Kesenjangan antara program pendidikan lingkungan yang masif melalui sekolah Adiwiyata dengan ketersediaan alat ukur yang mampu menangkap perubahan karakter secara utuh.
Latar Belakang: Mengapa Tema Disertasi Ini Diangkat?
MALANG – Kesenjangan antara program pendidikan lingkungan yang masif melalui sekolah Adiwiyata dengan ketersediaan alat ukur yang mampu menangkap perubahan karakter secara utuh. “Selama ini, sekolah Adiwiyata sangat baik dalam membangun budaya ramah lingkungan, tetapi asesmen karakternya masih bersifat umum, belum sistematis, dan belum membedakan antara aspek pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Berdasarkan studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Rantau Selatan (sekolah Adiwiyata), ditemukan bahwa:
- Tidak ada instrumen baku untuk mengevaluasi karakter peduli lingkungan.
- Asesmen hanya mengandalkan observasi umum tanpa indikator terpisah untuk moral knowing, moral feeling, dan moral action.
- Terdapat ketimpangan persepsi antara guru dan peserta didik tentang perubahan karakter (guru cenderung menilai lebih tinggi dibanding peserta didik).
Kerangka teoritis yang digunakan adalah pendidikan karakter dari Thomas Lickona (1991) yang menyatakan bahwa karakter yang utuh mencakup tiga dimensi: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Namun, selama ini belum ada model asesmen yang mengintegrasikan ketiganya secara simultan dalam konteks sekolah Adiwiyata tingkat SMP. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi model asesmen yang mampu mengukur karakter peduli lingkungan secara komprehensif, valid, reliabel, praktis, dan efektif.
Alasan Pengambilan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implementation, Evaluation). Pemilihan metode ini didasarkan pada kebutuhan untuk menghasilkan produk berupa model asesmen yang teruji secara sistematis. Model ADDIE juga dipilih karena sifatnya yang prosedural, fleksibel, dan memungkinkan evaluasi formatif di setiap tahap.
Adapun rincian metode:
- Tahap Analyze – Melibatkan 126 responden (110 siswa, 16 guru) untuk analisis kebutuhan, serta wawancara dengan kepala sekolah dan wakil kurikulum. Analisis kurikulum dilakukan untuk melihat integrasi isu lingkungan dan ketersediaan instrumen asesmen.
- Tahap Design – Merancang kisi-kisi instrumen berdasarkan tiga dimensi (86 butir pernyataan awal) dan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan 15 pakar (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Labuhanbatu, guru SMP Negeri 2 Rantau Selatan, dan guru MTs Negeri 1 Labuhanbatu.
- Tahap Develop – Validasi isi oleh 4 ahli (pendidikan, psikologi/asesmen, penilai Adiwiyata) dan validasi konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan software LISREL 8.8. Uji kepraktisan melalui angket respon guru dan siswa.
- Tahap Implementation – Uji efektivitas pada 198 siswa dari sekolah Adiwiyata dan non Adiwiyata menggunakan uji Mann-Whitney U dan korelasi Spearman.
- Tahap Evaluation – Evaluasi formatif dan sumatif untuk menilai kelayakan akhir model.
Alasan penggunaan CFA adalah untuk memastikan bahwa konstruk teoretis (moral knowing, feeling, action) benar-benar didukung oleh data empiris. “Dengan CFA, kita tidak hanya menguji validitas butir, tetapi juga kesesuaian struktur faktor laten, yang jarang dilakukan pada penelitian asesmen karakter sebelumnya.
Proses dan Hasil Penelitian
Proses:
Penelitian dilaksanakan dari bulan November 2025 di Kabupaten Labuhanbatu. Tahap analisis kebutuhan menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap karakter peduli lingkungan siswa mencapai 82,57% (kategori tinggi), sementara persepsi siswa hanya 79,53% (cukup tinggi). Kesenjangan ini menandakan perlunya instrumen objektif. Analisis kurikulum juga menemukan bahwa asesmen belum terintegrasi dengan program Adiwiyata.
- Moral knowing (35 butir, 6 indikator: kesadaran moral, pengetahuan nilai moral, pengambilan perspektif, penalaran moral, pengambilan keputusan, memahami diri sendiri).
- Moral feeling (33 butir, 6 indikator: hati nurani, harga diri, empati, cinta kasih & kebaikan, pengendalian diri, kerendahan hati).
- Moral action (18 butir, 3 indikator: kompetensi moral, keinginan, kebiasaan).
Setelah validasi isi oleh pakar (dua tahap revisi), seluruh validator menyatakan model sangat valid dengan rerata skor 3,85 (skala 1–4). Beberapa perbaikan dilakukan pada redaksi kalimat dan pemisahan indikator yang tumpang tindih.
Hasil Validitas Konstruk (CFA):
- Nilai Standardized Loading Factor (SLF) semua indikator ≥ 0,677 (mendekati atau di atas 0,70).
- Average Variance Extracted (AVE) untuk moral knowing = 0,556; moral feeling = 0,567; moral action = 0,757 (semua > 0,50).
- Construct Reliability (CR) masing masing 0,732; 0,746; 0,837 (> 0,70).
- Cronbach’s Alpha: 0,83; 0,85; 0,91 (reliabilitas tinggi).
- Goodness of fit: RMSEA = 0,0445 (≤ 0,05, kategori close fit) dan p-value = 0,6043 (> 0,05), menunjukkan model fit dengan data empiris.
Hasil Uji Kepraktisan:
- Respon guru: 85,42% (sangat praktis)
- Respon siswa: 83,67% (sangat praktis)
Aspek yang dinilai meliputi kemudahan penggunaan, kesesuaian isi, kejelasan tampilan, dan manfaat.
Hasil Uji Efektivitas (Implementasi):
Model diterapkan pada 198 siswa dari sekolah Adiwiyata dan non Adiwiyata. Uji Mann-Whitney U menunjukkan:
- Moral knowing: tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok (*p* = 0,501) → artinya pengetahuan lingkungan relatif merata.
- Moral feeling dan moral action: berbeda signifikan (*p* < 0,05), dengan sekolah Adiwiyata lebih tinggi.
Korelasi Spearman antara kategori sekolah dengan moral action (*r* = 0,283) dan moral feeling (*r* = 0,250) termasuk moderat, sedangkan dengan moral knowing lemah (*r* = 0,132). Ini membuktikan bahwa model asesmen sensitif terhadap konteks dan mampu membedakan tingkat karakter berdasarkan kultur sekolah.
Menariknya, korelasi antar variabel di sekolah Adiwiyata menunjukkan hubungan yang sangat lemah bahkan negatif antara moral knowing dengan moral action (*r* = 0,009). Hal ini mengindikasikan bahwa program Adiwiyata lebih langsung membentuk tindakan moral melalui pembiasaan, tanpa harus melalui pemahaman kognitif yang tinggi – sebuah temuan yang memperkuat teori pembelajaran sosial Bandura.
Dengan demikian, secara kritis dapat dinyatakan bahwa penelitian ini melampaui pendekatan deskriptif sebelumnya dengan menghadirkan model asesmen yang tervalidasi secara struktural dan mampu membedakan tingkat karakter berdasarkan konteks institusional. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model asesmen peduli lingkungan memiliki validitas konstruk, reliabilitas internal, sensitivitas kontekstual, serta efektivitas implementasi yang memadai. Model ini dapat digunakan baik pada sekolah Adiwiyata maupun non-Adiwiyata sebagai instrumen pengukuran dan diagnosis karakter peduli lingkungan peserta didik SMP. Meskipun demikian, sebagaimana ditegaskan dalam epistemologi ilmu sosial, model pengukuran merupakan representasi teoretis yang bersifat aproksimatif terhadap realitas, sehingga pengujian lanjutan pada konteks yang lebih luas tetap direkomendasikan untuk memperkuat generalisasi temuan.
Kesimpulan Penelitian
- Model asesmen peduli lingkungan yang dikembangkan telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Hasil Confirmatory Factor Analysis menunjukkan bahwa struktur konstruk moral knowing, moral feeling, dan moral action terkonfirmasi secara empiris dengan tingkat kecocokan model yang baik. Selain itu, nilai Construct Reliability dan Cronbach’s Alpha yang memenuhi batas minimum menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang memadai dan layak digunakan sebagai alat ukur karakter peduli lingkungan.
- Model asesmen peduli lingkungan dinyatakan praktis dalam penggunaannya oleh guru SMP Adiwiyata. Hasil uji kepraktisan menunjukkan bahwa instrumen mudah dipahami, mudah diadministrasikan, serta efisien dalam proses penilaian. Dengan demikian, model ini memiliki kelayakan operasional dalam konteks pembelajaran di sekolah.
- Model asesmen peduli lingkungan terbukti efektif dalam mengukur karakter peduli lingkungan peserta didik. Efektivitas ditunjukkan oleh kemampuan model dalam mengukur konstruk secara konsisten serta membedakan tingkat karakter antara sekolah Adiwiyata dan non-Adiwiyata. Oleh karena itu, model yang dikembangkan layak digunakan sebagai instrumen pengukuran karakter peduli lingkungan pada peserta didik SMP.
Harapan untuk Ke Depan
- Implementasi luas – Model asesmen ini dapat diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Sekolah sebagai instrumen standar untuk menilai karakter peduli lingkungan di seluruh SMP, tidak hanya sekolah Adiwiyata.
- Digitalisasi instrumen – Pengembangan aplikasi atau platform daring berbasis model ini agar guru dapat dengan mudah melakukan asesmen, merekam perkembangan karakter siswa secara longitudinal, dan menghasilkan laporan diagnostik.
- Pelatihan guru – Perlu adanya program pelatihan bagi guru dan kepala sekolah tentang penggunaan model asesmen serta interpretasi hasilnya untuk perbaikan pembelajaran.
- Penelitian lanjutan – Disarankan untuk melakukan uji coba pada jenjang pendidikan lain (SD, SMA) dan daerah berbeda guna menguji generalisasi model. Juga penting untuk mengintegrasikan model asesmen ini dengan kurikulum merdeka yang menekankan profil pelajar Pancasila, khususnya dimensi “gotong royong” dan “berkebinekaan global” yang terkait dengan kepedulian lingkungan.
- Kebijakan berbasis data – Hasil asesmen dapat menjadi dasar evaluasi program Adiwiyata secara berkala, sehingga intervensi tidak hanya seremonial tetapi terukur.
Model asesmen ini tidak hanya berhenti sebagai produk disertasi, tetapi benar benar digunakan oleh guru guru di lapangan. Karena pada akhirnya, mengukur karakter adalah langkah awal untuk memperbaikinya. Dan anak anak kita layak mendapatkan pendidikan yang tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki hati dan tindakan yang peduli terhadap bumi,
***
*) Oleh: Ika Chastanti, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.