Konstruksi Sosial Perempuan Atas Penanggulangan Stunting Di Kelurahan Durian Depun Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang

TIMESINDONESIA, MALANG – Buku ini merupakan hasil dari penelitian yang bertujuan untuk memahami konstruksi sosial perempuan dalam penanggulangan stunting di Kelurahan Durian Depun, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, buku ini memaparkan temuan-temuan yang diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan sembilan ibu yang memiliki anak stunting, serta berbagai informan lainnya, yaitu tim percepatan penanggulangan stunting, Bidan Kelurahan, Ahli Gizi, suami, keluarga, dan anak-anak yang terdampak stunting. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan yang dimiliki perempuan dan praktik yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun perempuan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pentingnya ASI eksklusif, penerapannya sering terhambat oleh beberapa faktor, yaitu persepsi negatif terhadap efektivitas ASI, kurangnya dukungan keluarga, serta pengaruh tradisi dan mitos lokal. Selain itu, meskipun penyuluhan mengenai pentingnya gizi telah diberikan, perempuan masih menghadapi hambatan besar, seperti ketidakpastian dalam menerima intervensi kesehatan, keterbatasan finansial, dan kebiasaan pola makan yang monoton akibat pengaruh tradisi. Buku ini juga mengungkapkan bahwa dalam konteks pola asuh, banyak perempuan yang lebih memilih pola asuh non-paksaan dan sering kali mengabaikan prinsip-prinsip pengasuhan yang sesuai dengan standar medis. Selain itu, kebersihan anak dan penyediaan lingkungan yang sehat juga menjadi tantangan besar, karena terbatasnya lahan, kebiasaan buruk dalam kebersihan rumah, dan faktor ekonomi. Partisipasi perempuan dalam kegiatan posyandu masih rendah, disebabkan oleh prioritas kegiatan rumah tangga yang lebih mendesak, kurangnya minat terhadap program Keluarga Berencana (KB), serta kelalaian dalam mengikuti jadwal imunisasi. Temuan-temuan penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Berger. Teori ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi pengetahuan medis yang diterima perempuan di Desa Durian Depun berinteraksi dengan struktur sosial yang lebih besar, seperti norma budaya, tradisi keluarga, dan kondisi sosial-ekonomi yang ada. Dialektika Berger mengungkapkan bahwa perubahan sosial tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh hubungan dialektis antara pengetahuan baru yang diterima dan kebiasaan lama yang lebih dominan dalam masyarakat. Ketegangan muncul antara pengetahuan medis yang didapatkan melalui penyuluhan kesehatan dan norma budaya yang kuat, seperti kebiasaan memberikan madu pada bayi. Asimetri dalam akses terhadap informasi dan dukungan sosial semakin memperburuk situasi ini, di mana perempuan dengan status sosial-ekonomi rendah lebih terbatas dalam menerapkan pengetahuan medis karena hambatan sosial-ekonomi dan kurangnya dukungan keluarga. Proses internalisasi pengetahuan medis juga tidak berjalan mulus. Perempuan dengan akses lebih besar terhadap pendidikan dan dukungan keluarga lebih mampu mengaplikasikan pengetahuan yang diterima, sementara perempuan dengan keterbatasan sosial-ekonomi menghadapi kesulitan dalam perubahan perilaku. Ketegangan antara pengetahuan medis dan realitas sosial-ekonomi ini menciptakan ketidaksetaraan dalam penerapan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan perubahan yang lebih komprehensif, yang tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan medis, tetapi juga dengan mengubah struktur sosial yang lebih luas dan meningkatkan dukungan keluarga serta akses terhadap sumber daya ekonomi. Berdasarkan temuan yang ada, buku ini menemukan empat proposisi utama dalam proses konstruksi sosial perempuan terhadap penanggulangan stunting. Pertama, proses eksternalisasi perempuan terhadap realitas objektif tentang stunting dipengaruhi oleh realitas subjektif mereka, dukungan keluarga, dan pengaruh tradisi serta mitos lokal. Kedua, pemikiran kritis perempuan mengenai gizi anak menjadi sumber daya sosial dalam proses objektivasi yang membentuk jaringan interaksi sosial yang mempengaruhi penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, dinamika interaksi sosial perempuan dengan lingkungan sosial mereka menghasilkan pemikiran yang akhirnya terinternalisasi, meskipun penerapannya terbatas oleh ketidakpastian, keterbatasan finansial, dan pengaruh tradisi. Keempat, konstruksi sosial perempuan mengenai penanggulangan stunting berkembang secara dialektik melalui tahapan eksternalisasi, objektivasi, internalisasi, sosialisasi, dan re-sosialisasi, seiring dengan berkembangnya pemikiran kritis perempuan dalam menghadapi tantangan sosial-ekonomi dan budaya. Sebagai tindak lanjut dari temuan-temuan ini, penulis memberikan beberapa saran untuk meningkatkan upaya penanggulangan stunting yang lebih efektif. Di antaranya adalah peningkatan edukasi dan penyuluhan mengenai ASI eksklusif, gizi seimbang, serta pola asuh yang sesuai dengan budaya lokal; memperkuat dukungan keluarga, terutama suami dan keluarga besar, dalam praktik penanggulangan stunting; penguatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan kesehatan keluarga; peningkatan akses terhadap gizi berkualitas dengan harga yang terjangkau; serta mendorong kolaborasi antara berbagai stakeholder untuk memastikan upaya penanggulangan stunting dapat dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan. ****) Oleh: Linda Safitra, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi  Universitas Muhammadiyah Malang.

Konstruksi Sosial Mahasiswa Kota Bengkulu atas Information Disorder pada Pemberitaan di Media Sosial

TIMESINDONESIA, MALANG – Penelitian ini secara kajian sosiologis membahas bagaimana mahasiswa di  Kota Bengkulu memahami, merespons, dan membentuk persepsi mereka terhadap fenomena information disorder yang terjadi di media sosial. Information disorder adalah istilah yang mengacu pada penyebaran informasi palsu, menyesatkan, atau tidak akurat, yang semakin marak terjadi di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konstruksi sosial mahasiswa atas information disorder pada pemberitaan tentang pemilihan presiden 2024 di media sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, buku ini memaparkan temuan-temuan yang diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan 15 orang mahasiswa  ilmu komunikasi sebagai subyek. Hasil penelitian yang di dapatkan dalam buku ini menunjukkan tindakan yang tidak sesuai dengan realita yang didapatkan antara pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa dengan praktik yang dilakukan sehari-hari dalam menggunakan media sosial. Meskipun mahasiswa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai information disorder yang didapatkan dari pertemuan ilmiah, lingkungan sosial dan media sosial, realita nya terjadi hambatan dimana mahasiswa masih mempercayai pemberitaan hoaks yang tersebar di media sosial, bahkan mahasiswa tidak hanya menjadi korban tetapi juga menjadi pelaku terhadap penyebaran hoaks. Penelitian mengenai konstruksi sosial mahasiswa kota Bengkulu atas information disorder pada pemberitaan di media sosial menunjukkan adanya beberapa faktor dominan yang berkonstribusi terhadap pengetahuan mahasiswa tentang information disorder pada pemberitaan politik pemilihan presiden tahun 2024 di Indonesia seperti tingkat literasi yang berbeda, perbedaan dalam nilai dan norma di lingkungan sosial dan efektivitas dalam pertemuan ilmiah. Temuan-temuan penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dari pengetahuan yang didapatkan mahasiswa melalui pertemuan ilmiah, lingkungan sosial dan media sosial dalam berinteraksi dengan struktur sosial yang lebih besar, seperti nilai-nilai tradisional pada lingkungan sosial, kebiasaan di lingkungan keluarga, dan tingkat pendidikan. Dialektika Berger mengungkapkan bahwa perubahan sosial tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh hubungan dialektis antara pengetahuan baru yang diterima dan kebiasaan lama yang lebih dominan dalam masyarakat. Ketegangan muncul antara pengetahuan yang didapatkan dari pertemuan ilmiah dan pengetahuan yang didapatkan dari lingkungan sosial keluarga. Seperti masih berlaku sistem patriarki yang menjadikan mahasiswa tidak berani untuk membantah setiap informasi yang diberikan oleh ayah sebagai kepala keluarga meskipun informasi ini tidak berdasarkan fakta yang tepat. Asimetri dalam akses terhadap informasi dan dukungan sosial semakin memperburuk situasi ini, di mana lingkungan sosial mahasiswa yang berasal dari desa dengan status sosial ekonomi rendah lebih terbatas dalam mendapatkan literasi digital dan media. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan penelitian, serta kerangka teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckmann yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan proposisi tentang Konstruksi Sosial Mahasiswa Kota Bengkulu atas information disorder pada pemberitaan di media sosial seperti : 1.    yang pertama proses eksternalisasi mahasiswa atas realitas obyektif yang berupa information disorder pada pemberitaan di media sosial dilatarbelakangi oleh kerangka pikir kritis sebagai hasil atau output dari proses dialektik antara lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan keterlibatan mahasiswa tersebut dalam aktivitas literasi media. 2.    Kedua, kerangka pikir kritis atas information disorder pada media sosial merupakan modal simbolik  dalam proses obyektivasi diri mahasiswa di satu sisi, dengan realitas sosio-kultural di sisi lain, sehingga terbentuk jaringan interaksi intersubyektif mahasiswa dengan lingkungannya. 3.    Ketiga, Kontinuitas interaksi intersubyektif mahasiswa dengan lingkungan sosialnya yang mengangkat atau membawa hasil pemikiran kritis atas information disorder pada pemberitaan di media sosial akan terakumulasi ke dalam proses internalisasi diri mahasiswa. 4.    Keempat, konstruksi sosial mahasiswa atas information disorder pada pemberitaan di media sosial akan terus berlangsung secara dialektik, dinamis, dan terus menerus  melalui momen eksternalisasi, obyektivasi, internalisasi, sosialisasi, dan re-sosialisasi, sehingga hasil konstruksi sosial tersebut bergerak seluas ruang rasionalitas kritis yang dimiliki oleh mahasiswa. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana generasi muda, khususnya mahasiswa di  Kota Bengkulu, berinteraksi dengan informasi di era digital yang penuh tantangan. Berdasarkan temuan penelitian tentang konstruksi sosial mahasiswa Kota Bengkulu terhadap information disorder di media sosial, berikut adalah beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan untuk menghindari dan mengurangi penyebaran informasi yang menyesatkan seperti mengutamakan “saring sebelum sharing”, hal ini dapat membantu mahasiswa dalam menemukan informasi dengan fakta yang tepat dan dapat menjalani tugas mahasiswa sebagai agent of change pada lingkungan sekitar. Pada pertemuan ilmiah melalui forum akademis, dapat dilakukan upaya-upaya seperti mengadakan diskusi berkala tentang literasi media dan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa dengan menghadirkan narasumber ahli yang dapat memberikan pemahaman mendalam tentang fenomena information disorder, membuat pelatihan praktis tentang cara mengidentifikasi dan memeriksa kebenaran informasi yang beredar di media sosial. Pada lingkungan sosial, pengembangan kesadaran dapat dilakukan melalui peran oleh mahasiswa sebagai agen perubahan dalam keluarga, berbagi pengetahuan yang diperoleh dari kampus secara perlahan dan sopan serta mahasiswa dapat mengintegrasikan pengetahuan baru  yang didapat dari perteuan ilmiah dengan nilai-nilai tradisional yang dipegang keluarga. Tantangan utama dalam konteks ini adalah mengubah pola pikir tanpa menimbulkan konflik atau resistansi. Kunci keberhasilannya terletak pada kesabaran, penghormatan terhadap struktur sosial yang ada, dan pendekatan bertahap yang membangun kepercayaan keluarga. Mahasiswa perlu menjadi teladan yang menunjukkan bahwa berpikir kritis tidak berarti melawan tradisi, melainkan cara untuk melindungi dan memberdayakan keluarga di era informasi yang kompleks. Dengan menerapkan pendekatan komprehensif yang melibatkan aspek akademis, sosial, dan digital, diharapkan mahasiswa Kota Bengkulu dapat menjadi agen perubahan dalam mencegah penyebaran informasi yang menyesatkan. ****) Oleh: Mely Eka Karina, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi  Universitas Muhammadiyah Malang.

PRESENTASI DIRI AKTOR POLITIK DI MEDIA SOSIAL

TIMESINDONESIA, MALANG – Pemilu di Indonesia sebagai wujud demokrasi dilaksanakan setiap lima tahun, termasuk pemilihan presiden, gubernur, bupati, dan anggota legislatif. Pemilu 2024 menyoroti strategi politik berbasis media sosial, yang digunakan aktor politik untuk menyebarkan ide, membangun citra positif, dan menjangkau pemilih, terutama generasi milenial dan pemilih pemula. Media sosial seperti Instagram menjadi alat utama karena generasi muda lebih aktif di platform ini dibanding media konvensional. Pemilih pemula memiliki potensi besar dengan jumlah sekitar 14 juta suara. Mereka cenderung mencari informasi politik melalui internet. Aktor politik menggunakan media sosial untuk mengelola citra melalui konten positif berupa foto, video, dan slogan, yang dapat membangun kesan baik di masyarakat. Strategi ini mendukung pencitraan dan menambah simpatisan, meskipun sering kali sulit membedakan antara pencitraan tulus atau sekadar strategi politik. Observasi terhadap akun Instagram dan TikTok milik Walikota Bengkulu serta Gubernur Bengkulu menunjukkan penggunaan simbol, tagline religius, dan konten berorientasi lokal untuk menarik perhatian khalayak. Media sosial memberikan ruang interaksi langsung melalui komentar dan respons khalayak terhadap aktivitas politik yang dipublikasikan. Namun, perbedaan antara “panggung depan” dan “panggung belakang” menunjukkan bahwa citra yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Media sosial berperan penting dalam membentuk opini publik, memengaruhi persepsi pemilih, dan menyebarkan pesan politik, baik positif maupun negatif. Hasil survei kepada pemilih pemula di Universitas Muhammadiyah Bengkulu mengonfirmasi dominasi penggunaan media sosial sebagai sumber informasi utama tentang aktor politik. Media sosial, terutama Instagram, dianggap efektif dalam membangun hubungan dengan generasi muda. Penelitian menemukan bahwa  presentasi diri aktor politik di panggung depan merupakan proses yang sangat terencana. Panggung depan (front stage) di kehidupan nyata, aktor politik menggunakan elemen penampilan, setting, dan interaksi dengan audiens untuk membangun kesan atau impression manajemen sebagai pemimpin yang diinginkan. Panggug depan (front stage) di media sosial, presentasi diri bukan sekadar ekspresi spontan, melainkan upaya kolektif terorganisir dengan melibatkan “kru panggung” yang membantu mentransformasi ide dan gagasan dari aktor politik. Media sosial telah menciptakan panggung baru dengan karakteristik unik, memberikan kontrol lebih besar atas narasi melalui seleksi konten, memungkinkan interaksi langsung dengan audiens, dan kemampuan menyebarkan pesan secara luas dan cepat. Sementara itu, di panggung belakang (back stage), aktor politik menanggalkan semua simbol dan atribut politiknya, berinteraksi dengan audiens yang tidak terkait dengan dunia politik.  Penelitian ini juga Memperhatikan hasil penelitian, temuan penelitian, dan kerangka teori presentasi diri dari Erving Goffman, maka dapat disusun proposisi sebagai berikut: 1.    Aktor politik menggunakan platform Media Sosial sebagai panggung depan digital untuk mengelola dan mengontrol kesan publik secara strategi sesuai dengan norma sosial yang berlaku. 2.    Terdapat 2 panggung depan (front stage) aktor politik yaitu pada saat panggung depan di real life yang di setting secara sendiri oleh aktor politik  dan panggung depan di media sosial membutuhkan tim atau ”kru panggung” untuk mengelola kesan yang di kehendaki oleh aktor politik. 3.    Perluasan wilayah presentasi diri aktor politik dari public sphere yang kemudian di perkuat melalui virtual sphere adalah upaya untuk lebih memperkuat manajemen kesan citra diri aktor politik secara berkelajutan dengan tanpa batas ruang dan waktu. Penelitian ini menghasilkan beberapa implikasi teoritis penting. Pertama, memperluas konsep panggung depan Goffman dengan menghadirkan ruang virtual. Kedua, menunjukkan kompleksitas manajemen kesan di dua ranah berbeda. Ketiga, mengungkap peran signifikan “kru panggung” dalam presentasi diri digital. Terakhir, penelitian ini mencatat pergeseran fundamental dari ruang publik tradisional ke ruang virtual, yang membawa implikasi mendalam pada cara wacana politik terbentuk di era digital. ****) Oleh: Hafri Yuliani, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi  Universitas Muhammadiyah Malang.

Penguatan Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Pengembangan Karakter Kemandirian di LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponogoro

TIMESINDONESIA, MALANG – Salah satu ruang lingkup PAI adalah pendidikan di rumah. Peran keluarga dalam pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi anak-anak. Orang tua sangat berperan dalam menerapkan PAI di rumah karena mereka merupakan agen dan lembaga sosial pertama sebagai pembentuk karakter serta kepribadian anak. Dalam mendidik anak, orang tua semestinya memiliki konsep tentang pendidikan karakter, kemampuan untuk bersikap adil, pemahaman ilmu pengetahuan dan agama serta pemenuhan kebutuhan kasih sayang anak. Apabila orang tua berperan secara optimal dalam membentuk keluarga yang baik, bisa dipastikan bahwa problematika PAI di lingkup keluarga dapat terselesaikan. Namun, kenyataannya masih banyak orang tua yang kurang peduli dengan penerapan PAI di rumah. Problema selanjutnya adalah ketika dalam keluarga terjadi keterlantaran terhadap anak karena  lemahnya ekonomi, hancurnya keluarga atau kedua orang tuanya meninggal dunia, maka pengasuhan anak akan dialihkan ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA). Ketika anak-anak sudah tinggal di LKSA, maka permasalahan pertama yang dihadapi adalah bersumber dari diri mereka yang bersifat pribadi, tidak sama dengan yang dialami oleh anak lain, semisal permasalahan ekonomi, keluarga dan pendidikan serta perbedaan latar belakang keluarga. Berdasarkan observasi awal, peneliti menemukan permasalahan yang terkait dengan karakter kemandirian anak asuh di LKSA Nyai Ahmad Dahlan (NAD) Ponorogo. Dalam karakter disiplin, anak asuh masih sering terlambat ketika melaksanakan ibadah salat dan juga ketika mengikuti program ketrampilan. Dalam karakter percaya diri, anak asuh masih merasa minder ketika belajar ceramah di depan teman-temannya. Anak asuh masih terlihat malas untuk mengikuti kegiatan pendidikan ketrampilan dan anak asuh masih terkesan monoton dalam belajar motif membatik. Paket liburan keluarga Kondisi tersebut akan menjadikan anak asuh kehilangan kehidupan yang bermakna, ditandai dengan tidak adanya semangat untuk meraih tujuan hidup, harapan serta pencapaian yang dianggap berharga. Ketika makna hidup hilang, maka akan bermunculan emosi-emosi yang bersifat negatif, meliputi anak merasa perasaannya hampa, tidak dihargai saat berinterkasi dengan orang lain dan mereka tidak memperdulikan terhadap lingkungan. Jika hal ini dibiarkan, akan menjadikan mereka tidak mampu untuk menghadapi permasalahan hidup serta menurunkan karakter kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengapa diperlukan penguatan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan karakter kemandirian, bagaimana implementasi penguatan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam pengembangan karakter kemandirian,serta implikasi pengembangan kemandirian anak asuh di LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponorogo. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian ini di LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponorogo yang berada di bawah naungan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ponorogo. Informan penelitian in adalah pengurus, pengasuh dan anak asuh LKSA Nyai Ahmad Dahlan Ponorogo. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan melalui empat alur kegiatan analisis data model interaktif Miles, yaitu pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Temuan atau hasil penelitian ini adalah; (a) Penguatan nilai-nilai PAI mampu mengembangkan karakter kemandirian dengan baik, karena mendapatkan penguatan positif (reinforcement positif) saat proses pembelajaran, anak asuh memberikan respon positif dan mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar; (b) Penguatan nilai-nilai PAI dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh dapat diimplementasikan dengan menggunakan teori belajar behavioristik Edward Lee Thorndike yang mengandung empat hukum, yaitu: Law of radiness (hukum kesiapan), Law of exercise (hukum latihan), Law of effect (hukum akibat) dan Law of attitude (hukum sikap); (c) Penguatan nilai-nilai PAI, berimplikasi terhadap kemandirian anak asuh menjadi lebih terkontrol dan terarah. Mereka mampu memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam. Hal ini bisa diamati dengan teori kemandirian Steinberg, yaitu perubahan ikatan emosional antara anak asuh dengan pengasuh (emotional autonomy), mampu membuat keputusan secara bebas dan konsekuen atas keputusannya itu (behavioral autonomy) dan mereka mampu untuk memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting (values autonomy). Proposisi penelitian ini adalah: (a) Penguatan nilai-nilai pendidikan agama Islam akan berperan dengan sangat maksimal dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh manakala dilaksanakan secara terpadu dan terfokus; (b) Implementasi penguatan nilai-nilai pendidikan agama Islam akan lebih maksimal untuk pengembangan karakter kemandirian anak asuh manakala disertai dengan pembiasaan dan praktek; (c) Implikasi pengembangan kemandirian anak asuh akan semakin terkontrol dan terarah manakala bekerja sama dengan dunia industri dengan sistem magang. Implikasi teorits penelitian ini adalah: (a) Penguatan nilai-nilai PAI dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh di LKSA NAD merupakan upaya untuk meningkatkan penghayatan dan pendalaman terhadap nilai-nilai PAI, baik secara verbal maupun non verbal, kepada anak-anak asuh di LKSA NAD agar mereka semakin giat untuk berpartisipasi serta senantiasa mengulangi perbuatan baik yang berdasarkan ajaran Islam. Hal ini memperkuat teori belajar Operant Conditioning Skinner, respon positif anak asuh dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Kemampuan mereka dalam berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebihi giat serta mereka mampu untuk melakukan pengulangan terhadap perbuatan baik tersebut. Salah satu perbuatan baik yang diulang-ulang oleh anak asuh adalah karakter kemandirian. Mereka mampu mengembangkan karakter kemandirian dengan baik karena mendapatkan penguatan positif (positif reinforcement) saat proses pembelajaran; (b) Implementasi penguatan nilai-nilai PAI dalam pengembangan karakter kemandirian anak asuh di LKSA NAD relevan dengan teori belajar behavioristik menurut Thorndike. Dalam teori ini terdapat empat hukum, yaitu: Law of readiness (hukum kesiapan). Sebelum pembelajaran dimulai, anak asuh sudah memasuki tempat belajar dan duduk di tempatnya masing-masing. Peralatan pembelajaran yang berwujud alat tulis, buku tulis dan buku materi sudah dibawa. Ketika pembelajaran dimulai, diawali dengan membaca doa secara bersama-sama. Law of exercise (hukum latihan), ada beberapa materi yang diulang-ulang sampai anak asuh benar-benar memahaminya dengan baik. semisal materi Al-Qur’an, anak asuh diminta untuk mengulang-ulang satu ayat yang diajarkan sampai benar-benar hafal. Law of effect (hukum akibat), anak asuh akan mendapatkan penghargaan ketika menunjukkan prestasinya dalam pembelajaran. Jika mampu menjawab pertanyaan pengajar dengan baik, mendapatkan penghargaan berwujud verbal dengan ucapan baik maupun yang berwujud non verbal, semisal dengan gerakan mengacungkan ibu jari. Dan Law of attitude (hukum sikap), anak asuh menunjukkan perubahan sikap lebih baik dari sebelumnya. Mereka lebih bersemangat , kreatif dan bertanggung jawab; (c) Implikasi penguatan nilai-nilai PAI terhadap pengembangan karakter kemandirian anak asuh di LKSA NAD memberikan tambahan pada teori kemandirian Steinberg, yaitu dengan adanya penguatan nilai-nilai PAI terhadap kemandirian ikatan emosional antara anak asuh dengan

Menelisik Nasionalisme di Natuna: Tantangan di Perbatasan

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Natuna, Di tengah kekayaan sumber daya alam dan posisi strategis di perbatasan dengan Malaysia, masyarakat Natuna menghadapi tantangan yang kompleks dalam mempertahankan semangat nasionalisme. Amirudin, mahasiswa program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang mencoba mendalami isu tersebut dalam sebuah peneletian, ia mengungkapkan bahwa meskipun Natuna kaya akan sumber daya alam, masyarakatnya belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Penelitian yang dilakukan ini berangkat dari pentingnya nasionalisme sebagai landasan utama bagi keberlangsungan negara, terutama di negara seperti Indonesia yang memiliki keragaman etnis dan geografis yang tinggi. Natuna, sebagai wilayah perbatasan strategis, memiliki sejarah panjang dalam interaksinya dengan Malaysia, tetapi kedekatan ini juga membawa tantangan tersendiri. Amirudin menjelaskan bahwa media dan informasi yang mengalir dari Malaysia kerap mempengaruhi masyarakat Natuna, membuat upaya mempertahankan nasionalisme menjadi lebih rumit. “Kita perlu memahami bagaimana masyarakat di perbatasan ini memaknai identitas nasional mereka dalam situasi yang penuh tantangan,” ujar Amirudin. Dalam penelitiannya, Amirudin menggunakan pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif warga Natuna. “Fenomenologi memungkinkan kita memahami bagaimana individu memaknai nasionalisme mereka, yang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan politik mereka,” jelasnya. Penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan berbagai informan kunci, termasuk tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan warga lokal. Observasi partisipatif juga dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang bagaimana kehidupan sosial dan budaya di Natuna mempengaruhi pemahaman masyarakat terhadap nasionalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Natuna memiliki pemahaman nasionalisme yang kompleks. Identitas nasional mereka berkembang dari sejarah, budaya, dan mitos bersama, yang dianggap lebih kuat daripada identitas etnis atau asal usul. Konsep “komunitas terbayang” dari Benedict Anderson sangat relevan di sini. Meskipun ada kedekatan budaya dengan Malaysia, masyarakat Natuna tetap merasa sebagai bagian dari Indonesia. Pendidikan dan media lokal memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman nasionalisme ini. Menurut Amirudin, keragaman budaya dan etnis di Natuna lebih dilihat sebagai kekuatan pemersatu daripada pemisah. “Masyarakat Natuna melihat keragaman ini sebagai aset, bukan penghalang,” tambahnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nasionalisme di Natuna tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti klaim wilayah dari Cina atau pengaruh budaya Malaysia, tetapi juga oleh tindakan sosial masyarakat yang rasional untuk mempertahankan identitas nasional. Warga Natuna aktif mengekspresikan nasionalisme mereka melalui partisipasi dalam upacara nasional dan kegiatan budaya yang memperkuat identitas mereka sebagai bagian dari Indonesia. Amirudin berharap penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan kebijakan yang mendukung identitas nasional di wilayah perbatasan. “Dengan pemahaman yang lebih mendalam, pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih relevan dan efektif untuk menjaga kedaulatan wilayah serta memperkuat rasa kebangsaan di masyarakat perbatasan,” pungkasnya. Melalui penelitian ini, diharapkan kesadaran nasional di Natuna dapat terus diperkuat, menjadikannya benteng yang kokoh di perbatasan Indonesia. ***) Oleh: Amirudin, mahasiswa program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Manajemen Ekowisata Secara Terintegritas dan Berkelanjutan di Kawasan Koto Panjang Kampar Riau

Ekowisata di Provinsi Riau sudah mulai diterapkan. Masyarakat Provinsi Riau terdiri dari berbagai suku, antara lain suku melayu dan suku masyarakat pedalaman seperti suku sakai, talang mamak, laut, bonai, hutan serta suku lainnya yang masing-masing memiliki kebudayaan dan adat istiadatnya sendiri. Potensi tersebut menjadikan Provinsi Riau terus berupaya mengembangkan objek wisata yang sangat menarik. Program yang dilakukan adalah menggali potensi dan daya tarik wisata di PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Ada beberapa objek wisata yang ada di Kawasan Waduk PLTA Koto Panjang yang terdiri dari pulau qeis, pulau wahid, puti island, puncak kompe, puncak ulu kasok, Ar-royan island, puncak tuah, bukit kelok indah, tepian mahligai, danau rusa, hendferland, Desa Wisata Kampung Patin, umbai padang island, raja onam kampar, talau pusako dan Candi Muara Takus. Dari 16 objek daya tarik wisata yang terdapat di Kawasan PLTA Koto Panjang, ada tiga objek objek yang akan diteliti terkait Manajemen Ekowisata Secara Terintegrasi dan Berkelanjutan di Kawasan Plta Koto Panjang Kampar Riau. Adapun objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan secara terintegrasi dan berkelanjutan dengan Danau Rusa yaitu Desa Wisata Kampung Patin dan Candi Muara Takus. Tiga objek wisata tersebut memiliki potensi daya tarik dan posisi strategis yang berada di tengah-tengah Kawasan PLTA Koto Panjang. Sosial ekonomi masyarakat mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan jumlah wisatawan karena dengan akan dibukannya jalan tol yang semula jarak tempuh dibutuhkan waktu selama 3 jam menjadi 1,5 jam dari Pekanbaru menuju Danau Rusa, Desa Wisata Kampung Patin dan Candi Muara Takus. Kawasan Danau Rusa memiliki potensi apabila dikembangkan karena sesuai dengan permintaan pasar pariwisata secara keseluruhan apalagi yang bergerak ke arah back to nature, back to local culture dan Sport Tourism. Danau Rusa adalah salah satu objek wisata yang potensial untuk itu memerlukan penanganan maksimal. Posisi lokasi objek wisata Danau Rusa sangat strategis, karena terletak di jalan lintas provinsi tepatnya 34 km dari kota Bangkinang. Danau Rusa memiliki luasan sekitar 40 Hektar yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kampar dan memiliki Panorama alam yang sangat indah. Danau Rusa juga pernah dijadikan Venues Olahraga Dayung dan Sirkuit Balap Motor dan Sircuit Of Road. Tidak jauh dari Danau Rusa terdapat Desa Koto Mesjid atau disebut dengan Desa Wisata Kampung Patin. Desa ini memiliki komoditas unggulan yaitu ikan patin dan memiliki industri pengolahan perikanan atau yang disebut dengan sentra produksi perikanan (Sari et al., 2023). Kegiatan perikanan di Desa Koto Mesjid ini terdiri dari kegiatan budidaya ikan di kolam dan keramba, sedangkan untuk ikan yang dihasilkan adalah ikan patin. Ikan patin merupakan komoditas unggulan karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Maka dari itu masyarakat Desa Koto Mesjid Kabupaten Kampar memanfaatkan ikan patin sebagai usaha untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonominya. Sentra produksi perikanan yang didirikan pemerintah guna untuk mewadahi masyarakat Desa Kampung Patin yang memiliki usaha sehingga mempermudah dalam proses produksi. Usaha industri sentra pengolahan di Desa Koto Mesjid mendapat julukan sebagai kampung patin dengan satu rumah satu kolam ikan. Sentra industri pengolahan ikan yang ada di Desa Koto Mesjid diharapkan agar dapat terus terjaga keberadaannya serta Kawasan PLTA tersebut dapat menjadi destinasi wisata nasional di Provinsi Riau yang berbasis pada alam, sejarah dan kebudayaan lokal. Untuk itu pengembangan manajemen ekowisata di Kawasan PLTA Koto Panjang Kampar Riau perlu dilakukan sebagai langkah untuk menjaga kawasan dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Jika pariwisata dikelola dengan cermat akan memiliki potensi perekonomian yang menjadi motivasi berbagai pihak. Sebuah sistem manajemen yang terintegrasi dikonseptualisasikan sebagai satu proses  terpadu yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Hubungan tersebut antara manusia, informasi, material, infrastruktur dan sumberdaya keuangan dan sumberdaya alam untuk mencapai tujuan akhir yang berhubungan dengan kepuasan dari berbagai pemangku kepentingan (Streimikiene et al., 2021). Selain Danau Rusa dan Desa Wisata Kampung Patin, Candi Muara Takus juga memiliki potensi berupa peninggalan sejarah Budha yang ada di Provinsi Riau, dibangun antara abad IV dan IX, sebagai bukti agama Budha pernah berkembang di kawasan ini. Candi ini berukuran 7 x 7 meter, dengan tinggi 14 meter, dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan yang dianggap penting bagi komunitas Budha. Terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, berjarak sekitar 60 Km dari ibukota kabupaten dan 121 Km dari Ibukota Provinsi. Bangunan Candi yang terdiri dari Mahligai Stupa Candi Tua, Candi Bungsu, Pelangka dan tempat pembakaran tulang belulang manusia, yang merupakan pusat agama Budha dan pusat perdagangan dari kedatuan Sriwijaya. Candi ini didirikan sebagai penghormatan terhadap seorang putri India yang datang ke negeri ini, ia meninggal tenggelam di sungai Kampar. Daya tarik objek wisata ini adalah keindahan bangunan candi yang berusia ratusan tahun yang arsitekturnya mirip dengan bangunan pada masa Asyoka di India dan ada pula persamaannya dengan arsitektur dari Birma dan arsitektur Bihara Bahal di Padang Sidempuan. Kondisi fisik bangunan Candi Muara Takus saat ini cukup baik, karena pengelolaan dan pemugaran yang dilakukan secara berkala. Selain dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri, candi ini juga cukup diminati oleh wisatawan luar negeri yang mayoritas berasal dari Belanda, Inggris dan Jerman. Bahkan jumlahnya mencapai 2.500 orang per tahun (Disparekraf Riau 2023). Beberapa permasalahan umum yang membuat manajemen yang terintegrasi dan berkelanjutan diperlukan antara Danau Rusa, Desa Wisata Kampung Patin, dan Candi Muara Takus adalah: Pengelolaan Terpisah yang Kurang Efektif: Jika ketiga lokasi ini dikelola secara terpisah tanpa koordinasi, bisa terjadi ketidakefisienan dalam alokasi sumber daya, pemasaran, dan pengembangan infrastruktur. Misalnya, promosi pariwisata yang tidak terkoordinasi bisa menyebabkan kurangnya visibilitas atau ketidakseimbangan dalam kunjungan wisatawan ke setiap lokasi. Persaingan Sumber Daya dan Konflik Kepentingan: Tanpa manajemen yang terintegrasi, bisa muncul konflik kepentingan antara pihak-pihak yang terlibat, seperti dalam jumlah kunjungan wisatawan yang menurun, pengalaman wisata yang kurang menarik, wisatawan mencari pengalaman yang holistik dan memuaskan. Tanpa integrasi, wisatawan mungkin merasa kesulitan dalam mengakses informasi, transportasi, atau fasilitas yang konsisten antara ketiga Lokasi. Sehingga bisa menurunkan daya tarik destinasi dan mengurangi potensi kunjungan ulang. Kurangnya keberlanjutan sosial dan ekonomi, Jika tidak dikelola dengan berkelanjutan, keuntungan ekonomi dari pariwisata mungkin tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal. Tanpa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan, manfaat ekonomi bisa lebih banyak dinikmati oleh pihak luar, meninggalkan komunitas

TRANSENDENSI PEREMPUAN KEPALA KELUARGA PETANI KOPI (Studi Fenomenologi atas Proses Keberadaan Petani Perempuan dari ‘Liyan’ menjadi ‘Diri’ di Desa Tirtoyudo, Kabupaten Malang)

Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian tidak serta merta menjadikan posisi perempuan setara dengan laki-laki  Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2018, persentase petani perempuan di Indonesia adalah 24,04% yang berarti hampir mencapai seperempat dari keseluruhan jumlah petani di Indonesia (Maulana et al., 2022). Dari jumlah tersebut, keberadaan perempuan dalam pertanian sering kali hanya dijadikan subordinasi dari laki- laki atau perempuan selalu memiliki posisi sebagai kaum kelas kedua. Trend peningkatan partisipasi petani kopi perempuan di level global ternyata bertolak belakang dengan realita petani kopi di Indonesia, padahal Indonesia adalah negara produsen kopi terbesar ketiga di dunia. Berpotensinya perkebunan kopi terhadap perekonomian nasional tidak terlepas dari peran perempuan dalam perkebunan kopi. Tetapi, beberapa studi menunjukkan bahwa posisi perempuan dalam perkebunan kopi tidak setara dengan laki-laki. Dominasi laki-laki terhadap perempuan di perkebunan kopi dapat ditunjukkan dari beberapa aspek, yang meliputi pembagian pekerjaan berdasarkan gender, akses dalam kepemilikan lahan,  modal,  pengambilan keputusan,  hingga pemasaran.  Studi dari   Lindawati (2003)  dan Bertulfo (2017), menunjukkan petani kopi perempuan dilibatkan dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan saja, sedangkan laki-laki dilibatkan dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik yang besar, dan mendominasi pembagian pekerjaan di perkebunan kopi. Padahal, dalam realitanya, pekerjaan-pekerjaan di ranah perkebunan kopi, tidak  hanya menitikberatkan pada kemampuan fisik, tapi juga kemampuan intelektual. Sehingga, dapat diartikan  bahwa  budaya  patriarki,  khususnya  yang  ada  di  perkebunan  kopi,  menga nggap perempuan tidak hanya lemah dalam aspek fisik, namun juga lemah dalam aspek mental dan intelektual. Hal ini yang menjadikan perkebunan kopi berwajah maskulin. Rasionalitas patriarki telah mengunggulkan kemampuan laki-laki dan meragukan kemampuan perempuan, sehingga dalam beberapa pekerjaan –terutama di perkebunan kopi– laki- laki memiliki posisi sebagai kaum kelas pertama (subjek pengendali/’diri’/’the self’) sedangkan perempuan adalah kaum kelas kedua (objek pengikut/’liyan’/’the other’). Konstruksi patriarkis-maskulin di perkebunan kopi membuat kemampuan perempuan petani kopi terbatas. Kultur yang mengunggulkan kemampuan laki-laki membuat sistem perkebunan kopi berpihak pada laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai kaum kelas kedua. Dominasi laki-laki juga terjadi pada institusi perkawinan dengan memposisikan perempuan sebagai objek pengikut suami. Realitas di perkebunan kopi perempuan tidak lagi menjadi objek ketika ia sudah berpisah dengan suaminya, baik karena perceraian maupun kematian. Secara tidak langsung, perempuan kepala keluarga mengalami transendensi dengan terlepas dari dominasi laki-laki. Perempuan mengalami pergeseran dari objek pengikut suami (‘liyan’/other) menjadi subjek pemegang kendali utama(‘diri’/self) sebagai kepala keluarga. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dan teori feminisme eksistensialis dari Simone de Beauvoir untuk menganalisa lebih dalam mengenai bagaimana proses pergeseran posisi atau transendensi dan gaya kepemimpinan petani kopi perempuan dari objek pengikut suami (‘liyan’) menjadi subjek tunggal pengendali utama (‘diri’) saat menjadi perempuan kepala keluarga. Rasionalitas patriarki yang tidak mempercayakan kemampuan perempuan menjadi pemimpin seperti laki-laki patut dikaji lebih dalam. Ketiadaan ruang dan kesempatan (terutama pada saat dalam ikatan pernikahan) bagi perempuan menyebabkan perempuan tidak bisa membuktikan kemampuannya ketika menjadi seorang pemimpin. Penelitian ini juga menggunakan teori dramaturgi dari Ervin Goffman untuk menganalisa secara mendalam bagaimana pengelolaan kesan menjadi pemimpin perempuan tunggal di tengah maskulinitas perkebunan kopi. Ketidakberadaan laki-laki di perkebunan kopi memunculkan ruang baru bagi perempuan kepala keluarga petani kopi untuk membuktikan kemampuan kepemimpinannya di tengah budaya patriarki, walaupun rasionalitas patriarki menganggap perempuan tidak bisa berpikir dan bertindak seperti laki-laki. Penelitian ini menghasilkan temuan, yang di antaranya: petani kopi perempuan adalah liyan, baik di sektor publik yaitu perkebunan kopi, maupun domestik di dalam rumah, ketika belum berpisah dengan suami. Posisi petani kopi perempuan adalah sebagai pekerja tambahan pembantu suami dalam mencari nafkah di perkebunan kopi. Di sektor domestik di dalam rumah pun, suami adalah pemegang peran dalam pengambilan keputusan. Petani kopi perempuan juga tetap menjadi liyan dalam ruang transformasi sosial. Ketiadaan ruang bagi perempuan untuk membuktikan kemampuannya ketika  masih  belum berpisah dengan suami menyebabkan perempuan selalu menjadi liyan, baik dalam pekerjaan yang mengutamakan kemampuan fisik hingga non fisik seperti kemampuan  intelektual. Artinya,  secara  umum,  kualitas perempuan diragukan dalam memimpin atau mengambil keputusan dalam berbagai hal. Teoritisi feminisme eksistensialis, Simone de Beauvoir mengemukakan terdapat tiga strategi yang bisa ditempuh oleh perempuan untuk bisa keluar dari dominasi laki-laki. Strategi tersebut disebut “transendensi”, yang artinya adalah “melampaui”. Beauvoir menguraikan strategi transendensi terdiri dari: Perempuan harus bekerja Perempuan harus melakukan kegiatan intelek Perempuan harus melakukan transformasi sosial Dengan melakukan tiga strategi ini, menurut Beauvoir, perempuan bisa benar-benar keluar dari keliyanannya dan bisa mengalami pergeseran menjadi “diri”. Namun, melalui penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi transendensi Beauvoir tidak serta merta membuat perempuan bisa menjadi “diri”. Dalam bukunya, Beauvoir menitikberatkan tulisannya berdasarkan pengamatannya terhadap beberapa fenomena yang didapati dengan budaya Eropa. Sama seperti penelitian Beauvoir (1956) yang menggunakan studi fenomenologi, perbedaan dalam studi ini adalah juga dengan cakupan lokasi dengan budaya yang ada di Jawa Timur, di mana mayoritas masyarakat berpegang teguh pada nilai agama Islam yang mengatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin dari perempuan. Sehingga, baik dalam aspek bekerja, melakukan pekerjaan intelek, maupun melakukan transformasi sosial, masih di dominasi oleh laki-laki karena ketiadaan ruang bagi perempuan untuk memimpin yang telah dikonstruksikan. Namun, ketika petani kopi perempuan telah berpisah dengan suaminya, baik cerai hidup maupun cerai mati dan menjadi subjek tunggal perempuan kepala keluarga, muncul ruang baru bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Ketika berpisah dengan suami, terdapat 3 bentuk penyesuaian pembagian pekerjaan di perkebunan kopi, yang terdiri dari: a) pekerjaan yang sejak sebelum berpisah dengan suami, perempuan kepala keluarga bisa lakukan sendiri, b) pekerjaan yang dahulu dilakukan petani kopi laki-laki namun sekarang bisa dilakukan perempuan kepala keluarga petani kopi, dan c) pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh perempuan kepala keluarga  petani kopi.  Perempuan  bisa  melakukan  pekerjaan-pekerjaan  yang  laki-laki dahulu lakukan, yaitu pekerjaan yang mengutamakan kemampuan intelektual dan pekerjaan yang tidak terlalu  menitikberatkan  pada  kemampuan  fisik.  Sedangkan  pekerjaan  yang  mengutamakan kemampuan fisik yang besar, petani kopi perempuan tidak bisa melakukan, karena keterbatasan kemampuan fisik yang mereka miliki. Menariknya, ternyata terdapat perbedaan pola kepemimpinan antara laki-laki dan perempuan. Pada hasil penelitian ini menemukan, bahwa laki-laki sebagai pemimpin di perkebunan kopi cenderung mendikotomikan pekerjaan dengan menitikberatkan kemampuan fisik saja, bahkan hingga tanpa sengaja membatasi kemampuan petani kopi perempuan. Sedangkan kepemimpinan perempuan pada ranah perkebunan kopi tidak mendikotomikan pekerjan berdasarkan diferensiasi seksual atau gender, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk buruh yang mereka  delegasikan  pekerjaannya.  Mereka  bertindak  melampaui  (dalam  bahasa  Beauvoir ‘bertansendensi’)  dengan  mematahkan anggapan  masyarakat  yang  melabeli perempuan tidak memiliki kemampuan fisik dan intelektual yang setara dengan laki-laki. Di sisi lain, di sektor domestik, perempuan kepala keluarga petani kopi membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan intelektual seperti laki-laki dalam pengambilan keputusan. Begitu juga pada ruang transformasi sosial. mereka cenderung berani mengambil keputusan untuk memilih kelompok kemasyarakatan yang menguntungkan bagi mereka. Peran baru melahirkan identitas dan citra baru. Di panggung depan, perempuan kepala keluarga petani

Mengenali Peran SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu Dalam Mewujudkan Pendidikan Islam Berkemajuan

Pendidikan Islam di Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan berkat kontribusi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Dua organisasi ini telah lama mengimplementasikan konsep Islam berkemajuan untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga pembentukan karakter spiritual. Dalam penelitiannya, Lety Febriana menyoroti peran penting SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu sebagai salah satu contoh konkret penerapan nilai-nilai Islam berkemajuan dalam pendidikan dasar. Muhammadiyah, yang berdiri pada tahun 1912, mengusung gagasan Islam berkemajuan sebagai landasan pembaruan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama pendidikan. Gagasan ini menekankan bahwa Islam bukan hanya agama yang bersifat statis, tetapi juga mampu merespons tantangan zaman. Konsep ini tidak sekadar sebagai retorika, tetapi diaplikasikan dalam berbagai praktik di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah, termasuk SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu. Sebagai gerakan perempuan, ‘Aisyiyah juga memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan yang dikelola oleh ‘Aisyiyah, seperti SD Unggulan ini, bertujuan untuk menciptakan generasi muslimah yang terdidik, berdaya, dan berkarakter mulia. Pendidikan yang ditawarkan tidak hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan sosial yang relevan dengan tantangan zaman modern. Islam Berkemajuan sebagai Landasan Pendidikan Lety Febriana, salah satu mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang dalam penelitiannya mencoba untuk berfokus pada nilai-nilai Islam berkemajuan yang menjadi landasan pengembangan SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu. Beberapa nilai utama yang diinternalisasi dalam kurikulum sekolah ini antara lain tajdid (pembaruan), tauhid (keesaan Tuhan), dan wasathiyah (moderasi). Nilai-nilai ini diambil dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yang dijadikan dasar dalam pendidikan di sekolah tersebut. Kursus online terbaik Muhammadiyah percaya bahwa pendidikan harus mampu membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkepribadian mulia. Di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu, konsep ini diterapkan melalui proses pendidikan yang dirancang untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, mandiri, dan kreatif. Sekolah ini berupaya memastikan bahwa siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Strategi Internalisasi Nilai di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah proses internalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu yang dilakukan secara terencana dan konsisten. Internalisasi ini melibatkan seluruh komponen sekolah, termasuk pimpinan, guru, dan tenaga kependidikan. Semua pihak berperan aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga siswa dapat mengembangkan karakter islami yang kuat. Guru di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjadi teladan bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai Islam berkemajuan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial menjadi bagian integral dari kurikulum. Selain itu, sekolah ini juga mengintegrasikan pembelajaran agama dengan materi akademik, sehingga siswa memahami bahwa ilmu pengetahuan dan ajaran agama berjalan seiring dalam kehidupan mereka. Salah satu metode yang digunakan dalam internalisasi nilai adalah melalui pendekatan pembelajaran integratif, di mana setiap mata pelajaran dihubungkan dengan nilai-nilai Islam berkemajuan. Misalnya, ketika mempelajari ilmu sains, siswa diajak untuk melihat kebesaran Tuhan dalam ciptaan-Nya, sehingga mereka tidak hanya belajar ilmu dunia, tetapi juga menghayati kebesaran Tuhan. Proses ini memastikan bahwa setiap aspek kehidupan siswa terwarnai oleh nilai-nilai keislaman yang progresif. Tantangan dan Kendala dalam Implementasi Meskipun SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu telah berhasil menginternalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam prosesnya. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya pemahaman sebagian masyarakat tentang konsep Islam berkemajuan. Banyak yang masih menganggap bahwa pendidikan Islam identik dengan pendekatan konservatif dan tradisional, sehingga upaya untuk memperkenalkan gagasan Islam yang progresif sering kali menghadapi hambatan. Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan internalisasi nilai spiritual. Di era globalisasi, tekanan untuk mencapai prestasi akademik semakin tinggi, dan hal ini bisa mengalihkan fokus dari upaya penanaman nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, sekolah perlu memastikan bahwa kedua aspek ini tetap seimbang, agar siswa tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Selain itu, Lety juga menemukan bahwa masih ada keterbatasan dalam hal model pembelajaran dan evaluasi. Meskipun internalisasi nilai berjalan dengan baik, model pembelajaran yang digunakan di sekolah ini belum sepenuhnya dieksplorasi dalam penelitian. Hal ini membuka peluang bagi penelitian lanjutan untuk menggali lebih dalam mengenai bagaimana sistem pembelajaran dan evaluasi yang diterapkan dapat mendukung internalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan. Temuan Penelitian dan Implikasi bagi Pendidikan Islam Lety mengungkapkan beberapa temuan penting yang dapat menjadi acuan bagi lembaga pendidikan lainnya. Salah satu temuan utamanya adalah bahwa proses internalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu berhasil menciptakan lingkungan belajar yang harmonis, di mana guru, siswa, dan seluruh staf sekolah terlibat dalam upaya membentuk karakter peserta didik yang unggul. Temuan lainnya adalah pentingnya pendekatan pembelajaran integratif dan holistik. Di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu, pembelajaran tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Ini memungkinkan siswa mengembangkan potensi mereka secara menyeluruh, baik dari segi intelektual, emosional, maupun spiritual. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan internalisasi nilai. SD Unggulan ‘Aisyiyah Bengkulu melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar dalam program-program yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran. Hal ini menciptakan sinergi yang kuat dalam mendidik siswa, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan formal di sekolah, tetapi juga belajar dari lingkungan sosial mereka. Meskipun penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, terutama dalam hal eksplorasi model pembelajaran dan sistem evaluasi, temuan-temuan yang dihasilkan memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana proses internalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan dapat dilakukan dengan efektif. Diharapkan, diharapkan dengan adanya penelitian lanjutan akan mampu menggali lebih dalam mengenai strategi dan metode yang dapat diterapkan untuk memperkuat internalisasi nilai dalam pendidikan Islam. *) Oleh: Lety Febriana, mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

Tantangan Petani Konvensional di Ogan Ilir dan Masalah Stunting yang Mengancam Masa Depan Anak-Anak

Petani konvensional, yang mengelola sekitar 90% lahan pertanian dunia, berperan penting dalam keberlanjutan produksi pangan global. Namun, di balik kontribusi signifikan ini, mereka menghadapi tantangan besar. Sebagian besar petani ini hidup di pedesaan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kehidupan mereka kerap diwarnai oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan akses terbatas terhadap sumber daya alam. Di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, tantangan ini semakin diperburuk oleh tingginya prevalensi stunting pada anak-anak, sebuah krisis yang mengancam masa depan generasi muda di wilayah ini. Stunting, kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, menjadi salah satu masalah utama kesehatan anak-anak di Indonesia. Data menunjukkan peningkatan signifikan prevalensi stunting di Sumatera Selatan, dari 19,3% pada tahun 2016 menjadi 22,8% pada tahun 2017. Keadaan ini mengundang perhatian pemerintah, yang melalui Peraturan Presiden RI Nomor 72 Tahun 2021, menetapkan target penurunan prevalensi stunting menjadi 14% secara nasional melalui pendekatan multisektor. Namun, perjuangan untuk mencapai target ini tidak mudah. Stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi pada anak-anak, tetapi juga oleh berbagai faktor lain, termasuk pola asuh yang tidak tepat, pendidikan orang tua yang rendah, pendapatan keluarga yang terbatas, dan minimnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Di Ogan Ilir, sebuah studi eksplanatif kuantitatif yang dilakukan pada tahun 2023 mengungkapkan gambaran yang lebih mendalam mengenai hubungan antara kondisi sosial ekonomi keluarga petani dan kejadian stunting pada anak-anak mereka. Hal inilah yang membuat Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat topik terkait stunting dalam penelitian disertasinya. Pendidikan dan Pengetahuan Ibu: Kunci Penentu Gizi Anak Dalam studi yang melibatkan responden perempuan di Kabupaten Ogan Ilir, terungkap bahwa mayoritas ibu tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang sumber gizi untuk balita mereka. Sebanyak 61,4% ibu hanya berpendidikan setingkat SD, dan ini berdampak pada pemahaman mereka tentang gizi keluarga. Tabel 3 dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa 29 dari 44 responden tidak tahu cara menghitung kebutuhan kalori harian anak-anak mereka. Ini berarti banyak anak-anak balita di wilayah ini mungkin tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Masalah ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pemenuhan gizi anak-anak. Sebanyak 79,6% keluarga petani di Ogan Ilir hidup dengan pendapatan bulanan yang sangat terbatas, antara Rp 1.000.000 hingga Rp 2.000.000. Dengan pendapatan yang terbatas, keluarga-keluarga ini harus membuat keputusan sulit tentang prioritas pengeluaran rumah tangga. Meskipun mayoritas ibu sepakat untuk memberi makanan yang lebih bergizi saat memiliki uang, namun ketika keuangan menipis, kebutuhan lain sering kali diprioritaskan dibandingkan dengan makanan bergizi untuk balita. Nico menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar ibu berusaha menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak mereka, pilihan makanan tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. terlihat bahwa banyak keluarga cenderung menyesuaikan jenis makanan yang disajikan sesuai dengan anggaran yang ada. Prioritas utama dalam keuangan keluarga sering kali tidak mencakup makanan bergizi bagi anak-anak, melainkan kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak. Kebiasaan Konsumsi yang Berisiko Selain masalah ekonomi, pola konsumsi keluarga juga berperan besar dalam kejadian stunting. Banyak keluarga petani di Ogan Ilir tidak memiliki jadwal makan yang teratur untuk balita mereka, dan sering kali anak-anak dipaksa makan meskipun sedang tidak berselera. Dalam situasi tertentu, ibu-ibu bahkan lebih memilih menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum memberi makan anak-anak, yang tentu saja berdampak buruk bagi perkembangan anak. Nico juga menunjukkan bahwa 72,7% keluarga memiliki jarak kelahiran antara 2 hingga 5 tahun, yang seharusnya memberikan cukup waktu bagi ibu untuk fokus pada kebutuhan gizi anak-anak mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Banyak ibu lebih memilih memberikan jajanan atau susu formula (sufor) sebagai pengganti makanan bergizi ketika anak-anak mereka menolak makan, sebuah kebiasaan yang justru memperburuk kondisi kesehatan anak. Budaya dan Nilai Sosial yang Mempengaruhi Pola Asuh Budaya juga menjadi faktor signifikan dalam perilaku pemberian makan pada balita. Di Ogan Ilir, pola asuh balita sering kali didasarkan pada tradisi yang diwariskan oleh orang tua atau lingkungan sekitar. Sebagai contoh, banyak ibu lebih memilih memberikan makanan yang sama dengan yang dimakan oleh anggota keluarga lainnya, meskipun makanan tersebut mungkin tidak memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Data menunjukkan bahwa budaya patriarki di wilayah ini juga memengaruhi distribusi makanan dalam keluarga, dengan ayah sering kali diprioritaskan dalam hal makanan, sementara anak-anak harus puas dengan sisa makanan yang ada. Budaya seperti ini tentu menambah kompleksitas dalam upaya penurunan prevalensi stunting. Kebiasaan-kebiasaan yang telah lama mengakar sering kali sulit diubah, meskipun sebenarnya berdampak negatif terhadap kesehatan anak-anak. Oleh karena itu, intervensi kesehatan dan gizi yang dilakukan harus memperhitungkan aspek budaya lokal agar lebih efektif. Kesadaran dan Harapan untuk Masa Depan Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, studi ini juga mengungkapkan harapan. Mayoritas responden sepakat bahwa kondisi sosial ekonomi keluarga mereka berperan dalam kejadian stunting pada anak-anak. Ini menunjukkan bahwa, meskipun kesulitan ekonomi dan budaya yang mengakar kuat, para ibu petani di Ogan Ilir sadar akan pentingnya memperbaiki perilaku gizi keluarga. Pemerintah telah meluncurkan berbagai program untuk menurunkan prevalensi stunting, termasuk program Keluarga Berencana (KB), penyediaan air bersih, dan sanitasi. Namun, untuk mencapai target penurunan stunting menjadi 14% secara nasional, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan integratif. Program-program ini harus mencakup penyuluhan yang lebih intensif tentang pentingnya gizi seimbang, terutama bagi ibu-ibu di pedesaan. Penyediaan makanan tambahan untuk balita dan peningkatan pendidikan gizi bagi keluarga-keluarga petani juga menjadi langkah yang krusial. Pengetahuan ibu tentang nutrisi harus ditingkatkan agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam memberikan makanan untuk anak-anak mereka. Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa intervensi kesehatan dilakukan secara merata di seluruh daerah, terutama di wilayah pedesaan yang masih banyak tertinggal dalam hal akses terhadap layanan kesehatan. Stunting adalah ancaman serius bagi masa depan anak-anak di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah pedesaan seperti Ogan Ilir. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak-anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan daya saing mereka di masa depan. Dengan upaya terpadu antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai sektor terkait, diharapkan masalah stunting dapat segera diatasi, dan generasi mendatang dapat tumbuh dengan sehat dan kuat. Namun, ini bukan hanya soal kebijakan dan program. Ini juga soal perubahan perilaku, peningkatan kesadaran, dan kesediaan untuk merombak kebiasaan lama yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman. Perjuangan melawan stunting adalah perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih

Pemanfaatan Lahan Suboptimal di Sumatera Selatan untuk Swasembada Pangan

Sumatera Selatan, dengan luas lahan rawa pasang surut lebih dari 1,3 juta hektar, memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian. Namun, sebagian besar lahan ini tergolong suboptimal, yang berarti lahan tersebut menghadapi berbagai tantangan lingkungan seperti kadar garam tinggi, kelebihan air, dan rendahnya kesuburan tanah. Kabupaten Banyuasin menjadi salah satu contoh nyata, dengan data pada tahun 2020 menunjukkan bahwa dari 28.230 hektar tanah terlantar, jumlah ini 49% lebih tinggi dibandingkan lahan yang telah dimanfaatkan untuk pertanian, baik tegalan maupun ladang. Lahan suboptimal, yang selama ini dianggap kurang produktif, justru dapat menjadi kunci dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Peningkatan produktivitas lahan dan adaptasi terhadap kondisi alam yang sulit menjadi fokus penting dalam pengembangan pertanian di wilayah ini. Salah satu komoditas yang sedang diuji untuk dibudidayakan di lahan suboptimal adalah bawang merah, yang merupakan tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Hal inilah yang menarik minat Eni Hawayanti, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ini meneliti tentang pemanfaatan lahan suboptimal yang ada di Sumatera Selatan. Penelitian Tentang Pemanfaatan Lahan Suboptimal untuk Bawang Merah Penelitian untuk mengembangkan bawang merah di lahan suboptimal dilakukan dalam beberapa tahap eksperimen yang bertujuan menemukan metode terbaik untuk meningkatkan produktivitas di tanah yang sebelumnya sulit dimanfaatkan. Penelitian ini menitikberatkan pada penggunaan pupuk organik dan NPK, serta pengujian beberapa varietas bawang merah untuk mengetahui respons tanaman terhadap kondisi lahan yang berbeda. Dalam penelitian tahap pertama, ditemukan bahwa dosis pupuk NPK dan pupuk organik limbah tanaman memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan hasil produksi bawang merah. Hasil tertinggi dicapai dengan kombinasi penggunaan pupuk NPK sebanyak 25% dan pupuk organik limbah tanaman 10 ton per hektar. Pada dosis ini, produktivitas bawang merah mencapai 9,32 ton per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan tanpa pupuk organik. Varietas Bawang Merah yang Tahan di Lahan Suboptimal Pada tahap kedua Erni berfokus pada pengujian daya tahan beberapa varietas bawang merah terhadap lahan suboptimal. Hasilnya, varietas Bima Brebes dan Sanren menunjukkan performa terbaik dengan produktivitas mencapai 11,36 ton per hektar dan 9,96 ton per hektar. Lahan kering masam, salah satu jenis lahan suboptimal, terbukti mampu menghasilkan 11,96 ton bawang merah per hektar, menjadikannya salah satu lahan paling produktif di antara lahan suboptimal lainnya. Tahap ketiga penelitian memperlihatkan bahwa pemberian pupuk organik limbah tanaman dalam jumlah yang tepat juga berpengaruh signifikan terhadap hasil bawang merah. Pemberian pupuk organik sebanyak 7,5 ton per hektar menghasilkan bobot umbi yang lebih berat, terutama pada varietas Bima Brebes dan Tajuk. Solusi untuk Mengatasi Tantangan Lahan Suboptimal Melalui hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lahan suboptimal untuk budidaya bawang merah di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, bukanlah sesuatu yang mustahil. Dukungan inovasi teknologi, seperti penggunaan pupuk organik dan pemilihan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi lahan yang kurang ideal, terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini dianggap tidak layak. Erni berhara hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi petani di wilayah tersebut, serta mendorong para peneliti dan pemerintah untuk terus mengembangkan solusi yang ramah lingkungan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. Dengan potensi besar yang dimiliki Sumatera Selatan, lahan suboptimal kini dapat bertransformasi menjadi tulang punggung produksi pertanian yang berkelanjutan. ****) Oleh: Eni Hawayanti, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang