Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar selama ini masih identik dengan hafalan dan metode konvensional. Padahal, di era digital, pendekatan pembelajaran dituntut lebih interaktif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan siswa.
MALANG – Pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal rendahnya penguasaan kosakata siswa. Metode pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan, minimnya penggunaan media digital, serta kurangnya integrasi budaya lokal membuat siswa kesulitan memahami dan menggunakan kosakata secara bermakna.
Menjawab tantangan tersebut, sebuah disertasi karya Yuliana Mangendre dari Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan inovasi media pembelajaran berupa digital puzzle game berbasis budaya lokal Banggai. Media ini dirancang untuk menjadikan pembelajaran bahasa Inggris lebih menarik, kontekstual, dan efektif bagi siswa sekolah dasar.
Melalui pendekatan inovatif, disertasi ini mengembangkan media pembelajaran yang mengintegrasikan unsur budaya lokal Banggai ke dalam permainan digital berbasis puzzle. Konten yang diangkat meliputi makanan khas, tarian daerah, fauna endemik, hingga objek wisata lokal. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga mengenal dan menghargai budaya daerahnya sendiri.
Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas III dan IV di tiga sekolah dasar, yaitu SDN Pembina Luwuk, SDN 4 Luwuk, dan SDIT Madani Luwuk. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, serta tes kemampuan kosakata sebelum dan sesudah penggunaan media.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital puzzle game yang dikembangkan terbukti valid, layak, dan efektif digunakan dalam pembelajaran. Hal ini dibuktikan melalui peningkatan signifikan kemampuan kosakata siswa. Nilai rata-rata pemahaman kosakata meningkat dari 57,83 menjadi 83,00, sementara kemampuan penggunaan kosakata meningkat dari 61,27 menjadi 85,40. “Media ini tidak hanya membuat siswa lebih aktif dan antusias, tetapi juga membantu mereka memahami kosakata dalam konteks yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ungkap peneliti.
Salah satu keunggulan utama dari penelitian ini adalah kebaruan dalam menggabungkan konsep game-based learning dengan budaya lokal. Jika selama ini media pembelajaran digital cenderung bersifat umum dan tidak kontekstual, penelitian ini justru menekankan pentingnya keterkaitan antara materi pembelajaran dengan lingkungan budaya siswa.
Digital puzzle game yang dikembangkan menghadirkan berbagai aktivitas seperti mencocokkan kata dengan gambar, menyusun kata, hingga permainan teka-teki silang sederhana. Setiap aktivitas dirancang untuk melatih kemampuan memahami dan menggunakan kosakata secara bertahap, sekaligus melibatkan aspek visual dan interaktif yang menarik bagi anak-anak. Lebih dari sekadar media pembelajaran, inovasi ini juga memiliki dampak yang lebih luas. Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan teori pembelajaran berbasis permainan (game-based learning) yang dipadukan dengan pendekatan budaya lokal.
Sementara secara praktis, media ini dapat menjadi solusi bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan tidak monoton. Selain itu, penggunaan media digital ini juga sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang mendorong integrasi teknologi dalam pembelajaran, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian ini juga membuka peluang bagi pengembangan media pembelajaran serupa di berbagai daerah lain di Indonesia dengan mengangkat kekayaan budaya lokal masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan identitas budaya siswa.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan secara lebih luas di sekolah-sekolah dasar, serta menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan pendidikan berbasis teknologi dan budaya.
“Kami berharap media ini dapat menjadi alternatif inovatif dalam pembelajaran bahasa Inggris, sekaligus memperkuat kecintaan siswa terhadap budaya lokal di tengah arus globalisasi,” ujar peneliti.
Sebuah inovasi pembelajaran yang tidak hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga menjembatani antara teknologi, pendidikan, dan kearifan lokal.
***
*) Oleh: Yuliana Mangendre, Mahasiswa Doktor Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.