Inovasi dalam dunia pendidikan kembali hadir melalui penelitian disertasi Refika Andriani, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.
MALANG – Inovasi dalam dunia pendidikan kembali hadir melalui penelitian disertasi Refika Andriani, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia mengembangkan model pembelajaran berbasis web yang tidak hanya meningkatkan kemampuan menerjemahkan mahasiswa, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri mereka dalam proses belajar. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di perguruan tinggi di Pekanbaru sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan pembelajaran di era digital.
Perkembangan teknologi pada era revolusi industri 4.0 telah mendorong perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Namun, pada praktiknya, pembelajaran translation di perguruan tinggi masih banyak yang bersifat konvensional dan berpusat pada dosen. Penggunaan teknologi, khususnya alat bantu terjemahan digital, belum terintegrasi secara optimal. Selain itu, faktor psikologis mahasiswa seperti rendahnya self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri juga menjadi hambatan dalam menghasilkan terjemahan yang berkualitas.
Melihat kondisi tersebut, Refika Andriani mengembangkan sebuah model pembelajaran inovatif melalui disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Web-Based Independent Learning Berbantuan CAT Tools Terintegrasi Self-Efficacy untuk Mata Kuliah Translation.” Model ini menggabungkan tiga komponen utama, yaitu pembelajaran mandiri berbasis web (web-based independent learning), penggunaan Computer-Assisted Translation (CAT) tools, serta penguatan self-efficacy mahasiswa dalam satu sistem pembelajaran yang terintegrasi.
Fokus utama penelitian ini adalah menciptakan model pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar mandiri berbasis teknologi, sekaligus meningkatkan kualitas hasil terjemahan mahasiswa. Model ini dirancang agar mahasiswa dapat mengakses berbagai sumber belajar secara fleksibel melalui internet, menggunakan CAT tools untuk membantu proses penerjemahan, serta mengembangkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan saat melakukan editing hasil terjemahan.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran yang tidak hanya valid secara teoritis, tetapi juga praktis dan efektif dalam implementasinya. Secara khusus, penelitian ini menargetkan peningkatan kemampuan kognitif mahasiswa dalam menerjemahkan serta
peningkatan aspek afektif berupa self-efficacy. Selain itu, model ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi dosen dalam mengelola pembelajaran translation berbasis teknologi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan pendekatan model ADDIE yang meliputi lima tahap, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Pada tahap analisis kebutuhan, penelitian melibatkan 152 mahasiswa dari tiga program studi di dua perguruan tinggi. Selanjutnya, model yang dikembangkan divalidasi oleh enam ahli untuk memastikan kualitasnya. Uji coba terbatas dilakukan untuk menilai tingkat keberterapan dan praktikalitas model, sementara uji efektivitas menggunakan desain eksperimen semu dengan pendekatan one-group pre-test dan post-test yang dianalisis menggunakan paired sample t-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang tinggi dengan kategori valid hingga sangat valid (≥85%). Dari sisi praktikalitas, model ini memperoleh skor rata-rata sebesar 81,6% yang menunjukkan bahwa model mudah digunakan dalam pembelajaran. Sementara itu, tingkat keberterapan mencapai 82,3% yang menunjukkan bahwa model dapat diimplementasikan dengan baik dalam konteks nyata pembelajaran di kelas.
Yang paling signifikan, model ini terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Nilai rata-rata kemampuan terjemahan mahasiswa meningkat dari 66,75 pada pre-test menjadi 82,94 pada post-test. Selain itu, skor self-efficacy mahasiswa juga mengalami peningkatan dari 3,12 menjadi 3,50. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik (p < 0,05), yang menegaskan bahwa model ini mampu memberikan dampak nyata terhadap capaian belajar mahasiswa.
Kebaruan utama dari penelitian ini terletak pada integrasi tiga elemen penting dalam satu model pembelajaran yang utuh. Selama ini, penelitian terkait pembelajaran berbasis web, penggunaan CAT tools, dan self-efficacy cenderung dilakukan secara terpisah. Model yang dikembangkan oleh Refika Andriani berhasil menggabungkan ketiganya secara konseptual dan operasional, sehingga memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pembelajaran translation.
Dari sisi kontribusi, penelitian ini memberikan sumbangan penting bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam bidang pembelajaran bahasa dan terjemahan berbasis teknologi. Secara praktis, model ini dapat digunakan sebagai acuan bagi dosen dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, serta membantu mahasiswa untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Selain itu, model ini juga berpotensi menjadi referensi bagi institusi pendidikan dalam mengembangkan kebijakan pembelajaran berbasis teknologi di era digital.
Sebagai penutup, peneliti berharap model pembelajaran yang dikembangkannya dapat diimplementasikan secara luas di berbagai perguruan tinggi, khususnya pada program studi yang berkaitan dengan bahasa dan terjemahan. Ke depan, hasil penelitian ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan dikembangkan lebih lanjut agar dapat berkontribusi secara lebih luas dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
***
*) Oleh: Refika Andriani, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.