Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara mahasiswa belajar bahasa Inggris di era pendidikan abad ke-21.
MALANG – Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara mahasiswa belajar bahasa Inggris di era pendidikan abad ke-21. Fenomena ini menjadi fokus kajian dalam disertasi Nurhaida Lakuana (2026) yang meneliti praktik pembelajaran bahasa Inggris digital melalui educational influencers di Universitas Muhammadiyah Luwuk, Sulawesi Tengah. Penelitian ini mengkaji mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang secara aktif memanfaatkan platform digital seperti TikTok, YouTube, dan Instagram sebagai sumber belajar alternatif. Studi ini tidak hanya menggambarkan perubahan perilaku belajar mahasiswa, tetapi juga mengungkap bagaimana media sosial bertransformasi menjadi ruang pedagogis baru di luar sistem pembelajaran formal.
Dalam konteks perkembangan teknologi dan kebijakan pendidikan nasional, digitalisasi pembelajaran telah mendorong terjadinya pergeseran paradigma dari pembelajaran berbasis kelas menuju pembelajaran yang lebih terbuka, fleksibel, dan berbasis jejaring digital. Kehadiran educational influencers sebagai aktor baru dalam ekosistem pendidikan memperkuat transformasi tersebut dengan menghadirkan konten pembelajaran yang komunikatif, kontekstual, dan mudah diakses oleh generasi digital. Disertasi berjudul “Pembelajaran Bahasa Inggris Digital dengan Educational Influencers” ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif preferensi platform pembelajaran, karakteristik konten digital, pendekatan pedagogis yang digunakan oleh influencer, serta implikasi penggunaannya terhadap keterampilan berbicara mahasiswa.
Selain itu, penelitian ini juga berupaya merumuskan model konseptual pembelajaran yang relevan dengan dinamika pembelajaran bahasa Inggris di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus berbasis paradigma konstruktivis-interpretatif. Sebanyak 21 mahasiswa semester tiga yang mengikuti mata kuliah Academic Speaking menjadi partisipan utama penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi aktivitas pembelajaran, serta analisis konten digital, yang kemudian dianalisis secara tematik untuk memahami pengalaman belajar mahasiswa secara holistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok, YouTube, dan Instagram menjadi tiga platform dominan dalam pembelajaran bahasa Inggris digital. TikTok dimanfaatkan untuk pembelajaran singkat dan interaktif berbasis microlearning, YouTube digunakan untuk eksplorasi materi yang lebih mendalam dan terstruktur, sementara Instagram berfungsi sebagai media pembelajaran visual yang kontekstual dan komunikatif. Variasi penggunaan ini mencerminkan fleksibilitas mahasiswa dalam menyesuaikan strategi belajar dengan karakteristik masing-masing platform.
Dari sisi konten, keterampilan berbicara (speaking) menjadi fokus utama yang paling banyak diakses mahasiswa karena dianggap paling aplikatif dalam komunikasi sehari-hari. Konten kosakata (vocabulary) dan tata bahasa (grammar) digunakan sebagai pendukung dalam memperkuat kompetensi berbahasa. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung memilih konten yang bersifat praktis, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan nyata mereka. Dari perspektif pedagogis, educational influencers menerapkan pendekatan yang bersifat eklektik dan adaptif dengan mengintegrasikan Communicative Language Teaching (CLT), Context-Based Learning, dan Task-Based Language Teaching (TBLT).
Pendekatan ini diperkaya dengan unsur edutainment dan multimodalitas yang tidak hanya meningkatkan keterlibatan belajar, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih autentik dan bermakna. Implikasi penggunaan konten digital ini terlihat dalam dua dimensi utama. Secara instruksional, mahasiswa mengalami peningkatan dalam aspek pengucapan, kelancaran berbicara, penggunaan kosakata, serta ketepatan struktur bahasa. Sementara itu, secara afektif, terjadi peningkatan kepercayaan diri, motivasi belajar, serta keberanian untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran digital tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada dimensi psikologis pembelajar.
Kebaruan utama penelitian ini terletak pada pengembangan model pembelajaran yang dinamakan Digital-Influencer Enhanced Speaking Model (DI-ESM). Model ini merupakan hasil sintesis dari praktik belajar autentik mahasiswa yang mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten dalam kerangka TPACK. Model DI-ESM menempatkan educational influencers sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran nonformal yang secara signifikan memperkaya pembelajaran formal di perguruan tinggi.
Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas kajian pembelajaran bahasa Inggris digital dengan menghadirkan perspektif baru tentang peran educational influencers sebagai agen pedagogis nonformal. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi rujukan bagi dosen, pengembang kurikulum, dan institusi pendidikan dalam merancang pembelajaran yang lebih adaptif terhadap karakteristik generasi digital. Ke depan, penelitian ini diharapkan dapat mendorong integrasi yang lebih sistematis antara pembelajaran formal dan informal, serta membuka ruang bagi pengembangan model pembelajaran bahasa Inggris yang lebih kontekstual, inovatif, dan berkelanjutan di era digital.
***
*) Oleh: Nurhaida lakuana, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.