Penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal Maja Labo Dahu terbukti menjadi pendekatan efektif dalam membentuk perilaku religius peserta didik di MTs Negeri 1 Kota Bima.

MALANG Penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal Maja Labo Dahu terbukti menjadi pendekatan efektif dalam membentuk perilaku religius peserta didik di MTs Negeri 1 Kota Bima. Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Irwan, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2026, mengungkap bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam sistem pendidikan madrasah mampu memperkuat internalisasi nilai religius secara lebih kontekstual, reflektif, dan berkelanjutan.

Perkembangan globalisasi, arus digitalisasi, serta perubahan sosial yang semakin cepat membawa tantangan serius terhadap pembentukan karakter generasi muda. Fenomena menurunnya kedisiplinan, melemahnya rasa tanggung jawab, rendahnya kesadaran spiritual, hingga perilaku yang kurang mencerminkan nilai religius menjadi problem yang dihadapi lembaga pendidikan saat ini. Dalam konteks tersebut, madrasah memiliki posisi strategis sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter peserta didik.

Namun demikian, pendidikan karakter religius selama ini masih cenderung bersifat normatif dan lebih menekankan aspek kognitif dibanding internalisasi nilai secara mendalam. Nilai-nilai religius sering kali hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, belum sepenuhnya diwujudkan dalam perilaku sehari-hari siswa. Kondisi ini mendorong pentingnya pendekatan pendidikan yang lebih kontekstual dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai basis penguatan karakter.

Disertasi ini berjudul “Dimensi Lokalitas dalam Pendidikan: Dialektika Karakter Religius dengan Kearifan Lokal di Madrasah.” Fokus penelitian diarahkan pada konsep nilai Maja Labo Dahu sebagai falsafah hidup masyarakat Bima, pemahaman warga madrasah terhadap nilai tersebut, serta implementasinya dalam penguatan karakter religius peserta didik di MTs Negeri 1 Kota Bima.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana nilai-nilai budaya lokal Maja Labo Dahu dipahami dan diinternalisasikan dalam kehidupan madrasah, serta bagaimana nilai tersebut diimplementasikan melalui pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah. Sasaran akhirnya adalah merumuskan model konseptual penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal yang integratif dan relevan dengan konteks pendidikan Islam kontemporer.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, kepala madrasah, guru, pembina kegiatan, serta peserta didik MTs Negeri 1 Kota Bima. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan teknik penjodohan pola, pembuatan eksplanasi, dan analisis kontekstual.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Maja Labo Dahu merupakan sistem nilai integratif yang menggabungkan kontrol sosial dan kontrol spiritual dalam membentuk perilaku religius peserta didik. Konsep “maja” mengandung makna rasa malu melakukan perbuatan tercela, sedangkan “dahu” bermakna rasa takut kepada Allah SWT sebagai bentuk kontrol spiritual dalam diri individu. Kedua nilai tersebut terbukti memiliki relevansi kuat dalam membangun karakter religius siswa.

Penelitian ini juga menemukan bahwa implementasi penguatan karakter religius berlangsung melalui integrasi nilai dalam pembelajaran, pembiasaan ibadah, keteladanan guru, serta budaya madrasah yang religius. Meskipun demikian, implementasi tersebut masih cenderung bersifat praksis dan belum sepenuhnya terformalisasi secara sistematis dalam kurikulum pendidikan madrasah.

Kebaruan penelitian ini terletak pada model konseptual penguatan karakter religius berbasis Maja Labo Dahu yang bersifat integratif. Model ini menghubungkan dimensi sosial, spiritual, dan budaya dalam satu sistem pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, madrasah, dan masyarakat. Temuan ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi basis pendidikan karakter religius yang efektif dan berkelanjutan.

Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian Pendidikan Agama Islam berbasis kearifan lokal dengan mengintegrasikan perspektif budaya Clifford Geertz, teori pembelajaran sosial Albert Bandura, serta konsep akhlak Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam satu kerangka analisis yang utuh. Penelitian ini menawarkan pendekatan baru dalam pendidikan karakter religius yang tidak hanya menekankan aspek normatif, tetapi juga menempatkan budaya lokal sebagai sumber nilai yang hidup dalam masyarakat.

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi madrasah, sekolah, dan pemerintah daerah dalam merancang program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat Bima di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi.

Ke depan, model penguatan karakter religius berbasis Maja Labo Dahu diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di berbagai lembaga pendidikan lainnya sebagai strategi pendidikan karakter yang lebih kontekstual, humanis, dan berakar pada budaya bangsa.

***

*) Oleh: Irwan, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi