Kompos selama ini dikenal sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi pertanian.

MALANGKompos selama ini dikenal sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi pertanian. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap fakta mengejutkan: kompos yang beredar di pasaran ternyata mengandung mikroplastik (MPs), partikel plastik berukuran sangat kecil yang berpotensi mengancam kesehatan tanah, tanaman, hingga ekosistem pertanian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos komersial mengandung hingga 160 partikel mikroplastik per 200 gram sampel dengan berbagai warna, ukuran, dan bentuk. Keberadaan mikroplastik dalam kompos ini menandakan adanya ancaman baru, sebab penggunaan kompos secara intensif di lahan pertanian berpotensi memperluas pencemaran plastik di lingkungan darat.

 

oplastik dalam kompos tidak bisa dianggap sepele. Penelitian lanjutan yang dilakukan pada bibit padi menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Penambahan mikroplastik jenis PET ke dalam media tanam terbukti menghambat pertumbuhan bibit padi secara signifikan.

 

Panjang akar bibit menurun hingga 38 persen, tinggi tanaman berkurang 25 persen, bobot segar turun 25 persen, serta kandungan klorofil berkurang hingga 55 persen. Gangguan ini diduga terjadi akibat terhambatnya penyerapan nutrisi dan terganggunya proses fotosintesis akibat paparan mikroplastik. Fakta ini menunjukkan bahwa mikroplastik dalam kompos dapat secara langsung memengaruhi kesehatan tanaman dan hasil pertanian.

Tidak hanya berdampak pada tanaman, mikroplastik juga terbukti memengaruhi kualitas vermikompos, yaitu kompos yang dihasilkan dari proses penguraian limbah organik dengan bantuan cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan mikroplastik menurunkan rasio C/N yang menjadi indikator utama kualitas kompos.

Pada perlakuan dengan mikroplastik jenis HDPE, rasio C/N turun drastis dari 21 menjadi 9,42. Selain itu, mikroplastik juga menurunkan tingkat kelangsungan hidup cacing, pH dan konduktivitas listrik media, serta indeks perkecambahan sebesar 10–28 persen. Kondisi ini menandakan bahwa vermikompos yang terkontaminasi mikroplastik memiliki kualitas lebih rendah sehingga tidak optimal jika digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Temuan ini menegaskan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah pencemaran laut dan sungai, tetapi juga telah menjadi ancaman nyata di sektor pertanian. Jika tidak segera diantisipasi, keberadaan mikroplastik dalam pupuk organik dapat menurunkan produktivitas tanaman, merusak kualitas kompos, dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan sistem pertanian. Oleh karena itu, pengelolaan limbah plastik secara efektif, pengawasan ketat terhadap kualitas kompos, serta edukasi kepada masyarakat dan petani menjadi langkah penting untuk mencegah pencemaran mikroplastik lebih lanjut.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pembuat kebijakan, produsen pupuk organik, dan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam penggunaan kompos, sekaligus mendorong lahirnya inovasi teknologi pengolahan limbah organik yang lebih bersih dan berkelanjutan.

*) Oleh: Iswahyudi, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Nuhammadiyah Malang.

*ript*