KULIAH TAMU PENULISAN KARYA ILMIAH

KULIAH TAMU: PENULISAN KARYA ILMIAH TINGKATKAN KOMPETENSI MAHASISWA DALAM MENULIS AKADEMIK Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang Dalam upaya meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis karya ilmiah yang baik dan benar, menggelar kuliah tamu bertajuk “Strategi Efektif dalam Penulisan Karya Ilmiah” pada Sabtu, 3 Mei 2025. dengan menghadirkan beberapa narasumber ahli, Kegiatan yang dilaksanakan secara daring hadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai program studi. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen direktorat program pascasarjana dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan akademik yang aplikatif. mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan siap bersaing di dunia akademik maupun profesional,”
Semarak Ramadhan di UMM: Memahami Peran Budaya dalam Dakwah Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Semarak Ramadhan yang penuh keberkahan selama bulan Suci. Salah satu acaranya yakni Pengajian Ramadhan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), yang digelar pada 5 Maret 2025. Dalam kesempatan ini, UMM menghadirkan tokoh Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.. yan menyampaikan tema menarik ‘Membumikan Dakwah Kultural Muhammadiyah”. Dalam pengajiannya, Danarto menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi warga Muhammadiyah dalam mengimplementasikan tradisi budaya dalam kehidupan beragama. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang salah kaprah dalam memandang budaya. Menganggap keterlibatan budaya dalam agama dapat menimbulkan unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat. Akibatnya, banyak yang menjauhi budaya, bahkan menjadi anti budaya. Terdapat dua aliran dalam Islam yang berpengaruh terhadap pandangan ini, yaitu puritanisme yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Wahab, dan Islam Modernisasi yang diprakarsai oleh Muhammad Abduh. “Islam puritan menekankan pada penghapusan segala hal yang berhubungan dengan tradisi dan budaya, dan kembali meniru apa yang ada pada masa Nabi dan sahabat. Dalam pandangan mereka, tradisi yang tidak ada pada zaman Nabi dianggap sebagai bid’ah,” jelasnya. Di lain sisi, Danarto juga menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh kaum modernasi dalam Islam adalah dengan meneliti hadist-hadist Nabi, memverifikasi keasliannya, dan hanya mengamalkan yang dinyatakan shohih. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar umat Islam dapat menerapkan etika, moral, dan tradisi pada masa Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa istilah bid’ah atau inovasi tidak seharusnya digunakan untuk menolak segala bentuk perkembangan dalam masyarakat, termasuk pengetahuan, filsafat, dan ilmu politik. Bid’ah harus dipahami dalam konteks nilai-nilai dasar, moral, dan karakter yang terkandung dalam ajaran Islam, bukan pada bentuk atau praktiknya saja. “Merujuk pada surat Al-Hujurat ayat 13, eksistensi berbagai budaya, suku, dan bangsa, dan menekankan bahwa budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam harus diterima dan dihargai. Budaya bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus dipahami dan diselaraskan dengan ajaran Islam,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA., menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bisa berdakwah melalui ceramah atau tabligh, tetapi juga dapat melibatkan budaya sebagai sarana dakwah. “Muhammadiyah dapat berdakwah melalui budaya dengan mentransformasi nilai-nilai yang sudah ada dan mengemasnya dalam konsep yang lebih berkemajuan, Melalui budaya yang berkemajuan, dakwah Muhammadiyah akan semakin menarik bagi banyak orang. (nam/wil)
Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah jadi Konsen Muhadjir Effendy

Di tengah perkembangan pesat dunia bisnis, Muhammadiyah menyadari pentingnya perubahan mindset, terutama dalam melihat bisnis sebagai sarana yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah. Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Efendy, M.A.P. dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Agenda diselanggarakan pada 26 Februari 2025 itu berlokasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dan terus mendorong perubahan dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang masih memandang dunia usaha dengan skeptis, menganggapnya “kotor” karena adanya praktik kecurangan dan permainan dalam perdagangan. Oleh karena itu, Muhammadiyah bertekad untuk mengubah pandangan ini dan menciptakan peluang bisnis yang mengutamakan etika, kejujuran, dan prinsip agama yang kuat. Muhadjir mengatakan, konsep kapitalisme religius menjadi landasan utama dalam pembangunan ekonomi ini. Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa bisnis tidak harus berseberangan dengan nilai-nilai agama. Kapitalisme yang dibangun dengan etika agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah berusaha menumbuhkan para kapitalis yang sangat agamis, dan memiliki tanggung jawab sosial dan moral dalam setiap langkah bisnis yang diambil. Serta menekankan pentingnya pemahaman bahwa bisnis harus dijalankan dengan landasan etika yang kuat. “Kapitalisme yang lahir dengan prinsip agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah bagi umat,” ujarnya. Di sisi lain, pembinaan birokrasi Muhammadiyah juga menjadi fokus penting. Untuk merespons dinamika zaman yang terus berubah, organisasi ini menyadari bahwa birokrasi yang kaku tidak lagi efektif. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk membangun sistem yang lebih fleksibel dan inklusif, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, serta mendukung keberlangsungan bisnis dan usaha yang dijalankan. Salah satu inovasi menarik adalah dalam hal kepemilikan bisnis. Muhammadiyah menyadari bahwa bisnis yang sukses tidak hanya dapat dimiliki oleh pengurus organisasi, tetapi juga bisa dibagi dengan warga Muhammadiyah atau mitra yang terlibat. Hal ini membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam ekonomi, tidak hanya dalam skala individu tetapi juga secara kolektif. Ini adalah salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa bisnis Muhammadiyah dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Peluang lebih besar hadir dalam dunia ritel, yang diharapkan menjadi tempat distribusi utama produk-produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan adanya outlet ritel, produk dari UMKM warga Muhammadiyah dapat lebih mudah diakses, memberikan peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal. Tentunya, produk yang dijual harus memenuhi standar kelayakan, baik dari segi kualitas maupun kemasan. Jika ada produk yang belum memenuhi standar, outlet memiliki kewajiban untuk membina produk tersebut agar dapat lebih diterima di pasar. “Kemudian kita mengontrol sendiri sirkulasi barang yang ada di Mentari Mart, tanpa ada campur tangan dari pihak manapun dan diatur oleh manajemen Muhammadiyah,” jelasnya. Sebagai contoh, bisnis pada sektor kesehatan yakni infus Suryavena yang diluncurkan oleh Muhammadiyah yang menawarkan produk infus dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk memastikan kesuksesan distribusinya, peta geospasial akan digunakan untuk mengukur kelayakan wilayah yang potensial untuk mendirikan outlet, sehingga mengurangi risiko kebangkrutan. Dalam hal pemberdayaan, Muhammadiyah juga memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMK Muhammadiyah jurusan perniagaan. Mereka akan diberdayakan untuk menjadi tenaga kerja terampil di berbagai bisnis yang didirikan, seperti di outlet Mentari Mart yang akan segera hadir. “Saya mempunyai mimpi bahwa sosial enterprise dapat menjadi prioritas utama dalam ekonomi kita di kemudian hari, setelah BUMN, Swasta, Koperasi, dan Bisnis Sosial,” ujarnya. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Muhammadiyah berupaya untuk menciptakan perekonomian yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan membawa kesejahteraan bagi warganya dan masyarakat luas. Muhammadiyah terus berupaya untuk tidak hanya menjadi organisasi yang besar, tetapi juga menjadi pendorong perubahan sosial dan ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan semangat kapitalisme religius, pembenahan birokrasi, dan pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah bergerak untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, berkeadilan, dan penuh berkah. (nam/wil)
Kapal Garden UMM Tawarkan Nuansa Iftar di Kapal Pesiar

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum spesial yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Bagaimana tidak, di bulan ini bertebaran kebaikan dan keberkahan dilipatgandakan. Untuk itu, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H, Kapal Rooftop Cafe gelar launching menu dengan tema “Rasa Ramadan”. Acara yang dilaksanakan pada 21 Februari lalu tersebut dihadiri oleh para rekan tamu undangan dari berbagai elemen kalangan masyarakat yang berkesempatan juga menikmati hidangan. Uniknya, dibalik pemilihan diksi tema yang fresh, Manager Kapal Garden Hotel by UMM, Teguh Hadi Saputro menjelaskan bahwa ada makna yang terkandung dalam tema makanan itu. Yakni kehangatan, kebersamaan, dan kebahagiaan dibalik berbagai cita rasa menyambut bulan suci Ramadan. “Tujuan utama kami adalah konsep berbuka puasa di kapal. Selain itu, khusus acara ini kami menghadirkan berbagai sajian menu primadona dengan nuansa bak berbuka di deck atas kapal pesiar. Harapannya hal-hal ini nantinya siap menemani waktu berbuka puasa para tamu hotel maupun para pengunjung,” ungkapnya Dibandingkan hanya memilih satu tema sajian menu, Teguh menyebut pelayanan mereka tetap menonjolkan ciri khas Kapal Rooftop dengan variasi menu Nusantara, Chinese, Timur Tengah, dan Western. Mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Di antaranya rendang, gado-gado, nasi kebuli, puding, kolak, dan masih banyak lagi. Menariknya, penawaran tersebut bisa dinikmati oleh semua kalangan dengan range budget yang bervariatif dari low hingga high budget. Sajian-sajian menu dan pengalaman ini tentunya hanya bisa dinikmati di Kapal Garden Hotel dan Café. “Selalu ada penawaran eksklusif untuk momen spesial. Untuk itu, kami sediakan pilihan berbagai paket yaitu, ala carte, paket grup, dan buffet. Paket grup Rasa Berlima start from 150.000 untuk 5 orang. Kemudian, promo buffet early bird start harga mulai 65.000/pax dengan estimasi reservasi sampai 10 Maret 2025. Serta, regular buffet start from 75.000 minimal pemesanan 20 pax. Kami sangat berharap masakan dan experience berbuka puasa di Kapal Rooftop Cafe bisa dinikmati oleh semua kalangan,” jelas Chef Kusmawardi. Zafira Auzia Najwa sebagai pengunjung mengaku sangat menikmati bersantap menu Rasa Ramadhan di Kapal Rooftop Cafe. Selain menu yang disajikan fresh, di sana ia bisa menikmati view semi alam yang khas, serta interior dan pelayanan yang memorable layaknya sebagai penumpang kapal pesiar. Di samping itu, ia menyebut rasa masakan nusantara yang dibuat tim Kapal juga lezat dan authentic. Menurutnya, pelayanan yang memuaskan didukung juga dengan kebersihan tempat dan makanan yang sangat baik cocok untuk event berbuka bersama teman-teman dan keluarga. (din/wil)
Workshop Menyusun dan Mempublikasikan Artikel Jurnal Ilmiah Bereputasi Menggunakan AI

Malang, Desember 2024 – Program Studi Magister Pedagogi Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan Workshop bertema “Menyusun dan Mempublikasikan Artikel Jurnal Ilmiah Bereputasi Menggunakan AI (Artificial Intelligence)”. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 23 Desember 2024 di Aula GKB 4 Lantai 9, dengan menghadirkan Pakar di bidang AI dan publikasi ilmiah, Dosen UMM dengan H-Indek sinta 12, Ahmad Fauzi, M.Pd. Acara ini diikuti oleh para dosen, mahasiswa pascasarjana prodi Pedagogi, tujuan utama dari workshop ini adalah memberikan wawasan dan keterampilan praktis dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi dalam proses penyusunan, pengeditan, hingga publikasi artikel di jurnal bereputasi. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Magister Pedagogi Pascasarjana UMM, Dr. Agus Tinus, M.Pd. menyampaikan bahwa salah satu skill atau ketrampilan yg hrs dikuasai pada abad 21 oleh siapapun terlebih sebagai pendidik dan mahasiswa pasca, “penggunaan AI dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, menjadi penopang untuk memperkaya bahan ajar, dan memperluas jangkauan dalam mengikuti perkembangan terkini. Jangan sampai siswanya yang lebih dahulu tahu tentang AI dari pada gurunya. Sedangkan sebagai mahasiswa pasca dapat membantu memperkaya referensi dalam penelitian, membantu meningkatkan kualitas artikel sehingga lebih siap diterima jurnal-jurnal bereputasi nasional maupun internasional,” ujarnya. Workshop ini meliputi sesi materi dan praktik, termasuk: Teknik Menulis Efektif Menggunakan AI: Membahas cara menggunakan aplikasi seperti ChatGPT, Typeset, Scite, Braintex, DeepL, Publish or Perish, dan perangkat lunak lainnya untuk menyusun dan mengedit tulisan ilmiah. Pengelolaan Referensi dan Sitasi Otomatis: Menggunakan aplikasi seperti Mendeley dan Zotero dengan integrasi AI untuk pengelolaan referensi yang lebih baik. Strategi Publikasi di Jurnal Bereputasi: Tips dan trik memilih jurnal yang sesuai, mempersiapkan manuskrip sesuai standar, serta menghindari plagiarisme dengan bantuan AI. Peserta terlihat antusias selama kegiatan berlangsung. Salah satu peserta, mahasiswa magister Pedagogi, menyatakan bahwa workshop ini sangat relevan untuk menunjang kebutuhan akademiknya. “Saya sangat terbantu dengan penjelasan tentang penggunaan AI. Sekarang, proses menulis menjadi lebih terstruktur dan efisien,” tuturnya. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana peserta dapat berdiskusi langsung dengan narasumber terkait tantangan dan solusi dalam proses publikasi. kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengintegrasikan teknologi dalam dunia pendidikan dan penelitian, khususnya pada mahasiswa program pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. (ripto)
Presentasi Diri Anggota DPRD Dalam Fungsi Pengawasan Tentang Kebijakan Pemerintah Kota Bengkulu

TIMESINDONESIA, MALANG – Dewan Perwakilan Rakyat adalah salah satu Lembaga yang dipilih langsung oleh rakyat yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengawal bergagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah yang sesuai dengan peraturan dalam undang undang, DPRD merupakan lembaga pemerintah yang berkedudukan di daerah. DPRD memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa DPRD bertugas melakukan pengawasan dari pelaksanaan peraturan daerah kabupaten/kota. Perwal No. 37 tahun 2019 tentang Kebijakan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga. Batasan penelitian pada Anggota dewan Komisi II DPRD Kota Bengkulu memiliki kewenangan dalam menjalankan fungsi pengawasan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui, memahami dan menjelaskan presentasi diri anggota DPRD kota Bengkulu dalam area formal (front stage) dan informal (backstage) terkait dengan Perwal No. 37 tahun 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif yang akan memberikan hasil penelitian berbentuk deskripsi berupa penjelasan bukan angka. Teori yang digunakan adalah teori dramaturgi dimana kehidupan merupakan panggung sandiwara yang dapat dibedakan menjadi area formal (front stage) dan area informal (back stage). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik triangulasi oleh Miles dan Huberman yang meliputi 3 proses diantaranya reduksi data, penyajian data, dan penyusunan kesimpulan. Dari penelitian ini diperoleh hasil dramaturgi fungsi pengawasan anggota komisi II DPRD Kota Bengkulu terkait Perwal No. 37 tahun 2019 meliputi area formal (front stage) menampilkan sisi baik dimana para anggota komisi memberikan dukungan dan bantuan, dan respon yang baik, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Sedangkan area informal (back stage) memberikan fakta bahwa anggota komisi II mengalami berbagai kendala dan kesulitan namun, anggota komisi II DPRD Kota Bengkulu terus mengupayakan semaksimal mungkin dalam menjalankan fungsi pengawasan dengan melakukan monitoring, evaluasi dan rapat dengar pendapat (RDP) sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan fungsi pengawasan dengan penuh rasa tanggung jawab atas kepercayaan lembaga perwakilan masyarakat. Selain itu juga secara umum diperoleh hasil temuan bahwa adanya perbedaan presentasi diri dalam area formal (front stage) dan area informal (backstage) anggota komisi II DPRD kota Bengkulu yang meliputi gaya berbicara, gaya berpenampilan, gesture, maupun dalam penggunaan media sosial. Dari hasil penelitian setiap aktor politik dapat mengubah identitasnya sesuai dengan tujuannya masing-masing. Hasil analisis wawancara menyimpulkan bahwa aktor politik ingin menunjukkan sisi terbaiknya kepada masyarakat hal inilah yang menyebabkan adanya perubahan identitas, meski tidak seutuhnya. Artinya ada beberapa identitas yang tidak ditunjukkan atau sementara dihilangkan ketika sang aktor ada diatas area formal (front stage). Penampilan seseorang digunakan untuk mempertajam bentuk kepribadiannya, perwakilan dari totalitasnya karakter seorang individu. Goffman memahami bahwa karakter sang aktor bukan sepenuhnya sebagai milik aktor tersebut secara individu namun sebagai produk interaksi dramatis antara aktor dengan audiens (Sulaiman, 2021). Oleh karena itu pada dasarnya segala sikap dan perilaku yang ditampilkan oleh aktor dalam area formal adalah sebuah interaksi simbolik yang sudah diatur sebelumnya agar masayarakat memberikan respon yang diinginkan oleh aktor. Terkait dengan DPRD, kita tahu bahwa DPRD merupakan lembaga pemerintah perwakilan di daerah yang memiliki berbagai tugas dan fungsi. Salah satunya fungsi pengawasan. DPRD memiliki hak dan wewenang dalam mengawasi kebijakan pemerintah daerah termasuk peraturan daerah yang salah satunya perwal No. 37 tahun 2019 yakni tentang penanganan sampah rumah tangga, Apakah kebijakan-kebijakan yang ada berjalan sesuai dengan prosedur atau tidak, apakah kebijakan yang saat ini dapat kembali diterapkan pada tahun berikutnya, apakah kebijakan yang diambil efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah hal mendasar yang dapat dijadikan tolok ukur capaian fungsi pengawasan oleh DPRD Kota Bengkulu. Dari hasil wawancara diketahui bahwa anggota komisi II DPRD kota Bengkulu menyatakan telah melaksanakan tugas dengan baik dengan selalu melakukan monitoring, evaluasi dan rapat dengar pendapat dalam menjalankan fungsi pengawasan dari peraturan kebijakan pemerintah kota. Perda yang dimaksud adalah Perwal No. 37 tahun 2019 tentang Kebijakan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga. Namun, peneliti menemukan fakta dilapangan bahwa sampah merupakan masalah yang masih menjadi perhatian di kota Bengkulu bahkan sampai akhir desember 2023. Berdasarkan data yang didapatkan dilapangan dan kesaksian dari Dinas Lingkungan Hidup sampah di kota Bengkulu mencapai 400 ton perhari. Mengutip dari artikel antaranews.com Gubernur Bengkulu memberikan tugas kepada Walikota Bengkulu untuk fokus masalah sampah. Untuk diketahui sampah di kota Bengkulu untuk saat ini mencapai 400 ton perhari. Sedangkan TPA yang tersedia seluas 6,8 Hektar kemungkinan sudah tidak dapat menampung sampah selama satu atau dua tahun kedepan. Selain itu penumpukan-penumpukan sampah dibeberapa sudut dan area wisata juga menjadi keresahan dan mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan. Untuk menangani ini sementara pemerintah kota Bengkulu melayani pengangkutan sampah dari TPS ke TPA setiap hari. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh subjek penelitian pada wawancara sebelumnya bahwa DPRD kota Bengkulu bersama pemerintah kota Bengkulu selalu mengupayakan solusi terbaik untuk mengatasi masalah sampah di kota Bengkulu. Salah satunya mengutip antaranews.com pemerintah kota Bengkulu ingin mengelola sampah menjadi bahan bakar seperti pertalite, biosolar dan lainnya dengan bantuan alat canggih. Terkait hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu mengusulkan alokasi dana 5 miliar pada APBD 2024 untuk pengelolaan sampah. Anggaran ini akan digunakan untuk menambah luas lahan TPA sebanyak 4 Hektar guna sebagai rencana pembangunan pabrik pengelolaan WWP (Wast Management Project) yang dikelola oleh Swiss Green Projects (SGP) yaitu sebuah organisasi NGO. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dramaturgi fungsi pengawasan anggota komisi II DPRD Kota Bengkulu terhadap Perwal No. 37 tahun 2019 meliputi area formal (front stage) menampilkan sisi baik dimana para anggota komisi memberikan dukungan dan bantuan, dan respon yang baik, baik secara langsung maupun dimedia sosial. Sedangkan dalam area informal (back stage) memberikan fakta bahwa anggota komisi II mengalami berbagai kendala dan kesulitan diantaranya seringkali terjadi dalam pelaksanaan kebijakan adanya kekurangan dari keterbukaan data dan informasi yang disediakan oleh pemerintah kota, proses birokrasi yang tidak sesuai prosedur dan terkesan berbelit belit serta kurangnya koordinasi antara anggota dewan dan pemerintah kota yang mendasari proses komunikasi berlangsung kurang efektif. Namun anggota komisi II DPRD Kota Bengkulu terus mengupayakan semaksimal mungkin dalam menjalankan fungsi pengawasan dengan melakukan monitoring, evaluasi dan rapat dengar pendapat (RDP) sebagai salah satu bentuk komitmen untuk menjalankan fungsi pengawasan dengan penuh rasa tanggung jawab atas kepercayaan lembaga perwakilan masyarakat.Pada dasarnya interaksi
Kolaborasi Strategis: Penandatanganan MoA Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Makassar

Tujuan Kerjasama Meningkatkan Partisipasi dosen dalam kekgiatan akademik yang diselenggarakan oleh DPPs UMM Meningkatkan partisipasi dosen dalam pertukaran dosen antar Perguruan Tinggi yang di koordinasikan oleh DPPs UMM Mengembangkan kerjasama dalam Kegiatan Penelitian dan Publikasi Ilmiah Mengembangkan kegiatan akademik lain yang mendukung pengembangan kegiatan akademik peserta. Ruang Lingkup Kuliah Kepakaran antar Perguruan Tinggi Workshop kegiatan penelitian interdisipliner, multidisipliner dan trandisipliner Publikasi Ilmiah Konferensi Nasional/Internasional.
Implementasi Metode Baca Dalam Pembelajaran Qiraat Sab’ah

Ilmu qiraat adalah salah satu bidang keilmuan yang perlu diperdalam untuk mempelajari Al-Qur’an. Uṯman bin Affan mendorong untuk menyusun Al-Qur’an dalam satu mushaf karena adanya perbedaan pendapat para sahabat dalam qirā’āt. Ia menekankan bahwa pengetahuan ini sudah mulai berkembang sebelum menyatukan umat Islam pada satu mushaf. Perkembangan metode pengajaran dan pembelajaran qirā’āt dapat dilihat melalui perkembangan buku literasi yang disusun dalam ilmu qirā’āt. Salah satu qira’at yang penting dalam mempelajari Al-Qur’an adalah Ilmu qirā’āt sab‘ah. Fenomena yang ada adalah kemampuan umat Islam atau santri dalam mempelajari qirā’āt sangat lemah. Salah satu buktinya adalah tidak banyak orang yang menguasai qirā’āt sab‘ah. Hal ini dikarenakan metode yang tidak efisien dan efektif sehingga membuat orang cepat bosan. Selain itu, mempelajari Qirā’āt membutuhkan waktu yang lama. Qirā’āt adalah suatu ilmu yang dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana cara mengucapkan kata-kata dalam Al-Qur’an dan bagaimana cara memenuhinya apakah itu ittifaq (sepakat) atau Ikhtilaf (berselisihan) dan berdasandarkan kepada para perawi Al-Qur’an. Qirā’āt ini penting karena narasi yang kuat tentang cara membaca Al-Qur’an. Selama ini banyak pelajar qirā’āt yang belajar secara biasa saja tidak berkualitas, menjadi sulit dan membuang-buang waktu dalam mempelajarinya. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka pembaca qirā’āt sab‘ah akan hilang. Melihat akan hal tersebut membuat Othman Bin Hamzah, salah satu mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mengkaji seperti apa implementasi pembelajaran qira’at dalam sebuah penelitian disertasi. Penelitian yang bertujuan untuk mengkaji bagaimana mengkaji implementasi, hasil, serta seberapa efektif pembelajaran Qira’at yang berfokus ke Qira’at Sab’ah ini dilakukan di Ma’had Tahfiz Ismail (MTI) yang merupakan salah satu Lembaga pembelajaran Al-Qur’an yang menggunakan metode tersendiri dalam mempelajari Qirā’āt yang disebut BACA (Belajar Ilmu Qira’at secara Amali) yang berlokasi ada di Kuala Lumpur, Malaysia. Metode BACA ini digunakan untuk belajar qirā’āt karena beberapa hal. Pertama, metode ini dapat memudahkan siswa dalam mempelajari Qirā’āt dengan senang. Kedua, metode ini merupakan metode latihan tanpa matan. Ketiga, berdasarkan data dari siswa MTI dapat dilihat qārī’ keluaran MTI dapat membaca qirā’āt. Ilmu qirā’āt merupakan mata pelajaran yang dipelajari di lembaga-lembaga tahfiz Al-Qur’an tertentu di Malaysia. Mata pelajaran qirā’āt menjadi sebuah kesatuan integral dari kurikulum tahfiz Al-Qur’an, khususnya di lembaga-lembaga tahfiz yang tersebar di berbagai daerah di Malaysia. Akhir-akhir ini tahfiz Al-Qur’an menjadi perhatian utama di Malaysia. Mata pelajaran tahfiz sudah masuk dalam ujian tingkat menengah Sertifikat Pelajaran Malaysia Melalui beberapa pendekatan ke guru-guru MTI yang sudah dilakukan serta data yang didapat, Othman menemukan bahwa Implementasi metode “BACA” dapat meningkatkan penguasaan pembelajaran Qirā’āt Sab’ah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis akan soal-soal sebanyak 53 soal yang diberikan kepada siswa dalam penelitian tersebut yang meningkat dalam pembelajaran Qira’at. Analisis deskreptif kompetensi siswa secara keseluruhan, tahap Kompetensi siswa, analisis deskriptif pada tahap ini meliputi mean sebesar 3,8 dengan standar deviasi 0,67 yang diertikan sebagai Tinggi. Dan dari deskriptif statistik antara penguasaan soal qirā’āt dengan kompetensi disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara penguasaan soal Qirā’āt Sab’ah dengan kompetensi siswa setelah dipraktekkan metode “BACA”. Sementara dari deskriptif statistik penguasaan soal qirā’āt, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan soal qirā’āt dengan inat dan Sikap Siswa setelah dipraktekkan metode “BACA” Dari sisi efektifitas didapati bahwa dari 53 soal yang diberikan kepada 27 siswa yang menggunakan metode “BACA” untuk menilai penguasaan Qirā’āt Sab’ah nya. Mean keseluruhan ketuntasan qirā’āt siswa pada tingkat Sangat Tinggi adalah 4,46 dengan standar deviasi 0,3. Begitu pula ketika deskriptif dibuat menurut bab, kebanyakan meannya Sangat Tinggi. Dan Dari deskriptif statistik antara penguasaan soal Qirā’āt Sab’ah dengan keefektivitas disimpulkan bahwa ada signifikan antara penguasaan soal Qirā’āt Sab’ah dengan keefektivitas setelah dipraktekkan metode “BACA”. Adapun Othman menyatakan proposisi sebagai berikut “Apabila metode “BACA” diperaktikkan dengan baik dan benar dalam pembelajaran Qirā’āt Sab’ah dapat meningkatkan kompentensi siswa dan menjadi metode efektif.” Ujarnya. Tak hanya meneliti, Othman pun berharap kepada beberapa pihak seperti peneliti berikutnya agar dapat melakukan penelitian di semua ma’had dengan subjeck penelitian Qira’at demi kemajuan pembelajaran Qira’at. Selain itu ia juga memberikan saran dimana perlunya pembelajaran dua arah diterapkan untuk mendorong keaktifan siswa-siswa, atau siswa-ke-dosen, keterlibatan dalam kuis dan diskusi. Pembelajaran dan pengajaran harus berpusat pada siswa sehingga mereka terlibat aktif dalam membaca dan menyampaikan qiraat.
Edukasi Moderasi Beragama Bagi Para Mantan Narapidana Teroris

Secara teoritik karakter Islam adalah rahmatan lil-alamin dan universal. Ajaran yang mengedepankan perdamaian, keramahan, dan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memeluknya. Kebebasan menafsirkan ajaran-ajaran Islam sepanjang memenuhi persyaratan dengan menggunakan kaidah-kaidah fiqhiyah diperbolehkan untuk kebaikan dan tujuan serta maksud Islam itu sendiri. Kenyataanya di kalangan masyarakat terdapat penafsian ajaran Islam sangat fundamental dan radikal yang mengudang kontroversi di kalangan umum “Islam mainstream”. Penafsiran itu menjurus kepada gerakan-gerakan teroris yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Mereka ini disebut kelompok Islam fundamentalis. Dari fenomena tersebut muncul “radikalisme” dan dalam situasi tertentu melahirkan “terorisme”. Fenomena Teroris kembali ke Islam moderat dan meninggalkan kelompoknya (disengagement) setelah ditangkap banyak terjadi dinama-nama. Untuk memberdayakan mantan narapidana teroris adalah dilakukan melalui edukasi moderasi Islam. Seperti yang dilakukan oleh “Yayasan Lingkar Perdamaian” (YLP) yang berusaha menyadarkan para mantan nara pidana teroris (napiter). Melalui Yayasan tersebut, Ali Fauzi yang merupakan mahasiswa Progam Studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat fenomena tersebut menjadi sebuat penelitian disertasi. Penelitian yang terfokus pada individu yang telah mengalami, menyelami, memahami, dan yang melakakun pengalaman para napiter ini bertujuan untuk melihat seperti apa para napiter memahami dan memaknai edukasi akan moderasi beragama yang ada di Yayasan Lingkar Perdamaian. Melalui penelitiannya Ali menjelaskan bahwa ia menemunkan temuan berupa pengalaman dalam hidup para napiter yang tidak pernah didapat sejak lahir dalam bentuk kekejaman yang luar biasa karena telah membunuh orang yang tidak bersalah. Pemahaman Islam pada teks yang tidak sesuai dengan konteks Indonesia telah menenggelamkan Muslim kedalam gerakan radikal fundamental yang ujung-ujungnya yaitu terorisme. Para mantan teroris telah sadar dan menyadari kesalahan mereka melakukan tindakan yang merugikan pihak lain dan kekerasan yang menimbulkan ketakutan semua pihak dan mereka sepakat mengakhirinya. Karena kedangkalan cara dalam berislam, kurang mempunyai pengalaman dalam Islam, tingkat intelektual rendah sehingga mudah dipengaruhi orang atau ustadz yang tidak sabar melihat realita kondisi Islam di Indonesia, karena itu melakukan kekerasan dan menggunakan murid atau santri yang belum memiliki pengalaman berislam secara luas. Temuan lainnya terkait moderasi beragama membuat mereka membuka pikiran dan sadar akan hak-hak orang lain berbeda pemahaman dan agama mendapatkan hak yang sama di Indonesia. Pemaknaan Islam secara moderat dan humanis menenangkan batin bagi kehidupan mantan narapidana. Mereka merasa ada harapan hidup dan bertaubat dari apa yang diperbuat selama itu dikarenakan memahami Islam secara tidak benar. Dengan edukasi moderasi beragama, mereka memutus hubungan ideologi dengan teman-teman sesama teroris (disengagement) dan menjauhkan diri dari komunikasi dengan mereka. Yayasan Lingkar Perdamaian sebagai wadah bagi para napiter dilihat Ali telah sesuai dengan harapan dan permintaan napiter. Mereka merasa bertambah pengetahuannya tentang Islam. Telah terbukanya cakrawala pemikiran yang luas tentang Islam baik masalah-masalah internal maupun eksternal dan bagaimana menyikapinya. Mereka merasa aman, fisik dan batinnya karena disamping aparat keamanan mendampingi mereka juga para ustadz, intelektual, dan psikolog mendorong mereka untuk orang yang normal dan bijak di segala bidang. Ali menerangkan juga bahwa edukasi moderasi beragama bagi para mantan teroris terasa manfaatnya baik sebagai individu maupun kelompok, terutama bagi mereka yang rata-rata memiliki paham Islam ekstrim atau Islam yang tradisional. Dengan edukasi moderasi beragama mereka bisa memutus hubungan ideologi dengan teman-teman sesama teroris (disengagement) dan menjauhkan diri dari komunikasi dengan mereka. Terdapat dua proposisi yang ditemukan ali dalam penelitian ini diantaranya adalah jika program-program edukasi moderasi beragama mencapai sasaran dan mampu merubah mindset maka para mantan napiter merasakan manfaat dan makna kebersamaan hidup beragama secara moderat. prinsip dalam kehidupan mereka serta bersedia menerima pemahaman Islam moderat. pelepasan diri (disengagement). Proposisi kedua adalah jika edukasi beragama menggunakan cara penyembuhan dan metode yang tepat, maka mantan napiter akan merasakan perbedaan pemahaman Islam moderat dan terdorong melakukan pelepasan (disengagement), yang sempurna. Ada setitik harapan yang disematkan oleh Ali kepada para mantan napiter agar hendaknya sadar dan melepaskan diri dari komonitas teroris dan Kembali ke jalan yang lurus. Tak lupa ia menyampaikan harapannya kepada semua pihak untuk dapat mendukung Yayasan Lingkar Pendidikan dalam upayanya memperbaiki dan menangani radikalisme.
Kesadaran Subjek Radikal dan Subjek Terberi dalam Ruang Sosial dan Ruang Material Desa Wisata

TIMESINDONESIA, MALANG – Kebijakan tentang Desa wisata berimplikasi pada bergesernya fungsi ruang menjadi lebih mengedepankan fungsi material. Kalkulasi menjadi arena baru dalam ritme interaksi. Hal tersebut terekam juga di Pasar Bunga Sekar Mulyo, Desa Sidomulyo, Kota Batu. Setiap sudut ruang adalah etalase kalkulasi. Bunga sebagai potensi utama pertanian, menjadi penanda ekonomi. Sekitar 500 meter menuju Pasar Bunga Sekar Mulyo, dari arah jalan besar, adalah etalase tentang ekonomi. Kondisi tersebut menunjukkan mulai bergeraknya ekonomi sebagai kompleksitas kelembagaan ekonomi. Frasa ini bermuara pada ekonomi adalah arena kalkulasi yang mulai menyeruak dalam ikatan paguyuban masyarakatnya. David Harvey menyintesa sebagai time space compression, dimana ruang dan waktu dimampatkan dalam satu titik kemampatan yaitu untung rugi. Etalase ruang yang pongah dalam penanda material menjadi wajah bagi sebagian besar ruang yang ada di Desa Sidomulyo. Menurut Pierre Bourdieu, ruang adalah “field of struggle”, tempat dimana segala sesuatu diperebutkan untuk kepentingan ekonomi. Perubahan ruang dari ruang sosial menjadi ruang material berimplikasi pada mulai terkikisnya homogenitas masyarakat, padahal penciri utama dari ikatan ini adalah identitas bersama sebagai basis bertindak masyarakat. Aroma kalkulasi menggeser “Yang Sosial” menjadi “Yang Individual”. Frasa ini menempatkan hasrat sebagai basis bertindak individu. Dalam hasrat, keinginan meng-eliminir pernyataan sosial individu. Pada akhirnya kelompok sosial mengalami proses segregasi menjadi penguatan individu. Mulai muncul individu sebagai basis struktur. Dalam kontek ini, terjadi penguatan nilai-nilai diri dan mulai melemahnya nilai-nilai kelompok. Dalam kacamata sosiologis, diri adalah manifestasi hasrat, sebagai “Yang Material”, kelompok adalah manifestasi sosial yang mempercakapkan individu dalam khasanah “Yang sosial”. Masyarakat sederhana tidak sepenuhnya terjebak dalam bineritas ruang, sebagai “yang Sosial” dan “Yang Material”. Pengalaman masa lalu sebagai tindakan kolektif adalah struktur sosial yang melekat, dan mampu memberi batas bagaimana memahami tindakan dalam dinamisasi masyarakat dan pada akhirnya melakukan tindakan sosial. Karl Polanyi menyintesa sebagai embeddedness atau keterlakatan akan nilai-nilai masa lalu sebagai cara merefleksikan tindakan sekarang. Masa lalu dalam konteks masyarakat sederhana adalah alam sebagai salah satu cermin yang disimbolisasikan sebagai “Yang Transendental”, pun pada saat sekarang. Alam adalah manifestasi tentang perlindungan, keberkahan dan kesejahteraan. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut masih terefleksikan dalam tindakan keseharian masyarakat. Disinilah manusia tidak tercerabut sepenuhnya sebagai manusia dalam arena material, tetapi tetap memberi ruang bagi “Yang Transendental” sebagai arena refleksi”. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Kata kunci fenomenologi adalah pengalaman sehari-hari subjek penelitian, sehingga otoritas pengetahuan ada pada subjek tersebut. Oleh karena itu, dalam analisisnya, peneliti harus mampu membangun kedekatan secara personal sehingga mampu terikat dalam kedekatan subjektif dengan subjek penelitian. Kesungguhan adalah bagian penting dari proses untuk merasakan subjektifitas dari subjek penelitian. Max Weber menyebut sebagai interpretetif understanding. Frasa ini menyatakan bahwa kedalaman adalah bagian penting dalam mencari sisi-sisi autentik dari subjek. Alfred Schutz menyatakan bahwa peneliti harus ada dalam ruang epoche, maksudnya mengurung dalam tindakan individual maupun sosial dari subjek. Harapan akhirnya agar mampu menyerap pengalaman sehari-hari subjek. Dari sinilah, peneliti diharapkan mampu memahami motif dari subjek, baik sebagai because of motive (motif sebab) maupun in order to motive (motif tujuan). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kesadaran subjek dari Slavoj Zizek. Menurut Zizek, kesadaran subjek ada dua yaitu kesadaran subjek radikal dan kesadaran subjek terberi (Zizek, 2008). Subjek radikal adalah subjek yang mampu melampaui dan menghancurkan tatanan simbolik. Subjek menjadi “The Real” yang mampu menyadari potensi diri dan digunakan untuk menghancurkan apapun yang menghalangi tindakan individual subjek. Subjek adalah otoritatif, dia ada dan hadir untuk menemukan diri melalui penidakan terhadap apapun yang bersifat simbolik. Sebab “Yang Simbolik” adalah tatanan sosial yang hanya menghancurkan keberadaan diri. Disinilah diri mencoba untuk hadir sebagai “Sang Manifestatif”. Keseluruhan adalah diri, dan diri adalah keseluruhan. Tidak ada “Yang Sosial” apalagi “orang lain”. Sementara kesadaran subjek terberi adalah kesadaran subjek yang dikendalikan oleh “Yang Simbolik”. Kesadaran hilang dalam ketidakmampuan subjek mengenali diri. Subjek selalu terbentur oleh kuasa sosialisasi, dimana simbol-simbol sosialisasi terutama dalam masyarakat industri hanya mengedepankan simbol-simbol fisik. Simbol yang manifestasinya adalah hasrat. Hasrat adalah tentang tubuh dan menghancurkan jiwa. Disinilah, kesadaran subjek terberi kehilangan sisi autentik manusia, yaitu humanis. Penelitian ini juga menggunakan teori “time space compression” dari David Harvey (Harvey, 2001). Gagasan utamanya ruang adalah hasil objektivasi penguasa ruang, dimana pengendali utamanya adalah kaum kapitalis. Sebagai hasil objektivasi, sejatinya ruang adalah subjektif milik “Sang Pengendali”. Melalui kemampuan mengendalikan secara “hegemoni”, pada akhirnya subjektif menjadi “realitas yang objektif”. Dalam objektivasi, keseluruhan ruang adalah manifestasi tentang “Yang Material”. Waktu dalam ruang adalah perburuan hasrat. Hasrat sebagai “Yang Objektif” pada akhirnya tidak pernah menyisakan ruang untuk sisi paling autentik mdari manusia, yaitu humanis. Teori ketiga yang digunakan adalah teori the mirror stage dari Jacques Lacan (Lacan, 1999). Manusia tidak pernah mampu menemukan diri, sebab dalam masyarakat industri, manusia selalu terbentur dalam sosialisasi “Yang Simbolik” sebagai penanda hasrat. “Yang Simbolik” sebagai realitas yang sudah terbahasakan cenderung dikendalikan oleh bahasa industri, sehingga dari fase cermin, yang simbolik sampai yang riil, manusia selalu direkam oleh bahasa sebagai manifestasi simbolik hasrat industri. Pada akhirnya, manusia tidak pernah sampai pada “Yang Riil” sebab selalu terjebak dalam hegemoni cermin “Yang Simbolik”. Titik temu dari teori Slavoj Zizek tentang kesadaran subjek, teori David Harvey tentang time space compression dan teori Jacques Lacan tentang the mirror stage adalah kendali industri yang menitikberatkan pada hasrat sebagai cara menghancurkan sisi paling orisinil manusia yaitu “human”. Human kehilangan ruang untuk mempercakapkan dirinya, diri hilang dalam ketidaksadaran mengenali, berubah menjadi subjek terberi (sintesa Zizek), diri hilang dalam objektivasi ruang material sebagai akibat dari time space compression (sintesa Harvey), dan diri hilang dalam ilusi cermin sebagai ketidakmampuan diri melampaui “Yang Simbolik” karena hancur dalam kendali dan hegemoni sosialisasi “yang Simbolik” (sintesa Lacan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang bunga di Pasar Bunga Sekar Mulyo, Desa Sidomulyo, tidak sepenuhnya ada dalam kesadaran subjek radikal dan kesadaran subjek terberi. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari sifat masyarakat masyarakat homogen yang masih mengikatkan diri dengan alam untu mempercakapkan tindakan kesehariannya. Ada arena untuk mendialogkan sisi autentik manusia yaitu human. Alam adalah makrokosmos, implikasinya ada kesadaran untuk menyadari, memahami dan meyakini bahwa keseluruhan bukan hanya tentang diri tetapi juga tentang “Yang Menciptakan” manusia. Kesadaran makrokosmos memberi ruang singgah kepada manusia untuk