Buku Cerita Bergambar Berbasis Budaya Melayu Dinilai Efektif Menanamkan Sikap Tanggap Bencana pada Anak Usia Dini.
MALANG – Buku Cerita Bergambar Berbasis Budaya Melayu Dinilai Efektif Menanamkan Sikap Tanggap Bencana pada Anak Usia Dini. Masa usia dini merupakan periode emas perkembangan anak yang berlangsung pada rentang usia 0–6 tahun. Pada tahap ini, anak lebih efektif belajar melalui aktivitas bermain yang menyenangkan dibandingkan melalui tuntutan akademik seperti membaca dan menulis secara formal. Oleh karena itu, guru memerlukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini agar proses belajar berlangsung alami, menarik, dan bermakna.
Salah satu media yang dinilai tepat adalah buku cerita bergambar. Media ini memadukan teks dan ilustrasi sehingga membantu anak memahami pesan pembelajaran secara konkret. Selain meningkatkan kemampuan bahasa dan imajinasi, buku cerita bergambar juga dapat menjadi sarana penanaman nilai karakter, termasuk pendidikan kesiapsiagaan bencana. Penelitian terbaru mengembangkan bahan ajar berupa buku cerita bergambar bermuatan Tunjuk Ajar Melayu Riau untuk meningkatkan sikap tanggap bencana pada anak usia dini. Buku ini dirancang khusus bagi anak usia 5–6 tahun dengan mengintegrasikan nilai budaya lokal melalui pantun, gurindam, dan nasihat Melayu yang dikemas dalam alur cerita sederhana.
Pengembangan bahan ajar ini dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah Riau, khususnya Kabupaten Rokan Hulu, yang termasuk daerah rawan banjir. TK Negeri Pembina Rokan, yang menjadi lokasi penelitian, berada dekat Sungai Rokan sehingga sering terdampak banjir ketika curah hujan tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, sebagian besar anak belum memahami langkah-langkah kesiapsiagaan bencana. Anak hanya mengenal banjir sebagai akibat hujan deras tanpa mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Selama ini, media pembelajaran yang digunakan guru PAUD terkait kebencanaan masih terbatas. Guru umumnya menggunakan poster, big book, atau ensiklopedia sederhana yang hanya menjelaskan jenis bencana secara umum. Selain itu, materi kesiapsiagaan belum dikaitkan dengan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan anak.
Melalui pengembangan buku cerita bergambar ini, konsep kesiapsiagaan bencana diperkenalkan secara lebih konkret. Cerita dalam buku menggambarkan seorang anak bersama keluarganya yang mempersiapkan tas siaga bencana, mengenali tanda bahaya, menjaga kebersihan lingkungan, serta memahami langkah penyelamatan diri ketika banjir terjadi. Keunggulan buku ini terletak pada integrasi nilai Tunjuk Ajar Melayu Riau. Nilai budaya Melayu yang menekankan keharmonisan manusia dengan alam disampaikan melalui pantun dan gurindam yang mudah diingat anak. Pendekatan tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang lebih mudah memahami informasi melalui bahasa berirama, pengulangan, dan cerita kontekstual.
Selain mengenalkan kesiapsiagaan bencana, buku ini juga menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Dalam budaya Melayu, menjaga alam dipandang sebagai bagian dari budi pekerti. Kerusakan lingkungan dianggap dapat memicu terjadinya bencana seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, anak diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendidikan mitigasi bencana pada anak usia dini. Anak termasuk kelompok rentan ketika bencana terjadi karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Pendidikan kebencanaan sejak dini dinilai mampu membantu anak memahami risiko, membangun sikap waspada, serta mengurangi dampak psikologis ketika menghadapi situasi darurat.
Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa media buku cerita bergambar efektif meningkatkan pemahaman anak tentang lingkungan dan kebencanaan. Ilustrasi visual dalam buku membantu anak memahami konsep yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa buku cerita bergambar berbasis digital dan cetak. Pengembangan versi digital dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi bencana, mengingat buku cetak rentan rusak akibat air dan kebakaran. Dengan format digital, media pembelajaran diharapkan dapat digunakan lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Penelitian ini memiliki empat tujuan utama, yaitu menghasilkan desain buku cerita bergambar, menghasilkan produk bahan ajar, mengetahui tingkat kelayakan media, serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan sikap tanggap bencana pada anak usia dini. Hasil penelitian dapat menjadi alternatif bahan ajar inovatif bagi guru PAUD, khususnya di daerah rawan bencana. Selain memberikan edukasi kesiapsiagaan, buku cerita bergambar ini juga berperan dalam melestarikan budaya Melayu Riau melalui pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, integrasi pendidikan kebencanaan dan kearifan lokal melalui buku cerita bergambar dinilai mampu menjadi pendekatan pembelajaran yang efektif untuk membentuk karakter anak yang peduli lingkungan, tanggap terhadap bencana, dan menghargai budaya daerah sejak usia dini.
Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model Borg and Gall yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan produk, validasi ahli, uji coba terbatas dan lapangan, serta revisi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku cerita bergambar yang dikembangkan memperoleh kategori sangat layak ditinjau dari aspek materi, bahasa, penyajian, dan tampilan grafis. Guru dan peserta didik memberikan tanggapan yang sangat baik terhadap penggunaan media ini. Selain itu, hasil uji efektivitas memperlihatkan adanya peningkatan yang signifikan pada sikap tanggap bencana anak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pengintegrasian nilai-nilai budaya Melayu Riau menjadikan proses pembelajaran lebih kontekstual, menarik, dan efektif dalam menanamkan karakter pada anak. Produk akhir penelitian berupa buku cerita bergambar cetak yang memuat materi tentang bencana banjir, kebakaran, dan gempa bumi dengan memadukan unsur budaya lokal, visualisasi, serta pengalaman belajar yang praktis.
Efastri menegaskan bahwa pengintegrasian pendekatan ilmiah dengan kearifan lokal merupakan strategi penting dalam menjawab tantangan pendidikan di era globalisasi. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga diarahkan untuk memiliki pola pikir kritis, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran budaya yang kuat terhadap lingkungan sosialnya.
Disertasi ini menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan dapat diwujudkan melalui pengembangan bahan ajar yang memadukan ilmu pengetahuan, pengalaman praktis, dan nilai-nilai budaya lokal dalam satu proses pembelajaran yang utuh. Pengembangan buku cerita bergambar bermuatan Tunjuk Ajar Melayu Riau menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran mampu meningkatkan sikap tanggap bencana anak usia dini secara efektif, sekaligus menanamkan nilai karakter, kepedulian lingkungan, dan kecintaan terhadap budaya daerah.
***
*) Oleh: Sean Marta Efastri, Mahasiswa Doktor Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi