berbasis teknologi. Secara praktis, model ini dapat digunakan sebagai acuan bagi dosen dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, serta membantu mahasiswa untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Selain itu, model ini juga berpotensi menjadi referensi bagi institusi pendidikan dalam mengembangkan kebijakan pembelajaran berbasis teknologi di era digital. Sebagai penutup, peneliti berharap model pembelajaran yang dikembangkannya dapat diimplementasikan secara luas di berbagai perguruan tinggi, khususnya pada program studi yang berkaitan dengan bahasa dan terjemahan. Ke depan, hasil penelitian ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan dikembangkan lebih lanjut agar dapat berkontribusi secara lebih luas dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. *** *) Oleh: Refika Andriani, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.