Di tengah lahan pertanian yang terus menyempit akibat urbanisasi, sebuah disertasi doktor Ilmu Pertanian berhasil membuka wawasan baru tentang masa depan pangan perkotaan.

MALANG – Di tengah lahan pertanian yang terus menyempit akibat urbanisasi, sebuah disertasi doktor Ilmu Pertanian berhasil membuka wawasan baru tentang masa depan pangan perkotaan. Asgami Putri, mahasiswa Program Doktor Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2021, berhasil menyelesaikan ujian tertutup disertasinya yang berjudul Preferensi Konsumen Terhadap Produk Pertanian Perkotaan Sistem Hidroponik di Kota Pekanbaru.

Disertasi ini tidak hanya menjadi karya akademik, melainkan juga panduan praktis bagi pelaku usaha hidroponik, pemerintah daerah, dan masyarakat yang semakin peduli dengan pangan sehat. Dalam wawancara eksklusif, Asgami Putri menjelaskan latar belakang, metode, hasil, serta harapannya untuk masa depan.AdvertisementTemukan lebih banyakTokoh & MasyarakatTV & VideoBerita online terkini

Latar Belakang: Mengapa Memilih Tema Hidroponik di Pekanbaru?

Asgami Putri mengungkapkan bahwa pilihan temanya lahir dari keprihatinan nyata terhadap ketahanan pangan di kota-kota besar Indonesia. “Pertanian konvensional semakin terdesak oleh alih fungsi lahan menjadi perumahan, industri, dan infrastruktur. Di Pekanbaru, data Dinas Pertanian dan Perikanan tahun 2025 menunjukkan produksi sayuran dan buah semusim mencapai 19.790 ton, namun konsumsi masyarakat hampir menyamai angka tersebut. Masih ada gap pasokan yang belum terpenuhi, terutama untuk sayuran segar seperti pakcoy, selada, kangkung, dan bayam,” ujarnya.

Menurut peneliti, pertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pangan higienis, bergizi, serta ramah lingkungan semakin meningkat. Hidroponik muncul sebagai solusi inovatif: sistem bertanam tanpa tanah yang hemat air, minim pestisida, dan sangat cocok untuk lahan sempit seperti pekarangan rumah, balkon, atau atap gedung. “Urban agriculture bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Saya memilih Pekanbaru karena kota ini memiliki keterbatasan lahan pertanian konvensional, tetapi masyarakatnya semakin terbuka terhadap produk berkualitas tinggi,” tambah Asgami Putri.

Latar belakang ini didukung fakta nasional dan lokal. Urbanisasi pesat menyebabkan hilangnya lahan produktif, sementara permintaan sayuran hidroponik terus naik karena dianggap lebih segar dan bebas residu kimia. Tanpa pemahaman mendalam tentang preferensi konsumen, pengembangan hidroponik hanya akan berhenti di tahap produksi, bukan pemasaran yang berkelanjutan.

Alasan Memilih Metode SEM-PLS

Untuk menjawab rumusan masalah secara mendalam, Asgami Putri menggunakan metode Structural Equation Modeling dengan Partial Least Squares (SEM-PLS). “Penelitian ini melibatkan banyak variabel laten yang kompleks, seperti perilaku konsumen, preferensi, kepuasan, faktor sosial, karakteristik demografi, hingga keputusan pembelian. SEM-PLS sangat tepat karena mampu mengukur hubungan langsung maupun tidak langsung antar variabel dengan sampel yang tidak terlalu besar,” jelasnya.

Metode ini dipilih karena fleksibel, robust terhadap data non-normal, dan cocok untuk penelitian perilaku konsumen yang bersifat prediksi. Proses penelitian dilakukan di pasar modern Pekanbaru dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang pernah membeli produk hidroponik. Analisis mencakup tiga model hipotesis, evaluasi outer model (validitas dan reliabilitas), serta inner model (R², f², Q², dan path coefficient).AdvertisementTemukan lebih banyakDemografiSurat kabarBerita otomotif terkini

Proses Penelitian dan Hasil yang Diperoleh

Penelitian berlangsung sepanjang tahun 2025. Responden beragam: mayoritas perempuan, usia produktif, berpendidikan tinggi, berpenghasilan menengah ke atas, dan berasal dari berbagai etnis. Setelah pengumpulan data, dilakukan analisis menggunakan software SmartPLS.

Hasil utama yang mengejutkan:

Preferensi konsumen sangat kuat dijelaskan oleh model (R² = 0,980). Faktor harga, kandungan gizi, kualitas produk, keberagaman, lokasi, pelayanan, dan sarana fisik berpengaruh positif signifikan. Konsumen lebih memilih hidroponik karena dianggap lebih sehat dan higienis.

Kepuasan konsumen (R² = 0,946) dipengaruhi karakteristik demografi (usia, pekerjaan, pendapatan) serta faktor individu. Kepuasan ini menjadi mediator kuat menuju keputusan pembelian (R² = 0,963).
Faktor sosial (pengaruh keluarga, teman, media sosial) sangat dominan memengaruhi preferensi dan kepuasan. Kepuasan konsumen berperan sebagai mediator penuh antara faktor sosial dan keputusan pembelian.

Meskipun harga hidroponik relatif lebih mahal, konsumen urban Pekanbaru ternyata rela membayar demi nilai tambah kesehatan dan kualitas. “Preferensi saja belum cukup; konsumen baru membeli setelah merasa puas secara nyata,” simpul Asgami Putri.

Kesimpulan dan Harapan ke Depan

Disertasi ini menyimpulkan bahwa preferensi konsumen terhadap produk hidroponik di Pekanbaru sudah sangat positif. Namun, keputusan pembelian akhir sangat bergantung pada kepuasan aktual yang dibentuk oleh faktor sosial dan karakteristik individu. “Hidroponik bukan hanya solusi teknis atas keterbatasan lahan, melainkan peluang ekonomi dan sosial yang sangat besar jika strategi pemasarannya tepat,” tegas peneliti.

Untuk masa depan, Asgami Putri berharap pelaku usaha hidroponik melakukan segmentasi harga yang lebih baik, menyesuaikan rasa dan kemasan dengan budaya lokal multietnis, serta memperkuat promosi melalui media sosial dan edukasi kesehatan. “Produsen harus fokus pada kualitas premium untuk segmen menengah atas, sekaligus menciptakan varian terjangkau bagi masyarakat luas.”

Secara akademik, ia berharap penelitian lanjutan dapat menambahkan variabel seperti brand image, loyalitas, dan keberlanjutan lingkungan, serta menggunakan sampel yang lebih luas secara nasional. “Saya berharap pemerintah Kota Pekanbaru dan para pemangku kepentingan pertanian semakin mendukung program urban farming melalui pelatihan, subsidi benih dan nutrisi, serta pasar khusus hidroponik. Dengan demikian, ketahanan pangan perkotaan bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.”

Disertasi Asgami Putri ini menjadi tonggak penting di era kota-kota yang semakin padat. Hidroponik bukan sekadar alternatif, melainkan masa depan pangan sehat Indonesia yang hijau, mandiri, dan inklusif.

***

*) Oleh: Asgami Putri, Mahasiswa Doktor Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.