Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk dengan beragam etnis, agama, budaya, dan bahasa. Namun, pluralitas yang seharusnya menjadi kekuatan sering kali justru memunculkan tantangan.
MALANG – Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk dengan beragam etnis, agama, budaya, dan bahasa. Namun, pluralitas yang seharusnya menjadi kekuatan sering kali justru memunculkan tantangan. Konflik horizontal, politik identitas, hingga intoleransi masih kerap terjadi, menggerus semangat persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa.
Fenomena ini menjadi latar belakang penelitian disertasi bertajuk “Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan – Studi Atas Pemikiran Ahmad Syafii Maarif”. Penelitian ini menyoroti bagaimana gagasan Buya Syafii dapat menjadi solusi dalam merawat kebinekaan Indonesia.
Politik Identitas dan Tantangan Kebangsaan
Dua dekade terakhir, riset-riset menunjukkan adanya stagnasi demokrasi di Indonesia. Politik elektoral banyak dikuasai oligarki, sementara isu agama kerap dijadikan alat provokasi. Bahkan, proyek politik yang mengatasnamakan Islam kadang memunculkan stigma negatif: fanatisme, eksklusivisme, hingga radikalisme.
Buya Syafii Maarif menegaskan bahwa Indonesia tidak didirikan untuk satu golongan saja, melainkan untuk seluruh rakyat dengan segala keberagamannya. Karena itu, ia menolak politik identitas yang berlebihan dan menyerukan agar umat Islam tampil sebagai penebar rahmat, bukan sumber perpecahan.
Metode Penelitian: Hermeneutika Gadamer
Penelitian ini menggunakan hermeneutika Gadamer, yakni metode penafsiran yang menekankan dialog antara masa lalu dan masa kini. Pendekatan ini memungkinkan gagasan Syafii Maarif dibaca secara kontekstual, relevan dengan isu-isu kontemporer seperti intoleransi, kesenjangan sosial, hingga radikalisme.
Hermeneutika membuka ruang pemahaman baru: teks atau gagasan tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi dihubungkan dengan realitas kekinian. Dengan cara ini, pemikiran Buya Syafii dapat menjadi rujukan hidup berbangsa yang lebih humanis.
Tiga Pilar Pemikiran Syafii Maarif utama gagasan Syafii Maarif:
- Keislaman – Islam dipahami sebagai agama rahmatan lil-alamin yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan kesetaraan. Islam bukan hanya ibadah ritual, melainkan juga etika sosial yang menolak radikalisme dan eksklusivisme.
- Keindonesiaan – Kebinekaan harus menjadi kekuatan bangsa. Pancasila dipandang sebagai fondasi kokoh yang menjaga persatuan. Syafii menekankan pentingnya demokrasi yang inklusif, adil, dan menghargai perbedaan.
- Kemanusiaan – Nilai fundamental dalam kehidupan adalah menghormati martabat manusia tanpa membeda-bedakan agama, etnis, atau budaya. Bagi Syafii, Islam dan kemanusiaan saling melengkapi untuk mewujudkan keadilan sosial
Integrasi untuk Masa Depan Bangsa
Pemikiran Syafii Maarif tentang Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan saling menguatkan. Ketiganya dapat menjadi fondasi moral bangsa menghadapi tantangan pluralitas dan globalisasi. Nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam aksi nyata: pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, hingga pendidikan yang humanis dan progresif.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya dialog lintas agama dan budaya, kolaborasi akademisi dengan masyarakat sipil, serta penelitian lanjutan agar gagasan Buya Syafii semakin membumi.
pemikiran Ahmad Syafii Maarif memiliki relevansi besar bagi bangsa Indonesia. Integrasi Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan adalah jawaban untuk merawat persatuan di tengah keberagaman.
Harapannya, pemikiran Buya Syafii dapat terus diakses, dipelajari, dan dipraktikkan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang inklusif, berkeadilan, dan berperikemanusiaan
*) Oleh: Arif Rahman Hakim, Mahasiswa Program Studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.