Upaya menjaga relevansi pendidikan Islam di tengah perubahan zaman menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Muhammadiyah.

MALANG Upaya menjaga relevansi pendidikan Islam di tengah perubahan zaman menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Muhammadiyah. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di SMP Muhammadiyah Boarding School (MBS) Jombang, Jawa Timur, menyoroti pentingnya transformasi pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) agar lebih sesuai dengan karakter Generasi Z.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh agenda strategis Muhammadiyah yang menempatkan dakwah kepada generasi milenial, Z, dan alfa sebagai prioritas utama. Dengan jumlah Generasi Z yang mencapai hampir 28 persen dari populasi Indonesia, kelompok ini menjadi kunci keberlanjutan gerakan Muhammadiyah di masa depan. Namun, di sisi lain, muncul tantangan baru karena karakteristik Generasi Z yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka dikenal sebagai digital native yang kritis, visual, dan menyukai interaktivitas, tetapi juga rentan terhadap disorientasi nilai di era digital.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pembelajaran AIK yang masih menggunakan pendekatan konvensional berpotensi kehilangan relevansi. Pembelajaran yang terlalu berfokus pada hafalan dan ceramah dinilai kurang mampu menjawab kebutuhan generasi saat ini, sehingga berisiko hanya menjadi rutinitas formal tanpa internalisasi nilai yang mendalam. Selain itu, terdapat kesenjangan dalam penggunaan teknologi serta pendekatan pembelajaran yang belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan zaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana relevansi pembelajaran AIK bagi Generasi Z, sekaligus mengidentifikasi pandangan siswa serta upaya yang dilakukan guru dalam menghadapi tantangan tersebut. Fokus utama penelitian adalah memahami pengalaman belajar dari sudut pandang siswa sebagai subjek utama pendidikan, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus deskriptif. Penelitian dilakukan secara mendalam di SMP MBS Jombang dengan melibatkan siswa kelas IX dan guru AIK sebagai informan utama. Teknik pengumpulan data meliputi observasi langsung di kelas, wawancara terstruktur, serta analisis dokumentasi seperti rencana pembelajaran dan hasil karya siswa. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang utuh dan kontekstual mengenai dinamika pembelajaran AIK.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara substansi, pembelajaran AIK masih dianggap relevan oleh siswa Generasi Z. Materi yang diajarkan mampu menjadi panduan moral dan spiritual, terutama dalam menghadapi tantangan dunia digital. Siswa mengaku bahwa nilai-nilai yang dipelajari membantu mereka menyaring informasi dan bersikap bijak, misalnya dalam penggunaan media sosial.

Namun, pada aspek metode pembelajaran, ditemukan adanya kesenjangan yang cukup signifikan. Siswa menginginkan metode yang lebih interaktif dan variatif, seperti penggunaan video, kuis digital, serta diskusi kelompok yang lebih aktif. Meskipun metode ceramah masih digunakan, siswa menilai pendekatan tersebut perlu dikombinasikan dengan strategi yang lebih menarik agar pembelajaran tidak monoton.

Di sisi lain, guru telah menunjukkan berbagai upaya untuk meningkatkan relevansi pembelajaran. Guru berusaha mengaitkan materi dengan isu-isu aktual, seperti fenomena viral di media sosial, serta mulai memanfaatkan teknologi sederhana seperti proyektor dan aplikasi kuis. Meski demikian, upaya tersebut masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan infrastruktur digital, waktu persiapan, serta kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan asrama.

Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran AIK tidak hanya ditentukan oleh materi, tetapi juga oleh desain pengalaman belajar secara keseluruhan. Pembelajaran yang efektif bagi Generasi Z adalah yang mampu menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Pertama, diperlukan penguatan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran berbasis digital dan interaktif. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan desainer pengalaman belajar. Kedua, sekolah perlu menyediakan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung integrasi teknologi secara bijak dalam pembelajaran. Ketiga, pengembangan kurikulum perlu lebih responsif terhadap aspirasi siswa, sehingga pembelajaran benar-benar berpusat pada kebutuhan mereka.

Selain itu, penelitian ini membuka peluang bagi pengembangan model pembelajaran AIK yang menggabungkan interaksi langsung di lingkungan boarding dengan pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Pendekatan hybrid ini dinilai mampu menjawab tantangan pendidikan Islam di era modern tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasinya.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran AIK tetap memiliki peran penting dalam membentuk karakter Generasi Z. Namun, agar tetap relevan, diperlukan transformasi dalam metode dan pendekatan pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan AIK tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk generasi yang beriman, kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

***

*) Oleh: Iwantoro, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam  Universitas Muhammadiyah Malang.