Doktor Sosiologi UMM Titis Sosro Triraharjo Gagaskan Model ‘Social Investment Action’, Menjelaskan
Keputusan Investasi Pasar Modal Sebagai Tindakan Sosial-Ekonomi Kompleks.

MALANG,  Peningkatan jumlah investor individu di pasar modal Indonesia pasca-transformasi
digital ternyata tidak selalu diikuti oleh kualitas keputusan investasi yang memadai. Banyak investor pemula terjebak
pada spekulasi jangka pendek dan perilaku emosional. Fenomena ini memicu lahirnya riset mendalam berbasis Sosiologi
Ekonomi dan Perilaku Keuangan (Behavioral Finance) yang dilakukan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM).

 

Dalam Ujian Disertasi Program Doktor Ilmu Sosiologi UMM, Titis Sosro Triraharjo secara komprehensif memaparkan
temuan empiris yang melibatkan 300 investor individu Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kepemilikan Single Investor
Identification (SID). Menggunakan metode kuantitatif Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS),
penelitian ini membongkar mitos lama bahwa keputusan berinvestasi hanya digerakkan oleh orientasi tujuan mengejar
keuntungan (return).

Tujuan Investasi Ternyata Tak Cukup: Manajemen Risiko & Sikap Keuangan yang
Dominan

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam riset ini adalah bahwa Tujuan Investasi (X1) tidak memiliki pengaruh
signifikan terhadap literasi keuangan maupun keputusan investasi secara langsung (β = -0,017; p = 0,383). Artinya, sekadar
memiliki cita-cita finansial tinggi atau tergiur iming-iming cuan maksimal tidak serta-merta membuat seseorang mengambil
keputusan investasi yang bijak dan rasional.
Sebaliknya, keputusan investasi paling kuat ditentukan oleh tiga faktor utama: Manajemen Risiko (β = 0,296; p < 0,001),
Sikap Keuangan (β = 0,287; p < 0,001), dan Kondisi Psikologis (β = 0,267; p < 0,001). Investor yang piawai
mengidentifikasi dan mengendalikan risiko serta memiliki sikap keuangan yang bijak terbukti jauh lebih rasional dalam
memilih portofolio saham dibandingkan investor yang sekadar berniat kaya mendadak.

Literasi Keuangan Sebagai ‘Modal Kultural’ (Cultural Capital)

mediasi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa Sikap Keuangan merupakan determinan terkuat pembentuk Literasi Keuangan
(β = 0,422; p < 0,001), disusul oleh Karakter Investasi (β = 0,339; p < 0,001) dan Manajemen Risiko (β = 0,158; p = 0,003).

💡 Temuan Penting Peran Mediasi Literasi Keuangan:

Melalui keterkaitan tersebut, riset ini menghasilkan kontribusi teoretis baru berupa **Social Investment Action Model**
(Model Tindakan Sosial Investasi). Model ini membuktikan bahwa perilaku investor individu di pasar modal digital
dipengaruhi oleh konstruksi sosial, jaringan interaksi, serta norma dan nilai yang dianut dalam lingkungan hidupnya.
Rekomendasi Praktis

Rekomendasi Praktis Bagi BEI, OJK, dan Investor Muda
Berdasarkan temuan riset ini, peneliti memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi regulator dan pelaku pasar modal
Indonesia:
1. Bagi Bursa Efek Indonesia (BEI) & OJK: Program edukasi dan literasi pasar modal jangan lagi hanya mengejar kuantitas
penambahan jumlah investor atau sekadar sosialisasi cara membeli saham. Edukasi harus berfokus mendalam pada pelatihan
manajemen risiko, pengendalian bias psikologis (seperti Fear of Missing Out / FOMO), serta pembentukan sikap keuangan
jangka panjang.
2. Bagi Investor Individu: Investor disarankan untuk tidak terjebak pada tren spekulatif atau sekadar mengikuti pengaruh
figur publik (*influencer* saham). Penting untuk membangun literasi secara independen melalui riset, memahami profil risiko
pribadi, serta menerapkan diversifikasi portofolio secara disiplin.

Dengan keterbukaan akses digital saat ini, penguatan literasi keuangan dan manajemen risiko menjadi benteng utama agar
inklusi pasar modal di Indonesia berdampak positif pada kesejahteraan finansial masyarakat secara berkelanjutan.

 

Penulis
Titis Sosro Tri Raharjo

Mahasiswa Program Doktor Sosiologi
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

 

© 2026 Portal Berita Akademik & Sosiologi Ekonomi. Seluruh Hak Cipta Dilindungi.
Disertasi Program Doktor Sosiologi, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.