Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melahirkan karya akademik yang bernilai tinggi melalui penelitian disertasi Eka Firmansyah, doktor lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam.
MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melahirkan karya akademik yang bernilai tinggi melalui penelitian disertasi Eka Firmansyah, doktor lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Disertasi berjudul “Akulturasi Nilai-Nilai Islam dengan Budaya Lokal Etnik Kaili Da’a melalui Pesantren Alam” tersebut menyingkap dinamika dialog antara ajaran Islam dan tradisi masyarakat adat di pegunungan pesisir Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Penelitian ini menyoroti fenomena unik sekaligus menantang dalam lanskap keberagamaan Indonesia: pertemuan Islam dengan budaya lokal. Komunitas Kaili Da’a menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat adat berada di persimpangan antara modernitas dan tradisionalitas. Di satu sisi, mereka telah mengenal Islam sejak abad ke-17 berkat dakwah Syekh Abdullah Raqi. Namun di sisi lain, sistem kepercayaan animistik yang telah mengakar selama berabad-abad masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Islam yang Dinamis dan Kontekstual
Eka Firmansyah menjelaskan bahwa fenomena keberagamaan di komunitas Kaili Da’a memperlihatkan realitas Islam Indonesia yang dinamis, bukan monolitik. Islam tidak hadir untuk menghapus tradisi lokal secara total, melainkan bernegosiasi dan berdialog dengan kebudayaan setempat.
“Islam di komunitas ini berkembang secara organik. Bukan melalui paksaan atau dominasi, melainkan melalui proses akulturasi yang memberi ruang bagi budaya lokal untuk tetap hidup, tetapi dengan pemaknaan baru yang lebih selaras dengan prinsip Islam,” jelas Eka.
Hal ini tampak dalam tradisi-tradisi adat seperti molabe dan sambulugana. Secara simbolik, bentuk ritual tetap dijalankan. Namun makna spiritual yang terkandung di dalamnya mengalami transformasi menuju nilai-nilai Islam. Proses ini menunjukkan bahwa akulturasi bukan sekadar adopsi superfisial, melainkan internalisasi mendalam yang mampu mengubah orientasi budaya.
Metode Etnografi yang Menyelami
Untuk menyingkap kompleksitas fenomena ini, Eka menggunakan metode etnografi. Melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan, ia berhasil menyusun narasi holistik tentang proses akulturasi yang berlangsung.
Pendekatan etnografi dipandang tepat karena mampu menggali makna yang hidup dalam masyarakat. “Etnografi membuat peneliti tidak hanya mengamati perilaku, tetapi juga memahami sistem makna yang melatarbelakangi praktik keagamaan masyarakat,” ungkapnya.
Dengan cara itu, penelitian ini tidak berhenti pada deskripsi fenomena, melainkan juga menggali bagaimana komunitas Kaili Da’a memaknai Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pesantren Alam: Model Pendidikan Inklusif
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah konsep pesantren alam. Model pendidikan ini berbeda dengan pesantren formal yang kaku. Pesantren alam bersifat nonformal, kontekstual, dan terintegrasi dengan budaya setempat.
Model ini membuat masyarakat tidak merasa terancam dengan ajaran baru, melainkan justru merangkulnya. Proses belajar tidak bersifat top-down, melainkan partisipatif. Masyarakat menjadi aktor aktif dalam mengonstruksi pemahaman Islam mereka sendiri. Hal ini menciptakan rasa kepemilikan yang kuat sehingga transformasi keagamaan lebih berkelanjutan.
Implikasi Bagi Dakwah dan Pendidikan
Temuan Eka Firmansyah memberikan implikasi luas, baik secara teoretis maupun praktis. Dari sisi teoretis, penelitian ini memperkaya kajian tentang Islamisasi di Indonesia, dengan menekankan pentingnya pendekatan humanis dan kontekstual. Islam terbukti memiliki kapasitas adaptif yang tinggi untuk bernegosiasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.
Sementara secara praktis, penelitian ini menjadi inspirasi bagi strategi dakwah dan pendidikan Islam di tengah masyarakat plural. Model pesantren alam menawarkan paradigma alternatif dibanding pendekatan konvensional yang cenderung seragam dan kurang sensitif terhadap keragaman budaya.
“Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin seharusnya hadir dengan wajah yang ramah, inklusif, dan mampu berdialog dengan kearifan lokal,” kata Eka.
Kontribusi Akademik dan Prospek Ke Depan
Secara epistemologis, penelitian ini mengajarkan bahwa agama tidak bisa hanya dipandang sebagai doktrin normatif yang statis, melainkan sebagai kekuatan budaya yang dinamis. Dari sisi metodologi, studi ini menunjukkan bagaimana etnografi dapat menjadi pendekatan penting dalam memahami hibriditas keagamaan.
Disertasi ini diharapkan dapat membuka jalan bagi penelitian serupa di komunitas adat lain di Indonesia. Dengan keragaman etnik dan budaya yang begitu kaya, Indonesia membutuhkan strategi dakwah dan pendidikan Islam yang sensitif terhadap kearifan lokal.
Eka menegaskan, “Jika strategi dakwah mampu memadukan nilai Islam dengan budaya setempat, maka akan lahir masyarakat yang religius sekaligus tetap menjaga identitas kulturalnya.”
Penelitian ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi Indonesia kontemporer yang dihadapkan pada tantangan pluralisme dan multikulturalisme. Dengan memahami agama sebagai lived experience yang hadir dalam praktik sosial-budaya sehari-hari, maka keberagamaan di Indonesia dapat terus berkembang secara inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan.
*) Oleh: Eka Firmansyah, Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.
*ript*