Disertasi doktor yang baru saja diselesaikan oleh Muhammad Wahid Nur Tualeka mengungkap bagaimana elit Muhammadiyah di Kota Surabaya berhasil menginternalisasi nilai moderasi beragama melalui strategi dakwah yang adaptif.
MALANG – Disertasi doktor yang baru saja diselesaikan oleh Muhammad Wahid Nur Tualeka mengungkap bagaimana elit Muhammadiyah di Kota Surabaya berhasil menginternalisasi nilai moderasi beragama melalui strategi dakwah yang adaptif. Penelitian ini menyoroti peran penting organisasi Islam modernis tersebut dalam menjaga harmoni sosial di tengah keragaman masyarakat urban, dengan temuan bahwa dakwah elit Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada ceramah tradisional, tetapi juga memanfaatkan media digital dan pendekatan dialogis untuk menangkal ekstremisme.
Penelitian ini dilakukan di tengah meningkatnya tantangan intoleransi dan radikalisme di Indonesia, terutama pasca-peristiwa bom di Surabaya pada 2018. Muhammad Wahid Nur Tualeka, mahasiswa doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, menekankan bahwa moderasi beragama bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang perlu diinternalisasi melalui dakwah yang relevan dengan zaman. Dengan fokus pada elit Muhammadiyah Surabaya, penelitian ini menganalisis bagaimana pemimpin-pemimpin organisasi tersebut menerapkan prinsip wasathiyah (jalan tengah) untuk membangun masyarakat yang toleran dan damai.
Latar belakang penelitian ini didorong oleh realitas keragaman Indonesia yang sering kali memicu konflik agama, seperti ledakan bom di Gereja Katedral Makassar pada 2021 dan serangan teror di Surabaya.
Data dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa 53% muslim Indonesia keberatan dengan pembangunan rumah ibadah non-muslim di sekitar tempat tinggal mereka, sementara 62,1% masyarakat tidak pernah mendengar ajakan saling menghormati kelompok minoritas. Wahid Nur Tualeka menilai bahwa penelitian ini penting karena moderasi beragama merupakan strategi kebudayaan untuk merawat keindonesiaan, terutama di kota seperti Surabaya yang memiliki sejarah transformasi dari intoleransi menjadi kota toleran tinggi.
Judul disertasi yang disederhanakan adalah “Internalisasi Moderasi Beragama: Studi Dakwah Elit Muhammadiyah di Surabaya”. Fokus penelitian ini adalah pada elit Muhammadiyah Surabaya, yang meliputi pemimpin-pemimpin organisasi seperti Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya dan tokoh-tokoh dakwah lainnya. Objek utama adalah bagaimana mereka memahami, menerapkan, dan menginternalisasi moderasi beragama melalui metode dakwah, serta tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut.
Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan pemahaman moderasi beragama perspektif elit Muhammadiyah Surabaya, menganalisis metode dakwah yang digunakan, menjelaskan proses internalisasi moderasi melalui dakwah, dan mengidentifikasi tantangan dalam menginternalisasi nilai tersebut. Sasaran yang ingin dicapai adalah memberikan kontribusi ilmiah dan praktis untuk memperkuat moderasi beragama di Indonesia, khususnya melalui peran organisasi seperti Muhammadiyah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, dilakukan di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya. Subjek penelitian adalah elit Muhammadiyah Surabaya, termasuk tokoh-tokoh dalam struktural Pimpinan Muhammadiyah Kota Surabaya, serta beberapa masyarakat sebagai informan tambahan. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam (in-depth interview), observasi berpartisipasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan penerapan triangulasi sumber, metode, dan teoritik untuk memastikan keabsahan data.
Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa elit Muhammadiyah Surabaya memahami moderasi beragama sebagai prinsip wasathiyah yang mencakup tawassut (jalan tengah), i’tidal (lurus dan adil), dan tasamuh (toleransi). Metode dakwah yang diterapkan adalah dakwah bil-khitabah (ceramah dan diskusi), dakwah bil-qudwah hasanah (keteladanan melalui layanan sosial dan pendidikan), serta dakwah bil-wasait roqmiyah (pemanfaatan media digital seperti WhatsApp, Instagram, dan Zoom).
Internalisasi moderasi dilakukan melalui penguatan kelembagaan (lembaga pendidikan dan komunitas), pendekatan dakwah inklusif dan dialogis, serta penguatan nilai wasathiyah melalui materi dakwah.
Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik pada elit Muhammadiyah Surabaya, yang menunjukkan bahwa dakwah elit tidak hanya struktural tetapi juga kultural, mampu menjangkau generasi muda dan menangkal radikalisme. Dampaknya, penelitian ini memperkuat wacana bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam moderat dapat menjadi model untuk organisasi lain dalam menjaga harmoni sosial.
Manfaat dan kontribusi penelitian ini meliputi aspek teoritis, yaitu memperkaya konsep moderasi beragama dengan perspektif dakwah Islam modernis, serta praktis, seperti memberikan rekomendasi bagi pemerintah dan organisasi keagamaan untuk mengembangkan program moderasi melalui pendidikan dan media digital. Kontribusi praktisnya adalah mendorong implementasi moderasi di sekolah, masjid, dan komunitas, serta memperkuat kerjasama antarumat beragama di Surabaya.
Sebagai penutup, penelitian ini memberikan harapan bahwa dengan dakwah yang inovatif, moderasi beragama dapat menjadi fondasi kehidupan berbangsa yang damai. Muhammad Wahid Nur Tualeka berencana mempublikasikan hasil penelitian ini dalam jurnal internasional dan menerapkannya melalui workshop dakwah di Muhammadiyah Surabaya, guna memperluas dampaknya bagi masyarakat luas.
***
*) Oleh: Muhammad Wahid Nur Tualeka, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.