Implementasi Metode Baca Dalam Pembelajaran Qiraat Sab’ah

Ilmu qiraat adalah salah satu bidang keilmuan yang perlu diperdalam untuk mempelajari Al-Qur’an. Uṯman bin Affan mendorong untuk menyusun Al-Qur’an dalam satu mushaf karena adanya perbedaan pendapat para sahabat dalam qirā’āt. Ia menekankan bahwa pengetahuan ini sudah mulai berkembang sebelum menyatukan umat Islam pada satu mushaf. Perkembangan metode pengajaran dan pembelajaran qirā’āt dapat dilihat melalui perkembangan buku literasi yang disusun dalam ilmu qirā’āt. Salah satu qira’at yang penting dalam mempelajari Al-Qur’an adalah Ilmu qirā’āt sab‘ah. Fenomena yang ada adalah kemampuan umat Islam atau santri dalam mempelajari qirā’āt sangat lemah. Salah satu buktinya adalah tidak banyak orang yang menguasai qirā’āt sab‘ah. Hal ini dikarenakan metode yang tidak efisien dan efektif sehingga membuat orang cepat bosan. Selain itu, mempelajari Qirā’āt membutuhkan waktu yang lama. Qirā’āt adalah suatu ilmu yang dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana cara mengucapkan kata-kata dalam Al-Qur’an dan bagaimana cara memenuhinya apakah itu ittifaq (sepakat) atau Ikhtilaf (berselisihan) dan berdasandarkan kepada para perawi Al-Qur’an. Qirā’āt ini penting karena narasi yang kuat tentang cara membaca Al-Qur’an. Selama ini banyak pelajar qirā’āt yang belajar secara biasa saja tidak berkualitas, menjadi sulit dan membuang-buang waktu dalam mempelajarinya. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka pembaca qirā’āt sab‘ah akan hilang. Melihat akan hal tersebut membuat Othman Bin Hamzah, salah satu mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mengkaji seperti apa implementasi pembelajaran qira’at dalam sebuah penelitian disertasi. Penelitian yang bertujuan untuk mengkaji bagaimana mengkaji implementasi, hasil, serta seberapa efektif pembelajaran Qira’at yang berfokus ke Qira’at Sab’ah ini dilakukan di Ma’had Tahfiz Ismail (MTI) yang merupakan salah satu Lembaga pembelajaran Al-Qur’an yang menggunakan metode tersendiri dalam mempelajari Qirā’āt yang disebut BACA (Belajar Ilmu Qira’at secara Amali) yang berlokasi ada di Kuala Lumpur, Malaysia. Metode BACA ini digunakan untuk belajar qirā’āt karena beberapa hal. Pertama, metode ini dapat memudahkan siswa dalam mempelajari Qirā’āt dengan senang. Kedua, metode ini merupakan metode latihan tanpa matan. Ketiga, berdasarkan data dari siswa MTI dapat dilihat qārī’ keluaran MTI dapat membaca qirā’āt. Ilmu qirā’āt merupakan mata pelajaran yang dipelajari di lembaga-lembaga tahfiz Al-Qur’an tertentu di Malaysia. Mata pelajaran qirā’āt menjadi sebuah kesatuan integral dari kurikulum tahfiz Al-Qur’an, khususnya di lembaga-lembaga tahfiz yang tersebar di berbagai daerah di Malaysia. Akhir-akhir ini tahfiz Al-Qur’an menjadi perhatian utama di Malaysia. Mata pelajaran tahfiz sudah masuk dalam ujian tingkat menengah Sertifikat Pelajaran Malaysia Melalui beberapa pendekatan ke guru-guru MTI yang sudah dilakukan serta data yang didapat, Othman menemukan bahwa Implementasi metode “BACA” dapat meningkatkan penguasaan pembelajaran Qirā’āt Sab’ah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis akan soal-soal sebanyak 53 soal yang diberikan kepada siswa dalam penelitian tersebut yang meningkat dalam pembelajaran Qira’at. Analisis deskreptif kompetensi siswa secara keseluruhan, tahap Kompetensi siswa, analisis deskriptif pada tahap ini meliputi mean sebesar 3,8 dengan standar deviasi 0,67 yang diertikan sebagai Tinggi. Dan dari deskriptif statistik antara penguasaan soal qirā’āt dengan kompetensi disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara penguasaan soal Qirā’āt Sab’ah dengan kompetensi siswa setelah dipraktekkan metode “BACA”. Sementara dari deskriptif statistik penguasaan soal qirā’āt, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan soal qirā’āt dengan inat dan Sikap Siswa setelah dipraktekkan metode “BACA” Dari sisi efektifitas didapati bahwa dari 53 soal yang diberikan kepada 27 siswa yang menggunakan metode “BACA” untuk menilai penguasaan Qirā’āt Sab’ah nya. Mean keseluruhan ketuntasan qirā’āt siswa pada tingkat Sangat Tinggi adalah 4,46 dengan standar deviasi 0,3. Begitu pula ketika deskriptif dibuat menurut bab, kebanyakan meannya Sangat Tinggi. Dan Dari deskriptif statistik antara penguasaan soal Qirā’āt Sab’ah dengan keefektivitas disimpulkan bahwa ada signifikan antara penguasaan soal Qirā’āt Sab’ah dengan keefektivitas setelah dipraktekkan metode “BACA”. Adapun Othman menyatakan proposisi sebagai berikut “Apabila metode “BACA” diperaktikkan dengan baik dan benar dalam pembelajaran Qirā’āt Sab’ah dapat meningkatkan kompentensi siswa dan menjadi metode efektif.” Ujarnya. Tak hanya meneliti, Othman pun berharap kepada beberapa pihak seperti peneliti berikutnya agar dapat melakukan penelitian di semua ma’had dengan subjeck penelitian Qira’at demi kemajuan pembelajaran Qira’at. Selain itu ia juga memberikan saran dimana perlunya pembelajaran dua arah diterapkan untuk mendorong keaktifan siswa-siswa, atau siswa-ke-dosen, keterlibatan dalam kuis dan diskusi. Pembelajaran dan pengajaran harus berpusat pada siswa sehingga mereka terlibat aktif dalam membaca dan menyampaikan qiraat.
Edukasi Moderasi Beragama Bagi Para Mantan Narapidana Teroris

Secara teoritik karakter Islam adalah rahmatan lil-alamin dan universal. Ajaran yang mengedepankan perdamaian, keramahan, dan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memeluknya. Kebebasan menafsirkan ajaran-ajaran Islam sepanjang memenuhi persyaratan dengan menggunakan kaidah-kaidah fiqhiyah diperbolehkan untuk kebaikan dan tujuan serta maksud Islam itu sendiri. Kenyataanya di kalangan masyarakat terdapat penafsian ajaran Islam sangat fundamental dan radikal yang mengudang kontroversi di kalangan umum “Islam mainstream”. Penafsiran itu menjurus kepada gerakan-gerakan teroris yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Mereka ini disebut kelompok Islam fundamentalis. Dari fenomena tersebut muncul “radikalisme” dan dalam situasi tertentu melahirkan “terorisme”. Fenomena Teroris kembali ke Islam moderat dan meninggalkan kelompoknya (disengagement) setelah ditangkap banyak terjadi dinama-nama. Untuk memberdayakan mantan narapidana teroris adalah dilakukan melalui edukasi moderasi Islam. Seperti yang dilakukan oleh “Yayasan Lingkar Perdamaian” (YLP) yang berusaha menyadarkan para mantan nara pidana teroris (napiter). Melalui Yayasan tersebut, Ali Fauzi yang merupakan mahasiswa Progam Studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat fenomena tersebut menjadi sebuat penelitian disertasi. Penelitian yang terfokus pada individu yang telah mengalami, menyelami, memahami, dan yang melakakun pengalaman para napiter ini bertujuan untuk melihat seperti apa para napiter memahami dan memaknai edukasi akan moderasi beragama yang ada di Yayasan Lingkar Perdamaian. Melalui penelitiannya Ali menjelaskan bahwa ia menemunkan temuan berupa pengalaman dalam hidup para napiter yang tidak pernah didapat sejak lahir dalam bentuk kekejaman yang luar biasa karena telah membunuh orang yang tidak bersalah. Pemahaman Islam pada teks yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia telah menenggelamkan Muslim kedalam gerakan radikal fundamental yang ujung-ujungnya yaitu terorisme. Para mantan teroris telah sadar dan menyadari kesalahan mereka melakukan tindakan yang merugikan pihak lain dan kekerasan yang menimbulkan ketakutan semua pihak dan mereka sepakat mengakhirinya. Karena kedangkalan cara dalam berislam, kurang mempunyai pengalaman dalam Islam, tingkat intelektual rendah sehingga mudah dipengaruhi orang atau ustadz yang tidak sabar melihat realita kondisi Islam di Indonesia, karena itu melakukan kekerasan dan menggunakan murid atau santri yang belum memiliki pengalaman berislam secara luas. Temuan lainnya terkait moderasi beragama membuat mereka membuka pikiran dan sadar akan hak-hak orang lain berbeda pemahaman dan agama mendapatkan hak yang sama di Indonesia. Pemaknaan Islam secara moderat dan humanis menenangkan batin bagi kehidupan mantan narapidana. Mereka merasa ada harapan hidup dan bertaubat dari apa yang diperbuat selama itu dikarenakan memahami Islam secara tidak benar. Dengan edukasi moderasi beragama, mereka memutus hubungan ideologi dengan teman-teman sesama teroris (disengagement) dan menjauhkan diri dari komunikasi dengan mereka. Yayasan Lingkar Perdamaian sebagai wadah bagi para napiter dilihat Ali telah sesuai dengan harapan dan permintaan napiter. Mereka merasa bertambah pengetahuannya tentang Islam. Telah terbukanya cakrawala pemikiran yang luas tentang Islam baik masalah-masalah internal maupun eksternal dan bagaimana menyikapinya. Mereka merasa aman, fisik dan batinnya karena disamping aparat keamanan mendampingi mereka juga para ustadz, intelektual, dan psikolog mendorong mereka untuk orang yang normal dan bijak di segala bidang. Ali menerangkan juga bahwa edukasi moderasi beragama bagi para mantan teroris terasa manfaatnya baik sebagai individu maupun kelompok, terutama bagi mereka yang rata-rata memiliki paham Islam ekstrim atau Islam yang tradisional. Dengan edukasi moderasi beragama mereka bisa memutus hubungan ideologi dengan teman-teman sesama teroris (disengagement) dan menjauhkan diri dari komunikasi dengan mereka. Terdapat dua proposisi yang ditemukan ali dalam penelitian ini diantaranya adalah jika program-program edukasi moderasi beragama mencapai sasaran dan mampu merubah mindset maka para mantan napiter merasakan manfaat dan makna kebersamaan hidup beragama secara moderat. prinsip dalam kehidupan mereka serta bersedia menerima pemahaman Islam moderat. pelepasan diri (disengagement). Proposisi kedua adalah jika edukasi beragama menggunakan cara penyembuhan dan metode yang tepat, maka mantan napiter akan merasakan perbedaan pemahaman Islam moderat dan terdorong melakukan pelepasan (disengagement), yang sempurna. Ada setitik harapan yang disematkan oleh Ali kepada para mantan napiter agar hendaknya sadar dan melepaskan diri dari komonitas teroris dan Kembali ke jalan yang lurus. Tak lupa ia menyampaikan harapannya kepada semua pihak untuk dapat mendukung Yayasan Lingkar Pendidikan dalam upayanya memperbaiki dan menangani radikalisme.
Kesadaran Subjek Radikal dan Subjek Terberi dalam Ruang Sosial dan Ruang Material Desa Wisata

TIMESINDONESIA, MALANG – Kebijakan tentang Desa wisata berimplikasi pada bergesernya fungsi ruang menjadi lebih mengedepankan fungsi material. Kalkulasi menjadi arena baru dalam ritme interaksi. Hal tersebut terekam juga di Pasar Bunga Sekar Mulyo, Desa Sidomulyo, Kota Batu. Setiap sudut ruang adalah etalase kalkulasi. Bunga sebagai potensi utama pertanian, menjadi penanda ekonomi. Sekitar 500 meter menuju Pasar Bunga Sekar Mulyo, dari arah jalan besar, adalah etalase tentang ekonomi. Kondisi tersebut menunjukkan mulai bergeraknya ekonomi sebagai kompleksitas kelembagaan ekonomi. Frasa ini bermuara pada ekonomi adalah arena kalkulasi yang mulai menyeruak dalam ikatan paguyuban masyarakatnya. David Harvey menyintesa sebagai time space compression, dimana ruang dan waktu dimampatkan dalam satu titik kemampatan yaitu untung rugi. Etalase ruang yang pongah dalam penanda material menjadi wajah bagi sebagian besar ruang yang ada di Desa Sidomulyo. Menurut Pierre Bourdieu, ruang adalah “field of struggle”, tempat dimana segala sesuatu diperebutkan untuk kepentingan ekonomi. Perubahan ruang dari ruang sosial menjadi ruang material berimplikasi pada mulai terkikisnya homogenitas masyarakat, padahal penciri utama dari ikatan ini adalah identitas bersama sebagai basis bertindak masyarakat. Aroma kalkulasi menggeser “Yang Sosial” menjadi “Yang Individual”. Frasa ini menempatkan hasrat sebagai basis bertindak individu. Dalam hasrat, keinginan meng-eliminir pernyataan sosial individu. Pada akhirnya kelompok sosial mengalami proses segregasi menjadi penguatan individu. Mulai muncul individu sebagai basis struktur. Dalam kontek ini, terjadi penguatan nilai-nilai diri dan mulai melemahnya nilai-nilai kelompok. Dalam kacamata sosiologis, diri adalah manifestasi hasrat, sebagai “Yang Material”, kelompok adalah manifestasi sosial yang mempercakapkan individu dalam khasanah “Yang sosial”. Masyarakat sederhana tidak sepenuhnya terjebak dalam bineritas ruang, sebagai “yang Sosial” dan “Yang Material”. Pengalaman masa lalu sebagai tindakan kolektif adalah struktur sosial yang melekat, dan mampu memberi batas bagaimana memahami tindakan dalam dinamisasi masyarakat dan pada akhirnya melakukan tindakan sosial. Karl Polanyi menyintesa sebagai embeddedness atau keterlakatan akan nilai-nilai masa lalu sebagai cara merefleksikan tindakan sekarang. Masa lalu dalam konteks masyarakat sederhana adalah alam sebagai salah satu cermin yang disimbolisasikan sebagai “Yang Transendental”, pun pada saat sekarang. Alam adalah manifestasi tentang perlindungan, keberkahan dan kesejahteraan. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut masih terefleksikan dalam tindakan keseharian masyarakat. Disinilah manusia tidak tercerabut sepenuhnya sebagai manusia dalam arena material, tetapi tetap memberi ruang bagi “Yang Transendental” sebagai arena refleksi”. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Kata kunci fenomenologi adalah pengalaman sehari-hari subjek penelitian, sehingga otoritas pengetahuan ada pada subjek tersebut. Oleh karena itu, dalam analisisnya, peneliti harus mampu membangun kedekatan secara personal sehingga mampu terikat dalam kedekatan subjektif dengan subjek penelitian. Kesungguhan adalah bagian penting dari proses untuk merasakan subjektifitas dari subjek penelitian. Max Weber menyebut sebagai interpretetif understanding. Frasa ini menyatakan bahwa kedalaman adalah bagian penting dalam mencari sisi-sisi autentik dari subjek. Alfred Schutz menyatakan bahwa peneliti harus ada dalam ruang epoche, maksudnya mengurung dalam tindakan individual maupun sosial dari subjek. Harapan akhirnya agar mampu menyerap pengalaman sehari-hari subjek. Dari sinilah, peneliti diharapkan mampu memahami motif dari subjek, baik sebagai because of motive (motif sebab) maupun in order to motive (motif tujuan). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kesadaran subjek dari Slavoj Zizek. Menurut Zizek, kesadaran subjek ada dua yaitu kesadaran subjek radikal dan kesadaran subjek terberi (Zizek, 2008). Subjek radikal adalah subjek yang mampu melampaui dan menghancurkan tatanan simbolik. Subjek menjadi “The Real” yang mampu menyadari potensi diri dan digunakan untuk menghancurkan apapun yang menghalangi tindakan individual subjek. Subjek adalah otoritatif, dia ada dan hadir untuk menemukan diri melalui penidakan terhadap apapun yang bersifat simbolik. Sebab “Yang Simbolik” adalah tatanan sosial yang hanya menghancurkan keberadaan diri. Disinilah diri mencoba untuk hadir sebagai “Sang Manifestatif”. Keseluruhan adalah diri, dan diri adalah keseluruhan. Tidak ada “Yang Sosial” apalagi “orang lain”. Sementara kesadaran subjek terberi adalah kesadaran subjek yang dikendalikan oleh “Yang Simbolik”. Kesadaran hilang dalam ketidakmampuan subjek mengenali diri. Subjek selalu terbentur oleh kuasa sosialisasi, dimana simbol-simbol sosialisasi terutama dalam masyarakat industri hanya mengedepankan simbol-simbol fisik. Simbol yang manifestasinya adalah hasrat. Hasrat adalah tentang tubuh dan menghancurkan jiwa. Disinilah, kesadaran subjek terberi kehilangan sisi autentik manusia, yaitu humanis. Penelitian ini juga menggunakan teori “time space compression” dari David Harvey (Harvey, 2001). Gagasan utamanya ruang adalah hasil objektivasi penguasa ruang, dimana pengendali utamanya adalah kaum kapitalis. Sebagai hasil objektivasi, sejatinya ruang adalah subjektif milik “Sang Pengendali”. Melalui kemampuan mengendalikan secara “hegemoni”, pada akhirnya subjektif menjadi “realitas yang objektif”. Dalam objektivasi, keseluruhan ruang adalah manifestasi tentang “Yang Material”. Waktu dalam ruang adalah perburuan hasrat. Hasrat sebagai “Yang Objektif” pada akhirnya tidak pernah menyisakan ruang untuk sisi paling autentik mdari manusia, yaitu humanis. Teori ketiga yang digunakan adalah teori the mirror stage dari Jacques Lacan (Lacan, 1999). Manusia tidak pernah mampu menemukan diri, sebab dalam masyarakat industri, manusia selalu terbentur dalam sosialisasi “Yang Simbolik” sebagai penanda hasrat. “Yang Simbolik” sebagai realitas yang sudah terbahasakan cenderung dikendalikan oleh bahasa industri, sehingga dari fase cermin, yang simbolik sampai yang riil, manusia selalu direkam oleh bahasa sebagai manifestasi simbolik hasrat industri. Pada akhirnya, manusia tidak pernah sampai pada “Yang Riil” sebab selalu terjebak dalam hegemoni cermin “Yang Simbolik”. Titik temu dari teori Slavoj Zizek tentang kesadaran subjek, teori David Harvey tentang time space compression dan teori Jacques Lacan tentang the mirror stage adalah kendali industri yang menitikberatkan pada hasrat sebagai cara menghancurkan sisi paling orisinil manusia yaitu “human”. Human kehilangan ruang untuk mempercakapkan dirinya, diri hilang dalam ketidaksadaran mengenali, berubah menjadi subjek terberi (sintesa Zizek), diri hilang dalam objektivasi ruang material sebagai akibat dari time space compression (sintesa Harvey), dan diri hilang dalam ilusi cermin sebagai ketidakmampuan diri melampaui “Yang Simbolik” karena hancur dalam kendali dan hegemoni sosialisasi “yang Simbolik” (sintesa Lacan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang bunga di Pasar Bunga Sekar Mulyo, Desa Sidomulyo, tidak sepenuhnya ada dalam kesadaran subjek radikal dan kesadaran subjek terberi. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari sifat masyarakat masyarakat homogen yang masih mengikatkan diri dengan alam untu mempercakapkan tindakan kesehariannya. Ada arena untuk mendialogkan sisi autentik manusia yaitu human. Alam adalah makrokosmos, implikasinya ada kesadaran untuk menyadari, memahami dan meyakini bahwa keseluruhan bukan hanya tentang diri tetapi juga tentang “Yang Menciptakan” manusia. Kesadaran makrokosmos memberi ruang singgah kepada manusia untuk
Konstruksi Sosial Perempuan Atas Penanggulangan Stunting Di Kelurahan Durian Depun Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang

TIMESINDONESIA, MALANG – Buku ini merupakan hasil dari penelitian yang bertujuan untuk memahami konstruksi sosial perempuan dalam penanggulangan stunting di Kelurahan Durian Depun, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, buku ini memaparkan temuan-temuan yang diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan sembilan ibu yang memiliki anak stunting, serta berbagai informan lainnya, yaitu tim percepatan penanggulangan stunting, Bidan Kelurahan, Ahli Gizi, suami, keluarga, dan anak-anak yang terdampak stunting. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan yang dimiliki perempuan dan praktik yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun perempuan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pentingnya ASI eksklusif, penerapannya sering terhambat oleh beberapa faktor, yaitu persepsi negatif terhadap efektivitas ASI, kurangnya dukungan keluarga, serta pengaruh tradisi dan mitos lokal. Selain itu, meskipun penyuluhan mengenai pentingnya gizi telah diberikan, perempuan masih menghadapi hambatan besar, seperti ketidakpastian dalam menerima intervensi kesehatan, keterbatasan finansial, dan kebiasaan pola makan yang monoton akibat pengaruh tradisi. Buku ini juga mengungkapkan bahwa dalam konteks pola asuh, banyak perempuan yang lebih memilih pola asuh non-paksaan dan sering kali mengabaikan prinsip-prinsip pengasuhan yang sesuai dengan standar medis. Selain itu, kebersihan anak dan penyediaan lingkungan yang sehat juga menjadi tantangan besar, karena terbatasnya lahan, kebiasaan buruk dalam kebersihan rumah, dan faktor ekonomi. Partisipasi perempuan dalam kegiatan posyandu masih rendah, disebabkan oleh prioritas kegiatan rumah tangga yang lebih mendesak, kurangnya minat terhadap program Keluarga Berencana (KB), serta kelalaian dalam mengikuti jadwal imunisasi. Temuan-temuan penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Berger. Teori ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi pengetahuan medis yang diterima perempuan di Desa Durian Depun berinteraksi dengan struktur sosial yang lebih besar, seperti norma budaya, tradisi keluarga, dan kondisi sosial-ekonomi yang ada. Dialektika Berger mengungkapkan bahwa perubahan sosial tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh hubungan dialektis antara pengetahuan baru yang diterima dan kebiasaan lama yang lebih dominan dalam masyarakat. Ketegangan muncul antara pengetahuan medis yang didapatkan melalui penyuluhan kesehatan dan norma budaya yang kuat, seperti kebiasaan memberikan madu pada bayi. Asimetri dalam akses terhadap informasi dan dukungan sosial semakin memperburuk situasi ini, di mana perempuan dengan status sosial-ekonomi rendah lebih terbatas dalam menerapkan pengetahuan medis karena hambatan sosial-ekonomi dan kurangnya dukungan keluarga. Proses internalisasi pengetahuan medis juga tidak berjalan mulus. Perempuan dengan akses lebih besar terhadap pendidikan dan dukungan keluarga lebih mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diterima, sementara perempuan dengan keterbatasan sosial-ekonomi menghadapi kesulitan dalam perubahan perilaku. Ketegangan antara pengetahuan medis dan realitas sosial-ekonomi ini menciptakan ketidaksetaraan dalam penerapan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan perubahan yang lebih komprehensif, yang tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan medis, tetapi juga dengan mengubah struktur sosial yang lebih luas dan meningkatkan dukungan keluarga serta akses terhadap sumber daya ekonomi. Berdasarkan temuan yang ada, buku ini menemukan empat proposisi utama dalam proses konstruksi sosial perempuan terhadap penanggulangan stunting. Pertama, proses eksternalisasi perempuan terhadap realitas objektif tentang stunting dipengaruhi oleh realitas subjektif mereka, dukungan keluarga, dan pengaruh tradisi serta mitos lokal. Kedua, pemikiran kritis perempuan mengenai gizi anak menjadi sumber daya sosial dalam proses objektivasi yang membentuk jaringan interaksi sosial yang mempengaruhi penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, dinamika interaksi sosial perempuan dengan lingkungan sosial mereka menghasilkan pemikiran yang akhirnya terinternalisasi, meskipun penerapannya terbatas oleh ketidakpastian, keterbatasan finansial, dan pengaruh tradisi. Keempat, konstruksi sosial perempuan mengenai penanggulangan stunting berkembang secara dialektik melalui tahapan eksternalisasi, objektivasi, internalisasi, sosialisasi, dan re-sosialisasi, seiring dengan berkembangnya pemikiran kritis perempuan dalam menghadapi tantangan sosial-ekonomi dan budaya. Sebagai tindak lanjut dari temuan-temuan ini, penulis memberikan beberapa saran untuk meningkatkan upaya penanggulangan stunting yang lebih efektif. Di antaranya adalah peningkatan edukasi dan penyuluhan mengenai ASI eksklusif, gizi seimbang, serta pola asuh yang sesuai dengan budaya lokal; memperkuat dukungan keluarga, terutama suami dan keluarga besar, dalam praktik penanggulangan stunting; penguatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan kesehatan keluarga; peningkatan akses terhadap gizi berkualitas dengan harga yang terjangkau; serta mendorong kolaborasi antara berbagai stakeholder untuk memastikan upaya penanggulangan stunting dapat dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan. ****) Oleh: Linda Safitra, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Konstruksi Sosial Mahasiswa Kota Bengkulu atas Information Disorder pada Pemberitaan di Media Sosial

TIMESINDONESIA, MALANG – Penelitian ini secara kajian sosiologis membahas bagaimana mahasiswa di Kota Bengkulu memahami, merespons, dan membentuk persepsi mereka terhadap fenomena information disorder yang terjadi di media sosial. Information disorder adalah istilah yang mengacu pada penyebaran informasi palsu, menyesatkan, atau tidak akurat, yang semakin marak terjadi di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konstruksi sosial mahasiswa atas information disorder pada pemberitaan tentang pemilihan presiden 2024 di media sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, buku ini memaparkan temuan-temuan yang diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan 15 orang mahasiswa ilmu komunikasi sebagai subyek. Hasil penelitian yang di dapatkan dalam buku ini menunjukkan tindakan yang tidak sesuai dengan realita yang didapatkan antara pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa dengan praktik yang dilakukan sehari-hari dalam menggunakan media sosial. Meskipun mahasiswa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai information disorder yang didapatkan dari pertemuan ilmiah, lingkungan sosial dan media sosial, realita nya terjadi hambatan dimana mahasiswa masih mempercayai pemberitaan hoaks yang tersebar di media sosial, bahkan mahasiswa tidak hanya menjadi korban tetapi juga menjadi pelaku terhadap penyebaran hoaks. Penelitian mengenai konstruksi sosial mahasiswa kota Bengkulu atas information disorder pada pemberitaan di media sosial menunjukkan adanya beberapa faktor dominan yang berkonstribusi terhadap pengetahuan mahasiswa tentang information disorder pada pemberitaan politik pemilihan presiden tahun 2024 di Indonesia seperti tingkat literasi yang berbeda, perbedaan dalam nilai dan norma di lingkungan sosial dan efektivitas dalam pertemuan ilmiah. Temuan-temuan penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dari pengetahuan yang didapatkan mahasiswa melalui pertemuan ilmiah, lingkungan sosial dan media sosial dalam berinteraksi dengan struktur sosial yang lebih besar, seperti nilai-nilai tradisional pada lingkungan sosial, kebiasaan di lingkungan keluarga, dan tingkat pendidikan. Dialektika Berger mengungkapkan bahwa perubahan sosial tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh hubungan dialektis antara pengetahuan baru yang diterima dan kebiasaan lama yang lebih dominan dalam masyarakat. Ketegangan muncul antara pengetahuan yang didapatkan dari pertemuan ilmiah dan pengetahuan yang didapatkan dari lingkungan sosial keluarga. Seperti masih berlaku sistem patriarki yang menjadikan mahasiswa tidak berani untuk membantah setiap informasi yang diberikan oleh ayah sebagai kepala keluarga meskipun informasi ini tidak berdasarkan fakta yang tepat. Asimetri dalam akses terhadap informasi dan dukungan sosial semakin memperburuk situasi ini, di mana lingkungan sosial mahasiswa yang berasal dari desa dengan status sosial ekonomi rendah lebih terbatas dalam mendapatkan literasi digital dan media. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan penelitian, serta kerangka teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckmann yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan proposisi tentang Konstruksi Sosial Mahasiswa Kota Bengkulu atas information disorder pada pemberitaan di media sosial seperti : 1. yang pertama proses eksternalisasi mahasiswa atas realitas obyektif yang berupa information disorder pada pemberitaan di media sosial dilatarbelakangi oleh kerangka pikir kritis sebagai hasil atau output dari proses dialektik antara lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan keterlibatan mahasiswa tersebut dalam aktivitas literasi media. 2. Kedua, kerangka pikir kritis atas information disorder pada media sosial merupakan modal simbolik dalam proses obyektivasi diri mahasiswa di satu sisi, dengan realitas sosio-kultural di sisi lain, sehingga terbentuk jaringan interaksi intersubyektif mahasiswa dengan lingkungannya. 3. Ketiga, Kontinuitas interaksi intersubyektif mahasiswa dengan lingkungan sosialnya yang mengangkat atau membawa hasil pemikiran kritis atas information disorder pada pemberitaan di media sosial akan terakumulasi ke dalam proses internalisasi diri mahasiswa. 4. Keempat, konstruksi sosial mahasiswa atas information disorder pada pemberitaan di media sosial akan terus berlangsung secara dialektik, dinamis, dan terus menerus melalui momen eksternalisasi, obyektivasi, internalisasi, sosialisasi, dan re-sosialisasi, sehingga hasil konstruksi sosial tersebut bergerak seluas ruang rasionalitas kritis yang dimiliki oleh mahasiswa. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana generasi muda, khususnya mahasiswa di Kota Bengkulu, berinteraksi dengan informasi di era digital yang penuh tantangan. Berdasarkan temuan penelitian tentang konstruksi sosial mahasiswa Kota Bengkulu terhadap information disorder di media sosial, berikut adalah beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan untuk menghindari dan mengurangi penyebaran informasi yang menyesatkan seperti mengutamakan “saring sebelum sharing”, hal ini dapat membantu mahasiswa dalam menemukan informasi dengan fakta yang tepat dan dapat menjalani tugas mahasiswa sebagai agent of change pada lingkungan sekitar. Pada pertemuan ilmiah melalui forum akademis, dapat dilakukan upaya-upaya seperti mengadakan diskusi berkala tentang literasi media dan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa dengan menghadirkan narasumber ahli yang dapat memberikan pemahaman mendalam tentang fenomena information disorder, membuat pelatihan praktis tentang cara mengidentifikasi dan memeriksa kebenaran informasi yang beredar di media sosial. Pada lingkungan sosial, pengembangan kesadaran dapat dilakukan melalui peran oleh mahasiswa sebagai agen perubahan dalam keluarga, berbagi pengetahuan yang diperoleh dari kampus secara perlahan dan sopan serta mahasiswa dapat mengintegrasikan pengetahuan baru yang didapat dari perteuan ilmiah dengan nilai-nilai tradisional yang dipegang keluarga. Tantangan utama dalam konteks ini adalah mengubah pola pikir tanpa menimbulkan konflik atau resistansi. Kunci keberhasilannya terletak pada kesabaran, penghormatan terhadap struktur sosial yang ada, dan pendekatan bertahap yang membangun kepercayaan keluarga. Mahasiswa perlu menjadi teladan yang menunjukkan bahwa berpikir kritis tidak berarti melawan tradisi, melainkan cara untuk melindungi dan memberdayakan keluarga di era informasi yang kompleks. Dengan menerapkan pendekatan komprehensif yang melibatkan aspek akademis, sosial, dan digital, diharapkan mahasiswa Kota Bengkulu dapat menjadi agen perubahan dalam mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan. ****) Oleh: Mely Eka Karina, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.
PRESENTASI DIRI AKTOR POLITIK DI MEDIA SOSIAL

TIMESINDONESIA, MALANG – Pemilu di Indonesia sebagai wujud demokrasi dilaksanakan setiap lima tahun, termasuk pemilihan presiden, gubernur, bupati, dan anggota legislatif. Pemilu 2024 menyoroti strategi politik berbasis media sosial, yang digunakan aktor politik untuk menyebarkan ide, membangun citra positif, dan menjangkau pemilih, terutama generasi milenial dan pemilih pemula. Media sosial seperti Instagram menjadi alat utama karena generasi muda lebih aktif di platform ini dibanding media konvensional. Pemilih pemula memiliki potensi besar dengan jumlah sekitar 14 juta suara. Mereka cenderung mencari informasi politik melalui internet. Aktor politik menggunakan media sosial untuk mengelola citra melalui konten positif berupa foto, video, dan slogan, yang dapat membangun kesan baik di masyarakat. Strategi ini mendukung pencitraan dan menambah simpatisan, meskipun sering kali sulit membedakan antara pencitraan tulus atau sekadar strategi politik. Observasi terhadap akun Instagram dan TikTok milik Walikota Bengkulu serta Gubernur Bengkulu menunjukkan penggunaan simbol, tagline religius, dan konten berorientasi lokal untuk menarik perhatian khalayak. Media sosial memberikan ruang interaksi langsung melalui komentar dan respons khalayak terhadap aktivitas politik yang dipublikasikan. Namun, perbedaan antara “panggung depan” dan “panggung belakang” menunjukkan bahwa citra yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Media sosial berperan penting dalam membentuk opini publik, memengaruhi persepsi pemilih, dan menyebarkan pesan politik, baik positif maupun negatif. Hasil survei kepada pemilih pemula di Universitas Muhammadiyah Bengkulu mengonfirmasi dominasi penggunaan media sosial sebagai sumber informasi utama tentang aktor politik. Media sosial, terutama Instagram, dianggap efektif dalam membangun hubungan dengan generasi muda. Penelitian menemukan bahwa presentasi diri aktor politik di panggung depan merupakan proses yang sangat terencana. Panggung depan (front stage) di kehidupan nyata, aktor politik menggunakan elemen penampilan, setting, dan interaksi dengan audiens untuk membangun kesan atau impression manajemen sebagai pemimpin yang diinginkan. Panggug depan (front stage) di media sosial, presentasi diri bukan sekadar ekspresi spontan, melainkan upaya kolektif terorganisir dengan melibatkan “kru panggung” yang membantu mentransformasi ide dan gagasan dari aktor politik. Media sosial telah menciptakan panggung baru dengan karakteristik unik, memberikan kontrol lebih besar atas narasi melalui seleksi konten, memungkinkan interaksi langsung dengan audiens, dan kemampuan menyebarkan pesan secara luas dan cepat. Sementara itu, di panggung belakang (back stage), aktor politik menanggalkan semua simbol dan atribut politiknya, berinteraksi dengan audiens yang tidak terkait dengan dunia politik. Penelitian ini juga Memperhatikan hasil penelitian, temuan penelitian, dan kerangka teori presentasi diri dari Erving Goffman, maka dapat disusun proposisi sebagai berikut: 1. Aktor politik menggunakan platform Media Sosial sebagai panggung depan digital untuk mengelola dan mengontrol kesan publik secara strategi sesuai dengan norma sosial yang berlaku. 2. Terdapat 2 panggung depan (front stage) aktor politik yaitu pada saat panggung depan di real life yang di setting secara sendiri oleh aktor politik dan panggung depan di media sosial membutuhkan tim atau ”kru panggung” untuk mengelola kesan yang di kehendaki oleh aktor politik. 3. Perluasan wilayah presentasi diri aktor politik dari public sphere yang kemudian di perkuat melalui virtual sphere adalah upaya untuk lebih memperkuat manajemen kesan citra diri aktor politik secara berkelajutan dengan tanpa batas ruang dan waktu. Penelitian ini menghasilkan beberapa implikasi teoritis penting. Pertama, memperluas konsep panggung depan Goffman dengan menghadirkan ruang virtual. Kedua, menunjukkan kompleksitas manajemen kesan di dua ranah berbeda. Ketiga, mengungkap peran signifikan “kru panggung” dalam presentasi diri digital. Terakhir, penelitian ini mencatat pergeseran fundamental dari ruang publik tradisional ke ruang virtual, yang membawa implikasi mendalam pada cara wacana politik terbentuk di era digital. ****) Oleh: Hafri Yuliani, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Penguatan Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Pengembangan Karakter Kemandirian di LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponogoro

TIMESINDONESIA, MALANG – Salah satu ruang lingkup PAI adalah pendidikan di rumah. Peran keluarga dalam pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak-anak. Orang tua sangat berperan dalam menerapkan PAI di rumah karena mereka merupakan agen dan lembaga sosial pertama sebagai pembentuk karakter serta kepribadian anak. Dalam mendidik anak, orang tua semestinya memiliki konsep tentang pendidikan karakter, kemampuan untuk bersikap adil, pemahaman ilmu pengetahuan dan agama serta pemenuhan kebutuhan kasih sayang anak. Apabila orang tua berperan secara optimal dalam membentuk keluarga yang baik, bisa dipastikan bahwa problematika PAI di lingkup keluarga dapat terselesaikan. Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang kurang peduli dengan penerapan PAI di rumah. Problema selanjutnya adalah ketika dalam keluarga terjadi keterlantaran terhadap anak karena lemahnya ekonomi, hancurnya keluarga atau kedua orang tuanya meninggal dunia, maka pengasuhan anak akan dialihkan ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Ketika anak-anak sudah tinggal di LKSA, maka permasalahan pertama yang dihadapi adalah bersumber dari diri mereka yang bersifat pribadi, tidak sama dengan yang dialami oleh anak lain, semisal permasalahan ekonomi, keluarga dan pendidikan serta perbedaan latar belakang keluarga. Berdasarkan observasi awal, peneliti menemukan permasalahan yang terkait dengan karakter kemandirian anak asuh di LKSA Nyai Ahmad Dahlan (NAD) Ponorogo. Dalam karakter disiplin, anak asuh masih sering terlambat ketika melaksanakan ibadah salat dan juga ketika mengikuti program ketrampilan. Dalam karakter percaya diri, anak asuh masih merasa minder ketika belajar ceramah di depan teman-temannya. Anak asuh masih terlihat malas untuk mengikuti kegiatan pendidikan ketrampilan dan anak asuh masih terkesan monoton dalam belajar motif membatik. Paket liburan keluarga Kondisi tersebut akan menjadikan anak asuh kehilangan kehidupan yang bermakna, ditandai dengan tidak adanya semangat untuk meraih tujuan hidup, harapan serta pencapaian yang dianggap berharga. Ketika makna hidup hilang, maka akan bermunculan emosi-emosi yang bersifat negatif, meliputi anak merasa perasaannya hampa, tidak dihargai saat berinterkasi dengan orang lain dan mereka tidak memperdulikan terhadap lingkungan. Jika hal ini dibiarkan, akan menjadikan mereka tidak mampu untuk menghadapi permasalahan hidup serta menurunkan karakter kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengapa diperlukan penguatan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan karakter kemandirian, bagaimana implementasi penguatan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan karakter kemandirian,serta implikasi pengembangan kemandirian anak asuh di LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponorogo. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian ini di LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponorogo yang berada di bawah naungan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ponorogo. Informan penelitian in adalah pengurus, pengasuh dan anak asuh LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponorogo. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan melalui empat alur kegiatan analisis data model interaktif Miles, yaitu pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Temuan atau hasil penelitian ini adalah; (a) Penguatan nilai-nilai PAI mampu mengembangkan karakter kemandirian dengan baik, karena mendapatkan penguatan positif (reinforcement positif) saat proses pembelajaran, anak asuh memberikan respon positif dan mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar; (b) Penguatan nilai-nilai PAI dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh dapat diimplementasikan dengan menggunakan teori belajar behavioristik Edward Lee Thorndike yang mengandung empat hukum, yaitu: Law of radiness (hukum kesiapan), Law of exercise (hukum latihan), Law of effect (hukum akibat) dan Law of attitude (hukum sikap); (c) Penguatan nilai-nilai PAI, berimplikasi terhadap kemandirian anak asuh menjadi lebih terkontrol dan terarah. Mereka mampu memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini bisa diamati dengan teori kemandirian Steinberg, yaitu perubahan ikatan emosional antara anak asuh dengan pengasuh (emotional autonomy), mampu membuat keputusan secara bebas dan konsekuen atas keputusannya itu (behavioral autonomy) dan mereka mampu untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting (values autonomy). Proposisi penelitian ini adalah: (a) Penguatan nilai-nilai pendidikan agama Islam akan berperan dengan sangat maksimal dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh manakala dilaksanakan secara terpadu dan terfokus; (b) Implementasi penguatan nilai-nilai pendidikan agama Islam akan lebih maksimal untuk pengembangan karakter kemandirian anak asuh manakala disertai dengan pembiasaan dan praktek; (c) Implikasi pengembangan kemandirian anak asuh akan semakin terkontrol dan terarah manakala bekerja sama dengan dunia industri dengan sistem magang. Implikasi teorits penelitian ini adalah: (a) Penguatan nilai-nilai PAI dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh di LKSA NAD merupakan upaya untuk meningkatkan penghayatan dan pendalaman terhadap nilai-nilai PAI, baik secara verbal maupun non verbal, kepada anak-anak asuh di LKSA NAD agar mereka semakin giat untuk berpartisipasi serta senantiasa mengulangi perbuatan baik yang berdasarkan ajaran Islam. Hal ini memperkuat teori belajar Operant Conditioning Skinner, respon positif anak asuh dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Kemampuan mereka dalam berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebihi giat serta mereka mampu untuk melakukan pengulangan terhadap perbuatan baik tersebut. Salah satu perbuatan baik yang diulang-ulang oleh anak asuh adalah karakter kemandirian. Mereka mampu mengembangkan karakter kemandirian dengan baik karena mendapatkan penguatan positif (positif reinforcement) saat proses pembelajaran; (b) Implementasi penguatan nilai-nilai PAI dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh di LKSA NAD relevan dengan teori belajar behavioristik menurut Thorndike. Dalam teori ini terdapat empat hukum, yaitu: Law of readiness (hukum kesiapan). Sebelum pembelajaran dimulai, anak asuh sudah memasuki tempat belajar dan duduk di tempatnya masing-masing. Peralatan pembelajaran yang berwujud alat tulis, buku tulis dan buku materi sudah dibawa. Ketika pembelajaran dimulai, diawali dengan membaca doa secara bersama-sama. Law of exercise (hukum latihan), ada beberapa materi yang diulang-ulang sampai anak asuh benar-benar memahaminya dengan baik. semisal materi Al-Qur’an, anak asuh diminta untuk mengulang-ulang satu ayat yang diajarkan sampai benar-benar hafal. Law of effect (hukum akibat), anak asuh akan mendapatkan penghargaan ketika menunjukkan prestasinya dalam pembelajaran. Jika mampu menjawab pertanyaan pengajar dengan baik, mendapatkan penghargaan berwujud verbal dengan ucapan baik maupun yang berwujud non verbal, semisal dengan gerakan mengacungkan ibu jari. Dan Law of attitude (hukum sikap), anak asuh menunjukkan perubahan sikap lebih baik dari sebelumnya. Mereka lebih bersemangat , kreatif dan bertanggung jawab; (c) Implikasi penguatan nilai-nilai PAI terhadap pengembangan karakter kemandirian anak asuh di LKSA NAD memberikan tambahan pada teori kemandirian Steinberg, yaitu dengan adanya penguatan nilai-nilai PAI terhadap kemandirian ikatan emosional antara anak asuh dengan
Menelisik Nasionalisme di Natuna: Tantangan di Perbatasan

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Natuna, Di tengah kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis di perbatasan dengan Malaysia, masyarakat Natuna menghadapi tantangan yang kompleks dalam mempertahankan semangat nasionalisme. Amirudin, mahasiswa program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang mencoba mendalami isu tersebut dalam sebuah peneletian, ia mengungkapkan bahwa meskipun Natuna kaya akan sumber daya alam, masyarakatnya belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Penelitian yang dilakukan ini berangkat dari pentingnya nasionalisme sebagai landasan utama bagi keberlangsungan negara, terutama di negara seperti Indonesia yang memiliki keragaman etnis dan geografis yang tinggi. Natuna, sebagai wilayah perbatasan strategis, memiliki sejarah panjang dalam interaksinya dengan Malaysia, tetapi kedekatan ini juga membawa tantangan tersendiri. Amirudin menjelaskan bahwa media dan informasi yang mengalir dari Malaysia kerap mempengaruhi masyarakat Natuna, membuat upaya mempertahankan nasionalisme menjadi lebih rumit. “Kita perlu memahami bagaimana masyarakat di perbatasan ini memaknai identitas nasional mereka dalam situasi yang penuh tantangan,” ujar Amirudin. Dalam penelitiannya, Amirudin menggunakan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif warga Natuna. “Fenomenologi memungkinkan kita memahami bagaimana individu memaknai nasionalisme mereka, yang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan politik mereka,” jelasnya. Penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan berbagai informan kunci, termasuk tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan warga lokal. Observasi partisipatif juga dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang bagaimana kehidupan sosial dan budaya di Natuna mempengaruhi pemahaman masyarakat terhadap nasionalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Natuna memiliki pemahaman nasionalisme yang kompleks. Identitas nasional mereka berkembang dari sejarah, budaya, dan mitos bersama, yang dianggap lebih kuat daripada identitas etnis atau asal usul. Konsep “komunitas terbayang” dari Benedict Anderson sangat relevan di sini. Meskipun ada kedekatan budaya dengan Malaysia, masyarakat Natuna tetap merasa sebagai bagian dari Indonesia. Pendidikan dan media lokal memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman nasionalisme ini. Menurut Amirudin, keragaman budaya dan etnis di Natuna lebih dilihat sebagai kekuatan pemersatu daripada pemisah. “Masyarakat Natuna melihat keragaman ini sebagai aset, bukan penghalang,” tambahnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nasionalisme di Natuna tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti klaim wilayah dari Cina atau pengaruh budaya Malaysia, tetapi juga oleh tindakan sosial masyarakat yang rasional untuk mempertahankan identitas nasional. Warga Natuna aktif mengekspresikan nasionalisme mereka melalui partisipasi dalam upacara nasional dan kegiatan budaya yang memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari Indonesia. Amirudin berharap penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan kebijakan yang mendukung identitas nasional di wilayah perbatasan. “Dengan pemahaman yang lebih mendalam, pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih relevan dan efektif untuk menjaga kedaulatan wilayah serta memperkuat rasa kebangsaan di masyarakat perbatasan,” pungkasnya. Melalui penelitian ini, diharapkan kesadaran nasional di Natuna dapat terus diperkuat, menjadikannya benteng yang kokoh di perbatasan Indonesia. ***) Oleh: Amirudin, mahasiswa program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Manajemen Ekowisata Secara Terintegritas dan Berkelanjutan di Kawasan Koto Panjang Kampar Riau

Ekowisata di Provinsi Riau sudah mulai diterapkan. Masyarakat Provinsi Riau terdiri dari berbagai suku, antara lain suku melayu dan suku masyarakat pedalaman seperti suku sakai, talang mamak, laut, bonai, hutan serta suku lainnya yang masing-masing memiliki kebudayaan dan adat istiadatnya sendiri. Potensi tersebut menjadikan Provinsi Riau terus berupaya mengembangkan objek wisata yang sangat menarik. Program yang dilakukan adalah menggali potensi dan daya tarik wisata di PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Ada beberapa objek wisata yang ada di Kawasan Waduk PLTA Koto Panjang yang terdiri dari pulau qeis, pulau wahid, puti island, puncak kompe, puncak ulu kasok, Ar-royan island, puncak tuah, bukit kelok indah, tepian mahligai, danau rusa, hendferland, Desa Wisata Kampung Patin, umbai padang island, raja onam kampar, talau pusako dan Candi Muara Takus. Dari 16 objek daya tarik wisata yang terdapat di Kawasan PLTA Koto Panjang, ada tiga objek objek yang akan diteliti terkait Manajemen Ekowisata Secara Terintegrasi dan Berkelanjutan di Kawasan Plta Koto Panjang Kampar Riau. Adapun objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan secara terintegrasi dan berkelanjutan dengan Danau Rusa yaitu Desa Wisata Kampung Patin dan Candi Muara Takus. Tiga objek wisata tersebut memiliki potensi daya tarik dan posisi strategis yang berada di tengah-tengah Kawasan PLTA Koto Panjang. Sosial ekonomi masyarakat mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan karena dengan akan dibukannya jalan tol yang semula jarak tempuh dibutuhkan waktu selama 3 jam menjadi 1,5 jam dari Pekanbaru menuju Danau Rusa, Desa Wisata Kampung Patin dan Candi Muara Takus. Kawasan Danau Rusa memiliki potensi apabila dikembangkan karena sesuai dengan permintaan pasar pariwisata secara keseluruhan apalagi yang bergerak ke arah back to nature, back to local culture dan Sport Tourism. Danau Rusa adalah salah satu objek wisata yang potensial untuk itu memerlukan penanganan maksimal. Posisi lokasi objek wisata Danau Rusa sangat strategis, karena terletak di jalan lintas provinsi tepatnya 34 km dari kota Bangkinang. Danau Rusa memiliki luasan sekitar 40 Hektar yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kampar dan memiliki Panorama alam yang sangat indah. Danau Rusa juga pernah dijadikan Venues Olahraga Dayung dan Sirkuit Balap Motor dan Sircuit Of Road. Tidak jauh dari Danau Rusa terdapat Desa Koto Mesjid atau disebut dengan Desa Wisata Kampung Patin. Desa ini memiliki komoditas unggulan yaitu ikan patin dan memiliki industri pengolahan perikanan atau yang disebut dengan sentra produksi perikanan (Sari et al., 2023). Kegiatan perikanan di Desa Koto Mesjid ini terdiri dari kegiatan budidaya ikan di kolam dan keramba, sedangkan untuk ikan yang dihasilkan adalah ikan patin. Ikan patin merupakan komoditas unggulan karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Maka dari itu masyarakat Desa Koto Mesjid Kabupaten Kampar memanfaatkan ikan patin sebagai usaha untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonominya. Sentra produksi perikanan yang didirikan pemerintah guna untuk mewadahi masyarakat Desa Kampung Patin yang memiliki usaha sehingga mempermudah dalam proses produksi. Usaha industri sentra pengolahan di Desa Koto Mesjid mendapat julukan sebagai kampung patin dengan satu rumah satu kolam ikan. Sentra industri pengolahan ikan yang ada di Desa Koto Mesjid diharapkan agar dapat terus terjaga keberadaannya serta Kawasan PLTA tersebut dapat menjadi destinasi wisata nasional di Provinsi Riau yang berbasis pada alam, sejarah dan kebudayaan lokal. Untuk itu pengembangan manajemen ekowisata di Kawasan PLTA Koto Panjang Kampar Riau perlu dilakukan sebagai langkah untuk menjaga kawasan dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Jika pariwisata dikelola dengan cermat akan memiliki potensi perekonomian yang menjadi motivasi berbagai pihak. Sebuah sistem manajemen yang terintegrasi dikonseptualisasikan sebagai satu proses terpadu yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Hubungan tersebut antara manusia, informasi, material, infrastruktur dan sumberdaya keuangan dan sumberdaya alam untuk mencapai tujuan akhir yang berhubungan dengan kepuasan dari berbagai pemangku kepentingan (Streimikiene et al., 2021). Selain Danau Rusa dan Desa Wisata Kampung Patin, Candi Muara Takus juga memiliki potensi berupa peninggalan sejarah Budha yang ada di Provinsi Riau, dibangun antara abad IV dan IX, sebagai bukti agama Budha pernah berkembang di kawasan ini. Candi ini berukuran 7 x 7 meter, dengan tinggi 14 meter, dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan yang dianggap penting bagi komunitas Budha. Terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, berjarak sekitar 60 Km dari ibukota kabupaten dan 121 Km dari Ibukota Provinsi. Bangunan Candi yang terdiri dari Mahligai Stupa Candi Tua, Candi Bungsu, Pelangka dan tempat pembakaran tulang belulang manusia, yang merupakan pusat agama Budha dan pusat perdagangan dari kedatuan Sriwijaya. Candi ini didirikan sebagai penghormatan terhadap seorang putri India yang datang ke negeri ini, ia meninggal tenggelam di sungai Kampar. Daya tarik objek wisata ini adalah keindahan bangunan candi yang berusia ratusan tahun yang arsitekturnya mirip dengan bangunan pada masa Asyoka di India dan ada pula persamaannya dengan arsitektur dari Birma dan arsitektur Bihara Bahal di Padang Sidempuan. Kondisi fisik bangunan Candi Muara Takus saat ini cukup baik, karena pengelolaan dan pemugaran yang dilakukan secara berkala. Selain dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri, candi ini juga cukup diminati oleh wisatawan luar negeri yang mayoritas berasal dari Belanda, Inggris dan Jerman. Bahkan jumlahnya mencapai 2.500 orang per tahun (Disparekraf Riau 2023). Beberapa permasalahan umum yang membuat manajemen yang terintegrasi dan berkelanjutan diperlukan antara Danau Rusa, Desa Wisata Kampung Patin, dan Candi Muara Takus adalah: Pengelolaan Terpisah yang Kurang Efektif: Jika ketiga lokasi ini dikelola secara terpisah tanpa koordinasi, bisa terjadi ketidakefisienan dalam alokasi sumber daya, pemasaran, dan pengembangan infrastruktur. Misalnya, promosi pariwisata yang tidak terkoordinasi bisa menyebabkan kurangnya visibilitas atau ketidakseimbangan dalam kunjungan wisatawan ke setiap lokasi. Persaingan Sumber Daya dan Konflik Kepentingan: Tanpa manajemen yang terintegrasi, bisa muncul konflik kepentingan antara pihak-pihak yang terlibat, seperti dalam jumlah kunjungan wisatawan yang menurun, pengalaman wisata yang kurang menarik, wisatawan mencari pengalaman yang holistik dan memuaskan. Tanpa integrasi, wisatawan mungkin merasa kesulitan dalam mengakses informasi, transportasi, atau fasilitas yang konsisten antara ketiga Lokasi. Sehingga bisa menurunkan daya tarik destinasi dan mengurangi potensi kunjungan ulang. Kurangnya keberlanjutan sosial dan ekonomi, Jika tidak dikelola dengan berkelanjutan, keuntungan ekonomi dari pariwisata mungkin tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal. Tanpa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan, manfaat ekonomi bisa lebih banyak dinikmati oleh pihak luar, meninggalkan komunitas
TRANSENDENSI PEREMPUAN KEPALA KELUARGA PETANI KOPI (Studi Fenomenologi atas Proses Keberadaan Petani Perempuan dari ‘Liyan’ menjadi ‘Diri’ di Desa Tirtoyudo, Kabupaten Malang)

Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian tidak serta merta menjadikan posisi perempuan setara dengan laki-laki Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2018, persentase petani perempuan di Indonesia adalah 24,04% yang berarti hampir mencapai seperempat dari keseluruhan jumlah petani di Indonesia (Maulana et al., 2022). Dari jumlah tersebut, keberadaan perempuan dalam pertanian sering kali hanya dijadikan subordinasi dari laki- laki atau perempuan selalu memiliki posisi sebagai kaum kelas kedua. Trend peningkatan partisipasi petani kopi perempuan di level global ternyata bertolak belakang dengan realita petani kopi di Indonesia, padahal Indonesia adalah negara produsen kopi terbesar ketiga di dunia. Berpotensinya perkebunan kopi terhadap perekonomian nasional tidak terlepas dari peran perempuan dalam perkebunan kopi. Tetapi, beberapa studi menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam perkebunan kopi tidak setara dengan laki-laki. Dominasi laki-laki terhadap perempuan di perkebunan kopi dapat ditunjukkan dari beberapa aspek, yang meliputi pembagian pekerjaan berdasarkan gender, akses dalam kepemilikan lahan, modal, pengambilan keputusan, hingga pemasaran. Studi dari Lindawati (2003) dan Bertulfo (2017), menunjukkan petani kopi perempuan dilibatkan dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan saja, sedangkan laki-laki dilibatkan dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik yang besar, dan mendominasi pembagian pekerjaan di perkebunan kopi. Padahal, dalam realitanya, pekerjaan-pekerjaan di ranah perkebunan kopi, tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan fisik, tapi juga kemampuan intelektual. Sehingga, dapat diartikan bahwa budaya patriarki, khususnya yang ada di perkebunan kopi, menga nggap perempuan tidak hanya lemah dalam aspek fisik, namun juga lemah dalam aspek mental dan intelektual. Hal ini yang menjadikan perkebunan kopi berwajah maskulin. Rasionalitas patriarki telah mengunggulkan kemampuan laki-laki dan meragukan kemampuan perempuan, sehingga dalam beberapa pekerjaan –terutama di perkebunan kopi– laki- laki memiliki posisi sebagai kaum kelas pertama (subjek pengendali/’diri’/’the self’) sedangkan perempuan adalah kaum kelas kedua (objek pengikut/’liyan’/’the other’). Konstruksi patriarkis-maskulin di perkebunan kopi membuat kemampuan perempuan petani kopi terbatas. Kultur yang mengunggulkan kemampuan laki-laki membuat sistem perkebunan kopi berpihak pada laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai kaum kelas kedua. Dominasi laki-laki juga terjadi pada institusi perkawinan dengan memposisikan perempuan sebagai objek pengikut suami. Realitas di perkebunan kopi perempuan tidak lagi menjadi objek ketika ia sudah berpisah dengan suaminya, baik karena perceraian maupun kematian. Secara tidak langsung, perempuan kepala keluarga mengalami transendensi dengan terlepas dari dominasi laki-laki. Perempuan mengalami pergeseran dari objek pengikut suami (‘liyan’/other) menjadi subjek pemegang kendali utama(‘diri’/self) sebagai kepala keluarga. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dan teori feminisme eksistensialis dari Simone de Beauvoir untuk menganalisa lebih dalam mengenai bagaimana proses pergeseran posisi atau transendensi dan gaya kepemimpinan petani kopi perempuan dari objek pengikut suami (‘liyan’) menjadi subjek tunggal pengendali utama (‘diri’) saat menjadi perempuan kepala keluarga. Rasionalitas patriarki yang tidak mempercayakan kemampuan perempuan menjadi pemimpin seperti laki-laki patut dikaji lebih dalam. Ketiadaan ruang dan kesempatan (terutama pada saat dalam ikatan pernikahan) bagi perempuan menyebabkan perempuan tidak bisa membuktikan kemampuannya ketika menjadi seorang pemimpin. Penelitian ini juga menggunakan teori dramaturgi dari Ervin Goffman untuk menganalisa secara mendalam bagaimana pengelolaan kesan menjadi pemimpin perempuan tunggal di tengah maskulinitas perkebunan kopi. Ketidakberadaan laki-laki di perkebunan kopi memunculkan ruang baru bagi perempuan kepala keluarga petani kopi untuk membuktikan kemampuan kepemimpinannya di tengah budaya patriarki, walaupun rasionalitas patriarki menganggap perempuan tidak bisa berpikir dan bertindak seperti laki-laki. Penelitian ini menghasilkan temuan, yang di antaranya: petani kopi perempuan adalah liyan, baik di sektor publik yaitu perkebunan kopi, maupun domestik di dalam rumah, ketika belum berpisah dengan suami. Posisi petani kopi perempuan adalah sebagai pekerja tambahan pembantu suami dalam mencari nafkah di perkebunan kopi. Di sektor domestik di dalam rumah pun, suami adalah pemegang peran dalam pengambilan keputusan. Petani kopi perempuan juga tetap menjadi liyan dalam ruang transformasi sosial. Ketiadaan ruang bagi perempuan untuk membuktikan kemampuannya ketika masih belum berpisah dengan suami menyebabkan perempuan selalu menjadi liyan, baik dalam pekerjaan yang mengutamakan kemampuan fisik hingga non fisik seperti kemampuan intelektual. Artinya, secara umum, kualitas perempuan diragukan dalam memimpin atau mengambil keputusan dalam berbagai hal. Teoritisi feminisme eksistensialis, Simone de Beauvoir mengemukakan terdapat tiga strategi yang bisa ditempuh oleh perempuan untuk bisa keluar dari dominasi laki-laki. Strategi tersebut disebut “transendensi”, yang artinya adalah “melampaui”. Beauvoir menguraikan strategi transendensi terdiri dari: Perempuan harus bekerja Perempuan harus melakukan kegiatan intelek Perempuan harus melakukan transformasi sosial Dengan melakukan tiga strategi ini, menurut Beauvoir, perempuan bisa benar-benar keluar dari keliyanannya dan bisa mengalami pergeseran menjadi “diri”. Namun, melalui penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi transendensi Beauvoir tidak serta merta membuat perempuan bisa menjadi “diri”. Dalam bukunya, Beauvoir menitikberatkan tulisannya berdasarkan pengamatannya terhadap beberapa fenomena yang didapati dengan budaya Eropa. Sama seperti penelitian Beauvoir (1956) yang menggunakan studi fenomenologi, perbedaan dalam studi ini adalah juga dengan cakupan lokasi dengan budaya yang ada di Jawa Timur, di mana mayoritas masyarakat berpegang teguh pada nilai agama Islam yang mengatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin dari perempuan. Sehingga, baik dalam aspek bekerja, melakukan pekerjaan intelek, maupun melakukan transformasi sosial, masih di dominasi oleh laki-laki karena ketiadaan ruang bagi perempuan untuk memimpin yang telah dikonstruksikan. Namun, ketika petani kopi perempuan telah berpisah dengan suaminya, baik cerai hidup maupun cerai mati dan menjadi subjek tunggal perempuan kepala keluarga, muncul ruang baru bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Ketika berpisah dengan suami, terdapat 3 bentuk penyesuaian pembagian pekerjaan di perkebunan kopi, yang terdiri dari: a) pekerjaan yang sejak sebelum berpisah dengan suami, perempuan kepala keluarga bisa lakukan sendiri, b) pekerjaan yang dahulu dilakukan petani kopi laki-laki namun sekarang bisa dilakukan perempuan kepala keluarga petani kopi, dan c) pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh perempuan kepala keluarga petani kopi. Perempuan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang laki-laki dahulu lakukan, yaitu pekerjaan yang mengutamakan kemampuan intelektual dan pekerjaan yang tidak terlalu menitikberatkan pada kemampuan fisik. Sedangkan pekerjaan yang mengutamakan kemampuan fisik yang besar, petani kopi perempuan tidak bisa melakukan, karena keterbatasan kemampuan fisik yang mereka miliki. Menariknya, ternyata terdapat perbedaan pola kepemimpinan antara laki-laki dan perempuan. Pada hasil penelitian ini menemukan, bahwa laki-laki sebagai pemimpin di perkebunan kopi cenderung mendikotomikan pekerjaan dengan menitikberatkan kemampuan fisik saja, bahkan hingga tanpa sengaja membatasi kemampuan petani kopi perempuan. Sedangkan kepemimpinan perempuan pada ranah perkebunan kopi tidak mendikotomikan pekerjan berdasarkan diferensiasi seksual atau gender, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk buruh yang mereka delegasikan pekerjaannya. Mereka bertindak melampaui (dalam bahasa Beauvoir ‘bertansendensi’) dengan mematahkan anggapan masyarakat yang melabeli perempuan tidak memiliki kemampuan fisik dan intelektual yang setara dengan laki-laki. Di sisi lain, di sektor domestik, perempuan kepala keluarga petani kopi membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan intelektual seperti laki-laki dalam pengambilan keputusan. Begitu juga pada ruang transformasi sosial. mereka cenderung berani mengambil keputusan untuk memilih kelompok kemasyarakatan yang menguntungkan bagi mereka. Peran baru melahirkan identitas dan citra baru. Di panggung depan, perempuan kepala keluarga petani