Inovasi Pembelajaran Translation Berbasis Web Tingkatkan Kemampuan dan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Inovasi dalam dunia pendidikan kembali hadir melalui penelitian disertasi Refika Andriani, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. MALANG – Inovasi dalam dunia pendidikan kembali hadir melalui penelitian disertasi Refika Andriani, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia mengembangkan model pembelajaran berbasis web yang tidak hanya meningkatkan kemampuan menerjemahkan mahasiswa, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri mereka dalam proses belajar. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di perguruan tinggi di Pekanbaru sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan pembelajaran di era digital. Perkembangan teknologi pada era revolusi industri 4.0 telah mendorong perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Namun, pada praktiknya, pembelajaran translation di perguruan tinggi masih banyak yang bersifat konvensional dan berpusat pada dosen. Penggunaan teknologi, khususnya alat bantu terjemahan digital, belum terintegrasi secara optimal. Selain itu, faktor psikologis mahasiswa seperti rendahnya self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri juga menjadi hambatan dalam menghasilkan terjemahan yang berkualitas. Melihat kondisi tersebut, Refika Andriani mengembangkan sebuah model pembelajaran inovatif melalui disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Web-Based Independent Learning Berbantuan CAT Tools Terintegrasi Self-Efficacy untuk Mata Kuliah Translation.” Model ini menggabungkan tiga komponen utama, yaitu pembelajaran mandiri berbasis web (web-based independent learning), penggunaan Computer-Assisted Translation (CAT) tools, serta penguatan self-efficacy mahasiswa dalam satu sistem pembelajaran yang terintegrasi. Fokus utama penelitian ini adalah menciptakan model pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar mandiri berbasis teknologi, sekaligus meningkatkan kualitas hasil terjemahan mahasiswa. Model ini dirancang agar mahasiswa dapat mengakses berbagai sumber belajar secara fleksibel melalui internet, menggunakan CAT tools untuk membantu proses penerjemahan, serta mengembangkan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan saat melakukan editing hasil terjemahan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pembelajaran yang tidak hanya valid secara teoritis, tetapi juga praktis dan efektif dalam implementasinya. Secara khusus, penelitian ini menargetkan peningkatan kemampuan kognitif mahasiswa dalam menerjemahkan serta peningkatan aspek afektif berupa self-efficacy. Selain itu, model ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi dosen dalam mengelola pembelajaran translation berbasis teknologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan pendekatan model ADDIE yang meliputi lima tahap, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Pada tahap analisis kebutuhan, penelitian melibatkan 152 mahasiswa dari tiga program studi di dua perguruan tinggi. Selanjutnya, model yang dikembangkan divalidasi oleh enam ahli untuk memastikan kualitasnya. Uji coba terbatas dilakukan untuk menilai tingkat keberterapan dan praktikalitas model, sementara uji efektivitas menggunakan desain eksperimen semu dengan pendekatan one-group pre-test dan post-test yang dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang tinggi dengan kategori valid hingga sangat valid (≥85%). Dari sisi praktikalitas, model ini memperoleh skor rata-rata sebesar 81,6% yang menunjukkan bahwa model mudah digunakan dalam pembelajaran. Sementara itu, tingkat keberterapan mencapai 82,3% yang menunjukkan bahwa model dapat diimplementasikan dengan baik dalam konteks nyata pembelajaran di kelas. Yang paling signifikan, model ini terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Nilai rata-rata kemampuan terjemahan mahasiswa meningkat dari 66,75 pada pre-test menjadi 82,94 pada post-test. Selain itu, skor self-efficacy mahasiswa juga mengalami peningkatan dari 3,12 menjadi 3,50. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa peningkatan tersebut signifikan secara statistik (p < 0,05), yang menegaskan bahwa model ini mampu memberikan dampak nyata terhadap capaian belajar mahasiswa. Kebaruan utama dari penelitian ini terletak pada integrasi tiga elemen penting dalam satu model pembelajaran yang utuh. Selama ini, penelitian terkait pembelajaran berbasis web, penggunaan CAT tools, dan self-efficacy cenderung dilakukan secara terpisah. Model yang dikembangkan oleh Refika Andriani berhasil menggabungkan ketiganya secara konseptual dan operasional, sehingga memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pembelajaran translation. Dari sisi kontribusi, penelitian ini memberikan sumbangan penting bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam bidang pembelajaran bahasa dan terjemahan berbasis teknologi. Secara praktis, model ini dapat digunakan sebagai acuan bagi dosen dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, serta membantu mahasiswa untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Selain itu, model ini juga berpotensi menjadi referensi bagi institusi pendidikan dalam mengembangkan kebijakan pembelajaran berbasis teknologi di era digital. Sebagai penutup, peneliti berharap model pembelajaran yang dikembangkannya dapat diimplementasikan secara luas di berbagai perguruan tinggi, khususnya pada program studi yang berkaitan dengan bahasa dan terjemahan. Ke depan, hasil penelitian ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan dikembangkan lebih lanjut agar dapat berkontribusi secara lebih luas dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. *** *) Oleh: Refika Andriani, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.
Puzzle Digital Berbasis Budaya Banggai: Cara Baru Belajar Bahasa Inggris di SD

Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar selama ini masih identik dengan hafalan dan metode konvensional. Padahal, di era digital, pendekatan pembelajaran dituntut lebih interaktif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan siswa. MALANG – Pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal rendahnya penguasaan kosakata siswa. Metode pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan, minimnya penggunaan media digital, serta kurangnya integrasi budaya lokal membuat siswa kesulitan memahami dan menggunakan kosakata secara bermakna. Menjawab tantangan tersebut, sebuah disertasi karya Yuliana Mangendre dari Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan inovasi media pembelajaran berupa digital puzzle game berbasis budaya lokal Banggai. Media ini dirancang untuk menjadikan pembelajaran bahasa Inggris lebih menarik, kontekstual, dan efektif bagi siswa sekolah dasar. Penelitian ini berangkat dari realitas di lapangan, khususnya di beberapa sekolah dasar di Kabupaten Banggai, di mana pembelajaran bahasa Inggris masih didominasi penggunaan papan tulis, buku teks, dan metode ceramah. Akibatnya, siswa cenderung cepat bosan dan mengalami kesulitan dalam mengingat kosakata baru. Melalui pendekatan inovatif, disertasi ini mengembangkan media pembelajaran yang mengintegrasikan unsur budaya lokal Banggai ke dalam permainan digital berbasis puzzle. Konten yang diangkat meliputi makanan khas, tarian daerah, fauna endemik, hingga objek wisata lokal. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga mengenal dan menghargai budaya daerahnya sendiri. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas III dan IV di tiga sekolah dasar, yaitu SDN Pembina Luwuk, SDN 4 Luwuk, dan SDIT Madani Luwuk. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, serta tes kemampuan kosakata sebelum dan sesudah penggunaan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital puzzle game yang dikembangkan terbukti valid, layak, dan efektif digunakan dalam pembelajaran. Hal ini dibuktikan melalui peningkatan signifikan kemampuan kosakata siswa. Nilai rata-rata pemahaman kosakata meningkat dari 57,83 menjadi 83,00, sementara kemampuan penggunaan kosakata meningkat dari 61,27 menjadi 85,40. “Media ini tidak hanya membuat siswa lebih aktif dan antusias, tetapi juga membantu mereka memahami kosakata dalam konteks yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ungkap peneliti. Salah satu keunggulan utama dari penelitian ini adalah kebaruan dalam menggabungkan konsep game-based learning dengan budaya lokal. Jika selama ini media pembelajaran digital cenderung bersifat umum dan tidak kontekstual, penelitian ini justru menekankan pentingnya keterkaitan antara materi pembelajaran dengan lingkungan budaya siswa. Digital puzzle game yang dikembangkan menghadirkan berbagai aktivitas seperti mencocokkan kata dengan gambar, menyusun kata, hingga permainan teka-teki silang sederhana. Setiap aktivitas dirancang untuk melatih kemampuan memahami dan menggunakan kosakata secara bertahap, sekaligus melibatkan aspek visual dan interaktif yang menarik bagi anak-anak. Lebih dari sekadar media pembelajaran, inovasi ini juga memiliki dampak yang lebih luas. Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan teori pembelajaran berbasis permainan (game-based learning) yang dipadukan dengan pendekatan budaya lokal. Sementara secara praktis, media ini dapat menjadi solusi bagi guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan tidak monoton. Selain itu, penggunaan media digital ini juga sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang mendorong integrasi teknologi dalam pembelajaran, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Penelitian ini juga membuka peluang bagi pengembangan media pembelajaran serupa di berbagai daerah lain di Indonesia dengan mengangkat kekayaan budaya lokal masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan identitas budaya siswa. Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan secara lebih luas di sekolah-sekolah dasar, serta menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan pendidikan berbasis teknologi dan budaya. “Kami berharap media ini dapat menjadi alternatif inovatif dalam pembelajaran bahasa Inggris, sekaligus memperkuat kecintaan siswa terhadap budaya lokal di tengah arus globalisasi,” ujar peneliti. Sebuah inovasi pembelajaran yang tidak hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga menjembatani antara teknologi, pendidikan, dan kearifan lokal. *** *) Oleh: Yuliana Mangendre, Mahasiswa Doktor Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Di SMP Negeri 3 Batam

1. Latar Belakang Mengapa Mengambil Tema Disertasi: MALANG – Dinamika Pendidikan terkait dengan kualitas pendidikan, digitalisasi pembelajaran, profesionalisme guru, sikap kepemimpinan dalam menetapkan kebijakan, efisien, kurikulum, menuntut kepemimpinan sekolah yang adaptif. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memiliki peran strategis dalam menggerakkan perubahan dan memberdayakan seluruh potensi sekolah. Salah satu model kepemimpinan yang relevan dalam perubahan tersebut adalah kepemimpinan transformasional. Model ini menekankan empat dimensi utama yaitu idealized influence, tercermin dalam keteladanan disiplin dan integritas kepala sekolah; inspirational motivation dalam kemampuan menyampaikan visi sekolah secara inspiratif; intellectual stimulation dalam penciptaan iklim inovatif; dan individualized consideration dalam pemberian dukungan personal kepada guru dan tenaga kependidikan. SMP Negeri 3 Batam merupakan salah satu sekolah negeri favorit yang mengalami proses transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam aspek digitalisasi pembelajaran, penguatan budaya disiplin, peningkatan prestasi akademik dan nonakademik, pengembangan sekolah ramah anak, serta program Adiwiyata dan literasi digital. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan akademik mendasar: bagaimana praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah di SMP Negeri 3 Batam dan bagaimana kepemimpinan transformasional ini menstransformasi budaya sekolah sehingga peningkatan kinerja guru dan digitalisasi pembelajaran (mutu Pendidikan), dinamika dan tantangan kepemimpinan transformasional di SMP Negeri 3 sebagai sekolah favorit di Kota Batam? Apakah transformasi yang terjadi merupakan hasil implementasi sistematis dari keempat dimensi kepemimpinan transformasional? Bagaimana prosesnya berlangsung. Selain itu, berdasarkan kajian penelitian terdahulu, sebagian besar studi tentang kepemimpinan transformasional masih didominasi oleh pendekatan kuantitatif yang berfokus pada hubungan antar variabel. Sementara itu, kajian yang mendalam mengenai bagaimana praktik kepemimpinan transformasional bekerja dalam konteks nyata sekolah, khususnya dalam mentransformasi budaya organisasi, masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menggali secara mendalam praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam konteks spesifik SMP Negeri 3 Batam. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian kepemimpinan pendidikan, tetapi juga memberikan kontribusi praktis berupa model kepemimpinan transformasional kontekstual yang relevan bagi pengelolaan sekolah, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan pendidikan di era modern. 2. Alasan Pengambilan Metode Penelitian: Penelitian disertasi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, yang dipilih secara sadar berdasarkan karakteristik masalah penelitian dan tujuan yang ingin dicapai. Pertama, penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam (in-depth understanding) praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah, Kepemimpinan transformasional merupakan fenomena yang kompleks, kontekstual, dan sarat makna, sehingga tidak dapat direduksi hanya dalam angka atau instrumen kuantitatif. Oleh karena itu, pendekatan kualitatif dipandang paling tepat karena memungkinkan peneliti menggali makna, persepsi, dan pengalaman subjek penelitian secara holistik. Kedua, fokus penelitian ini adalah pada proses, bukan hanya hasil. Penelitian ini ingin menjawab bagaimana kepala sekolah menjalankan empat dimensi kepemimpinan transformasional (idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration) serta bagaimana proses tersebut mentransformasi budaya sekolah. Untuk memahami proses tersebut secara utuh, diperlukan pendekatan yang mampu menangkap dinamika interaksi sosial, praktik kepemimpinan sehari-hari, serta perubahan budaya organisasi secara kontekstual. Ketiga, desain studi kasus dipilih karena penelitian ini berfokus pada satu kasus spesifik, yaitu SMP Negeri 3 Batam. Sekolah ini memiliki karakteristik unik sebagai sekolah negeri favorit dengan dinamika perubahan organisasi yang kuat, sehingga menjadi kasus yang “kaya informasi” (information-rich case). Studi kasus memungkinkan peneliti melakukan eksplorasi mendalam terhadap konteks, aktor, dan fenomena yang terjadi secara nyata di lapangan. Keempat, metode ini memungkinkan penggunaan teknik pengumpulan data yang beragam seperti wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sehingga menghasilkan data yang komprehensif. Validitas data diperkuat melalui pendekatan trustworthiness (credibility, transferability, dependability, dan confirmability), sehingga hasil penelitian tetap memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Kelima, pemilihan metode ini juga didasarkan pada adanya research gap, di mana sebagian besar penelitian sebelumnya tentang kepemimpinan transformasional masih didominasi oleh pendekatan kuantitatif. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk memberikan perspektif baru melalui pendekatan kualitatif yang lebih menekankan pada pemahaman proses dan konteks. Dengan demikian, pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus merupakan pilihan metodologis yang paling relevan dan tepat untuk mengkaji secara mendalam praktik kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mentransformasi budaya sekolah di SMP Negeri 3 Batam. 3.Proses Dan Hasil Penelitian Proses Penelitian a. Tahap pengumpulan data Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama:wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan untuk menggali pengalaman dan persepsi mereka terhadap praktik kepemimpinan. Observasi terhadap aktivitas sekolah, Dokumentasi berupa program sekolah, kebijakan, serta bukti kegiatan yang mendukung transformasi. b. Tahap analisis data Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana, melalui: kondensasi data,penyajian,dan penarikan kesimpulan /verifikasi . c. Keabsahan data (Trustworthiness): Credibility (triangulasi sumber),Transferability (deskripsi kontekstual yang kuat), Dependability (audit proses penelitian),Confirmability (objektivitas data) Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah di SMP Negeri 3 Batam berperan sebagai penggerak utama transformasi budaya sekolah. a. Implementasi 4 Dimensi Kepemimpinan Transformasional Idealized Influence (Keteladanan & Integritas) : Kepala sekolah menunjukkan konsistensi antara nilai, ucapan, dan tindakan, sehingga membangun kepercayaan dan legitimasi moral di lingkungan sekolah. Inspirational Motivation (Visi & Motivasi Kolektif): Kepala sekolah mampu merumuskan visi yang jelas dan membangun optimisme kolektif, sehingga guru memiliki arah dan semangat dalam bekerja.Intellectual Stimulation (Inovasi): Kepala sekolah mendorong guru keluar dari zona nyaman melalui inovasi pembelajaran, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan model pembelajaran aktif. Individualized Consideration (Pembinaan & Pemberdayaan):Kepala sekolah memberikan perhatian individual melalui pembinaan, mentoring, dan pemberdayaan guru sesuai kebutuhan masing-masing. b. Transformasi Budaya Sekolah (Teori Schein) Kepemimpinan transformasional terbukti mentransformasi budaya sekolah melalui tiga lapisan: Artefak:Terlihat pada komunitas belajar guru, kolaborasi profesional, penggunaan teknologi, dan inovasi pembelajaran. Nilai yang dianut (Espoused Values), berkembang nilai integritas, disiplin, tanggung jawab profesional, dan kolaborasi.asumsi dasar (Basic Assumptions). Terbentuk keyakinan bahwa: Pembelajaran adalah tanggung jawab kolektif Inovasi merupakan bagian dari profesionalisme guru. Proses transformasi ini meningkatkan kinerja guru dan digitalisasi di sekolah(mutu )di SMP Negeri 3 Batam. Penelitian ini menghasilak model konseptual kepemimpinan transformasional konstektual berbasi temuan empiris di SMP Negeri 3 Batam. 4. Kesimpulan dan Harapan: Kesimpulan penelitian: pertama, idealized influence tercermin melalui keteladanan kepala sekolah SMP Negeri 3 Batam yang konsisten (disiplin, integritas,tanggung jawab), sehingga membangun kepercayaan dan menanamkan nilai-nilai budaya organisasi sekolah. Kedua, inspirational motivation diwujudkan melalui visi sekolah yang jelas dan inspiratif, yang dikomunikasikan secara konsisten sehingga membangun semangat kolektif dan komitmen profesional guru. Ketiga, intellectual stimulation tampak dalam dorongan terhadap inovasi pembelajaran,
Riset Disertasi UMM Ungkap Model Pengelolaan Kaderisasi 24 Jam di Muhammadiyah Boarding School

Studi kualitatif multisitus 2023–2025 memotret bagaimana sistem pengelolaan kelembagaan pendidikan formal berbasis asrama membentuk kultur tahfidz, kepemimpinan, dan manajemen mutu di lingkungan MBS. MALANG – Studi kualitatif multisitus 2023–2025 memotret bagaimana sistem pengelolaan kelembagaan pendidikan formal berbasis asrama membentuk kultur tahfidz, kepemimpinan, dan manajemen mutu di lingkungan MBS. Penelitian disertasi sering kali lahir dari perpaduan kegelisahan akademik dan realitas lapangan. Hal itu pula yang mendorong Dr. Ngumar, Doktor pada Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk meneliti model pengkaderan Muhammadiyah melalui sistem pengelolaan kelembagaan pendidikan formal berbasis boarding 24 jam di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kabupaten Trenggalek. Data penelitian dikumpulkan selama 2023 hingga 2025 melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen kelembagaan, yang kemudian dianalisis secara interpretatif untuk menangkap pola, pengalaman, dan konstruksi kultural kaderisasi di lingkungan pesantren formal. Membaca Kaderisasi sebagai Ekosistem Lembaga Tema ini dipilih bukan sekadar untuk mengisi ruang akademik, melainkan untuk menjawab kekosongan kajian mengenai kaderisasi Muhammadiyah di lembaga pendidikan formal berbasis asrama, khususnya pada level sekolah menengah pertama. Menurut Ngumar, sebagian besar riset tentang perkaderan di sekolah atau pesantren masih menekankan dimensi programatik, kurikulum, atau aktivitas seremonial, sementara mekanisme pengelolaan kelembagaan yang berlangsung 24 jam—yang membentuk kebiasaan, relasi pembinaan, ritme murāja‘ah, dan kultur manajerial—belum banyak dipotret secara mendalam. Ia melihat bahwa MBS sebagai lembaga pendidikan formal berasrama bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang interaksi intensif yang menghadirkan praktik kaderisasi secara organik, hidup, dan melekat pada sistem pengelolaan institusi itu sendiri. Bagi Muhammadiyah, pendidikan merupakan simpul regenerasi gerakan. Namun, kata Ngumar, tantangan terbesar bukan hanya menanamkan ideologi, tetapi juga membangun sistem kelembagaan yang mampu mengelola pembiasaan nilai, karakter, kepemimpinan, dan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Ia menilai, manajemen kelembagaan pendidikan formal Islam harus dibaca sebagai sebuah ekosistem yang mencakup: kepemimpinan musyrif, tata kelola program, pembiasaan murāja‘ah, mentoring harian, kedisiplinan waktu, serta pendampingan sosial-spiritual santri. Dari sinilah riset ini mendapatkan relevansinya—bukan menilai efektivitas, melainkan memahami bagaimana sistem itu bekerja, dialami, dan dimaknai oleh para aktor kelembagaan di dalamnya. Kualitatif untuk Menangkap Makna dan Konstruksi Untuk menjawab kedalaman fenomena tersebut, Ngumar memilih paradigma kualitatif dengan desain studi kasus, karena realitas perkaderan di lingkungan boarding bersifat majemuk, kompleks, dan sarat makna, sehingga tidak tepat direduksi menjadi pengukuran statistik. Ia menegaskan bahwa kecepatan dan kualitas hafalan Al-Qur’an, pola mentoring, serta kultur pembinaan di MBS tidak hanya menghasilkan output, tetapi menghadirkan pengalaman subjektif dan konstruksi sistem kelembagaan yang perlu dibaca secara emik-etik, bukan secara skor angka. Desain studi kasus digunakan karena penelitian ini ingin melihat praktik dan kultur manajerial di MBS, kemudian menarik sintesis konseptual yang relevan bagi pengembangan ilmu pengelolaan kelembagaan pendidikan formal Islam. Untuk menjamin kredibilitas data, riset ini menggunakan triangulasi sumber (santri, musyrif, pengasuh, alumni), triangulasi teknik (wawancara, observasi, dokumentasi), dan triangulasi waktu (cek dinamika longitudinal 2023–2025). Mengurai Sistem Kaderisasi Harian di MBS Penelitian lapangan dilakukan melalui observasi partisipatif, di mana Ngumar mengikuti langsung ritme kehidupan santri untuk membaca bagaimana manajemen waktu hafalan diatur, bagaimana musyrif melakukan pendampingan, bagaimana murāja‘ah dibiasakan, serta bagaimana tata kelola program kepesantrenan formal dilembagakan. Ia juga melakukan wawancara mendalam semi-terstruktur kepada pengasuh, musyrif, santri, dan alumni, untuk menggali narasi pengalaman, persepsi perubahan kecepatan hafalan, strategi pengulangan, serta konstruksi pembinaan manajerial pendidikan formal di pondok. Pada aspek dokumentasi, peneliti menelaah arsip kurikulum, panduan kaderisasi, jurnal musyrif, laporan mentoring, dan catatan kegiatan organisasi otonom santri (IPM/ISMU). Dokumen dianalisis bukan hanya sebagai arsip administratif, tetapi sebagai refleksi struktur sosial, relasi pembinaan, dan arah kebijakan manajerial pendidikan formal Islam di lingkungan boarding. Kaderisasi 24 Jam yang Terstruktur dan Bermakna Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkaderan Muhammadiyah di MBS Trenggalek berjalan secara sistematis, terstruktur, dan berkesinambungan, dengan pola pembinaan yang tidak hanya bersifat ideologis, tetapi juga mengembangkan kapasitas kepemimpinan, akademik, dan keterampilan sosial santri. Kaderisasi dilembagakan melalui integrasi pendekatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, sehingga melahirkan kader muda yang adaptif terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan identitas keislaman dan kemuhammadiyahan. Dari sisi manajerial, sistem boarding 24 jam menghadirkan ritme pembinaan yang membentuk kebiasaan murāja‘ah, disiplin waktu, loyalitas nilai, dan pola mentoring intensif yang dikendalikan oleh musyrif sebagai aktor sentral kepemimpinan pendidikan formal berasrama. Santri tidak hanya menghafal Al-Qur’an lebih cepat dan berkualitas, tetapi juga terbentuk dalam kultur pengelolaan lembaga formal, manajemen mutu, dan pembiasaan manajerial yang melekat pada kehidupan sehari-hari. Perkaderan sebagai Sistem Pengelolaan Lembaga Pendidikan Formal Islam Ngumar merumuskan bahwa kaderisasi Muhammadiyah di MBS bukan hanya program pembinaan, tetapi bangunan sistem pengelolaan kelembagaan pendidikan formal Islam berbasis asrama, yang bekerja melalui keteladanan musyrif, mentoring, penguatan ideologi, perencanaan strategis, manajemen mutu, dan pembiasaan kultur belajar 24 jam. Model ini dinilai memiliki relevansi luas, karena MBS berfungsi sebagai simpul regenerasi gerakan, baik pada level lokal, nasional, maupun ruang publik pendidikan formal Islam. Harapan dan implikasi ke depan Ngumar berharap hasil riset ini dapat menjadi rujukan strategis bagi pengelolaan kelembagaan pendidikan formal Islam di sekolah dan boarding school, khususnya dalam penguatan kepemimpinan pendidikan, tata kelola lembaga formal, sistem mentoring, manajemen mutu, dan pembiasaan kultur tahfidz yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa masa depan lembaga pendidikan Islam formal berasrama harus diarahkan pada penguatan sistem manajemen mutu dan kepemimpinan pendidikan berbasis nilai, bukan hanya pada program seremonial atau administratif. Harapan akhirnya sederhana namun kuat: riset ini diharapkan membuka ruang replikasi model kelembagaan kaderisasi formal yang lebih kokoh, humanis, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong kolaborasi antara kampus, sekolah, dan pesantren formal untuk mencetak pemimpin pendidikan Islam berkemajuan di era perubahan. *** *) Oleh: Ngumar, Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam.
Dari Kitab ke Laptop: Inovasi Kurikulum Islamic Boarding School Berbasis Teknologi

Lembaga pendidikan madrasah berasrama atau Islamic Boarding School (IBS) memiliki peran vital dalam membentuk insan intelek dan berakhlak mulia. Namun, di tengah gempuran era yang serba digital MALANG – Lembaga pendidikan madrasah berasrama atau Islamic Boarding School (IBS) memiliki peran vital dalam membentuk insan intelek dan berakhlak mulia. Namun, di tengah gempuran era yang serba digital, kurikulum pendidikan di lembaga-lembaga ini dihadapkan pada berbagai tantangan. Minimnya sumber daya, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan infrastruktur teknologi seringkali menghambat implementasi kurikulum yang responsif terhadap perkembangan zaman. Sebuah disertasi terbaru mengupas tuntas kebutuhan mendesak akan inovasi kurikulum di IBS, khususnya melalui integrasi teknologi. Penelitian ini mengambil studi kasus unik dari IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan, yang telah berhasil mengembangkan model kurikulum berbasis teknologi. Disertasi ini menyoroti bagaimana pendidikan di madrasah berasrama, yang secara tradisional menekankan pada pendalaman ilmu agama dan pembinaan karakter, kini perlu beradaptasi untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi persaingan global. Contoh-contoh keberhasilan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di pesantren, seperti penggunaan learning management system dan media digital, menjadi bukti bahwa integrasi teknologi dapat membuat proses belajar lebih dinamis dan efisien. Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan menjadi sorotan utama karena kurikulumnya yang inovatif, mencakup kurikulum boarding, kurikulum multimedia, kurikulum merdeka, serta layanan individual berkebutuhan khusus yang terintegrasi. Dengan dukungan rekomendasi dari Kementerian Agama dan berafiliasi dengan MTs Negeri 3 Pamekasan, PKMKK berhasil menciptakan lingkungan pendidikan berbasis teknologi yang telah menghasilkan beragam prestasi santri, termasuk pengembangan website dan pemanfaatan TikTok sebagai media pembelajaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang komprehensif bagi madrasah berasrama lain untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum berbasis teknologi, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional pesantren. Tujuannya adalah untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas intelektual dan berakhlak mulia, tetapi juga kompeten secara digital dan siap bersaing di masa depan. Sebuah penelitian yang berani dan mendalam, yang ditulis oleh Arbain, tengah menggali kekayaan model kurikulum IBS berbasis teknologi di Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan. Penelitian ini menawarkan wawasan krusial tentang bagaimana institusi pendidikan Islam mengintegrasikan teknologi dan tujuh pilar pendidikan dalam merancang, mengembangkan, dan melaksanakan kurikulumnya. Agar penelitian ini semakin terarah, maka Arbain memilih paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Tipe penelitian studi kasus yang digunakan adalah single case embedded atau kasus tunggal tersemat dengan dua unit kajian utama yaitu model kurikulum IBS berbasis teknologi dan pengorganisasian kurikulum IBS berbasis teknologi. Model Kurikulum Al-Muwahhid Model Kurikulum Al-Muwahhid didesain secara unik dengan mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan teknologi secara holistik. Berlandaskan prinsip tauhid, kurikulum ini menyatukan seluruh cabang ilmu pengetahuan sebagai anugerah dan sumber dari Allah SWT, menciptakan kesatuan ilmu yang mendalam bagi para santri. Model Kurikulum Al-Muwahhid ini ditopang oleh tujuh pilar pendidikan yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan santri seutuhnya: One Day One Ayat (Memperdalam koneksi spiritual santri dengan Al-Qur’an setiap hari), One Hadith One Presentation (Mengembangkan kemampuan dakwah dan public speaking berbasis hadis), One Week Three Languages (Menguasai tiga bahasa sebagai bekal komunikasi global), One Week Three Theme (Pembelajaran tematik ilmu tajwid yang kaya wawasan), One Week Three Fashl (Pembelajaran materi kitab kuning dalam tiga bab berbeda setiap minggu), One Activity One Paragraph (Melatih keterampilan menulis dan berpikir kritis santri), One Student One Laptop (Memastikan setiap santri melek teknologi dan siap berkreasi). Kurikulum ini dibangun di atas empat fondasi kokoh yaitu filosofis, budaya masyarakat lokal, karakteristik santri, dan Sejarah. Tujuannya sangat jelas yaitu mencetak santri yang bertauhid dan beretika (aim), serta unggul, inovatif, berdaya saing, dan santun dalam konteks teknologi (goal). Setiap program pembelajaran dirancang dengan target spesifik berbasis teknologi, memastikan materi relevan dan disampaikan secara digital, sesuai dengan ruang lingkup kegiatan. Teknologi di Setiap Lini Pembelajaran PKMKK Pamekasan menegaskan komitmennya terhadap pendidikan berbasis teknologi. Semua kegiatan belajar mengajar memanfaatkan teknologi modern, mulai dari model pembelajaran Project-Based Learning berbasis teknologi, penyelesaian tugas-tugas, hingga evaluasi. Santri akrab dengan portofolio digital (e-portofolio) dan sistem i’lan yang terintegrasi teknologi, membekali mereka dengan keterampilan abad ke-21. Model Kurikulum Al-Muwahhid yang digagas oleh Arbain ini bukan sekadar kurikulum baru, melainkan sebuah visi pendidikan masa depan yang berani. Ia menawarkan pendekatan terpadu yang memadukan spiritualitas Islam dengan kemajuan sains dan teknologi, melahirkan generasi santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan teknologi, tetapi juga teguh dalam iman dan akhlak. PKMKK Pamekasan telah menunjukkan jalan bagi pesantren dan madrasah lain untuk menghadapi tantangan zaman dengan inovasi dan prinsip tauhid yang tak tergoyahkan. Menata Kurikulum dengan Ragam Prinsip Pengorganisasian kurikulum di PKMKK Pamekasan tidak dilakukan sembarangan. Dalam dimensi vertikal, setiap program kegiatan disusun berdasarkan prinsip berurutan, berkelanjutan, dan terintegrasi. Ini berarti, mulai dari kegiatan pagi hingga malam, setiap agenda dirancang agar saling terkait, berkesinambungan tanpa pengulangan yang tidak perlu, dan membentuk satu kesatuan pengalaman belajar yang utuh. “Setiap langkah santri adalah bagian dari sebuah perjalanan pendidikan yang terencana, tidak ada yang berdiri sendiri,” jelas Arbain. Sementara itu, dimensi horizontal memastikan pengorganisasian materi pelajaran berjalan selaras. Dengan prinsip ruang lingkup (scope) dan integrasi, mata pelajaran yang terangkum dalam tujuh pilar pendidikan PKMKK diatur sedemikian rupa agar cakupan materinya komprehensif dan terintegrasi dengan materi pelajaran lainnya. Hal ini menghasilkan model kurikulum terpadu yang masuk dalam klasifikasi activity curriculum, di mana pembelajaran terjadi melalui aktivitas dan pengalaman nyata yang saling terkait. Pemerintah Diharapkan Ambil Peran Sentral Penelitian ini tidak hanya memaparkan keunggulan PKMKK Pamekasan, tetapi juga membawa harapan besar. Hasil temuan ini diharapkan menjadi acuan berharga bagi pengembangan dan pengorganisasian kurikulum berbasis teknologi di masa depan. “Kami berharap lembaga pendidikan pesantren, sekolah, atau madrasah berasrama lainnya dapat mengambil inspirasi dari PKMKK Pamekasan untuk memperkuat tatanan struktur kurikulum mereka,” ungkap Arbain. Tujuannya adalah melahirkan insan unggul dan berdaya saing di era digital, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan. Lebih lanjut, secara khusus kepada Pemerintah untuk memberikan dukungan penuh. Dengan menerbitkan kebijakan yang mendukung pengembangan kurikulum IBS berbasis teknologi, Pemerintah dapat mempercepat lahirnya generasi emas dari lembaga-lembaga pendidikan keagamaan. Ini akan menjadi langkah strategis untuk memastikan pendidikan Islam tetap relevan, maju, dan berkualitas tinggi di tengah tantangan zaman. *** *) Oleh: Arbain Nurdin, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
Pembelajaran Adab Melalui Model Team Teaching di Madrasah Ibtidaiyah 6 Nglegok Ponorogo

MALANG – Pembelajaran adab berbasis team teaching terbukti efektif membentuk karakter peserta didik di MI Muhammadiyah 6 Nglegok, Ponorogo. Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Saiful Anwar, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2025, mengungkap bahwa kolaborasi dua guru dalam satu kelas mampu menanamkan nilai adab secara lebih sistematis, reflektif, dan berkelanjutan sejak pendidikan dasar. Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembinaan karakter peserta didik. Fenomena menurunnya sopan santun, rendahnya empati, hingga melemahnya disiplin menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil menanamkan nilai adab secara mendalam. Pendidikan dasar, khususnya madrasah ibtidaiyah, memiliki peran strategis sebagai fondasi pembentukan kepribadian. Namun, praktik pembelajaran adab selama ini cenderung bersifat normatif dan kurang menyentuh dimensi pembiasaan. Kondisi inilah yang mendorong pentingnya inovasi model pembelajaran yang mampu mengintegrasikan keteladanan, kolaborasi guru, dan pembentukan budaya sekolah beradab. Disertasi ini berjudul “Pembelajaran Adab melalui Model Team Teaching di Madrasah Ibtidaiyah 6 Nglegok Ponorogo.” Fokus penelitian diarahkan pada perencanaan, penerapan, dan evaluasi pembelajaran adab melalui kolaborasi dua guru dalam satu kelas, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana model team teaching diterapkan dalam pembelajaran adab, bagaimana proses kolaborasi guru berlangsung, serta bagaimana model tersebut berkontribusi terhadap pembentukan perilaku beradab siswa. Sasaran akhirnya adalah merumuskan model pembelajaran adab yang efektif, kontekstual, dan relevan dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, guru adab, penanggung jawab adab, serta siswa kelas VI MI Muhammadiyah 6 Nglegok. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara induktif dengan teknik penjodohan pola, pembuatan eksplanasi, dan analisis deret waktu untuk melihat perubahan perilaku siswa secara berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran adab melalui team teaching berjalan efektif karena didukung perencanaan kolaboratif, pembagian peran guru yang fleksibel, serta evaluasi reflektif berkelanjutan. Dua guru dalam satu kelas mampu mengintegrasikan dimensi kognitif dan afektif secara seimbang—satu guru berfokus pada penyampaian materi, sementara guru lain menguatkan pembiasaan dan keteladanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan bahwa team teaching tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga membentuk budaya sekolah beradab melalui praktik nyata seperti keteladanan guru, “bengkel adab”, dan evaluasi berbasis refleksi. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kesopanan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial siswa. Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian pendidikan karakter Islam dengan mengintegrasikan konsep pendidikan adab Imam Al-Ghazali ke dalam model team teaching modern. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual pembelajaran adab yang kolaboratif, reflektif, dan kontekstual. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi madrasah dan sekolah dasar dalam merancang program pendidikan karakter, mengembangkan profesionalisme guru, serta membangun budaya sekolah yang berorientasi pada adab dan akhlak mulia. Ke depan, model pembelajaran adab berbasis team teaching diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di madrasah lain sebagai strategi penguatan pendidikan karakter. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terakreditasi nasional sinta 2 dan juga dapat dijadikan bahan pengembangan kebijakan pendidikan berbasis nilai adab dan kolaborasi guru. *** *) Oleh: Saiful Anwar, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
Model Pembinaan Mental Narapidana di Lapas Baubau: Upaya Strategis Membangun Kembali Moral dan Karakter Warga Binaan

MALANG – Lembaga pemasyarakatan kini menghadapi tantangan besar dalam memastikan bahwa narapidana tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mengalami perubahan mental dan karakter yang signifikan sebelum kembali ke tengah masyarakat. Berbagai program pembinaan memang telah dijalankan di banyak lapas, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian program masih bersifat administratif dan belum mampu membentuk perilaku secara mendalam, baik pada warga binaan maupun petugas. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini memusatkan perhatian pada Lapas Kelas IIA Baubau sebagai lokus kajian. Lapas ini memiliki dinamika dan potensi pembinaan yang khas, sehingga menjadi ruang yang tepat untuk menelusuri bagaimana pembinaan mental dapat diintegrasikan secara efektif dan berkelanjutan. Fokus penelitian diarahkan untuk mengurai kesenjangan antara konsep pembinaan ideal yang diamanatkan regulasi dengan implementasi nyata yang terjadi sehari-hari di dalam lapas. Penelitian ini menghasilkan menghasilkan gambaran Model Pembinaan Mental yang Komprehensif yang terdiri dari pembinaan kepribadian dan kemandirian. Melalui pendekatan kualitatif mendalam, penelitian ini melahirkan sebuah Model Pembinaan Mental Narapidana yang dinilai mampu mengubah cara pandang, perilaku, dan kesadaran moral warga binaan khususnya pada warga binaan Lapas Kelas IIA Baubau. Temuan menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada aspek spiritual, rasa tanggung jawab, serta kepedulian sosial. Di sisi lain, model ini juga memberi dampak positif bagi petugas, terutama dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih humanis tanpa mengandalkan pola pendekatan yang bersifat represif. Penelitian disertasi yang dilakukan di Lapas Kelas IIA Baubau mengungkap model pembinaan mental yang dinilai mampu menjawab berbagai persoalan mendasar dalam proses pembinaan narapidana. Selama bertahun-tahun, sistem pemasyarakatan di Indonesia berusaha membangun pola pembinaan yang tidak hanya menekankan hukuman, tetapi juga mendidik, mengarahkan, dan mengubah perilaku warga binaan secara menyeluruh. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama kurangnya sarana prasarana pendudukung dalam upaya internalisasi nilai moral dan belum optimalnya keterlibatan semua pihak dalam proses pembinaan. Penelitian disertasi ini mengungkap model pembinaan mental yang dinilai mampu memperkuat proses rehabilitasi narapidana di Lapas Kelas IIA Baubau. Model ini dirancang melalui pendekatan bertahap yang melibatkan asesmen awal, pelaksanaan pembinaan yang sistematis, dan evaluasi berkelanjutan, sehingga menghasilkan perubahan perilaku yang lebih terukur dan berdampak nyata. Penelitian ini menemukan bahwa pembinaan mental di Lapas Baubau dilaksanakan melalui tiga tahapan besar: perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, lapas melakukan litmas (penelitian kemasyarakatan) awal kepada setiap tahanan baru. Proses ini mencakup identifikasi latar belakang keluarga, jenis kasus, watak kepribadian, minat, bakat, hingga kemampuan intelektual. Hasil litmas menjadi dasar penyusunan program pembinaan yang tepat sasaran, sekaligus menentukan kebutuhan sumber daya manusia—baik dari internal lapas maupun pihak eksternal—untuk mendukung pembinaan keagamaan dan mental. Tahap implementasi pembinaan terdiri dari tiga sub-proses penting: penyadaran, transformasi, dan peningkatan intelektual. Tahap penyadaran mencakup pembinaan kerohanian, konseling individual dan kelompok, penanaman nilai moral, pemutaran film edukatif, serta konseling reflektif terkait komitmen perbaikan diri. Tahap transformasi mengarahkan warga binaan untuk mulai menerapkan pola hidup disiplin, patuh aturan, bertanggung jawab, sekaligus menumbuhkan simpati dan kepedulian sosial. Pada fase ini warga binaan dilatih menjadi lebih mandiri. Tahap peningkatan intelektual disediakan melalui kelas inspiratif, diskusi isu-isu aktual, pelatihan literasi, konseling, serta pemberian kesempatan mengikuti pendidikan paket C bagi mereka yang putus sekolah. Selain itu, lapas juga membuka pelatihan wirausaha, koperasi, dan UMKM sebagai bekal pasca bebas. Pada tahap evaluasi, pihak lapas khususnya seksi Pembinaan melakukan pemantauan perilaku warga binaan melalui daftar kehadiran kegiatan pembinaan, mengusulkan warga binaan yang layak menerima remisi, serta melakukan pendampingan pasca bebas melalui kerja sama dengan Bapas Baubau. Evaluasi juga diperkuat dengan aplikasi “Sidak”, yang digunakan untuk menerima laporan masyarakat terkait narapidana yang sedang menjalani program Pembebasan Bersyarat (PB), Cuti Bersyarat (CB), maupun Cuti Menjelang Bebas (CMB). Berlandaskan Filosofi Kemanusiaan dan Reformasi Sistem Pemasyarakatan, Model pembinaan mental di Lapas Kelas IIA Baubau dibangun berdasarkan dua landasan filosofis. Pertama, amanat UU Pemasyarakatan No. 22 Tahun 2022 yang menegaskan bahwa fungsi pemasyarakatan bukan sekadar menjalankan hukuman, tetapi memberikan perlindungan, pelayanan, dan pembinaan berbasis prinsip keadilan dan kemanusiaan. Undang-undang tersebut menjadi bukti bahwa negara ingin mengubah stigma lapas dari tempat penghukuman menjadi pusat rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Kedua, model ini bersumber dari visi dan misi Lapas Kelas IIA Baubau yang menekankan profesionalisme, integritas, dan pelayanan humanis. Sebagai upaya mewujudkan visi tersebut, lapas aktif menyelenggarakan pelatihan keterampilan, seminar, penyuluhan hukum, kegiatan keagamaan, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memperkuat dimensi spiritual, emosional, dan intelektual warga binaan. Adapun dampak Pembinaan: Warga Binaan Lebih Tenang, Mandiri, dan Siap Kembali ke Masyarakat Penelitian ini juga menyoroti bahwa pembinaan mental memiliki manfaat langsung bagi warga binaan. Program keagamaan terbukti membuat mereka lebih tenang, optimis, dan termotivasi dalam merencanakan perubahan hidup. Sementara itu, pembinaan kemandirian—melalui pelatihan keterampilan dan wirausaha—membekali mereka dengan kemampuan praktis yang sangat berguna saat kembali ke masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, terstruktur, dan berorientasi pada perubahan perilaku, model pembinaan mental Lapas Kelas IIA Baubau dinilai mampu menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lain dalam menerapkan pembinaan yang sejalan dengan tujuan rehabilitasi nasional.Model Pembinaan Mental Narapidana ini diyakini mampu mengisi kekosongan antara norma hukum dan proses rehabilitasi yang ideal. Dengan hasil penelitian ini, diharapkan lembaga pemasyarakatan lain dapat mengadopsi pendekatan serupa untuk memperkuat pembinaan moral, memperbaiki iklim pemasyarakatan, serta mempersiapkan narapidana menjadi individu yang produktif dan berkontribusi positif setelah mereka kembali ke masyarakat. *** *) Oleh: Safaruddin Yahya, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.
Tingginya Kasus Perkawinan Usia Dini Menjadi Alarm Darurat Pendidikan Akhlak

MALANG – Permasalahan degradasi moral di kalangan remaja Indonesia, khususnya di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Data dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2023 mencatat bahwa Kabupaten Cirebon memiliki 488 perkara dispensasi perkawinan pada tahun 2022, menjadikannya salah satu wilayah dengan kasus perkawinan usia dini tertinggi di Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat sendiri menempati posisi ketiga nasional dengan total 5.852 perkara dispensasi perkawinan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Tingginya angka perkawinan usia dini erat kaitannya dengan maraknya pergaulan bebas, rendahnya tingkat pendidikan, dan lemahnya pemahaman nilai-nilai akhlak di kalangan remaja. Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010 bahkan menunjukkan data yang lebih mencengangkan, yakni 54% remaja di wilayah Jabodetabek telah melakukan hubungan seksual pranikah. Kondisi darurat moral ini mendorong seorang peneliti untuk mengambil langkah konkret melalui pengembangan inovasi pembelajaran. Penelitian berjudul “Pengembangan Elektronik Modul PAI Muatan Materi Akhlak Berbasis Blended Learning Kelas X SMKN 1 Kedawung Kabupaten Cirebon” ini hadir sebagai respons akademis terhadap krisis moral yang melanda generasi muda Indonesia. Latar Belakang: Kesenjangan antara Harapan dan Realitas Pembelajaran PAI Pendidikan Agama Islam (PAI) sejatinya memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Kurikulum Merdeka yang digulirkan pemerintah telah menempatkan pendidikan karakter dan moral sebagai fokus utama, dengan harapan dapat mempersiapkan generasi muda yang memiliki kematangan spiritual, kebijaksanaan, dan akhlak mulia. Namun, implementasi di lapangan menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara harapan dan kenyataan. Penelusuran literatur berbasis kajian lapangan mengungkap bahwa sekolah-sekolah menengah di Kota Cirebon belum memiliki media pembelajaran yang memadai. Permasalahan ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan biaya, kesulitan tenaga pendidik dalam mengembangkan media pembelajaran, hingga keterampilan yang terbatas dalam menggunakan teknologi. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang selama ini digunakan sebagai media belajar dinilai kurang berpengaruh terhadap minat belajar PAI. Bahkan, media pembelajaran PAI yang digunakan selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada masa pandemi COVID-19 pun belum optimal. Hasil analisis kebutuhan yang dilakukan peneliti terhadap 103 peserta didik kelas X di SMKN 1 Kedawung menunjukkan temuan yang menarik. Sebanyak 90,2% peserta didik masih mengikuti pembelajaran PAI secara tatap muka konvensional, hanya 5,9% yang pernah mengalami pembelajaran online, dan 3,9% yang mengalami pembelajaran kombinasi. Data ini mengindikasikan adanya kesenjangan signifikan antara kondisi pembelajaran saat ini dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang mengintegrasikan teknologi digital. Di sisi lain, peneliti menemukan potensi besar untuk implementasi pembelajaran digital. Sebanyak 92,2% peserta didik menyatakan bahwa modul elektronik akan sangat membantu atau cukup membantu dalam pembelajaran PAI. Lebih mengejutkan lagi, 92,1% peserta didik memilih smartphone sebagai perangkat utama untuk mengakses materi pembelajaran. Temuan ini mencerminkan karakteristik generasi digital native yang akrab dengan teknologi dan menghendaki fleksibilitas dalam belajar. Preferensi konten pembelajaran juga menunjukkan orientasi yang jelas. Sebanyak 67% peserta didik menekankan pentingnya penerapan elemen akhlak dalam kehidupan sehari-hari sebagai fokus utama e-modul PAI. Hal ini mengonfirmasi bahwa peserta didik tidak sekadar menginginkan transfer pengetahuan, melainkan pembelajaran yang aplikatif dan relevan dengan tantangan kehidupan nyata mereka. Metodologi: Model ADDIE dan Inovasi Self-Blend Learning Penelitian ini mengadopsi paradigma pragmatis yang menekankan pada kegunaan praktis dan efektivitas solusi dalam konteks nyata. Pemilihan paradigma ini didasari oleh tiga pertimbangan utama: urgensi mengatasi tingginya kasus perkawinan usia dini di Kabupaten Cirebon, kebutuhan solusi konkret untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran PAI materi akhlak di SMK, serta karakteristik pembelajaran akhlak yang memerlukan implementasi praktis nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan Research and Development (R&D) dipilih dengan mengadaptasi model pengembangan ADDIE yang dikembangkan oleh Branch (2009). Model ADDIE merupakan singkatan dari lima tahap berurutan yang saling terkait: Analysis (Analisis), Design (Perancangan), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan Evaluation (Evaluasi). Setiap tahap dirancang untuk membangun fondasi bagi tahap selanjutnya, sambil memungkinkan perbaikan berkelanjutan berdasarkan umpan balik lapangan. Salah satu kontribusi orisinal penelitian ini adalah pengembangan model “self-blend learning” yang mengadaptasi konsep blended learning konvensional. Berbeda dengan blended learning tradisional yang menggunakan proporsi tetap antara pembelajaran online dan offline, model self-blend learning memberikan otonomi lebih besar kepada peserta didik dalam mengatur proporsi pembelajaran daring dan luring sesuai dengan karakteristik dan preferensi individual mereka. Proporsi default yang dirancang adalah 70% aktivitas online (mandiri) dan 30% offline (tatap muka). Namun, peserta didik dapat menyesuaikan rasio ini berdasarkan gaya belajar, ketersediaan waktu, kondisi spiritual, dan konteks kehidupan masing-masing. Pendekatan ini merespons temuan bahwa generasi digital menghargai fleksibilitas dan personalisasi dalam pembelajaran. Penelitian dilaksanakan selama empat bulan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 di SMKN 1 Kedawung, Kabupaten Cirebon. Populasi penelitian mencakup 425 peserta didik kelas X yang tersebar dalam enam program studi kejuruan. Sampel penelitian dibagi secara bertahap sesuai kebutuhan setiap tahapan, dengan total 215 partisipan unik yang terlibat melalui berbagai instrumen pengumpulan data. Validasi produk e-modul dilakukan oleh tiga ahli dengan keahlian spesifik: Dr. Akhmad Syahri, M.Pd.I sebagai validator materi PAI, Dr. Ulfia Rahmi, M.Pd sebagai validator media pembelajaran, dan Dr. Dadun Kohar, M.Pd sebagai validator bahasa. Pengumpulan data menggunakan delapan metode berbeda meliputi wawancara, angket, tes, observasi, dokumentasi, asesmen diagnostik, forum diskusi, dan penilaian diri untuk memastikan triangulasi yang kuat. Proses Pengembangan: Dari Analisis Kebutuhan hingga Produk Final Tahap analisis mengungkap berbagai temuan penting yang menjadi landasan pengembangan e-modul. Dari 103 peserta didik yang disurvei, mayoritas (89,2%) telah memiliki pengalaman menggunakan modul pembelajaran elektronik sebelumnya, menunjukkan familiaritas yang baik dengan media pembelajaran digital. Fitur yang paling diminati adalah video pembelajaran (59,8%), permainan interaktif (50%), dan kuis interaktif (48%). Kendala utama pembelajaran daring yang teridentifikasi adalah kesulitan memahami materi yang disampaikan secara daring (51%), diikuti keterbatasan akses internet (23,5%), dan keterbatasan perangkat (5,9%). Temuan ini memberikan insight penting untuk perancangan e-modul yang responsif terhadap keterbatasan infrastruktur sekaligus menekankan perlunya pendekatan pedagogis yang lebih interaktif dan mudah dipahami. Tahap perancangan menghasilkan struktur e-modul yang komprehensif dengan fokus pada materi “Menjaga Kehormatan Diri dengan Menjauhi Pergaulan Bebas dan Perbuatan Zina”. Materi ini dipilih karena sangat relevan dengan kondisi degradasi moral remaja di Kabupaten Cirebon. E-modul dirancang dengan dua kegiatan pembelajaran utama: “Mitos dan Fakta Pergaulan Bebas” yang membahas Q.S Al-Isra’/17:32, dan “Langkah Menuju Hidup Lebih Baik” yang membahas Q.S. An-Nur/24:2. Fitur multimedia interaktif yang dikembangkan meliputi video pembelajaran dengan narasi tentang “Mengapa Agama Melarang
Integrasi Nilai Religius dalam Pendidikan Inklusif di SDIT Abata Lombok

Pendidikan inklusif menjadi salah satu isu strategis dalam dunia pendidikan modern, terutama dalam menjamin hak setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang adil tanpa diskriminasi. MALANG – Pendidikan inklusif menjadi salah satu isu strategis dalam dunia pendidikan modern, terutama dalam menjamin hak setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang adil tanpa diskriminasi. Isu ini menjadi fokus utama sebuah disertasi doktoral yang diselesaikan oleh seorang peneliti Program Pascasarjana Universitas [Nama Universitas] dengan judul “Integrasi Nilai-Nilai Religius dalam Pendidikan Inklusif di SD Islam Terpadu Abata Lombok.” Penelitian ini menyoroti praktik pendidikan inklusif di sekolah dasar berbasis Islam terpadu, khususnya bagaimana nilai-nilai religius Islam diintegrasikan secara nyata dalam proses pembelajaran, budaya sekolah, dan kebijakan pendidikan. SDIT Abata Lombok dipilih sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini dikenal aktif mengembangkan pendidikan berbasis nilai religius sekaligus membuka akses pendidikan bagi anak-anak dengan latar belakang kemampuan yang beragam, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Peneliti menjelaskan bahwa tema ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya tantangan dalam implementasi pendidikan inklusif di lapangan, meskipun regulasi pemerintah telah tersedia. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan sumber daya manusia, kesiapan sekolah, hingga pendekatan pedagogis yang belum sepenuhnya adaptif. Di sisi lain, sekolah Islam terpadu dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendidikan inklusif yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan. Dalam disertasi ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Pendekatan ini dipilih untuk menggali makna mendalam dari pengalaman guru, kepala sekolah, siswa, dan orang tua dalam mengimplementasikan nilai-nilai religius pada praktik pendidikan inklusif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi selama beberapa bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pendidikan inklusif di SDIT Abata Lombok tumbuh bukan semata dari kebijakan administratif, melainkan dari kesadaran spiritual dan moral warga sekolah. Guru dan tenaga pendidik memandang setiap anak sebagai amanah dari Allah yang harus dibimbing dengan kasih sayang dan keadilan. Nilai religius seperti tauhid, akhlaq, dan ibadah sosial menjadi fondasi utama dalam membangun sikap inklusif. Temuan penelitian mengungkap adanya keterkaitan sinergis antara tiga dimensi utama, yakni nilai religius, pedagogis inklusif, dan budaya sekolah. Nilai religius membentuk orientasi spiritual dan moral warga sekolah, pedagogis inklusif menjadi arena penerapan nilai dalam pembelajaran, sementara budaya sekolah berfungsi sebagai konteks sosial yang memperkuat dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai tersebut. Integrasi nilai berlangsung melalui tiga tahap utama. Pertama, tahap kesadaran spiritual, di mana inklusivitas dipahami sebagai bagian dari ibadah dan perwujudan iman. Kedua, tahap implementasi pedagogis, yaitu penerapan nilai religius dalam strategi pembelajaran yang empatik, kolaboratif, dan adaptif. Ketiga, tahap penguatan kultural, melalui tradisi religius, kepemimpinan spiritual kepala sekolah, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat. Dari temuan tersebut, peneliti merumuskan sebuah Model Integratif Religius-Inklusif (MIR-I). Model ini menempatkan nilai religius Islam sebagai inti, pedagogi inklusif sebagai instrumen, dan budaya sekolah sebagai ekosistem pendukung. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan secara sirkular, membentuk sistem pendidikan inklusif berbasis nilai yang hidup dan berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan inklusif dalam perspektif Islam bukan sekadar menyediakan ruang bagi semua anak, tetapi membangun sistem pembelajaran yang menghargai martabat manusia sebagai makhluk berakal dan berjiwa. Inklusivitas dipahami sebagai wujud rahmatan lil ‘alamin dan implementasi keadilan sosial dalam pendidikan. Peneliti berharap hasil disertasi ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan dalam mengembangkan kebijakan dan praktik pendidikan inklusif berbasis nilai religius. Selain itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menguji efektivitas model ini di berbagai konteks sekolah Islam di daerah lain, guna memperkaya pengembangan pendidikan inklusif yang humanis, adaptif, dan spiritual. *** *) oleh: Lalu Iwan Eko Jakandar, Mahasiswa Doktor Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. — Sumber: TIMES INDONESIA
Elit Muhammadiyah Surabaya Dorong Moderasi Beragama Melalui Dakwah Inovatif

Disertasi doktor yang baru saja diselesaikan oleh Muhammad Wahid Nur Tualeka mengungkap bagaimana elit Muhammadiyah di Kota Surabaya berhasil menginternalisasi nilai moderasi beragama melalui strategi dakwah yang adaptif. MALANG – Disertasi doktor yang baru saja diselesaikan oleh Muhammad Wahid Nur Tualeka mengungkap bagaimana elit Muhammadiyah di Kota Surabaya berhasil menginternalisasi nilai moderasi beragama melalui strategi dakwah yang adaptif. Penelitian ini menyoroti peran penting organisasi Islam modernis tersebut dalam menjaga harmoni sosial di tengah keragaman masyarakat urban, dengan temuan bahwa dakwah elit Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada ceramah tradisional, tetapi juga memanfaatkan media digital dan pendekatan dialogis untuk menangkal ekstremisme. Penelitian ini dilakukan di tengah meningkatnya tantangan intoleransi dan radikalisme di Indonesia, terutama pasca-peristiwa bom di Surabaya pada 2018. Muhammad Wahid Nur Tualeka, mahasiswa doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, menekankan bahwa moderasi beragama bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang perlu diinternalisasi melalui dakwah yang relevan dengan zaman. Dengan fokus pada elit Muhammadiyah Surabaya, penelitian ini menganalisis bagaimana pemimpin-pemimpin organisasi tersebut menerapkan prinsip wasathiyah (jalan tengah) untuk membangun masyarakat yang toleran dan damai. Latar belakang penelitian ini didorong oleh realitas keragaman Indonesia yang sering kali memicu konflik agama, seperti ledakan bom di Gereja Katedral Makassar pada 2021 dan serangan teror di Surabaya. Data dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa 53% muslim Indonesia keberatan dengan pembangunan rumah ibadah non-muslim di sekitar tempat tinggal mereka, sementara 62,1% masyarakat tidak pernah mendengar ajakan saling menghormati kelompok minoritas. Wahid Nur Tualeka menilai bahwa penelitian ini penting karena moderasi beragama merupakan strategi kebudayaan untuk merawat keindonesiaan, terutama di kota seperti Surabaya yang memiliki sejarah transformasi dari intoleransi menjadi kota toleran tinggi. Judul disertasi yang disederhanakan adalah “Internalisasi Moderasi Beragama: Studi Dakwah Elit Muhammadiyah di Surabaya”. Fokus penelitian ini adalah pada elit Muhammadiyah Surabaya, yang meliputi pemimpin-pemimpin organisasi seperti Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya dan tokoh-tokoh dakwah lainnya. Objek utama adalah bagaimana mereka memahami, menerapkan, dan menginternalisasi moderasi beragama melalui metode dakwah, serta tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan pemahaman moderasi beragama perspektif elit Muhammadiyah Surabaya, menganalisis metode dakwah yang digunakan, menjelaskan proses internalisasi moderasi melalui dakwah, dan mengidentifikasi tantangan dalam menginternalisasi nilai tersebut. Sasaran yang ingin dicapai adalah memberikan kontribusi ilmiah dan praktis untuk memperkuat moderasi beragama di Indonesia, khususnya melalui peran organisasi seperti Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, dilakukan di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya. Subjek penelitian adalah elit Muhammadiyah Surabaya, termasuk tokoh-tokoh dalam struktural Pimpinan Muhammadiyah Kota Surabaya, serta beberapa masyarakat sebagai informan tambahan. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam (in-depth interview), observasi berpartisipasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan penerapan triangulasi sumber, metode, dan teoritik untuk memastikan keabsahan data. Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa elit Muhammadiyah Surabaya memahami moderasi beragama sebagai prinsip wasathiyah yang mencakup tawassut (jalan tengah), i’tidal (lurus dan adil), dan tasamuh (toleransi). Metode dakwah yang diterapkan adalah dakwah bil-khitabah (ceramah dan diskusi), dakwah bil-qudwah hasanah (keteladanan melalui layanan sosial dan pendidikan), serta dakwah bil-wasait roqmiyah (pemanfaatan media digital seperti WhatsApp, Instagram, dan Zoom). Internalisasi moderasi dilakukan melalui penguatan kelembagaan (lembaga pendidikan dan komunitas), pendekatan dakwah inklusif dan dialogis, serta penguatan nilai wasathiyah melalui materi dakwah. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik pada elit Muhammadiyah Surabaya, yang menunjukkan bahwa dakwah elit tidak hanya struktural tetapi juga kultural, mampu menjangkau generasi muda dan menangkal radikalisme. Dampaknya, penelitian ini memperkuat wacana bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam moderat dapat menjadi model untuk organisasi lain dalam menjaga harmoni sosial. Manfaat dan kontribusi penelitian ini meliputi aspek teoritis, yaitu memperkaya konsep moderasi beragama dengan perspektif dakwah Islam modernis, serta praktis, seperti memberikan rekomendasi bagi pemerintah dan organisasi keagamaan untuk mengembangkan program moderasi melalui pendidikan dan media digital. Kontribusi praktisnya adalah mendorong implementasi moderasi di sekolah, masjid, dan komunitas, serta memperkuat kerjasama antarumat beragama di Surabaya. Sebagai penutup, penelitian ini memberikan harapan bahwa dengan dakwah yang inovatif, moderasi beragama dapat menjadi fondasi kehidupan berbangsa yang damai. Muhammad Wahid Nur Tualeka berencana mempublikasikan hasil penelitian ini dalam jurnal internasional dan menerapkannya melalui workshop dakwah di Muhammadiyah Surabaya, guna memperluas dampaknya bagi masyarakat luas. *** *) Oleh: Muhammad Wahid Nur Tualeka, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.