Lembaga pendidikan madrasah berasrama atau Islamic Boarding School (IBS) memiliki peran vital dalam membentuk insan intelek dan berakhlak mulia. Namun, di tengah gempuran era yang serba digital

MALANG Lembaga pendidikan madrasah berasrama atau Islamic Boarding School (IBS) memiliki peran vital dalam membentuk insan intelek dan berakhlak mulia. Namun, di tengah gempuran era yang serba digital, kurikulum pendidikan di lembaga-lembaga ini dihadapkan pada berbagai tantangan. Minimnya sumber daya, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan infrastruktur teknologi seringkali menghambat implementasi kurikulum yang responsif terhadap perkembangan zaman.

Sebuah disertasi terbaru mengupas tuntas kebutuhan mendesak akan inovasi kurikulum di IBS, khususnya melalui integrasi teknologi. Penelitian ini mengambil studi kasus unik dari IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan, yang telah berhasil mengembangkan model kurikulum berbasis teknologi.

Disertasi ini menyoroti bagaimana pendidikan di madrasah berasrama, yang secara tradisional menekankan pada pendalaman ilmu agama dan pembinaan karakter, kini perlu beradaptasi untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi persaingan global. Contoh-contoh keberhasilan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di pesantren, seperti penggunaan learning management system dan media digital, menjadi bukti bahwa integrasi teknologi dapat membuat proses belajar lebih dinamis dan efisien.

Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan menjadi sorotan utama karena kurikulumnya yang inovatif, mencakup kurikulum boarding, kurikulum multimedia, kurikulum merdeka, serta layanan individual berkebutuhan khusus yang terintegrasi. Dengan dukungan rekomendasi dari Kementerian Agama dan berafiliasi dengan MTs Negeri 3 Pamekasan, PKMKK berhasil menciptakan lingkungan pendidikan berbasis teknologi yang telah menghasilkan beragam prestasi santri, termasuk pengembangan website dan pemanfaatan TikTok sebagai media pembelajaran.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang komprehensif bagi madrasah berasrama lain untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum berbasis teknologi, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional pesantren. Tujuannya adalah untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas intelektual dan berakhlak mulia, tetapi juga kompeten secara digital dan siap bersaing di masa depan.

Sebuah penelitian yang berani dan mendalam, yang ditulis oleh Arbain, tengah menggali kekayaan model kurikulum IBS berbasis teknologi di Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan. Penelitian ini menawarkan wawasan krusial tentang bagaimana institusi pendidikan Islam mengintegrasikan teknologi dan tujuh pilar pendidikan dalam merancang, mengembangkan, dan melaksanakan kurikulumnya.

Agar penelitian ini semakin terarah, maka Arbain memilih paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Tipe penelitian studi kasus yang digunakan adalah single case embedded atau kasus tunggal tersemat dengan dua unit kajian utama yaitu model kurikulum IBS berbasis teknologi dan pengorganisasian kurikulum IBS berbasis teknologi.

Model Kurikulum Al-Muwahhid

Model Kurikulum Al-Muwahhid didesain secara unik dengan mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan teknologi secara holistik. Berlandaskan prinsip tauhid, kurikulum ini menyatukan seluruh cabang ilmu pengetahuan sebagai anugerah dan sumber dari Allah SWT, menciptakan kesatuan ilmu yang mendalam bagi para santri.

Model Kurikulum Al-Muwahhid ini ditopang oleh tujuh pilar pendidikan yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan santri seutuhnya: One Day One Ayat (Memperdalam koneksi spiritual santri dengan Al-Qur’an setiap hari), One Hadith One Presentation (Mengembangkan kemampuan dakwah dan public speaking berbasis hadis), One Week Three Languages (Menguasai tiga bahasa sebagai bekal komunikasi global), One Week Three Theme (Pembelajaran tematik ilmu tajwid yang kaya wawasan), One Week Three Fashl (Pembelajaran materi kitab kuning dalam tiga bab berbeda setiap minggu), One Activity One Paragraph (Melatih keterampilan menulis dan berpikir kritis santri), One Student One Laptop (Memastikan setiap santri melek teknologi dan siap berkreasi).

Kurikulum ini dibangun di atas empat fondasi kokoh yaitu filosofis, budaya masyarakat lokal, karakteristik santri, dan Sejarah. Tujuannya sangat jelas yaitu mencetak santri yang bertauhid dan beretika (aim), serta unggul, inovatif, berdaya saing, dan santun dalam konteks teknologi (goal). Setiap program pembelajaran dirancang dengan target spesifik berbasis teknologi, memastikan materi relevan dan disampaikan secara digital, sesuai dengan ruang lingkup kegiatan.

Teknologi di Setiap Lini Pembelajaran

PKMKK Pamekasan menegaskan komitmennya terhadap pendidikan berbasis teknologi. Semua kegiatan belajar mengajar memanfaatkan teknologi modern, mulai dari model pembelajaran Project-Based Learning berbasis teknologi, penyelesaian tugas-tugas, hingga evaluasi. Santri akrab dengan portofolio digital (e-portofolio) dan sistem i’lan yang terintegrasi teknologi, membekali mereka dengan keterampilan abad ke-21.

Model Kurikulum Al-Muwahhid yang digagas oleh Arbain ini bukan sekadar kurikulum baru, melainkan sebuah visi pendidikan masa depan yang berani. Ia menawarkan pendekatan terpadu yang memadukan spiritualitas Islam dengan kemajuan sains dan teknologi, melahirkan generasi santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan teknologi, tetapi juga teguh dalam iman dan akhlak. PKMKK Pamekasan telah menunjukkan jalan bagi pesantren dan madrasah lain untuk menghadapi tantangan zaman dengan inovasi dan prinsip tauhid yang tak tergoyahkan.

Menata Kurikulum dengan Ragam Prinsip

Pengorganisasian kurikulum di PKMKK Pamekasan tidak dilakukan sembarangan. Dalam dimensi vertikal, setiap program kegiatan disusun berdasarkan prinsip berurutan, berkelanjutan, dan terintegrasi. Ini berarti, mulai dari kegiatan pagi hingga malam, setiap agenda dirancang agar saling terkait, berkesinambungan tanpa pengulangan yang tidak perlu, dan membentuk satu kesatuan pengalaman belajar yang utuh. “Setiap langkah santri adalah bagian dari sebuah perjalanan pendidikan yang terencana, tidak ada yang berdiri sendiri,” jelas Arbain.

Sementara itu, dimensi horizontal memastikan pengorganisasian materi pelajaran berjalan selaras. Dengan prinsip ruang lingkup (scope) dan integrasi, mata pelajaran yang terangkum dalam tujuh pilar pendidikan PKMKK diatur sedemikian rupa agar cakupan materinya komprehensif dan terintegrasi dengan materi pelajaran lainnya. Hal ini menghasilkan model kurikulum terpadu yang masuk dalam klasifikasi activity curriculum, di mana pembelajaran terjadi melalui aktivitas dan pengalaman nyata yang saling terkait.

Pemerintah Diharapkan Ambil Peran Sentral

Penelitian ini tidak hanya memaparkan keunggulan PKMKK Pamekasan, tetapi juga membawa harapan besar. Hasil temuan ini diharapkan menjadi acuan berharga bagi pengembangan dan pengorganisasian kurikulum berbasis teknologi di masa depan.

“Kami berharap lembaga pendidikan pesantren, sekolah, atau madrasah berasrama lainnya dapat mengambil inspirasi dari PKMKK Pamekasan untuk memperkuat tatanan struktur kurikulum mereka,” ungkap Arbain. Tujuannya adalah melahirkan insan unggul dan berdaya saing di era digital, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan.

Lebih lanjut, secara khusus kepada Pemerintah untuk memberikan dukungan penuh. Dengan menerbitkan kebijakan yang mendukung pengembangan kurikulum IBS  berbasis teknologi, Pemerintah dapat mempercepat lahirnya generasi emas dari lembaga-lembaga pendidikan keagamaan. Ini akan menjadi langkah strategis untuk memastikan pendidikan Islam tetap relevan, maju, dan berkualitas tinggi di tengah tantangan zaman.

***

*) Oleh: Arbain Nurdin, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.