Maulid Nabi di Natuna: Tradisi Lokal Menjadi Sarana Internalisasi Nilai
TIMESINDONESIA, MALANG – Kecamatan Pulau Tiga Barat di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dikenal dengan perayaan tradisi Maulid Nabi yang unik dan meriah. Berbeda dengan perayaan di daerah lain yang biasanya terbatas pada ceramah agama dan makan bersama. Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1991 dan melibatkan pemotongan sapi, pawai taaruf, pembacaan kitab Al-Barzanji, hingga pemotongan rambut bayi. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang sosial budaya, tetapi juga sarana efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan Islam kepada masyarakat, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tirtayasa. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah malang ini pada bagaimana tradisi Maulid di Kecamatan Pulau Tiga Barat berfungsi sebagai media pembelajaran nilai-nilai pendidikan Islam. Dalam wawancara dengan berbagai tokoh masyarakat, agama, dan adat setempat, ditemukan bahwa meski sebagian masyarakat tidak sepenuhnya memahami simbol-simbol yang ada, tradisi ini tetap berlangsung dengan meriah dan harmonis. Tidak ada konflik antara agama dan budaya dalam pelaksanaan Maulid, karena tradisi ini didukung oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah. Internalisasi Nilai Pendidikan Islam Menurut Tirtayasa yang menggunakan pendekatan kualitatif etnografi, tradisi Maulid di Kecamatan Pulau Tiga Barat memiliki peran penting dalam proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam. Peneliti menemukan bahwa nilai-nilai seperti akidah, ibadah, dan akhlak secara bertahap ditanamkan melalui tiga tahap utama yang merujuk pada teori internalisasi nilai yang dikemukakan oleh Muhaimin dan Thomas Lickona. Pada tahap pertama, transformasi, adalah proses di mana jamaah diperkenalkan dengan nilai-nilai Islam melalui penjelasan yang diberikan oleh narasumber tentang kegiatan Maulid. Misalnya, pembacaan Al-Barzanji yang dilakukan dalam acara tersebut bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkenalkan jamaah kepada sosok Nabi Muhammad dan teladannya. Tahap kedua, transaksi, melibatkan komunikasi timbal balik antara panitia dan jamaah. Dalam tahap ini, nilai-nilai yang disampaikan mulai meresap ke dalam perasaan jamaah. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh jamaah kepada narasumber, serta amalan yang ditunjukkan oleh panitia dalam bentuk contoh nyata, menjadi media penting untuk memperdalam pemahaman nilai-nilai tersebut. Tahap terakhir, transinternalisasi, adalah proses di mana nilai-nilai pendidikan Islam yang dipelajari diterapkan dalam tindakan sehari-hari. Keteladanan yang ditunjukkan oleh panitia dan petugas dalam berpakaian, berbicara, dan bersikap selama perayaan Maulid berfungsi sebagai model bagi masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari. Selain itu, pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan dalam tradisi ini, seperti gotong royong dan berbagi berkat, memperkuat internalisasi nilai dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Budaya dan Agama yang Berjalan Seiring Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah harmonisnya hubungan antara tradisi lokal dan ajaran Islam, tradisi Maulid di Kecamatan Pulau Tiga Barat bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga sarana untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan. Tradisi ini berjalan selaras dengan ajaran Islam, tanpa menimbulkan ketegangan antara agama dan budaya. Tirtayasa selaku peneliti memberikan saran agar tradisi Maulid di Kecamatan Pulau Tiga Barat, serta budaya-budaya lokal lainnya di Kabupaten Natuna, terus dilestarikan dan dipelajari. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai media efektif untuk mengajarkan nilai-nilai pendidikan Islam. Ia juga menyarankan penelitian ini juga merekomendasikan adanya studi lanjutan untuk menggali lebih dalam budaya-budaya lokal di Natuna, dengan harapan dapat menambah wawasan dalam kajian pendidikan Islam. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana tradisi lokal dapat menjadi media yang kuat untuk menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan Islam. Di tengah perubahan zaman yang semakin modern, tradisi seperti Maulid di Pulau Tiga Barat Natuna dapat menjadi benteng dalam menjaga identitas dan nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh masyarakat setempat. Dengan terus melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat luas, tradisi ini diharapkan akan terus berkembang dan berfungsi sebagai sarana pendidikan yang efektif bagi generasi mendatang. ***) Oleh: Tirtayasa, mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.
Rasionalitas Adaptasi Kebijakan Merdeka Belajar di Kota Kupang

TIMESINDONESIA, MALANG – Kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Meskipun kebijakan ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun orang tua, implementasinya di lapangan masih memerlukan adaptasi. Salah satu sekolah yang menjadi fokus perhatian dalam implementasi kebijakan ini adalah SMA Negeri 1 Kupang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa rasionalitas adaptasi kebijakan Merdeka Belajar di SMA Negeri 1 Kupang didasarkan pada empat program utama, yaitu Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. Hal inilah yang membuat Arifin mengangkat topik Merdeka Belajar dalam penelitian disertasinya. Mahasiswa Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang ini memaparkan bahwa penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana adaptasi dan implementasi kebijakan tersebut dilakukan di tingkat sekolah, khususnya di SMA Negeri 1 Kupang yang dikenal sebagai salah satu sekolah penggerak di Kota Kupang. Penelitian ini mengungkap bahwa adaptasi kebijakan Merdeka Belajar di SMA Negeri 1 Kupang menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam hal peran guru yang diharapkan menjadi penggerak utama. Meskipun kurikulum telah berubah, banyak guru masih terikat pada kebiasaan lama yang cenderung mengikuti aturan seragam dari pusat. Namun, dengan kepemimpinan yang kuat dari kepala sekolah sebagai aktor utama, SMA Negeri 1 Kupang mulai menunjukkan kemajuan dalam penerapan kebijakan ini. Arifin menunjukkan bahwa adaptasi kebijakan Merdeka Belajar di SMA Negeri 1 Kupang melibatkan empat aspek penting yaitu diversitas, relevansi dengan tujuan masa depan, responsivitas terhadap kebutuhan siswa, dan peningkatan kemandirian siswa. Dukungan dari semua komponen sekolah, termasuk pendidik dan siswa memiliki peran penting dalam suksesnya implementasi kebijakan ini. Program adaptasi yang diterapkan berfokus pada pembelajaran yang lebih fleksibel, kurikulum yang kolaboratif, serta metode penilaian yang komprehensif. Secara keseluruhan, Arifin menunjukkan bahwa adaptasi kebijakan Merdeka Belajar di SMA Negeri 1 Kupang merupakan langkah rasional yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun masih ada tantangan, komitmen seluruh pihak di sekolah ini menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan kurikulum, dengan harapan menghasilkan output yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan temuan ini Arifin berharap penelitian yang sudah ia lakukan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Indonesia dalam menerapkan kebijakan Merdeka Belajar secara efektif. ***) Oleh: Arifin, Mahasiswa Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang
Strategi Dalam Konservasi Burung Pada Berbagai Habitat di Kota Pekanbaru
TIMESINDONESIA, MALANG – Burung merupakan bagian penting dari sistem ekologi yang berperan dalam menjaga kelangsungan siklus kehidupan organisme. Hal ini terlihat dari peran burung dalam rantai makanan dan jaringan kehidupan, yang menghubungkannya dengan elemen sistem ekologi lainnya seperti flora dan insekta. Hal tersebut menjadikan burung, pada lingkungan cukup fundamental karena dapat memengaruhi eksistensi dan distribusi berbagai flora. bitat burung bisa meliputi berbagai sistem ekologi baik natural maupun artifisial. Distribusi yang cukup besar membuat burung sebagai aset hidup Indonesia. Selain memiliki peran dalam keselarasan sistem ekologi burung bisa sebagai parameter perubahan lingkungan. Habitat yang bervariasi akan berpengaruh terhadap keberagaman jenis burung. Habitat untuk satwa liar lazimnya berperan sebagai area berburu pakan, air, istirahat, dan berkembang biak Tutupan lahan Provinsi Riau beberapa tahun terkahir ini telah mengalami perubahan dari lingkungan berhutan menjadi peruntukan lain. Perubahan tutupan lahan tersebut didominasi oleh hutan tanaman dan perkebunan yang cenderung homogen. Kondisi tersebut berdampak pada habitat burung yang terus berkurang. Hal ini diduga akan mempengaruhi keanekaragaman jenis burung. Pekanbaru sebagai Ibu Kota Provinsi Riau tengah mengembangkan dan membangun berbagai bidang. Letak Kota Pekanbaru yang berada di tengah yang dikelilingi oleh beberapa kabupaten. Kondisi tutupan lahan eksisting wilayah kabupaten tersebut didominasi oleh hutan yang di tanam untuk keperluan industri dan tanaman kelapa sawit yang monokultur/homogen. Berdasar pada hal tersebut akan mengancam keberadaan kawasan hijau sebagai tempat hidup burung. Berkurangnya tutupan lahan heterogen yang terjadi di Provinsi Riau dapat menyebabkan perpindahan burung (migrasi lokal). Kota Pekanbaru yang terletak di tengah provinsi dan masih memiliki berbagai tutupan lahan, akan menjadi tujuan perpindahan burung. Untuk mengatasi agar keberadaan jenis burung tetap lestari diperlukan upaya strategi konservasi burung pada berbagai habitat di Kota Pekanbaru. Adanya fenomena tersebut membuat Hadinoto, salah satu mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang menjadikan tema akan strategi konservasi burung yang ada di Pekanbaru dalam penelitiannya. Menggunakan data yang dikumpulkan dengan cara survey lapangan mulai dari jenis burung, vegetasi dan persepsi masyarakat serta dianlisis menggunakan Analisa SWOT. Hadinoto mengidentifikasi burung di 6 (enam) tipe habitat di Kota Pekanbaru ditemukan sebanyak 34 famili, 75 jenis dan 2244 ekor. Dari indentifikasi tersebut para burung ini memilih beberpa tempat yang sebagai tempat migrasinya didapatkan bahwa persepsi masyarakat terhadap burung di wilayah perkotaan secara umum “baik” dengan nilai rata-rata 104,03 (83,22%). Nilai tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pandangan positif terhadap burung dan pentingnya keberadaan serta peran mereka dalam ekosistem dan budaya manusia. Hadinoto juga menemukan Indeks keanekaragaman jenis pohon (H’) sebesar 3,39, indeks kemerataan (E) 0,93, dan indeks kekayaan jenis (R) 8,31. Didapatkan posisi strategi konservasi burung tersebut berada pada kuadran satu, merupakan posisi yang menguntungkan bagi pemerintah yang memiliki banyak kekuatan serta dapat memanfaatkan peluang yang ada dilingkungan eksternal. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung keberlanjutan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategi). Beberapa cara yang dilakukan antara lain pemanfaatan kekuatan internal, eksploitasi peluang pasar, inovasi dalam pemulihan habitat, edukasi kesadaran masyarakat, kolaborasi dan kemitraan. Mahasiswa yang akrab dipanggil pak Hadi ini berharap penelitiannya ini dapat menjadi bahan rujukan bagi dosen, mahasiswa, peneliti burung, lembaga penelitian pemerintah dan swasta terutama dalah hal data dan informasi bagi pemerintah dalam rangka mempopulerkan masyarakat cinta burung. Selain itu juga dapat menjadi sebagai salah satu rekomendasi bagi pemerintah dalam menyusun peraturan perundangan dalam konservasi burung. ****) Oleh: Hadinoto, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.
Model Rakitan Teknologi Peningkatan Kualitas dan Produksi Madu Mellifera Dengan Pakan Tanaman Akasia

Kegiatan beternak lebah madu Mellifera semakin banyak dilakukan oleh masyarakat di Provinsi Riau. Salah satu daerah yang paling banyak dijadikan sebagai lokasi beternak lebah ini adalah Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak. Alasan pemilihan lokasi tersebut oleh peternak lebah adalah ketersediaan sumber pakan yang melimpah bagi lebah, yaitu hamparan tanaman di Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit. Tanaman pokok di HTI pada lahan gambut di Kabupaten Siak adalah Acacia crassicarpa (Akasia), yang merupakan sumber pakan potensial bagi lebah Mellifera, karena jumlahnya ribuan hektar dan menghasilkan nektar dari pangkal daunnya sepanjang tahun dan tidak mengenal musim. Penelitian sebelumnya menunjukkan umur pohon akasia yang berbeda menghasilkan jumlah nektar yang berbeda pula. Perbedaan tersebut diduga akan mempengaruhi produktivitas dan kualitas madu yang dihasilkan. Peternak lebah madu Mellifera di Kabupaten Siak menghadapi permasalahan kualitas madu yang sering belum memenuhi standar SNI 8664-2018 secara keseluruhan variable kualitas dan produksi madu yang masih fluktuatif. Faktor-faktor yang kemungkinan mempengaruhi kualitas dan produksi madu adalah waktu panen, tanaman sumber pakan, dan manajemen peternakan. Berdasarkan faktor penyebab tersebut, Eni Suhesti mengangkat tema tersebut dalam sebuah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu panen, umur pohon akasia, dan interaksi keduanya terhadap kualitas dan produksi madu lebah Mellifera serta menyusun model rakitan teknologi peningkatan kualitas dan produksi madu berdasarkan waktu panen, umur pohon akasia dan pengetahuan lokal peternak dalam pengelolaan peternakan lebah Mellifera. Mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ini membagai penelitiannya dalam beberapa tahap dimana tahap pertama Eny melakukan survey komposisi dan produksi nektar dari pohon akasia berumur 3, 8, dan 18 bulan, serta karakteristik lingkungan lokasi peternakan lebah yang terdiri dari suhu dan kelembaban udara, kecepatan angin, intensitas cahaya matahari. Lalu ditahap II Eny melakukan eksperimen untuk menganalisis pengaruh waktu panen, umur pohon akasia dan interaksinya terhadap kualitas dan produksi madu Mellifera. Selanjutnay pada tahap ketiga ia menyusunan model rakitan teknologi peningkatan kualitas dan produksi madu Mellifera berdasarkan waktu panen terbaik, umur tanaman terbaik dan pengetahuan lokal peternak lebah madu Mellifera di Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Pada Tahap I Eny menemukan bahwa umur tanaman akasia berpengaruh nyata (dengan nilai P 0,05) terhadap komposisi nektar yang dihasilkan pada nilai gula total, kadar air, glukosa, sukrosa, dan keasaman, juga terhadap potensi produksi nektar rata-rata per tanaman per hari. Nilai gula total tertinggi terdapat pada tanaman berumur 3 bulan, kadar air tertinggi pada umur 18 bulan, glukosa tertinggi tanaman 3 bulan, sukrosa tertinggi pada tanaman 3 bulan, dan keasaman tertinggi pada tanaman 8 bulan. Potensi produksi nectar tertinggi pada tanaman berumur 6 bulan. Produksi nectar harian tertinggi pada pukul 6.30 terus menurun sampai 09.30. Pada pukul 10.30 sampai dengan 15.30 nektar tidak terukur, dan kembali meningkat mulai pukul 16.30 sampai 18.30. Pada Tahap II didapati bahwa umur tanaman akasia dan waktu panen serta interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas madu pada variable aktivitas enzim diastase, hidroxymetylfurfural (HMF), glukosa, sukrosa, kadar air dan keasaman madu. Umur tanaman berpengaruh nyata, tetapi waktu panen tidak berpengaruh terhadap produksi madu. Variabel kualitas madu yang memenuhi standar SNI 8664-2018 adalah : aktivitas enzim diastase dengan waktu panen 30 hari pada umur tanaman 3 bulan, panen 21 hari pada umur tanaman tanaman 8 bulan. Variabel keasaman tidak ada yang memenuhi standar. Produksi 8 bulan, dan panen 14 hari pada tanaman 18 bulan. Variabel HMF semua waktu panen untuk semua umur tanaman. Variabel kadar air panen 30 hari dengan umur tanaman 3 dan 18 bulan. Kandungan sukrosa pada waktu panen 30 hari dengan umur tanaman 8 dan 18 bulan, glukosa hanya pada panen 30 hari dengan umur madu tertinggi terdaat pada umur tanaman 18 bulan, yaitu rata-rata 4,35 kg/stup. Tahapan penelitian ke III menghasilkan model rakitan teknologi peningkatan kualitas dan produksi madu dengan 5 tahapan, yaitu persiapan lokasi, persiapan kotak pemeliharaan (stup) dan koloni lebah, penempatan koloni, perawatan, pemanenan dan pascapanen. Lokasi yang baik untuk beternak A.mellifera adalah yang menyediakan tanaman sumber pakan yang cukup, yaitu A.crassicarpa berumur 8 samapai 8 bulan dan tanaman sumber pollen seperti rumput-rumputan dan kelapa sawit. Stup yang baik untuk menghasilkan madu yang berkualitas dan produksi tinggi adalah stup (kotak) “super”, yaitu yang terpisah antara tempat madu dengan ratu dan telur atau larva. Pemilihan koloni lebah yang baik adalah yang sehat, memiliki ukuran tubuh yang besar, lincah dan bebas hama penyakit. Pelatakkan kotak-kotak lebah dilakukan secara teratur dan berkelompok supaya perawatan dan pemanenan dapat dilakukan dengan mudah. Tahap keempat adalah perawatan koloni lebah dari hama, kondisi iklim mikro dan pestisida. Tahap kelima adalah penentuan waktu panen madu terbaik, yaitu 30 hari. Melalui hasil yang sudah didapatkan Eny menyimpulan bahwa waktu panen madu berpengaruh sangat nyata terhadap kualitas madu, namun tidak berpengaruh terhadap produksi madu. Selain itu umur tanaman akasia sebagai sumber nektar utama bagi lebah berpengaruh nyata terhadap kualitas dan produksi madu, umur terbaik adalah 8 dan 18 bulan serta model rakitan teknologi untuk peningkatan kualitas dan produksi madu Mellifera adalah waktu panen minimal 30 hari dengan tanaman Akasia 8 sampai 18 bulan, dan manajemen peternakan lebah yang meliputi penyusunan sisiran lebah dengan tepat, cara dan waktu pemanenan yang optimal, penggunaan kotak lebah super, dan perawatan koloni dari gangguan hama dan cuaca, serta pengkayaan tanaman sumber pollen. Eny berharap dari penelitian ini bisa bermanfaat bagi peternak lebah madu Mellifera pada kawasan hutan rawa gambut dengan tanaman akasia dalam menentukan waktu panen madu terbaik, pemilihan umur tanaman terbaik dan manajemen peternakan terbaik untuk menghasilkan madu berkualitas dengan produksi optimal. Juga bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang peternakan lebah madu Mellifera pada hutan tropis khususnya lahan rawa gambut. ****) Oleh: Eni Suhesti, Mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah
Pembentukan Strain Baru Final Stock Ayam Kampung Petelur Super “UMM Chick”
TIMESINDONESIA, MALANG – Ayam kampung secara umum merupakan tipe dwiguna, yaitu diambil manfaatnya sebagai penghasil daging dan sekaligus telur. Ayam kampung mempunyai banyak keunggulan di samping juga mempunyai kelemahan. Daging dan telur ayam kampung lebih disukai konsumen, karena lebih lezat dibanding daging dan telur ayam komersial. Budidaya ayam kampung lebih banyak dilakukan secara tradisonal dengan cara umbaran dan manajemen pemeliharaan seadanya. Selain itu belum banyak dilakukan program breeding untuk menghasilkan bibit ayam kampung yang mampu berproduksi telur tinggi. Berangkat dari ketertarikannya akan ayam kampung membuat Suyatno, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang melakukan penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan Final Stock ayam kampung petelur super melalui program breeding yang mengombinasikan sistem perkawinan, pengaturan jalur perkawinan serta penerapan metode seleksi yang paling baik. Menggunakan ayam kampung sumber genetik yang ada masyarakat secara luas, ia memilih 4 jenis ayam kampung endemik Jawa Timur, yaitu ayam kampung: Putih (P), Lurik Merah (L), Wareng (W) dan ayam yang ada di sekitar Bromo-Tengger-Semeru sering disebut oleh masyarakan ayam Ranupane (R). Ayam-ayam dari populasi dasar ini dijadikan sebagai Great Grand Parent Stock (GGPS) atau biasa disebut “kakek-buyut”. Melalui penerapan sistem perkawinan (outbreeding, crossbreeding dan reciprocal crossbreeding) dan pengaturan jalur perkawinan, GGPS ini akan menghasilkan calon Grand Parent Stock (GPS; “kakek-nenek”) yang berlanjut menghasilkan calon Parent Stock (PS; “pejantan-induk”) hingga keturunan akhir yang disebut Final Stock (FS). Selama program breeding, mahasiswa yang akrab dipanggil pak Yatno ini melakukan seleksi dengan ketat di semua tahapan, baik dalam menerapkan metode seleksi individu, seleksi famili, maupun cage selection (metode seleksi berdasarkan petak kandang). Seleksi berdasarkan Nilai Pemuliaan (Breeding Value) dari karakteristik berat badan umur 3 bulan dan produksi telur (HDP). Estimasi mutu genetik didasarkan pada estimasi Nilai Pemuliaan yang melibatkan beberapa analisis statistik, yaitu: analisis variansi (analisis ragam; σ2), koefisien pewarisan (heritabilitas; h2), koefisien keragaman, korelasi genetik, respon seleksi (R), dan analisis yang lain. Selain itu dilakukan pengukuran pengamatan pada karakteristik kualitatif dan kuantitatif sebagai bahan informasi pendukung performans ayam. Hasil dari kombinasi semua aktivitas breeding akan diperoleh GGPS terbaik untuk dijadikan tetua, GPS terbaik sebagai penurun Parent Stock, jenis Parent Stock terbaik sebagai penurun atau penghasil bibit Final Stock, serta ayam Final stock terbaik yang akan dipelihara sebagai penghasil telur. Dari 3 tipe perkawinan (Mating Type), Suyatno mendapati hasil bahwa Mating Type III merupakan jalur terbaik dibanding 2 Mating Type lainnya. Pada Mating Type III yang dipilih tidak semua jalur perkawinan digunakan, tetapi hanya jalur perkawinan terbaik saja, yaitu: (1) Jalur pejantan diperoleh dari GPS P jantan x R betina yang menghasilkan calon PS-PR jantan; kemudian dari jalur induk dilakukan perkawinan antara GPS L jantan x W betina akan menghasilkan calon PS-LW betina. Setelah dilakukan seleksi ketat maka PS akan dipilih yang baik untuk disilangkan, sehingga dihasilkan FS-PRLW; (2) Jalur pejantan hasil perkawinan reciprocal crossbeeding GPS R jantan x P betina yang menghasilkan calon PS-RP jantan; sedangkan jalur induk merupakan hasil perkawinan perkawinan GPS W jantan x L betina yang hasilnya calon PS-WL betina. Hasil perkawinan dan seleksi PS RP dan LW terpilih adalah FS RPWL. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, ia menyimpulkan bahwa melalui kombinasi kegiatan penerapan sistem perkawinan, pengaturan jalur perkawinan serta penerapan metode seleksi yang tepat seperti yang sudah dilakukan tim peneliti ternyata dapat menghasilkan strain baru Final Stock Ayam Kampung Petelur Super “UMMChick Petelur” dengan kemampuan produksi rata-rata (HDP) mencapai 58% lebih dan bahkan ada yang mencapai >76% pada saat pengukuran tertentu. Kedua Final Stock (PRLW dan RPWL) mempunyai performans HDP relatif sama setelah dilakukan Uji “t”, artinya kedua strain baru ini dapat dijadikan sebagai Final Stock Ayam Kampung Petelur Super untuk dibudidayakan sebagai penghasil telur ayam kampung. ***) Oleh: Suyatno, mahasiswa program studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang
Transmisi Pendidikan Islam Pada Keluarga Diaspora Muslim Indonesia di Al-Khor Qatar
Qatar menjadi salah satu negara tujuan bagi warga negara Indonesia dalam bekerja. Dilansir dari laman resmi DPR Republik Indonesia per Oktober 2022 terdapat sekitar 16.690 WNI yang berada di Qatar. Sebagai salah satu Negara yang berada di kawasan Asia bagian barat, Qatar dalam anggapan umum merupakan negara dengan kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi sangat pesat, serta sistem pengajaran keagamaan yang apik dan sempurna. Tidak heran jika negara ini merupakan salah satu bagian dari pada pilihan negara tujuan mahasiswa. Besarnya perhatian pemerintah Qatar terhadap dunia pendidikan merupakan salah satu bukti akan keseriusan pemerintah Qatar untuk masyarakat dalam transmisi nilai-nilai ajaran Islam dalam setiap pola kehidupan diaspora muslim Indonesia. Hal tersebut juga terjadi di komplek perumahan Al Khor sebagai perumahan bagi karyawan Qatargas, pada tahun 2000 didirikan sebuah lembaga PIAI (Pendidikan Islam Anak Indonesia) yang diprakarsai oleh Nenny Yusuf yang berkontribusi dalam mendukung transmisi nilai-nilai ajaran muslim Indonesia di Qatar. Sayangnya kondisi itu tidak bertahan lama, di tahun 2018 pihak manajemen Al Khor Community beserta Dar Al-Arqam membuat kebijakan untuk menggabungkan PIAI, KAFA dan Indian Stream satu dibawah satu wadah Arabic class Dar-Al-Arqam tanpa memandang negara, budaya dan Bahasa hingga akhirnya tahun 2020 Dar Al-Arqam resmi di tutup yang menyebabkan banyak orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah Internasional. Sementara sekolah internasional, orang tua merasa pendidikan agamanya kurang untuk anak mereka lantaran hanya diajarkan dalam 2 JPL (Jam Pelajaran). Beberapa solusi kesenjangan pendidikan, sudah dilaksanakan berupa pendirian sebuah lembaga pendidikan bernama sekolah keagamaan non-formal (madrasah diniyah) di Al Khor. Namun, keberadaan lembaga tersebut dirasa masih belum memadai dan menjawab permasalahan keislaman. Pada akhirnya untuk meningkatkan pemahaman agama bagi anaknya (transmisi nilai Islam) orang tua menempuh jalur pendidikan informal. hal ini kemudian menjadi fokus kajian Chairunnisa, salah satu mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang dalam melakuka penelitian tentang bagaimana pendidikan keluarga diaspora muslim Indonesia di Al Khor Qatar mendidik dan mentransmisikan nilai-nilai Islam melalui pendidikan informal atau pendidikan keluarga. Menggunakan pendekatan fenomenologi, mahasiswa yang sudah lama tinggal di Qatar inipun mengungkapkan bahwa urgensi dari penelitiannya ini untuk memaknai dan memaparkan kehidupan manusia seperti dalam tindakan interaksi antara sesama manusia, ataupun manusia dengan lingkungannya. Pendekatan ini dipilih untuk menggambarkan mekanisme atau pola pendidikan keluarga diaspora Muslim Indonesia di Al Khor Qatar untuk mentransmisikan nilai-nilai agama Islam kepada anaknya di tengah berbagai tantangan seperti keterbatasan bahasa, perbedaan budaya dan kebiasaan, percampuran antara berbagai budaya dari warga negara lainnya. Proses pendidikan Islam yang ditransmisikan kepada keluarga diaspora Muslim Indonesia di Al Khor, Qatar, melalui pendekatan home schooling informal. Para keluarga disana mengadopsi pendekatan home schooling tunggal dan komunitas untuk memastikan anak-anak mereka tetap terkoneksi dengan nilai-nilai agama Islam dan budaya Indonesia di lingkungan yang berbeda. Chairunnisa juga menjelaskan bahwa pendidikan informal ini terfokus pada tiga aspek utama: nilai-nilai moral, praktik ibadah, dan muamalah dalam konteks berpakaian. Anak-anak diaspora diajarkan untuk menghafal Al-Qur’an, mengamalkan nilai-nilai agama, dan beradaptasi dengan budaya lokal Qatar, seperti mengenakan Thobe untuk laki-laki dan abaya hitam untuk perempuan. Proses transmisi pendidikan Islam ini terjadi melalui lima tahap menurut teori Meyer Fortes: identifikasi, mencontoh, sosialisasi, enkulturasi, dan internalisasi. Orang tua berperan sebagai model utama dalam tahap ini, mengajarkan nilai-nilai Islam melalui contoh langsung dan pengalaman sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam komunitas mereka. Pentingnya pendidikan Islam di Qatar tidak hanya mempertahankan identitas budaya mereka tetapi juga sebagai strategi untuk membentuk karakter anak-anak mereka dalam masyarakat yang multikultural. Faktor lingkungan, keamanan, dan pendidikan menjadi pendorong bagi perubahan dalam gaya berbusana mereka, yang tetap mempertahankan identitas budaya Indonesia sambil menghormati norma sosial di Qatar. Chairunnisa juga menggarisbawahi betapa pentingnya peran keluarga dalam mempertahankan dan mentransmisikan nilai-nilai agama dan budaya dalam konteks diaspora, serta bagaimana proses pendidikan informal seperti home schooling dapat menjadi solusi efektif dalam lingkungan yang berbeda budaya. Hasil dari penelitian yang telah dilakukannya tentunya belum maksimal dan perlu penelitian lanjutan. Untuk itu ia berharap penelitian ini dapat menjadi salah satu inspirasi untuk penelitian lanjutan tentang diaspora. Selain itu juga terdapat beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi perhatian para peneliti selanjutnya dimana topik penelitian ini berusaha untuk menguraikan pendidikan dalam keluarga untuk menanamkan transmisi nilai-nilai Islam. Hasil penelitian diuraikan dalam bentuk narasi fenomenologi, akan tetapi tidak berfokus pada masalah dunia sosial. Oleh karena, diperlukan penelitian lanjutan untuk menggali transmisi nilai-nilai Islam dari segi sosial. Selanjutnya perlu juga untuk dapat berfokus dalam menguraikan tentang bagaimana keluarga tetap menjaga identitas keislaman bagi anak-anaknya. Untuk itu diperlukan penelitian tentang bagaimana pendidikan keluarga mampu menjaga identitas budaya asal bagi anak-anaknya.
Efektivitas Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar Daerah Terluar
Faktor utama majunya sebuah daerah adalah banyaknya putra-putri daerah yang mempunyai talenta yang sesuai dengan kebutuhan daerah tersebut. Dalam arti lain, tingkat pendidikan pada suatu daerah dapat menjadi tolok ukur berkembang dan majunya suatu daerah. Pendidikan merupakan faktor utama dalam menyediakan sumber daya manusia handal yang diperlukan guna perkembangan suatu daerah. Sumbangan pemikiran putra-putri dalam membangun sebuah daerahnya, ini tentu tidak luput dari peran pemerintah dalam membantu putra-putri daerah untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan agama merupakan hal penting dalam proses membentuk akhlak para calon sumber daya manusia. Dengan menanamkan nilai-nilai agama, niscaya apa yang diharapkan dalam membentuk calon sumber daya manusia (SDM) yang handal bisa terlaksana dengan baik. Nilai-nilai dalam Islam dipandang sebagai inti dari pendidikan itu sendiri. Adapun nilai yang dimaksud dalam pendidikan adalah berupa adab dan akhlak. Di era modern, hal yang benar-benar dibutuhkan masyarakat selain kepintaran adalah etika dan moral yang baik. Salah satu jalan memperoleh hal itu adalah melalui pendidikan agama. Pendidikan agama tidak hanya bergantung pada pembelajaran di sekolah, tetapi bahkan pergaulan sehari-hari sangat memengaruhi dalam pendidikan agama. Hubungan Islam dan pendidikan sangatlah erat. Ini bisa diibaratkan dua keping sisi mata uang. Artinya bahwa Islam dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat mendasar dalam filosofi. Sebagaimana fungsinya, Islam dan pendidikan merupakan sarana yang paling baik dalam mengajarkan tentang hal baik sehingga dapat menguntungkan berbagai pihak sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarangkan. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan sehingga tidak dapat dilepaskan dari peran serta keluarga, sekolah dan lingkungan. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal terpenting untuk dikerjakan dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya pendidikan, maka mustahil manusia bisa melewati segala ujian yang diberikan. Manusia tidak memiliki cukup daya tanpa pendidikan. Pendidikan agama sangat penting bagi manusia sebagai pedoman hidup di dunia. Dalam pengembangan agama di setiap daerah, diperlukan para tokoh agama dalam mensyiarkan ilmu agama untuk menjelaskan pandangan hidup yang benar bagi masyarakat. Melalui pendidikan agama akan berdampak pada karakter peserta didik yang memiliki perilaku yang baik. Harapan terbesar serta tujuan terbesar dari pembelajaran PAI adalah agar siswa-siswi mampu mengimplentasikan semua pengajaran yang diperoleh dalam kehidupan nyata. Materi pendidikan agama Islam harus dipahami dengan baik agar peserta didik dapat membentuk pribadi mereka sendiri yang memiliki akhlak mulia dalam berkehidupan bermasyarakat. Namun kendala yang dihadapi saat ini adalah peserta didik sulit untuk memahami dan mencapai apa yang diharapkan dari pendidikan agama tersebut. Perlu dukungan yang sangat besar dari berbagai kalangan untuk membantu peserta didik mencapai apa yang diharapkan dari pembelajaran yang diberikan. Guna mendukung pembelajaran dalam membentuk sikap dan perilaku peserta didik, lingkungan sekolah menjadi salah satu peranan terpenting untuk mewujudkannya. Hal ini dikarenakan bahwa hampir separuh waktu yang dihabiskan peserta didik ada di lingkungan sekolah. Karena itu dalam membentuk sikap dan perilaku yang berakhlak mulia bagi peserta didik, pembelajaran pendidikan agama Islam sangatlah memiliki peranan penting dalam mewujutkan keperibadian dan juga menjadi pengendali perilaku peserta didik dalam hidup bermasyarakat. Indonesia dengan luasnya wilayah yang dimilikinya, memiliki tantangan yang cukup berat dalam meratakan pendidikan, termasuk pendidikan agama. Di daerah-daerah terpencil, terutama daerah terluar Indonesia, diperlukan perhatian lebih dalam meningkatkan taraf pemahaman agama. Berdarkan hal tersebut, Kamaruddin mencoba mengeksplorasi model pendidikan agama Islam di SD Negeri 010 Kampung Terpencil yang ada di Kabupaten Natuna, dimana lembaga pendidikan tersebut terletak di daerah yang terisolir, mayoritas masyarakatnya masih banyak yang berpendidikan rendah, serta fasilitas yang serba terbatas. Melalui observasi, wawancara dan analisis dokumen, mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Mlang ini menemukan bahwa: Pertama, pembelajaran PAI di SD Negeri 010 Kampung Terpencil Kabupaten Natuna, masih berusaha mengikuti model kurikulum K13, namun terkendala oleh kekurangan jumlah siswa dan fasilitas. Akibatnya, sekolah cenderung menggunakan model pembelajaran langsung dengan pendekatan yang berpusat pada guru dan metode ceramah. Untuk mengatasi kendala tersebut, guru PAI memanfaatkan lingkungan sekitar, teknologi, dan kolaborasi internal serta eksternal, sehingga penerapan metode pembelajaran PAI menjadi lebih baik. Kedua, efektivitas model pembelajaran PAI di SD Negeri 010 Kampung Terpencil Kabupaten Natuna dinilai dari tiga aspek utama: (a) aktivitas pembelajaran terhambat oleh kurangnya jumlah siswa dan fasilitas sekolah; (b) respons siswa awalnya kurang positif karena metode pembelajaran yang monoton, tetapi meningkat setelah guru PAI melakukan inovasi dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi, serta mendorong kolaborasi; dan (c) hasil belajar siswa menunjukkan ketimpangan nilai, menunjukkan dampak kendala yang ada pada pembelajaran. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran PAI di SD Negeri 010 Kampung Terpencil Kabupaten Natuna masih perlu ditingkatkan untuk mencapai efektivitas yang optimal. Dari hasil penelitian tersebut dapat direkomendasikan saran bagi dua pihak. Pertama, bagi para guru, agar senantiasa mengasah keterampilan berinovasi dalam merapkan model pembelajaran PAI, sehingga siswa mampu menerima pembelajaran dengan baik; Kedua, bagi pemerintah dan masyarakat sekitar, diperlukan perhatian dan dukungan untuk meningkatkan segala keperluan pembelajaran di SD 10 Kampung Kampung Terpencil Kabupaten Natuna, sehingga akan tercapai kegitan belajar dan mengajar yang efektif.
Tindakan Sosial Wali Murid Terhadap Kebijakan Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
Realitas kebijakan zonasi pendidikan selalu menimbulkan polemik tindakan sosial pada orang tua wali murid pada setiap agenda tahun pelajaran baru yakni penerimaan peserta didik baru. Imbas kebijakan zonasi pendidikan setiap orang tua wali murid berlomba dan bersaing untuk bisa mengantarkan anaknya agar bisa dinyatakan diterima pada jalur zonasi yang hanya membutuhkan letak geografis kedekatan domisili dengan lokasi satuan pendidikan tanpa memperhitungkan prestasi akademik dan non akademik. Berbagai tindakan dilakukan untuk memenuhi persyaratan jalur zonasi yakni pindah kartu keluarga, pindah KTP, menitipkan anak pada saudara yang lokasi kediamannya dekat dengan satuan pendidikan. Tindakan sosial yang mereka hadirkan dalam kebijakan zonasi penerimaan peserta didik baru dapat memancing reaksi pihak lain, sehingga memunculkan rasa untuk memenuhi kriteria kriteria yang yang telah ditentukan agar dapat melancarkan dalam memperebutkan jalur zonasi, oleh karena perasaan tersebut orang yang melihatnya menjadi salaing berlomba berbagai tindakan sosial orang tua wali murid. Dengan demikian, fenomena ini memunculkan pola pikir bahwa tindakan sosial untuk untuk mencapai tujuannya. Hal ini juga yang membuat Syaiful Huda mengangkat tema tersebut menjadi penelitian disertasinya. Penelitian yang mengambil latar sekolah di SMKN 1 Rejotangan Kabupaten Tulungagung ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menggali pemahaman terhadap teori aksi yakni tindakan sosial wali murid terhadap kebijakan zonasi di sekolah tersebut. Mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang ini mencoba membangun kembali secara mendalam berdasarkan pengalaman menggunakan pilihan subjek dengan bertujuan untuk membangun pada pengalaman orang lain. Selain itu metode eksplorasi data ini dimungkinkan dengan dukungan dari beberapa bidang akademik, termasuk filologi, sejarah, arkeologi, psikologi, sosiologi, studi sastra, dan lainnya Melalui proses pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap para wali murid serta data pendukung dari masyarakat lingkungan sekolah Syaiful mendapati bahwa tindakan sosial yang dilakukan wali murid merupakan sebuah proses pemamahan terhadap apa yang sudah dilakukan. Tindakan subjektif para wali murid tidak muncul begitu saja tetapi melalui proses yang panjang untuk dievaluasi mempetimbangkan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan norma etika agama atas dasar tingkat kemampuan. Tindakan sosial yang dilakukan wali murid berupa Read Opportunity atau membaca seberapa besar peluang yang ada pada jalur zonasi sesuai dengan situasi dan kondisi dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki. Selain itu tindakan sosial ini dilakukan oleh wali murid karena mengakomodir kemauan dan kemampuan prestasi capaian dari anak sehingga wali murid mengambil tindakan untuk memenuhi tuntutan dan keinginan dari anak agar bisa diterima dengan jalur zonasi agar terhindar persaingan kompetisi jalur regular atau prestasi akademik. Berdasarkan temuan akan tindakan sosial para wali murid terhadap kebijakan zonasi Syaiful menyimpulkan bahwa tindakan sosial yang dilakukan oleh para wali murid ini merupakan aksi yang secara sadar mereka lakukan sebagai respon dari penerapan kebijakan zonasi dimana dalam pemikiran para wali murid apa yang mereka lakukan ini sesuai degan ketentuan dan tidak melanggar aturan main dari kebijakan zonasi. Bahkan mereka menggunakan beberapa cara yang memang disepakati untuk dapat diterima pada sekolah di zona tertentu dan hal tersebut selalu menjadi evaluasi dengan harapan ada prinsip-prinsip moral saat pengambilan keputusan Pengumuman dari kebijakan Zonasi PPDB. Sedikit harapan yang ia sematkan untuk dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan dimana Syaiful berpedapat kebijakan zonasi yang seimbang dan berkeadilan dan dapat meminimalkan kecemburuan sosial, sehingga dapat mengakomodir lingkungan desa sekolah yang berada di sekolah. Setidaknya di lingkungan wilayah kecamatan agar pemerataan dan kesempatan bisa melalui jalur zonasi tidak membuat kecemburuan lingkungan desa yang lain dalam wilayah kecamatan yang sama.
Konstruksi Model Mentoring Pada Partai Politik
Partai Politik merupakan jembatan penghubung politis antara pemilik kekuasaan yaitu rakyat dan pemegang mandat kekuasaan, menentukan kualitas kepemimpinan dan keberlanjutan perjalanan kualitas pemerintahan yang dilahirkan dari kontestasi politik yang terbentuk dalam kancah sistem demokrasi, sehingga partai politik dituntut memiliki mekanisme rekruitmen dan kaderisasi bagi calon pimpinan yang baik. Namun kenyataannya mayoritas partai politik belum menjalankan mekanisme rekruitmen dan kadesrisasi yang semestinya karena lemahnya kandidasi dalam kontestasi, sirkulasi elit yang lemah, adanya oligarki dan dinasti politik bahkan patronase dalam tubuh partai menunjukkan lemahnya mekanisme rekruitmen dan kaderisasi dalam menentukan calon pimpinan agar dapat menjamin kualitas sistem kepartaian yang dijalankan dalam partai politik. Sistem mentor merupakan bagian dari sistem kaderisasi organisasi. Sistem mentor dalam tubuh partai politik, harus ditujukan mewujud guna mewujudkan sebuah partai politik yang terlembaga, dimana salah satu faktornya ditentukan oleh terciptanya sistem kaderisasi yang mapan. berharap, sistem mentor dalam Partai Golkar akan terus melahirkan kader-kader unggulan yang dapat berkontribusi secara maksimal untuk kemajuan Partai. Adanya mentoring untuk tujuan partai yang lebih jauh dimasa depan maupun menjaga langgengnya hubungan selanjutnya. Maka Konstruksi elit partai terhadap model mentoring menjadi penting untuk melihat bagaimana model mentoring terbentuk dan bagaimana hubungan saling menguntungkan memberi kontribusi terhadap perbaikan dan peningkatan sistem demokrasi yang lebih berkualitas. Hal inilah yang mendorong Agil Saeni untuk melakukan penelitian jauh mengenai konstruksi Sosial Elite partai tentang model mentoring calon pimpinan pada Partai Golkar. Menggunakan defenisi sosial dengan jenis penelitian studi kasus. Mahasiswa Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang ini mencoba menggunakan pendekatan kualitatif untuk untuk memahami konstruksi social elit partai tentang model mentoring calon pimpinan. Melalui hasil wawancara, pengumpulan dokumentasi, observasi, serta data pada perangkat fisik ia mendapati bahwa Pengetahuan yang diperoleh kader oleh mentor dipengaruhi dunia sosialnya berupa pengetahuan yang didapatkan dari mentor bergantung daya serap dan memaksimalkan pemahaman atas transfer pengetahuan dan pengalaman yang diberikan mentor dalam keikutsertaan baik program partai golkar maupun pertemuan-pertemuan khusus yang melibatkan kader didalamnya. Hal inilah yang menyebabkan terbentuk model mentoring yang berjalan secara alami meskipun pola mentoring tidak terstruktur secara langsung namun melalui proses yang terjadi atas ikatan terbentuk dalam realitas di partai Golkar Selain itu sistem mentor yang merupakan bagian dari sistem kaderisasi organisasi dalam tubuh partai politik, harus ditujukan untuk mewujudkan sebuah partai politik yang terlembaga, dimana salah satu faktornya ditentukan oleh terciptanya sistem kaderisasi yang mapan. Dengan harapan sistem mentor dalam Partai Golkar akan terus melahirkan kader-kader unggulan yang dapat berkontribusi secara maksimal untuk kemajuan partainya. Kendati sistem mentor tumbuh dari kelompok dan faksi yang berbeda dalam tubuh partai, ujung prosesnya adalah kader Partai Golkar dapat merebut, mengelola, dan mempertahankan kekuaasan, demi mewujudkan salah tujuan dari Partai Golkar. Beberapa harapan yang Agil sematkan melalui penelitian yang sudah ia lakukan adalah perlunya melakukan pemilihan kader yang dilatarbelakangi oleh kesamaan tertentu agar lebih mempermudah komunikasi dan pemahaman tujuan dalam mengisi kekuasaan dengan tetap berada dalam koridor organisasi partai politik baik itu membangun komunikasi yang harmonis dan beretika melalui komunikasi yang terus menerus bisa memunculkan kepercayaan sehingga terbangun relasi yang harmonis mempermudah jalannya sistem mentoring dalam partai. Selain itu juga perlunya melakukan transfer pengetahuan dan pengalaman baik dalam hal-hal normatif di partai politik seperti Pelatihan dan Pendidikan keder juga pada hal-hal yang bersifat informal seperti pelaksanaan program maupun pertemuan-pertemuan khusus agar transfer pengetahuan dan pengalaman berjalan dengan baik sehingga para kader dapat memahami dan menyerap berbagai pengalaman dan pengetahuan.
Memandang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Secara Integratif Pada Tingkat Sekolah Menengah Pertama
Pendidikan memiliki peran ideal sebagai fondasi utama dalam pembentukan individu yang cerdas, berkarakter, dan berintegritas. Secara umum, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi setiap individu secara holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dan bersaing dalam dunia kerja, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai moral, etika, dan sosial yang esensial untuk kehidupan bermasyarakat. Pendidikan ideal berupaya membentuk individu yang berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, serta memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam konteks pendidikan saat ini, pesantren, sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, juga memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung dan bersinergi dengan tujuan pencapaian pendidikan secara umum. Secara holistik, pesantren tidak hanya berfokus pada aspek kognitif seperti ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menekankan pentingnya pengembangan karakter dan spiritualitas. Pesantren mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan keagamaan yang kuat, sehingga mencetak individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Selain itu, pesantren dapat berkontribusi secara signifikan dalam membangun toleransi dan penghargaan terhadap keragaman. Dengan mengintegrasikan ajaran agama yang menekankan pada kedamaian dan persaudaraan, pesantren membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan harmonis. Sinergi antara pendidikan umum dan pesantren memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yang lebih komprehensif, di mana siswa tidak hanya siap untuk menghadapi tantangan dunia kerja, tetapi juga siap untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pesantren memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang berpengetahuan luas, berakhlak mulia, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sesuai dengan visi pendidikan yang ideal. Pendidikan pesantren saat ini menghadapi tantangan signifikan terkait dengan peran dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan berbasis agama. Salah satu tantangan utama adalah integrasi sekolah formal ke dalam sistem pendidikan pesantren. Meskipun tujuan dari integrasi ini adalah untuk memberikan pendidikan yang lebih komprehensif, kenyataannya banyak sekolah yang cenderung lebih fokus pada pengembangan materi pelajaran umum seperti sains, matematika, dan bahasa asing. Kondisi ini diperparah dengan adanya persaingan antara sekolah dan pesantren dalam menarik minat siswa dan orang tua. Banyak orang tua yang lebih memilih sekolah yang dianggap lebih modern dan memberikan peluang karir yang lebih luas bagi anak-anak mereka. Akibatnya, pesantren sering kali harus beradaptasi dengan menambahkan program-program yang lebih menarik perhatian, namun dengan konsekuensi mengurangi intensitas pengajaran agama. Melihat fenomena tersebut membuat Muzammil, salah satu mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang ini mencoba mengkaji seperti apa model integrasi dan pelaksanaan pendidikan agama Islam pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dalam sebuah penilitian disalah satu SMP di probolinggo yang berbasis lingkungan pesantren yaitu SMP Nurul Jadid. Sebagai lembaga pendidikan formal di dalam lingkungan Pesantren Nurul Jadid, SMP ini menawarkan pola pendidikan agama yang inovatif dan berbeda dari lembaga pendidikan setingkat pada umumnya. Dalam menghadapi tantangan yang sering dialami pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal, SMP Nurul Jadid berhasil menemukan solusi efektif melalui penerapan pendidikan agama Islam yang integratif. Model pendidikan ini memastikan bahwa pengajaran agama terlaksana secra efektif tanpa mengurangi dan apalagi mereduksi esensi dari pendidikan pesantren yang syarat dengan nilai-nilai religious. SMP Nurul Jadid, sebagai lembaga pendidikan formal di dalam Pesantren Nurul Jadid, menerapkan model integrasi pendidikan yang dicetuskan oleh Robyn Fogarty yang menawarkan sepuluh model integrasi. Muzzammil menjelaskan secara teoritik bahwa model-model ini dirancang untuk membantu menyatukan berbagai aspek pembelajaran dan meningkatkan relevansi pendidikan dengan kehidupan nyata siswa. Berikut adalah kesepuluh model integrasi yang ditawarkan oleh Fogarty: Fragmented: Model ini menggambarkan pendekatan di mana mata pelajaran diajarkan secara terpisah tanpa adanya hubungan antara disiplin ilmu. Setiap mata pelajaran berdiri sendiri, dan tidak ada usaha untuk mengaitkan materi satu dengan yang lainnya. Connected: Pada model ini, terdapat usaha untuk menghubungkan beberapa mata pelajaran dengan mengaitkan beberapa konsep dari berbagai disiplin ilmu. Integrasi yang dilakukan masih terbatas dan tidak sepenuhnya menyeluruh. Nested: Model ini mencakup penggabungan materi dari berbagai disiplin ilmu dalam konteks yang lebih mendalam. Konsep-konsep dari berbagai bidang diletakkan dalam struktur yang saling terkait, meskipun integrasi dilakukan dalam batas-batas tertentu. Sequenced: Di model ini, materi pelajaran diatur dalam urutan tertentu untuk membantu siswa memahami hubungan dan perkembangan konsep-konsep dari waktu ke waktu. Integrasi didasarkan pada urutan pengajaran yang telah ditentukan. Shared: Model ini melibatkan koordinasi antara guru dari berbagai disiplin ilmu untuk berbagi waktu dan sumber daya. Meskipun ada upaya untuk menciptakan keterhubungan, integrasi masih bersifat terbatas. Webbed: Model ini mengorganisir materi pelajaran dalam bentuk jaring, di mana berbagai mata pelajaran dihubungkan secara fleksibel melalui tema atau topik tertentu. Ini menciptakan jaringan keterhubungan yang lebih kompleks antara berbagai disiplin ilmu. Threaded: Model ini melibatkan integrasi yang dilakukan secara bertahap, di mana konsep atau keterampilan dari satu mata pelajaran diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain secara konsisten sepanjang waktu. Integrated: Dalam model ini, terdapat penggabungan yang lebih mendalam antara berbagai disiplin ilmu, di mana konsep-konsep diajarkan secara bersamaan dalam konteks yang saling mendukung dan melengkapi. Immersed: Model ini menciptakan pengalaman pembelajaran di mana siswa sepenuhnya terlibat dalam suatu tema atau topik yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran secara menyeluruh, memungkinkan mereka untuk menyerap pengetahuan secara mendalam. Networked: Model ini melibatkan penggabungan berbagai disiplin ilmu dalam jaringan yang kompleks, di mana siswa belajar bagaimana mengaitkan dan menerapkan pengetahuan dari berbagai sumber dalam konteks yang luas dan terintegrasi. Dalam hasil observasi, wawancara, serta pengumpulan data yang mendalam, Muzammil mendapati bahwa SMP Nurul Jadid menerapkan model integrasi pendidikan yang dikenal sebagai Fragmented, di mana mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dirinci menjadi berbagai subjek khusus. Dalam model ini, kurikulum PAI dibagi menjadi mata pelajaran yang meliputi Hadits, Akidah, Akhlak, Baca Tulis al-Qur’an (BTQ), Nahwu, dan Shorof. Pendekatan ini dirancang untuk memberikan fokus yang lebih mendalam pada masing-masing disiplin ilmu, memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif, luas, dan mendalam tentang berbagai aspek ajaran Islam. Dengan mengadopsi model Fragmented, SMP Nurul Jadid bertujuan untuk membedah materi PAI menjadi komponen-komponen yang spesifik, sehingga setiap mata pelajaran dapat diajarkan secara terperinci dan mendalam. Misalnya, pelajaran Hadits mengajarkan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW secara spesifik, sementara pelajaran Akidah fokus pada dasar-dasar keyakinan dalam Islam. Demikian pula, pelajaran Akhlak mengajarkan etika dan perilaku yang baik, Baca Tulis al-Qur’an (BTQ) melatih kemampuan membaca dan menulis al-Qur’an, Nahwu dan Shorof memperdalam pengetahuan