Pengembangan Bahan Ajar Integratif Tingkatkan Efektivitas Pembelajaran AIK di Fakultas Psikologi UMSurabaya

Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) MALANG – Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), berhasil mengembangkan bahan ajar pembelajaran integratif multidisipliner yang menghubungkan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dengan ilmu Psikologi. Penelitian ini, yang diselesaikan pada Desember 2025, menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut efektif meningkatkan pemahaman mahasiswa, pembentukan karakter dan moral, serta partisipasi aktif baik dosen maupun mahasiswa dalam pembelajaran di Fakultas Psikologi UMSurabaya. Latar belakang penelitian ini didasari oleh masalah dikotomi ilmu antara nilai-nilai keislaman dan ilmu umum, khususnya Psikologi, yang masih terpisah dalam kurikulum pendidikan tinggi Muhammadiyah. Di era globalisasi dan digital, mahasiswa generasi Z membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual, interaktif, dan bermakna untuk menghubungkan spiritualitas Islam dengan aplikasi psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini penting dilakukan karena dapat menjembatani kesenjangan tersebut, memperkuat identitas pendidikan Muhammadiyah, dan merespons tantangan degradasi moral serta kesehatan mental pada generasi muda. Judul disertasi yang disederhanakan adalah “Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran Integratif Multidisipliner pada Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan Ilmu Psikologi”. Fokus penelitian adalah pada pengembangan dan evaluasi bahan ajar untuk mahasiswa Fakultas Psikologi UMSurabaya, dengan objek utama mata kuliah AIK-4 (Islam dan Psikologi) yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam seperti tauhid, akhlak, dan dakwah dengan konsep psikologi seperti kepribadian, motivasi, dan kesehatan mental. Tujuan utama penelitian adalah mendeskripsikan proses pengembangan bahan ajar integratif multidisipliner dan menganalisis efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Sasaran yang ingin dicapai meliputi peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap hubungan antara AIK dan psikologi, penguatan karakter Islami, serta partisipasi aktif mahasiswa berbasis Student Centered Learning (SCL), melalui pendekatan Project Based Learning (PjBL), dan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM). Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan pendekatan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian adalah mahasiswa semester VI Fakultas Psikologi UMSurabaya angkatan 2023/2024 dan 2024/2025. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, kuesioner, dan rubrik penilaian, sedangkan analisis data menggunakan statistik deskriptif dan analisis kualitatif untuk menilai validitas, efektivitas, dan dampak bahan ajar. Hasil atau temuan utama penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar integratif multidisipliner berhasil merespons kebutuhan mahasiswa generasi Z dengan gaya belajar visual, kontekstual, dan berbasis pengalaman. Model ini mampu menghubungkan nilai-nilai Islam dengan ilmu Psikologi secara aplikatif, memperkaya pemahaman akademik, membentuk karakter moral, etika, dan meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani dalam bahan ajar, yang memadukan teks suci, rasio, dan pengalaman spiritual. Dampaknya, mahasiswa lebih mampu mensintesiskan ilmu agama dan psikologi, mengurangi dikotomi ilmu, dan meningkatkan relevansi pembelajaran di era digital. Manfaat dan kontribusi penelitian ini mencakup kontribusi ilmiah berupa penguatan paradigma integrasi-interkoneksi ilmu dalam pendidikan Islam, memperkaya khazanah teori pembelajaran konstruktivistik berbasis digital. Secara praktis, hasil ini berkontribusi pada peningkatan mutu pendidikan tinggi Muhammadiyah, pengembangan kurikulum AIK yang lebih kontekstual, serta implementasi program pembelajaran yang dapat diterapkan di kampus-kampus lain untuk membentuk lulusan psikolog yang berkarakter Islami dan profesional. Penelitian ini memberikan harapan untuk implementasi bahan ajar integratif di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah secara lebih luas, guna mencetak generasi intelektual muslim yang cerdas, adaptif, dan berakhlak mulia. Rencana ke depan meliputi publikasi hasil penelitian dalam jurnal internasional, sosialisasi kepada dosen AIK dan psikologi, serta pengembangan bahan ajar serupa untuk mata kuliah lain. Dengan demikian, penelitian ini menjadi langkah strategis menuju pendidikan Islam yang berkemajuan dan relevan dengan tantangan zaman. *** *) oleh: Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.  

“Pembinaan Karakter Sosial Siswa Lewat Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Sambaliung”

Malang– Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Negeri 1 Sambaliung menjadi salah satu upaya nyata dalam menanamkan nilai-nilai sosial dan moral kepada peserta didik. Melalui pembelajaran yang terarah dan berkesinambungan, sekolah ini berhasil membentuk karakter siswa agar lebih peduli, berempati, dan bertanggung jawab di tengah tantangan era digital. Penelitian berjudul “Pembinaan Karakter Sikap Sosial Siswa Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Sambaliung” mengungkap bahwa nilai-nilai religius dalam PAI mampu menjadi fondasi penting bagi pembentukan karakter sosial siswa. Fenomena seperti individualisme, rendahnya empati, hingga perilaku bullying masih sering ditemukan, namun dapat diminimalkan melalui pembelajaran PAI yang menekankan nilai moral dan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, dengan melibatkan kepala sekolah, guru PAI, wakil kesiswaan, dan siswa OSIS sebagai informan. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara mendalam untuk menggambarkan proses pembinaan karakter yang terjadi di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan karakter sosial siswa dilakukan melalui tiga kegiatan utama: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pada kegiatan intrakurikuler, guru PAI menanamkan nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kerja sama dalam pembelajaran di kelas. Melalui kegiatan kokurikuler, siswa dilibatkan dalam aktivitas keagamaan seperti salat berjamaah, pesantren kilat, dan bakti sosial. Sementara kegiatan ekstrakurikuler seperti kaligrafi dan tilawah Al-Qur’an membantu menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam dan seni religius. Kepala Sekolah SMPN 1 Sambaliung menyebutkan bahwa peran guru PAI sangat penting dalam membimbing dan menjadi teladan bagi siswa. “Guru bukan hanya pengajar, tapi juga pembina karakter yang menanamkan nilai sosial dan spiritual dalam keseharian siswa,” ujarnya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk memperkuat pembinaan karakter sosial melalui kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat. Dengan pembelajaran PAI yang kontekstual dan menyenangkan, diharapkan lahir generasi muda yang beriman, berakhlak mulia, serta peduli terhadap sesama. *) Oleh: Hamal, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

Membangun Moderasi Beragama Melalui Sekolah

MALANG – Keberagaman Suku, Budaya, Bahasa, Agama merupakan sebuah anugrah Allah Yang Maha Kuasa untuk sentiasa dijaga dan dipertahankan. Hal ini dapat memberikan dampak yang baik jika mampu dipertahankan namun sebaliknya dapat membawa sisi negatif dengan menimbulkan konflik. Menanamkan sikap moderasi dalam beragama merupakan salah satu tujuan untuk menciptakan siswa yang moderat. Karena pemahaman dan praktik moderasi yang tidak baik justru akan menimbulkan masalah baru. Pemahaman dan praktik moderasi beragama menjadi sangat penting untuk diajarkan pada lingkungan sekolah menengah. Jiwa moderat dalam beragama memberikan pemahaman secara universal bukan secara parsial. Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk karakter generasi muda, khususnya dalam menanamkan sikap toleransi. Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan, pendidikan juga berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai moral dan sosial yang menjadi dasar terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai. Nilai toleransi dapat disisipkan dalam dunia pendidikan baik melalui jalur formal seperti kurikulum, maupun jalur nonformal seperti budaya sekolah dan pembiasaan sikap sehari-hari Dalam tulisan ini paradigma yang digunakan adalah paradigma interpretif . Membangun makna subjektif dari pengalaman hidup. Dalam tulisan ini penulis melihat realitas Membangun Moderasi beragama Melalui Sekolah dengan pendekatan kualitatif yang mengeksplorasi tulisan ini sesuai dengan pemahaman dan praktik moderasi beragama di Sekolah. Menggunakan jenis penelitian study kasus tunggal. Lokasi penelitian di SMAN 1 Berau Kalimantan Timur dengan menggunakan subjek penelitian Kepala Sekolah, Guru Agama Islam dan beberappa Siswa yang dinilai aktif mengikuti kegiatan Rohis. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara serta pengambilan dokumentasi. Tehnik Analisa data tentang Moderasi Beragama di Sekolah digunakan penulis sesuai Miles, Huberman dan saldana yakni pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data selanjutnya penariakan Kesimpulan atau verifikasi. Sedangkan, teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis interaktif, yang melibatkan proses interpretasi data secara terus-menerus dan berulang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pemahahan dan praktik  tentang moderasi beragama yakni : A. Warga SMAN 1 Berau memiliki pemahaman  moderasi beragama yang beraneka ragam. Namun secara umum, keragaman makna tersebut dapat dirangkum dalam tujuh makna, yaitu: 1. sama dengan toleransi,  2. menghargai perbedaan, 3. saling menghormati, 4. tidak ada permusuhan, 5. teguh terhadap pendirian, 6. sikap tengah dengan pemahaman yang utuh dalam agama, dan 7. berfikir cerdas, teliti dalam beragama. Selanjutnya terdapat Praksis beragama dalam konteks pendidikan agama Islam direalisasikan dalam berbagai macam kegiatan baik didalam kelas maupun di luar kelas. Adapun implementasinya adalah sebagai berikut: 1) pembiasan tertib waktu masuk sekolah, 2) kegiatan pembelajaran di kelas, 3) kegiatan projek pelajar Pancasila, 4) kegiatan piket kebersihan kelas, 5) kegiatan upacara hari Senin dan hari besar nasional, 6) senam bersama di sekolah atau di luar sekolah, dan 7) kegiatan hari besar keagamaan. Pemahaman moderasi yang beraneka ragam idealnya tetap difahamkan bagi siswa sesuai dengan tingkat dan jenjang pemahamannya sedangkan praksis kegiatan yang mencerminkan nilai moderasi beragama dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kebebasan berekspresi bagi siswa. Internalisasi nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah memiliki urgensi yang tinggi. Kehadiran nilai-nilai tersebut dapat membimbing kehidupan komunitas sekolah menuju tatanan yang harmonis, bebas dari kebencian dan kekerasan. Dalam konteks sekolah menengah atas di wilayah multikultural, penerapan moderasi beragama menjadi semakin relevan dan strategis. ika pemahaman moderasi beragama diintegrasikan ke dalam aktivitas pembelajaran maka tercipta situasi dan kondisi yang harmonis. Pola keberagaman yang moderat dapat diimplementasikan apabila ada pemahaman agama disertai dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman ajaran agama. Besar harapan bahwa pemahaman moderasi ini dapat diajarkan ke semua jenjang pendidikan agar siswa memperoleh pemaham dan praktik moderasi beragama secara utuh. Moderasi beragama perlu didukung oleh  masyarakat, pendidik dan pemegang kebijakkan agar moderasi bukan hanya di sebuah pelajaran yang diajarkan tetapi lebih pada tingkat pemahaman dan praktik yang benar. *** *) Oleh: Khamam Khosiin, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.  

Sitti-l-Kull, Konsep Pendidikan Baru untuk Perempuan Berdaya

Pendidikan perempuan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan manusia seutuhnya. Berbagai kajian menunjukkan bahwa pendidikan pemberdayaan perempuan memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi diri perempuan itu sendiri, tetapi juga bagi khala Pendidikan perempuan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan manusia seutuhnya. Berbagai kajian menunjukkan bahwa pendidikan pemberdayaan perempuan memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi diri perempuan itu sendiri, tetapi juga bagi khalayak umum. Meskipun demikian, hingga kini perempuan masih menghadapi berbagai tantangan serius, seperti keterbatasan akses pendidikan, pernikahan dini, rendahnya kesehatan seksual, hingga stigma sosial budaya yang menghambat kemajuan perempuan. Kajian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi tersebut dan keinginan untuk menggali alternatif model pendidikan yang mampu menjawab tantangan tersebut secara menyeluruh. Pondok Modern Darussalam Gontor Putri menjadi objek kajian karena diselenggarakannya pendidikan bagi perempuan berbasis nilai Islam yang memberdayakan. Kajian ini dilandasi oleh paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus yang memungkinkan eksplorasi fenomena pendidikan secara menyeluruh. Berdasarkan metode kajian yang terstruktur, diharapkan mampu memberikan kontribusi yang dignifikan dalam memahami secara utuh terkait model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull merupakan konsep yang dibangun peneliti berdasarkan realitas di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull yang mencakup pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Pembelajaran yang holistik bertujuan untuk mencetak perempuan muslimah yang cerdas, mandiri, berakhlak mulia, serta siap berkontribusi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull dibangun berdasarkan Al-Qur’an-Hadits, Panca Jiwa, Panca Jangka, Moto, dan Filsafat Hidup, dan program pengembangan potensi yang diselenggarakan di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Program-program tersebut, meliputi: intelektual, bahasa, keputrian, kesenian, olahraga, pramuka, keorganisasian, kewirausahaan, dan spiritual. Panca Jiwa, meliputi: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Panca Jangka, meliputi: pendidikan dan pengajaran, kaderisasi, pergedungan, khizanatullah, dan kesejahteraan keluarga. Moto, meliputi: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Filsafat hidup, yaitu: Pondok tidak hanya mendidik intelektual, tetapi Pondok juga mendidik mental dan spiritual; sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keuntunganmu. Dengan ini, peserta didik sebagai abd Allah dan khalifah fi al-ard dapat menyeru pada ma’ruf dan mencegah kemungkaran melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Model ini berupaya menyiapkan peserta didik menjadi mar’ah shalihah yang dapat mendorong perempuan yang berdaya dan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya. Model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull mengembangkan pemikiran Abu Syuqqah terkait peranan pendidikan perempuan. Abu Syuqqah menjelaskan hal yang harus diajarkan melalui pendidikan, yaitu: etika perempuan; materi keibuan; pelatihan melalui organisasi; keterampilan; kepedulian; dan kebebasan dalam kegiatan sosial bermanfaat sesuai dasar etika Islam (Syuqqah, 2000; Syuqqah, 2017a; Syuqqah, 2018a; Syuqqah, 2018b). Kajian ini mengungkap bahwa perempuan memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi dengan adanya kesenian, olahraga, intelektual, bahasa, keputrian, pramuka, keorganisasian, kewirausahaan, dan spiritual. Hal ini mendorong pengembangan bakat, keterampilan, dan kepercayaan diri, dan pengetahuan sesuai ajaran Islam. Model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull menguatkan pandangan Miller terkait pendidikan holistik. Menurut Miller, pendidikan holistik yang secara harmonis mengintegrasikan aspek intelektual, emosional, fisik, sosial, estetika, dan spiritual (Miller, 2000; Miller, 2019; Miller et al., 2005; Miller et al., 2019). Kajian ini mengungkap program yang diselenggarakan, yaitu program intelektual, bahasa, keputrian, kesenian, olahraga, pramuka, keorganisasian, kewirausahaan, dan spiritual. Program ini bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Hal ini relevan dengan kajian yang menjelaskan bahwa aspek spiritual intelektual, emosional, fisik, sosial, estetika mampu mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal (Fischbein & Marx, 2023; Hamami & Nuryana, 2022; Miseliunaite et al., 2022; Moslimany et al., 2024; Rianawaty et al., 2021). Model pendidikan Sitti-l-Kull mendorong pengembangan potensi melalui program yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri. Program ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mencapai tahap kemandirian dan kebebasan dalam menentukan tujuan hidup sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Hal ini sejalan dengan pandangan Abu Syuqqah bahwa Islam memberikan kebebasan perempuan untuk terlibat dalam ranah sosial dan publik dengan memperhatikan dasar etika Islam. Persyaratan ini sebagai sarana mewujudkan berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup yang menuntut perempuan bertemu dengan laki-laki. Dengan demikian, perempuan dapat mengikuti kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat (Syuqqah, 2000; Syuqqah 2017a; Syuqqah, 18a; Syuqqah 2018b, Syuqqah, 2018c). Model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull memperkaya khazanah keilmuan tentang pendidikan keputrian melalui program ekstrakurikuler yang diadakan setiap hari Jumat (Gusniarti et al., 2023; Mualimah et al., 2021; Regita et al., 2020; Ummah et al., 2023); menekankan pada pembelajaran fiqih wanita (Mualimah et al., 2021; Prastiwi et al., 2019; Syarah et al., 2020); pembentukan akhlak mulia (Novianti et al., 2023; Pebiyanti et al., 2023; Zafirah et al., 2023); penguatan life skill (Prameswari et al., 2022; Hanafi & Sunariyanto, 2024; Basuki, 2021; Niyah & Musdat, 2021; Sari et al., 2022). Kajian ini mengungkap bahwa pendidikan pemberdayaan perempuan diajarkan melalui pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Pembelajaran ini mencakup aspek intelektual, bahasa, keputrian, kesenian, olahraga, pramuka, keorganisasian, kewirausahaan, dan spiritual. Hal ini relevan dengan kajian yang menjelaskan bahwa keberagaman aspek tersebut dapat membina peserta didik menjadi serba bisa dan berpengaruh pada kompetensi peserta didik (Chan & Yeung, 2020; Kenny et al., 2023; Lahon, 2016; Lovat, 2020; Naufal et al., 2024; Spychalski, 2023). Dengan demikian, model pendidikan pemberdayaan perempuan berbasis Sitti-l-Kull sebagai alternatif yang dapat memberdayakan peserta didik. Peserta didik didorong untuk mengembangkan potensi melalui program yang dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri. Hal ini diupayakan agar peserta didik mampu mencapai tahap kemandirian dan kebebasan dalam menentukan tujuan hidup sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Kemandirian dan kebebasan dapat dimiliki peserta didik setelah memiliki bekal mumpuni berupa keterampilan dan wawasan untuk menganalisa dampak, membandingkan, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Maka, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri dapat menjadi seorang diplomat, profesor, desainer, pengusaha, pendidik, menjadi ibu dan istri sesuai dengan tujuan hidupnya. *) Oleh: Dian Silvia Rozza, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. *ript*

Pengembangan Teknik Ratun Pada Budidaya Beberapa Genotip Sorgum Lokal

Tanaman sorgum di Indonesia mulai menjadi perhatian sejak tahun 1960. Hingga tahun 2019, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melepas 26 varietas sorgum sebagai upaya mendukung program pangan alternatif dan mendorong masyarakat untuk menanamnya. MALANG – Tanaman sorgum di Indonesia mulai menjadi perhatian sejak tahun 1960. Hingga tahun 2019, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melepas 26 varietas sorgum sebagai upaya mendukung program pangan alternatif dan mendorong masyarakat untuk menanamnya. Sorgum merupakan tanaman semusim yang potensial dikembangkan sebagai pangan, pakan ternak, dan energi. Kandungannya meliputi karbohidrat (sekitar 70%), protein (8 -12%) yang setara atau lebih l tinggi dari terigu/beras, serta lemak (2 -6%) yang lebih tinggi d ari beras dan terigu.  Sentra produksi sorgum terbesar di Indonesia berada di Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Utara. Hampir seluruh lahan di Indonesia sangat sesuai untuk pengembangan sorgum, dengan potensi terluas  di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Sementara itu, luas lahan sorgum di Sumatera Utara menempati peringkat ke -16 nasional.   Kelebihan sorgum adalah kemampuannya dibudidayakan di lahan suboptimal (kering dan marginal) sepanjang tahun pada musim hujan dan kemarau. Tanaman ini juga memiliki kemampuan tumbuh kembali setelah dipanen melalui teknik ratun, yaitu dengan memotong batang  utama hingga menyisakan satu buku. Kemampuan meratun ini dapat mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan efisiensi pemupukan. Adanya keragaman hasil pada tanaman ratun menunjukkan peluang untuk pengembangan sorgum melalui perakitan varietas. Varietas dengan daya ratun tinggi dapat memiliki produktivitas yang sama dengan tanaman utama, memungkinkan panen hingga 2 -3 kali secara opt imal. Faktor pendukung daya ratun tinggi meliputi kemampuan tanaman untuk mempertahankan kehijauan daun dan umur panen yang sama dengan tanaman utama. Penanaman secara ratun masih mampu memberikan hasil sampai ratun ketiga. Hasil pertanaman ratun pertama atau kedua umumnya bisa lebih tinggi dari pertanaman pertama. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan hasil biji tanaman ratun umumnya lebih rendah dibanding tanaman utama, dengan tingkat penurunan yang sangat beragam. Teknik ratun tidak memerlukan benih melainkan mengandalkan regenerasi tunas, dan sangat berguna untuk budidaya di tanah dengan kelembaban terbatas. Sistem ini mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biomassa atau biji secara berkesinambungan, serta dapat menin gkatkan hasil dan pendapatan petani. Kemampuan ratun sorgum banyak menarik perhatian peneliti, mendorong berbagai penelitian mengenai potensi produksi ratun, kesesuaian sebagai sumber pangan, evaluasi pertumbuhan dan hasil pada jarak tanam berbeda, serta identifikasi genotipe dengan produksi biomassa dan daya ratun tinggi. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan penulis pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2020, beberapa daerah di wilayah Sumatera Utara yang masih membudidayakan sorgum adalah Langkat, Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai. Daerah -daerah tersebut secara  terus menerus membudidayakan tanaman sorgum dengan mengunakan teknik ratun dan biji dalam skala kecil. Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk dapat memberikan informasi mengenai daerah sebaran sorgum lokal di Sumatera Utara, pengembangan teknik ra tun dan analisis produksi hasil genotip sorgum lokal.Penelitian ini melibatkan tiga tahap penting. Tahap pertama adalah survei lokasi sorgum di Sumatera Utara, bertujuan mengidentifikasi kesesuaian lingkungan tumbuh berdasarkan karakteristik iklim dan tanah di area tersebut. Tahap kedua kemudian dilanjutkan dengan pengujian ketahanan genotipe sorgum lokal Sum atera Utara melalui pembudidayaan menggunakan teknik ratun, yang dilakukan dengan metode rancangan petak terpisah. Terakhir, tahap ketiga berfokus pada evaluasi tingkat produksi ratun dari sorgum lokal di Sumatera Utara.” Penelusuran terhadap lokasi tumbuh sorgum ditemukan sembilan genotipe sorgum lokal yang tersebar di Kabupaten Langkat, Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menunjukkan adanya variasi lingkungan tumbuh yang signifikan. Genotipe -genotipe ini mampu beradaptasi pada rentang ketinggian tempatyang luas, dari 6 mdpl hingga 1200 mdpl. Namun, analisis iklim mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi (>1200 mm/tahun) merupakan faktor pembatas utama bagi kesesuaian lokasi tumbuh. Dari sisi tanah, ordo  tanah yang dominan di lokasi tumbuh sorgum lokal adalah Ultisol dan Andisol, yang dicirikan oleh pH asam serta ketersediaan nitrogen dan fosfor yang rendah. Meskipun kandungan kalium bervariasi, potensi peningkatan hasil produksi sorgum di lokasi tersebut  dapat dicapai melalui strategi pengelolaan tanah yang tepat, termasuk koreksi pH, pemupukan berimbang, serta pemanfaatan populasi mikroorganisme pelarut fosfat yang ditemukan bervariasi antar lokasi  Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa genotipe sorgum lokal yang menunjukkan respons bervariasi terhadap sistem ratun. Genotipe Beringin (G3) adalah kandidat kuat untuk sistem ratun karena performa vegetatifnya yang stabil (tinggi, jumlah daun, diameter batang besar) pasca -pemotongan, serta berpotensi menghasilkan produksi stabil dan tinggi, meskipun kadar proteinnya rendah. Genotipe Selotong (G1) menunjukkan performa sedang namun stabil dan cocok untuk sistem ratun, terutama dari as pek mutu biji, meski hasil optimal tidak selalu dipertahankan pada siklus ratun selanjutnya. Sebaliknya, Genotipe Pertumbukan (G2) dan Pengajahan (G4) kurang ideal untuk sistem ratun berulang. Pertumbukan menunjukkan performa tidak stabil dan penurunan mut u gizi signifikan pasca -pemotongan, sementara Pengajahan lebih sesuai untuk produksi jangka pendek (R0 -R1) karena juga mengalami penurunan mutu gizi yang nyata setelah pemotongan. Potensi hasil produksi empat genotipe sorgum lokal Sumatera Utara dengan teknik ratun menunjukkan keragaman, namun semuanya memiliki kemampuan untuk diratun. Genotipe Pengajahan (G4) menampilkan respons yang sangat positif terhadap teknik ratun, dengan peningkatan produksi yang konsisten dari tanaman awal (2.60 ha) hingga ratun ketiga (3.07 ha). Demikian pula, Genotipe Beringin (G3) menunjukkan respons positi f secara keseluruhan, dengan peningkatan produksi pada ratun pertama dan ketiga (dari 3.09 ha menjadi 3.23 ha dan 3.19 ha), meskipun sempat mengalami sedikit penurunan di ratun kedua. Genotipe Selotong (G1) menunjukkan stabilitas yang baik dalam mempertaha nkan tingkat produksi; meskipun sempat fluktuasi dengan penurunan di ratun pertama (dari 3.38 ha menjadi 2.96 ha), produksinya kembali meningkat dan menyamai tingkat awal pada ratun ketiga (3.38 ha). Berbeda dengan genotipe lainnya, Genotipe Pertumbukan (G 2) menunjukkan penurunan produksi yang jelas setelah siklus ratun pertama dan cenderung stabil pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan tanaman awal, mengindikasikan kurangnya respons positif terhadap teknik ratun untuk mempertahankan hasil tinggi. Harapan peneliti kedepanya agar pemerintah daerah dan pihak terkait dapat  menciptakan kebijakan  dan yang mendukung terbukanya pasar produksi sorgum  sehingga dapat meningkatkan minat petani untuk membudidaya sorgum secara luas petani perlu diarahkan untuk mengadopsi inovasi pertanian yang ramah lingkungan dan hemat biaya. Mendorong pengembangan teknologi tepat guna serta program pelatihan yang terfokus pada efisiensi produksi dan pengelolaan usaha tani yang adaptif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar. Peneliti juga mengharapkan bahwa informasi genetik dari genotipe sorgum lokal Sumatera Utara, yang mungkin memiliki karakteristik adaptif unik terhadap  lingkungan setempat, dapat digunakan sebagai fondasi krusial untuk menjaga  keanekaragaman hayati genetik  dan mencegah erosi genetik, serta menjadi sumber  daya esensial dalam upaya pengembangan

Mikroplastik dalam Kompos: Ancaman Baru bagi Pertanian dan Lingkungan

Kompos selama ini dikenal sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi pertanian. MALANG – Kompos selama ini dikenal sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi pertanian. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap fakta mengejutkan: kompos yang beredar di pasaran ternyata mengandung mikroplastik (MPs), partikel plastik berukuran sangat kecil yang berpotensi mengancam kesehatan tanah, tanaman, hingga ekosistem pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos komersial mengandung hingga 160 partikel mikroplastik per 200 gram sampel dengan berbagai warna, ukuran, dan bentuk. Keberadaan mikroplastik dalam kompos ini menandakan adanya ancaman baru, sebab penggunaan kompos secara intensif di lahan pertanian berpotensi memperluas pencemaran plastik di lingkungan darat.   oplastik dalam kompos tidak bisa dianggap sepele. Penelitian lanjutan yang dilakukan pada bibit padi menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Penambahan mikroplastik jenis PET ke dalam media tanam terbukti menghambat pertumbuhan bibit padi secara signifikan.   Panjang akar bibit menurun hingga 38 persen, tinggi tanaman berkurang 25 persen, bobot segar turun 25 persen, serta kandungan klorofil berkurang hingga 55 persen. Gangguan ini diduga terjadi akibat terhambatnya penyerapan nutrisi dan terganggunya proses fotosintesis akibat paparan mikroplastik. Fakta ini menunjukkan bahwa mikroplastik dalam kompos dapat secara langsung memengaruhi kesehatan tanaman dan hasil pertanian. Tidak hanya berdampak pada tanaman, mikroplastik juga terbukti memengaruhi kualitas vermikompos, yaitu kompos yang dihasilkan dari proses penguraian limbah organik dengan bantuan cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan mikroplastik menurunkan rasio C/N yang menjadi indikator utama kualitas kompos. Pada perlakuan dengan mikroplastik jenis HDPE, rasio C/N turun drastis dari 21 menjadi 9,42. Selain itu, mikroplastik juga menurunkan tingkat kelangsungan hidup cacing, pH dan konduktivitas listrik media, serta indeks perkecambahan sebesar 10–28 persen. Kondisi ini menandakan bahwa vermikompos yang terkontaminasi mikroplastik memiliki kualitas lebih rendah sehingga tidak optimal jika digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Temuan ini menegaskan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah pencemaran laut dan sungai, tetapi juga telah menjadi ancaman nyata di sektor pertanian. Jika tidak segera diantisipasi, keberadaan mikroplastik dalam pupuk organik dapat menurunkan produktivitas tanaman, merusak kualitas kompos, dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan sistem pertanian. Oleh karena itu, pengelolaan limbah plastik secara efektif, pengawasan ketat terhadap kualitas kompos, serta edukasi kepada masyarakat dan petani menjadi langkah penting untuk mencegah pencemaran mikroplastik lebih lanjut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi pembuat kebijakan, produsen pupuk organik, dan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam penggunaan kompos, sekaligus mendorong lahirnya inovasi teknologi pengolahan limbah organik yang lebih bersih dan berkelanjutan. *) Oleh: Iswahyudi, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Nuhammadiyah Malang. *ript*

Ahmad Syafii Maarif: Menyatukan Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan dalam Bingkai NKRI

Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk dengan beragam etnis, agama, budaya, dan bahasa. Namun, pluralitas yang seharusnya menjadi kekuatan sering kali justru memunculkan tantangan. MALANG – Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk dengan beragam etnis, agama, budaya, dan bahasa. Namun, pluralitas yang seharusnya menjadi kekuatan sering kali justru memunculkan tantangan. Konflik horizontal, politik identitas, hingga intoleransi masih kerap terjadi, menggerus semangat persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa. Fenomena ini menjadi latar belakang penelitian disertasi bertajuk “Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan – Studi Atas Pemikiran Ahmad Syafii Maarif”. Penelitian ini menyoroti bagaimana gagasan Buya Syafii dapat menjadi solusi dalam merawat kebinekaan Indonesia. Politik Identitas dan Tantangan Kebangsaan Dua dekade terakhir, riset-riset menunjukkan adanya stagnasi demokrasi di Indonesia. Politik elektoral banyak dikuasai oligarki, sementara isu agama kerap dijadikan alat provokasi. Bahkan, proyek politik yang mengatasnamakan Islam kadang memunculkan stigma negatif: fanatisme, eksklusivisme, hingga radikalisme. Buya Syafii Maarif menegaskan bahwa Indonesia tidak didirikan untuk satu golongan saja, melainkan untuk seluruh rakyat dengan segala keberagamannya. Karena itu, ia menolak politik identitas yang berlebihan dan menyerukan agar umat Islam tampil sebagai penebar rahmat, bukan sumber perpecahan. Metode Penelitian: Hermeneutika Gadamer Penelitian ini menggunakan hermeneutika Gadamer, yakni metode penafsiran yang menekankan dialog antara masa lalu dan masa kini. Pendekatan ini memungkinkan gagasan Syafii Maarif dibaca secara kontekstual, relevan dengan isu-isu kontemporer seperti intoleransi, kesenjangan sosial, hingga radikalisme. Hermeneutika membuka ruang pemahaman baru: teks atau gagasan tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi dihubungkan dengan realitas kekinian. Dengan cara ini, pemikiran Buya Syafii dapat menjadi rujukan hidup berbangsa yang lebih humanis. Tiga Pilar Pemikiran Syafii Maarif  utama gagasan Syafii Maarif: Keislaman – Islam dipahami sebagai agama rahmatan lil-alamin yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan kesetaraan. Islam bukan hanya ibadah ritual, melainkan juga etika sosial yang menolak radikalisme dan eksklusivisme. Keindonesiaan – Kebinekaan harus menjadi kekuatan bangsa. Pancasila dipandang sebagai fondasi kokoh yang menjaga persatuan. Syafii menekankan pentingnya demokrasi yang inklusif, adil, dan menghargai perbedaan. Kemanusiaan – Nilai fundamental dalam kehidupan adalah menghormati martabat manusia tanpa membeda-bedakan agama, etnis, atau budaya. Bagi Syafii, Islam dan kemanusiaan saling melengkapi untuk mewujudkan keadilan sosial Integrasi untuk Masa Depan Bangsa Pemikiran Syafii Maarif tentang Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan saling menguatkan. Ketiganya dapat menjadi fondasi moral bangsa menghadapi tantangan pluralitas dan globalisasi. Nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam aksi nyata: pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan, hingga pendidikan yang humanis dan progresif. Penelitian ini juga menekankan pentingnya dialog lintas agama dan budaya, kolaborasi akademisi dengan masyarakat sipil, serta penelitian lanjutan agar gagasan Buya Syafii semakin membumi. pemikiran Ahmad Syafii Maarif memiliki relevansi besar bagi bangsa Indonesia. Integrasi Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan adalah jawaban untuk merawat persatuan di tengah keberagaman. Harapannya, pemikiran Buya Syafii dapat terus diakses, dipelajari, dan dipraktikkan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang inklusif, berkeadilan, dan berperikemanusiaan *) Oleh: Arif Rahman Hakim, Mahasiswa Program Studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Modifikasi Tepung Umbi Kimpul

 MALANG – Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi inovatif untuk meningkatkan kandungan pati resisten pada tepung umbi kimpul, bahan pangan lokal yang selama ini masih memiliki kadar pati resisten rendah, sekitar 4 (%bk). Lewat disertasi berjudul “Modifikasi Tepung Umbi Kimpul: Peningkatan Kadar Pati Resisten dan Karakterisasi Sifat Fungsional dengan Fermentasi serta Pemanasan Bertekanan–Pendinginan”, peneliti memadukan proses fermentasi mikroba dan perlakuan fisik termal untuk menciptakan tepung kimpul fungsional. Penelitian dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama melibatkan fermentasi menggunakan tiga starter bakteri asam laktat—Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus plantarum, dan starter komersial Bimo-CF—dengan durasi fermentasi 24, 36, dan 48 jam. Tahap kedua menguji variasi pemanasan bertekanan pada suhu 121 °C selama 5, 10, atau 15 menit, diikuti siklus pendinginan pada suhu rendah sebanyak 1 hingga 3 kali. Setiap perlakuan dievaluasi berdasarkan kadar pati resisten (RS), daya mengembang (swelling power), indeks kelarutan air (WSI), kadar air, kadar abu, nilai warna L* (cerah–gelap) serta struktur permukaan granula melalui SEM. Dari tahap fermentasi, kombinasi optimal diperoleh dari Lactobacillus plantarum selama 36 jam, yang mampu meningkatkan pati resisten tepung kimpul hingga 24,2 %, swelling power mencapai 36,6 %, dan WSI mencapai 6,1 %. Starter lain—L. bulgaricus dan Bimo-CF—juga menaikkan RS tetapi dengan capaian tertinggi masing-masing di kisaran 20–22 %. Data ini menunjukkan peran penting fermentasi mikroba dalam memecah struktur pati sehingga memudahkan pembentukan RS tipe 3. Pada tahap optimalisasi termal, perlakuan autoclaving–cooling selama 15 menit yang diulang tiga kali menghasilkan pati resisten tertinggi, mencapai 26,7 %—kenaikan 2,4 % dibandingkan fermentasi saja. Swelling power meski sedikit menurun, tetap di kisaran 33–35 %, sedangkan WSI stabil pada 3,8 %. Kadar air terendah tercatat 9,5 %, kadar abu meningkat hingga 1,75 %, dan nilai L* mencapai 84,9, menandakan tepung lebih cerah. Analisis SEM memperlihatkan granula berbentuk sferis hingga subsferis dengan permukaan lebih berpori dan retakan mikro, ciri khas struktur pati yang termodifikasi. “Hasil ini membuka peluang bagi pengembangan produk pangan fungsional, seperti nasi analog, mie instan rendah indeks glikemik, dan roti untuk penderita diabetes,” ujar Wirawan, peneliti utama. Ia menekankan bahwa fermentasi dengan L. plantarum dan autoclaving–cooling dapat diaplikasikan di skala UMKM menggunakan peralatan sederhana—autoklaf laboratorium dan lemari pendingin. Para peneliti merekomendasikan agar industri kecil menengah mengadopsi metode ini untuk peningkatan nilai gizi dan daya saing tepung kimpul. Selain itu, kajian lanjutan diharapkan menelusuri stabilitas pati resisten selama penyimpanan dan performa tepung termodifikasi dalam formulasi produk akhir. Dengan begitu, umbi kimpul lokal tidak hanya menjadi sumber karbohidrat murah, tetapi juga bahan baku unggulan untuk pangan sehat berdaya saing global. *** *) Oleh: Wirawan, Mahasiswa Program Doktor Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

Kuliti Merebaknya Imperialisme Budaya Baru Akibat K-Pop

MALANG – Korean Pop (K-Pop) tidak lagi sekadar genre musik populer dari Korea, tetapi telah menjadi budaya baru yang menyebar ke seluruh dunia. K-Pop telah menjadi pemicu munculnya budaya baru dalam dunia hiburan. Budaya itu  berkembang menjadi identitas sosial baru yang mampu mengubah cara berfikir, menilai, dan bertindak individu dalam kehidupan sehari-hari. Hal demikian dikemukakan Nurudin dalam ujian terbuka promosi doktor di Aula lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4  Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (23/7/25). Ia mengambil judul “Pembentukan Identitas Sosial Generasi Muda  Pada Komunitas K-Popers  (Studi Netnografi Pada Nctzenmalang.idn)”. Saat mempertahankan disertasinya, Nurudin mengemukakan bahwa K-Pop telah membentuk identitas sosial baru K-Popers (penggemar) yang diidentifikasi dari budaya Korea. Identitas sosial generasi muda terbentuk melalui proses identifikasi sosial mereka terhadap komunitas yang diikuti. Semakin kuat rasa keterikatan dan kesamaan terhadap kelompok, maka semakin kuat pula identitas sosial yang mereka bangun. “Serba Korea yang dipengaruhi oleh K-Pop pada akhirnya akan membuat K-Popers serba meniru ide, atribut dan perilaku yang merepresentasikan budaya Korea. Budaya pada generasi muda K-Popers berubah dan mengikuti budaya Korea. Di sinilah akan muncul imperialisme budaya baru. Generasi muda secara halus akan terjajah oleh budaya Korea. Budaya Korea yang menjajah tersebut akhirnya membentuk sebuah identitas sosial baru, “kata Nurudin yang juga dosen Ilmu Komunikasi itu. Menurut penelitiannya lebih lanjut, K-Popers tidak lagi hanya sekumpulan generasi muda yang mencari dan melampiaskan hiburan musik negeri ginseng. Komunitas K-Popers telah tumbuh menjadi kekuatan strategis yang ikut membawa perubahan di sekitarnya. K-Popers juga pernah terlibat dalam proses penggalangan dana kemanusiaan. Ia kemudian memberikan contoh keterlibatan penggemar pada kegiatan kemausiaan. “Tragedi Kanjuruhan yang  menewaskan 131 korban pada bulan Oktober 2022 dibantu komunitas K-Pop bernama Neo Culture Technology (NCT). Mereka bisa mengumpulkan dana  340 juta rupiah dalam waktu 24 jam melalui Kitabisa.com. Ini kan luar biasa?, “katanya lebih lanjut. Budaya populer memang punya dampak negatif dan positif. Terkait dampak itu, Oman Sukmana selaku Promotor dan dosen menyarankan sebaiknya institusi pendidikan, media, dan pemerintah melihat fenomena K-Popers bukan hanya sebagai budaya populer semata, tetapi juga sebagai wadah ekspresi identitas dan ruang interaksi sosial generasi muda yang potensial. “Dampak negatif memang akan ada, termasuk imperialisme budaya Korea. Namun bagaimana sebaiknya hasil penelitian ini bisa dijadikan dasar kebijakan agar dampak yang tidak diinginkan tak terjadi. Karena fenomena K-Pop ini sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Kita hanya bisa mengantisipasinya, “kata guru besar UMM itu. Penelitian disertasi yang digali datanya dari studi netnografi dan dilengkapi wawancara pada penggemar NCT itu telah memunculkan identitas sosial baru komunitas generasi muda. Tentu saja, identitas tersebut diharapkan bisa menjadi sebuah kekuatan strategis bagi perubahan ke arah kemajuan yang lebih baik. *** *) Oleh: Nurudin, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi  Universitas Muhammadiyah Malang.  

Makna Simbolik Aktifitas Muallaf Etnis India Muslim di Kota Medan

MALANG – Kota Medan diketahui sebagai salah satu kota multietnis di Indonesia. Salain suku suku asli Indonesia terdapat pula komunitas etnis Tionghoa, Arab, India dan lainnya yang telah lama menetap dan berinteraksi di kota Medan. Termasuk banyaknya keragaman Agama, budaya, etnis dan arsitektur Indonesia termasuk soal agama. Keberadaan agama di Indonesia banyak akhirnya dipengaruhi oleh adat. Islam contohnya adalah agama dominan di Indonesia, juga mengalami hal yang sama. Sejak masuk ke Indonesia, unsur Islam telah berubah karena pengaruh praktik, budaya, dan agama lain yang sudah dikenal masyarakat Indonesia. Apalagi negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing menggambarkan negara memberikan kebebasan penduduknya untuk menentukan sendiri agama yang akan dianutnya dan melaksanakan kegiatan dalam bentuk kegiatan ibadah. Termasuk di antaranya adalah keberagaman etnis India ikut serta membangun kultur di kota Medan yang sebagaian besar etnis India menganut agama Hindu, Budha dan Islam. Migrasi agama juga menjadi point penting bagi etnis India. Salah satunya adalah komunitas Muslim India yang signifikan di Medan. Mereka sebagai besar berasal India Tamil Selatan khusunya Muslim Tamil. Keberadaan komunitas India Muslim di Kota Medan ini pada dasarnya memiliki sejarah panjang terutama dalam konteks perdagangan dan penyebaran agama. Keberadaan etnis India muslim di Kota Medan dapat dikatakan sebagai warga minoritas di Kota Medan sebab tidak banyak masyarakat India yang beralih pindah agama apalagi masuk agama Islam sebab bagi masyarakat Islam merupakan agama garis keras. Keberadaan muslim India di Kota Medan banyak mengalami krisis salah satunya adalah krisis identitas sebagai orang Tamil yang disebabkan banyaknya budaya yang dianut oleh etnis tersebut bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kurangnya penghayatan serta pemahaman terhadap Islam serta dukungan moral dan sulitnya melupakan kebiasaan-kebiasaan lama merupakan bagian dari tantangan muallaf muslim dalam membangun jati diri umat Islam. Motivasi belajar yang kurang yang  dilakukan oleh muallaf muslim menjadi masalah yang disebabkan cara pembelajaran yang terlalu berlebihan yang berdampak pada kondisi psikis mereka. Apalagi masuknya etnis lain non muslim menjadi muslim hampir ditemukan rasa takut seperti kehilangan keluarga, rekan sejawat dan harus siap menjadi miskin. Oleh karena itu peneliti tertarik mengkaji tentang nilai aktivitas mualaf etnis India sebagai aktivitas minoritas di tengah masyarakat mayoritas Hindu India di Kota Medan. Aktivitas yang dilakukan dalam penelitian ini berlandaskan pada perspektif teori interaksionisme simbolik yang berpijak pada tiga premis, yaitu Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi dirinya, makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain dan makna tersebut disempurnakan selama proses interaksi sosial. Penelitian ini melibatkan tujuh orang yang memiliki pengetahuan yang cukup dan memberikan pandangan tentang aktivitas mualaf etnis India di Kota Medan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sosial yang dilakukan oleh masyarakat mualaf etnis India Muslim di Kota Medan selalu ada dan selalu dimungkinkan adanya realitas ganda, yaitu di satu sisi masyarakat mualaf etnis India Muslim di Kota Medan memiliki sistem yang tersusun antara agama dan adat istiadat atas segala sesuatu yang nyata dalam realitas dan di sisi lain terdapat sistem normatif yang di dalamnya terdapat mentalitas yang membayangkan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sistem faktual dan normatif sebenarnya bukanlah dua realitas yang identik, melainkan terpisah satu sama lain. Simpulannya, aktivitas sosial mualaf dilakukan melalui transmisi nilai-nilai, yaitu pendidikan tentang agama, ibadah, serta aspek sosial dan moral. Dengan Harapan hadirnya Muallaf etnis India ini haruslah dilakukan pendampingan dan pembinaan khusus untuk Muallaf agar Muallaf merasa yakin dengan agama Islam dan dapat menjalankan kegiatan- kegiatan beribadah yang sesuai dengan syariat secara baik seperti kegiatan spiritual pengajian-pengajian yang dilakukan sekaligus bimbingan mengenai dasar-dasar agama Islam. *** *) Oleh: Faizal Hamzah Lubis, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi  Universitas Muhammadiyah Malang.