Buku Cerita Bergambar Melayu Riau, Ajarkan Anak Tanggap Bencana Sejak Dini

Buku Cerita Bergambar Berbasis Budaya Melayu Dinilai Efektif Menanamkan Sikap Tanggap Bencana pada Anak Usia Dini. MALANG – Buku Cerita Bergambar Berbasis Budaya Melayu Dinilai Efektif Menanamkan Sikap Tanggap Bencana pada Anak Usia Dini. Masa usia dini merupakan periode emas perkembangan anak yang berlangsung pada rentang usia 0–6 tahun. Pada tahap ini, anak lebih efektif belajar melalui aktivitas bermain yang menyenangkan dibandingkan melalui tuntutan akademik seperti membaca dan menulis secara formal. Oleh karena itu, guru memerlukan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini agar proses belajar berlangsung alami, menarik, dan bermakna. Salah satu media yang dinilai tepat adalah buku cerita bergambar. Media ini memadukan teks dan ilustrasi sehingga membantu anak memahami pesan pembelajaran secara konkret. Selain meningkatkan kemampuan bahasa dan imajinasi, buku cerita bergambar juga dapat menjadi sarana penanaman nilai karakter, termasuk pendidikan kesiapsiagaan bencana. Penelitian terbaru mengembangkan bahan ajar berupa buku cerita bergambar bermuatan Tunjuk Ajar Melayu Riau untuk meningkatkan sikap tanggap bencana pada anak usia dini. Buku ini dirancang khusus bagi anak usia 5–6 tahun dengan mengintegrasikan nilai budaya lokal melalui pantun, gurindam, dan nasihat Melayu yang dikemas dalam alur cerita sederhana.     Pengembangan bahan ajar ini dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah Riau, khususnya Kabupaten Rokan Hulu, yang termasuk daerah rawan banjir. TK Negeri Pembina Rokan, yang menjadi lokasi penelitian, berada dekat Sungai Rokan sehingga sering terdampak banjir ketika curah hujan tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, sebagian besar anak belum memahami langkah-langkah kesiapsiagaan bencana. Anak hanya mengenal banjir sebagai akibat hujan deras tanpa mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Selama ini, media pembelajaran yang digunakan guru PAUD terkait kebencanaan masih terbatas. Guru umumnya menggunakan poster, big book, atau ensiklopedia sederhana yang hanya menjelaskan jenis bencana secara umum. Selain itu, materi kesiapsiagaan belum dikaitkan dengan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan anak. Melalui pengembangan buku cerita bergambar ini, konsep kesiapsiagaan bencana diperkenalkan secara lebih konkret. Cerita dalam buku menggambarkan seorang anak bersama keluarganya yang mempersiapkan tas siaga bencana, mengenali tanda bahaya, menjaga kebersihan lingkungan, serta memahami langkah penyelamatan diri ketika banjir terjadi. Keunggulan buku ini terletak pada integrasi nilai Tunjuk Ajar Melayu Riau. Nilai budaya Melayu yang menekankan keharmonisan manusia dengan alam disampaikan melalui pantun dan gurindam yang mudah diingat anak. Pendekatan tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang lebih mudah memahami informasi melalui bahasa berirama, pengulangan, dan cerita kontekstual. Selain mengenalkan kesiapsiagaan bencana, buku ini juga menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Dalam budaya Melayu, menjaga alam dipandang sebagai bagian dari budi pekerti. Kerusakan lingkungan dianggap dapat memicu terjadinya bencana seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, anak diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendidikan mitigasi bencana pada anak usia dini. Anak termasuk kelompok rentan ketika bencana terjadi karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Pendidikan kebencanaan sejak dini dinilai mampu membantu anak memahami risiko, membangun sikap waspada, serta mengurangi dampak psikologis ketika menghadapi situasi darurat. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa media buku cerita bergambar efektif meningkatkan pemahaman anak tentang lingkungan dan kebencanaan. Ilustrasi visual dalam buku membantu anak memahami konsep yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa buku cerita bergambar berbasis digital dan cetak. Pengembangan versi digital dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi bencana, mengingat buku cetak rentan rusak akibat air dan kebakaran. Dengan format digital, media pembelajaran diharapkan dapat digunakan lebih fleksibel dan berkelanjutan. Penelitian ini memiliki empat tujuan utama, yaitu menghasilkan desain buku cerita bergambar, menghasilkan produk bahan ajar, mengetahui tingkat kelayakan media, serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan sikap tanggap bencana pada anak usia dini. Hasil penelitian dapat menjadi alternatif bahan ajar inovatif bagi guru PAUD, khususnya di daerah rawan bencana. Selain memberikan edukasi kesiapsiagaan, buku cerita bergambar ini juga berperan dalam melestarikan budaya Melayu Riau melalui pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, integrasi pendidikan kebencanaan dan kearifan lokal melalui buku cerita bergambar dinilai mampu menjadi pendekatan pembelajaran yang efektif untuk membentuk karakter anak yang peduli lingkungan, tanggap terhadap bencana, dan menghargai budaya daerah sejak usia dini.     Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model Borg and Gall yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan produk, validasi ahli, uji coba terbatas dan lapangan, serta revisi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku cerita bergambar yang dikembangkan memperoleh kategori sangat layak ditinjau dari aspek materi, bahasa, penyajian, dan tampilan grafis. Guru dan peserta didik memberikan tanggapan yang sangat baik terhadap penggunaan media ini. Selain itu, hasil uji efektivitas memperlihatkan adanya peningkatan yang signifikan pada sikap tanggap bencana anak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pengintegrasian nilai-nilai budaya Melayu Riau menjadikan proses pembelajaran lebih kontekstual, menarik, dan efektif dalam menanamkan karakter pada anak. Produk akhir penelitian berupa buku cerita bergambar cetak yang memuat materi tentang bencana banjir, kebakaran, dan gempa bumi dengan memadukan unsur budaya lokal, visualisasi, serta pengalaman belajar yang praktis. Efastri menegaskan bahwa pengintegrasian pendekatan ilmiah dengan kearifan lokal merupakan strategi penting dalam menjawab tantangan pendidikan di era globalisasi. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga diarahkan untuk memiliki pola pikir kritis, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran budaya yang kuat terhadap lingkungan sosialnya. Disertasi ini menjadi bukti bahwa inovasi pendidikan dapat diwujudkan melalui pengembangan bahan ajar yang memadukan ilmu pengetahuan, pengalaman praktis, dan nilai-nilai budaya lokal dalam satu proses pembelajaran yang utuh. Pengembangan buku cerita bergambar bermuatan Tunjuk Ajar Melayu Riau menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal dalam pembelajaran mampu meningkatkan sikap tanggap bencana anak usia dini secara efektif, sekaligus menanamkan nilai karakter, kepedulian lingkungan, dan kecintaan terhadap budaya daerah. *** *) Oleh: Sean Marta Efastri, Mahasiswa Doktor Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi    

Kearifan Lokal sebagai Basis Pendidikan Karakter Religius

Penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal Maja Labo Dahu terbukti menjadi pendekatan efektif dalam membentuk perilaku religius peserta didik di MTs Negeri 1 Kota Bima. MALANG – Penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal Maja Labo Dahu terbukti menjadi pendekatan efektif dalam membentuk perilaku religius peserta didik di MTs Negeri 1 Kota Bima. Penelitian disertasi yang dilakukan oleh Irwan, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2026, mengungkap bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam sistem pendidikan madrasah mampu memperkuat internalisasi nilai religius secara lebih kontekstual, reflektif, dan berkelanjutan. Perkembangan globalisasi, arus digitalisasi, serta perubahan sosial yang semakin cepat membawa tantangan serius terhadap pembentukan karakter generasi muda. Fenomena menurunnya kedisiplinan, melemahnya rasa tanggung jawab, rendahnya kesadaran spiritual, hingga perilaku yang kurang mencerminkan nilai religius menjadi problem yang dihadapi lembaga pendidikan saat ini. Dalam konteks tersebut, madrasah memiliki posisi strategis sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter peserta didik. Namun demikian, pendidikan karakter religius selama ini masih cenderung bersifat normatif dan lebih menekankan aspek kognitif dibanding internalisasi nilai secara mendalam. Nilai-nilai religius sering kali hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, belum sepenuhnya diwujudkan dalam perilaku sehari-hari siswa. Kondisi ini mendorong pentingnya pendekatan pendidikan yang lebih kontekstual dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai basis penguatan karakter. Disertasi ini berjudul “Dimensi Lokalitas dalam Pendidikan: Dialektika Karakter Religius dengan Kearifan Lokal di Madrasah.” Fokus penelitian diarahkan pada konsep nilai Maja Labo Dahu sebagai falsafah hidup masyarakat Bima, pemahaman warga madrasah terhadap nilai tersebut, serta implementasinya dalam penguatan karakter religius peserta didik di MTs Negeri 1 Kota Bima. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana nilai-nilai budaya lokal Maja Labo Dahu dipahami dan diinternalisasikan dalam kehidupan madrasah, serta bagaimana nilai tersebut diimplementasikan melalui pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah. Sasaran akhirnya adalah merumuskan model konseptual penguatan karakter religius berbasis kearifan lokal yang integratif dan relevan dengan konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, kepala madrasah, guru, pembina kegiatan, serta peserta didik MTs Negeri 1 Kota Bima. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan teknik penjodohan pola, pembuatan eksplanasi, dan analisis kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Maja Labo Dahu merupakan sistem nilai integratif yang menggabungkan kontrol sosial dan kontrol spiritual dalam membentuk perilaku religius peserta didik. Konsep “maja” mengandung makna rasa malu melakukan perbuatan tercela, sedangkan “dahu” bermakna rasa takut kepada Allah SWT sebagai bentuk kontrol spiritual dalam diri individu. Kedua nilai tersebut terbukti memiliki relevansi kuat dalam membangun karakter religius siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa implementasi penguatan karakter religius berlangsung melalui integrasi nilai dalam pembelajaran, pembiasaan ibadah, keteladanan guru, serta budaya madrasah yang religius. Meskipun demikian, implementasi tersebut masih cenderung bersifat praksis dan belum sepenuhnya terformalisasi secara sistematis dalam kurikulum pendidikan madrasah. Kebaruan penelitian ini terletak pada model konseptual penguatan karakter religius berbasis Maja Labo Dahu yang bersifat integratif. Model ini menghubungkan dimensi sosial, spiritual, dan budaya dalam satu sistem pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, madrasah, dan masyarakat. Temuan ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi basis pendidikan karakter religius yang efektif dan berkelanjutan. Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian Pendidikan Agama Islam berbasis kearifan lokal dengan mengintegrasikan perspektif budaya Clifford Geertz, teori pembelajaran sosial Albert Bandura, serta konsep akhlak Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam satu kerangka analisis yang utuh. Penelitian ini menawarkan pendekatan baru dalam pendidikan karakter religius yang tidak hanya menekankan aspek normatif, tetapi juga menempatkan budaya lokal sebagai sumber nilai yang hidup dalam masyarakat. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi madrasah, sekolah, dan pemerintah daerah dalam merancang program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat Bima di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. Ke depan, model penguatan karakter religius berbasis Maja Labo Dahu diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan di berbagai lembaga pendidikan lainnya sebagai strategi pendidikan karakter yang lebih kontekstual, humanis, dan berakar pada budaya bangsa. *** *) Oleh: Irwan, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi    

Mengurai Ekspresi Radikalisme Agama di Bima

Bima kembali menjadi perhatian dalam diskursus akademik mengenai radikalisme agama. Melalui disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima MALANG – Bima kembali menjadi perhatian dalam diskursus akademik mengenai radikalisme agama. Melalui disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima, Arief Hidayatullah, memaparkan hasil kajian mendalam mengenai bagaimana kelompok Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, serta penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima. Kajian ini tidak hanya menjelaskan fenomena radikalisme sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai gejala sosial-keagamaan yang kompleks dan berakar pada dinamika lokal. Sebagai putra daerah Bima, Arief mengawali penelitiannya dari keprihatinan atas stigma yang kerap melekat pada wilayah kelahirannya. Bima sering dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama, sehingga memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana fenomena tersebut berkembang dan mengapa daerah ini menjadi salah satu lokasi yang menonjol dalam peta radikalisme di Indonesia Timur. Dari pertanyaan itulah disertasi ini lahir sebagai upaya akademik untuk mengurai persoalan secara lebih utuh dan berbasis analisis ilmiah.   Dalam penelitiannya, Arief menjelaskan bahwa radikalisme agama di Bima merupakan bagian dari jaringan radikalisme nasional yang telah berkembang sejak dekade 1990-an. Namun demikian, Bima memiliki karakter lokal tersendiri yang membuatnya menonjol sebagai salah satu kantong ideologis jaringan radikal. Sejumlah kajian terdahulu serta laporan keamanan menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki sejarah keterhubungan dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), hingga Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Dengan demikian, persoalan radikalisme di Bima tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perkembangan gerakan ekstremisme lintas wilayah. Arief juga menelusuri akar historis kemunculan radikalisme di Bima melalui keterhubungan sejumlah tokoh lokal dengan jaringan NII, JI, dan gerakan jihad lintas daerah. Dalam laporan International Crisis Group, Bima disebut sebagai salah satu daerah tujuan pelarian dan rekrutmen pengikut JI setelah operasi besar-besaran terhadap jaringan teror pasca Bom Bali I. Pada periode berikutnya, hubungan Bima dengan kelompok radikal semakin kuat melalui mobilitas sosial, relasi keluarga, serta jejaring pernikahan antardaerah. Pola ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hanya tumbuh dari faktor ideologis, tetapi juga diperkuat oleh hubungan sosial yang bersifat personal dan kultural. Salah satu aspek penting yang dibahas dalam disertasi ini adalah hubungan antara jaringan JAD Bima dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Hubungan tersebut memperlihatkan adanya koneksi ideologis dan logistik yang dibangun melalui ikatan kekerabatan dan kedekatan asal daerah. Dalam beberapa kasus, hubungan keluarga menjadi penghubung yang memperkuat mobilisasi anggota dan penyebaran pengaruh ideologis. Hal ini menegaskan bahwa radikalisme di Bima berkembang dalam struktur jaringan yang kompleks, tidak semata-mata berbasis organisasi formal, tetapi juga melalui relasi sosial yang cair dan lintas wilayah. Di sisi lain, Arief menegaskan bahwa konteks sosial masyarakat Bima turut memberi ruang bagi tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, mayoritas penduduk Kota Bima beragama Islam, yang pada satu sisi mencerminkan homogenitas religius, namun di sisi lain juga membuka ruang kompetisi wacana dan otoritas keagamaan. Dalam konteks ini, kelompok-kelompok keagamaan memiliki peluang untuk berkembang, termasuk kelompok yang kemudian diberi label radikal. Oleh karena itu, radikalisme di Bima perlu dilihat sebagai hasil interaksi antara faktor historis, demografis, jaringan sosial, dan dinamika keagamaan lokal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa intensitas aktivitas teror di Bima dapat dilacak melalui sejumlah peristiwa penangkapan dan operasi keamanan yang dilakukan aparat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kasus yang diungkap Densus 88 memperlihatkan bahwa Bima bukan hanya ruang ideologis, tetapi juga ruang operasional bagi jaringan radikal. Daerah ini pernah menjadi tempat persembunyian, basis logistik, maupun lokasi pembinaan bagi para anggota jaringan tertentu. Fakta tersebut memperkuat argumentasi bahwa Bima memiliki posisi penting dalam peta radikalisme nasional.   Untuk menganalisis persoalan tersebut, Arief menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Menurut Mead, tindakan sosial manusia tidak muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses penafsiran simbol, makna, dan interaksi sosial. Dalam teori ini, konsep mind, self, dan society menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana individu dan kelompok membentuk identitas serta perilaku sosial. Teori ini digunakan Arief untuk membaca bagaimana kelompok JAD dan JAS membangun sistem makna yang memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara bertindak para anggotanya. Hasil analisis disertasi menunjukkan perbedaan yang cukup tegas antara JAD dan JAS. JAD cenderung membangun kesadaran yang kaku dan dikotomis, dengan struktur interaksi yang sentralistik dan sistem simbol yang lebih tertutup. Sementara itu, JAS memperlihatkan karakter yang lebih fleksibel dan pragmatis, dengan pola interaksi yang partisipatif serta simbol-simbol keagamaan yang lebih terbuka terhadap penafsiran. Perbedaan ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hadir dalam bentuk tunggal, melainkan memiliki variasi ekspresi, struktur, dan strategi internal yang berbeda. Melalui disertasi ini, Arief Hidayatullah berhasil memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu sosial, khususnya dalam memahami radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik. Lebih dari itu, kajian ini menjadi pengingat bahwa upaya memahami radikalisme harus dilakukan secara mendalam, kontekstual, dan berbasis kajian ilmiah agar tidak berhenti pada label atau stigma semata. *** *) Oleh: Arief Hidayatullah, Mahasiswa Doktor SOSIOLOGI, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi  

Model Pembelajaran Bahasa Inggris Multikultural SMP

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, bahasa, agama, dan budaya yang sangat kaya. Keberagaman tersebut tidak hanya tampak dalam kehidupan masyarakat MALANG – Pembelajaran Bahasa Inggris dan Realitas Keberagaman di Sekolah Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, bahasa, agama, dan budaya yang sangat kaya. Keberagaman tersebut tidak hanya tampak dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga hadir secara nyata di ruang-ruang kelas. Di berbagai sekolah, khususnya pada jenjang SMP dan MTs, peserta didik datang dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Mereka membawa pengalaman, nilai, kebiasaan, serta cara pandang yang beragam ke dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, pembelajaran Bahasa Inggris saat ini tidak lagi dipahami hanya sebagai proses penguasaan kosakata dan tata bahasa. Bahasa Inggris telah berkembang menjadi sarana komunikasi global yang menuntut kemampuan berinteraksi dengan individu dari berbagai latar budaya. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Inggris idealnya tidak hanya mengembangkan kompetensi linguistik, tetapi juga membangun kesadaran terhadap keberagaman budaya. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian disertasi ini dilakukan untuk memahami bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris multikultural dilaksanakan di sekolah menengah pertama dan madrasah tsanawiyah di Kabupaten Banggai. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana keberagaman yang dimiliki peserta didik telah diakomodasi dalam proses pembelajaran, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Tema ini dipilih karena keberagaman sering kali hadir sebagai realitas yang tidak dapat dihindari dalam kelas, namun belum selalu diposisikan sebagai sumber belajar yang bernilai. Dalam banyak situasi, pembelajaran masih berorientasi pada pencapaian materi tanpa secara eksplisit mengintegrasikan dimensi budaya yang dimiliki siswa. Padahal, pengalaman budaya siswa dapat menjadi jembatan yang efektif untuk membangun pembelajaran yang lebih kontekstual, inklusif, dan bermakna. Mengapa Menggunakan Pendekatan Kualitatif? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi. Pemilihan pendekatan tersebut didasarkan pada tujuan penelitian yang tidak sekadar ingin mengetahui apa yang dilakukan guru, tetapi juga memahami bagaimana guru memaknai keberagaman dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Pembelajaran merupakan aktivitas yang kompleks dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui angka-angka statistik. Setiap guru memiliki pengalaman, pertimbangan, dan strategi yang berbeda ketika menghadapi kelas yang beragam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang memungkinkan peneliti masuk ke dalam pengalaman nyata para guru untuk memahami praktik pembelajaran dari sudut pandang mereka sendiri. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini berupaya menangkap pengalaman hidup para guru dalam merancang pembelajaran, mengelola interaksi kelas, serta melakukan penilaian terhadap peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda. Pendekatan ini dipandang relevan karena mampu menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai praktik pembelajaran yang berlangsung secara alami dalam konteks sekolah. Menelusuri Praktik Pembelajaran di Lapangan Penelitian dilaksanakan pada sejumlah SMP dan MTs di Kabupaten Banggai. Proses pengumpulan informasi dilakukan melalui pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran, dialog mendalam dengan guru, serta penelaahan berbagai perangkat pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Selama proses penelitian, ditemukan bahwa sebagian besar guru telah menunjukkan kesadaran akan pentingnya keberagaman dalam pembelajaran. Kesadaran tersebut terlihat dari upaya guru mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman sehari-hari siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pandangan, serta menciptakan suasana belajar yang terbuka terhadap perbedaan. Namun demikian, praktik pembelajaran yang ditemukan juga menunjukkan adanya variasi dalam tingkat penerapan nilai-nilai multikultural. Pada beberapa kelas, keberagaman telah dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang memperkaya diskusi dan interaksi. Akan tetapi, pada kelas lainnya, keberagaman masih lebih banyak berfungsi sebagai latar sosial yang belum sepenuhnya diintegrasikan ke dalam strategi pembelajaran secara sistematis. Temuan lain menunjukkan bahwa aspek evaluasi pembelajaran masih menjadi bagian yang relatif kurang mendapatkan perhatian dalam perspektif multikultural. Penilaian umumnya masih berfokus pada capaian akademik siswa, sementara dimensi seperti kemampuan bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menunjukkan sikap inklusif belum secara optimal menjadi bagian dari proses asesmen. Merumuskan Model Pembelajaran Bahasa Inggris Multikultural Salah satu hasil utama dari penelitian ini adalah lahirnya sebuah model pembelajaran yang dirancang berdasarkan praktik nyata guru di lapangan. Model tersebut diberi nama IMEL (Integrative Multicultural English Learning) Model. Model IMEL dikembangkan melalui proses analisis dan sintesis terhadap berbagai praktik baik yang ditemukan selama penelitian. Model ini dirancang untuk membantu guru mengintegrasikan dimensi budaya ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris secara lebih sistematis. IMEL Model menempatkan pengalaman dan konteks budaya siswa sebagai titik awal pembelajaran. Selanjutnya, pembelajaran diarahkan pada proses eksplorasi makna, interaksi yang inklusif, pengembangan kemampuan berbahasa, serta refleksi terhadap pengalaman belajar yang telah dilakukan. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya berfungsi sebagai sarana penguasaan bahasa, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kesadaran multikultural. Keunggulan model ini terletak pada sifatnya yang kontekstual karena lahir dari realitas praktik pembelajaran yang terjadi di sekolah. Dengan demikian, model yang dihasilkan tidak hanya memiliki dasar teoritis, tetapi juga memiliki relevansi praktis yang kuat bagi guru. Kontribusi Penelitian bagi Pendidikan Penelitian ini memberikan beberapa kontribusi penting. Dari sisi akademik, penelitian ini memperkaya kajian mengenai pembelajaran Bahasa Inggris multikultural di Indonesia, khususnya pada jenjang SMP dan MTs yang selama ini masih relatif terbatas. Dari sisi praktis, hasil penelitian menawarkan kerangka yang dapat digunakan guru untuk mengelola pembelajaran secara lebih inklusif dan responsif terhadap keberagaman peserta didik. Model yang dihasilkan juga dapat menjadi referensi bagi sekolah dan pemangku kebijakan dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang selaras dengan tuntutan masyarakat multikultural. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah hambatan dalam pembelajaran. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi sumber belajar yang berharga apabila dikelola melalui pendekatan pedagogis yang tepat. Harapan ke Depan Keberagaman merupakan realitas yang akan terus hadir dalam dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran yang menghargai perbedaan dan memberikan ruang yang setara bagi seluruh peserta didik menjadi kebutuhan yang semakin penting. Melalui penelitian ini diharapkan muncul kesadaran yang lebih luas bahwa pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, tetapi juga individu yang memiliki sikap terbuka, toleran, dan mampu berinteraksi secara positif dalam masyarakat yang plural. Ke depan, pengembangan pembelajaran Bahasa Inggris multikultural perlu terus dilakukan melalui kolaborasi antara guru, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga wahana untuk membangun generasi yang kompeten secara global tanpa kehilangan akar budaya dan identitas lokalnya. *** *) Oleh: ST. Marhana Rullu, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian

Pesantren sebagai Ekosistem Pedagogis Holistik dalam Pendidikan Kesantunan Berbahasa

Habiburrahman, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, menyelesaikan penelitian disertasi berjudul Pendidikan Kesantunan Berbahasa di Kalangan Pondok Pesantren pada Juni 2026.   MALANG – Habiburrahman, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, menyelesaikan penelitian disertasi berjudul Pendidikan Kesantunan Berbahasa di Kalangan Pondok Pesantren pada Juni 2026. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dengan fokus pada praktik kesantunan berbahasa santri dalam kehidupan pesantren. Penelitian tersebut berangkat dari fenomena perubahan perilaku berbahasa generasi muda di era digital. Pola komunikasi yang cepat, ringkas, terbuka, dan banyak dipengaruhi media sosial dinilai turut membentuk cara remaja bertutur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa situasi, perubahan tersebut berpotensi menggeser kepekaan generasi muda dalam menjaga sopan santun kepada orang tua, guru, tokoh agama, maupun pihak yang memiliki otoritas moral. Dalam konteks inilah, pesantren menjadi ruang penting untuk dikaji. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai lingkungan sosial, budaya, dan religius yang mempertahankan tradisi adab, penghormatan, kepatuhan, dan keteladanan melalui praktik komunikasi sehari-hari. Habiburrahman menempatkan Pondok Pesantren Darul Falah sebagai lokasi penelitian karena pesantren ini memiliki tradisi kepesantrenan yang kuat, berada di tengah dinamika masyarakat kota, serta tetap menjaga nilai kesantunan dalam relasi antara santri, ustaz, dan kiai. Disertasi ini secara khusus mengkaji bentuk kesantunan berbahasa, pola pendidikan kesantunan, serta faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan budaya tutur santun di lingkungan pesantren. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana santri menggunakan bahasa ketika berinteraksi dengan santri yang lebih tua, sesama santri, ustaz, dan kiai. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengungkap bagaimana pesantren membentuk kesantunan berbahasa sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dalam pelaksanaannya, Habiburrahman menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengintegrasikan etnografi komunikasi dan perspektif sosiopragmatik. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, teknik simak, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan kiai, ustaz, serta santri. Data tersebut kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, penafsiran, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa santri tampak melalui penggunaan ragam bahasa alus dalam bentuk sapaan, kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata tugas. Pemilihan bentuk bahasa tersebut tidak dilakukan secara acak, tetapi disesuaikan dengan usia, status sosial, kedekatan hubungan, dan kedudukan mitra tutur. Kesantunan juga tampak melalui aspek nonverbal dan paralinguistik, seperti menundukkan kepala, mengatur intonasi dan volume suara, menghindari kata kasar, serta menunjukkan sikap hormat ketika berkomunikasi dengan kiai maupun ustaz. Salah satu temuan penting dalam disertasi ini adalah lahirnya konsep “maksim kepatuhan” dan “strategi kesantunan kepatuhan”. Temuan ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya menggunakan bahasa untuk menghormati kiai, tetapi juga untuk menyatakan adab, ta’dzim, ketundukan, penerimaan, dan pengakuan terhadap otoritas keilmuan serta spiritual kiai. Dengan demikian, kesantunan berbahasa di pesantren tidak hanya dipahami sebagai fenomena linguistik, tetapi juga sebagai praktik sosial-religius yang berakar pada nilai keislaman dan budaya pesantren.   Penelitian ini juga menemukan bahwa pendidikan kesantunan berbahasa di pesantren dibentuk melalui enam pola utama, yaitu pembiasaan, keteladanan, pendampingan, pembatasan, pengawasan, dan sanksi edukatif. Keenam pola tersebut bekerja secara terpadu dalam membentuk karakter santri. Melalui pembiasaan, santri dilatih menggunakan bahasa santun dalam aktivitas harian. Melalui keteladanan, kiai dan ustaz menjadi model utama dalam bertutur. Sementara itu, pendampingan, pengawasan, pembatasan, dan sanksi edukatif menjadi mekanisme pembinaan agar nilai kesantunan terus terjaga. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sosiopragmatik, etnografi komunikasi, dan pendidikan karakter berbasis budaya religius. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pesantren, sekolah, dan lembaga pendidikan dalam merancang pembinaan adab berbahasa yang lebih sistematis, kontekstual, dan berkelanjutan. Habiburrahman berharap hasil penelitian ini dapat memperkuat peran pesantren sebagai pusat konservasi nilai kesantunan, adab, dan karakter Islami. Ke depan, temuan disertasi ini berpotensi dikembangkan menjadi artikel ilmiah, modul pembinaan adab berbahasa santri, serta model pendidikan karakter berbasis budaya tutur lokal-religius yang relevan bagi dunia pendidikan nasional. *** *) Oleh: Habiburrahman, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi  

Identitas Sosial Pegiat Seni Reyog Ponorogo dan Makna Nilai Budaya dalam Perspektif Sosiologis

Kesenian tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa yang tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seni, tetapi juga sebagai simbol nilai, norma, dan kehidupan sosial masyarakat   MALANG – Kesenian tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa yang tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seni, tetapi juga sebagai simbol nilai, norma, dan kehidupan sosial masyarakat. Salah satu kesenian tradisional yang memiliki kekayaan nilai tersebut adalah Reyog Ponorogo. Kesenian ini tidak hanya dikenal karena keindahan pertunjukannya, tetapi juga karena makna mendalam yang terkandung dalam setiap simbol, gerakan, dan peran yang dimainkan oleh para pelaku seni. Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan globalisasi dan modernisasi telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Arus budaya global yang semakin masif menyebabkan terjadinya pergeseran minat, di mana kesenian modern lebih diminati dibandingkan dengan kesenian tradisional. Hal ini menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan budaya lokal, termasuk kesenian Reyog Ponorogo. Namun demikian, fenomena berbeda justru ditemukan di Kabupaten Malang, khususnya pada komunitas Pemuda Pegiat Seni Reyog Ponorogo (PPSRP). Komunitas ini menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, masih terdapat kelompok pemuda yang memiliki komitmen kuat dalam melestarikan kesenian tradisional. Mereka tidak hanya mempertahankan praktik kesenian Reyog, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari identitas sosial dan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih dalam bagaimana identitas sosial para pelaku seni Reyog terbentuk serta bagaimana nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya dimaknai dan diinternalisasi dalam kehidupan komunitas. Fokus utama penelitian ini adalah pada konstruksi identitas sosial dan makna nilai budaya, khususnya nilai rapi, tangguh, dan guyub dalam komunitas PPSRP di Kabupaten Malang. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggali pengalaman subjektif individu secara mendalam, sehingga memungkinkan peneliti memahami bagaimana para pelaku seni memaknai keterlibatan mereka dalam kesenian Reyog. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini tidak hanya melihat apa yang dilakukan oleh anggota komunitas, tetapi juga memahami bagaimana mereka merasakan, menginterpretasikan, dan memberi makna terhadap pengalaman tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan perspektif interaksionisme simbolik sebagai landasan analisis. Perspektif ini memandang bahwa manusia bertindak berdasarkan makna yang terbentuk melalui interaksi sosial. Dalam konteks kesenian Reyog, simbol-simbol seperti kostum, gerakan, dan peran dalam pertunjukan menjadi media yang membentuk makna dan identitas sosial para pelaku seni. Proses penelitian dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terhadap aktivitas komunitas PPSRP. Peneliti terlibat langsung dalam kegiatan komunitas, seperti latihan dan pementasan, untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika sosial yang terjadi di dalamnya. Interaksi yang intensif dengan anggota komunitas memungkinkan peneliti untuk mengungkap makna-makna yang tidak tampak secara kasat mata, tetapi dirasakan dan dihayati oleh para pelaku seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial pelaku seni Reyog tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Identitas tersebut dibangun melalui interaksi sosial, pengalaman kolektif, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan komunitas. Proses ini mencakup tahapan kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial sebagaimana dijelaskan dalam teori identitas sosial. Melalui kegiatan latihan dan pementasan, anggota komunitas mulai mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari kelompok pelaku seni Reyog. Mereka membangun rasa kebersamaan dan solidaritas yang kuat, yang tercermin dalam penggunaan istilah “kami” untuk merujuk pada komunitas mereka. Identitas kolektif ini menjadi sumber kekuatan yang mendorong mereka untuk terus melestarikan kesenian Reyog. Selain itu, peran dalam pertunjukan Reyog seperti Jathil, Bujang Ganong, Pembarong, dan Pengrawit juga berperan penting dalam pembentukan identitas individu. Setiap peran memiliki makna simbolik yang berbeda, yang kemudian diinternalisasi oleh pelaku seni melalui proses pengambilan peran (role-taking). Proses ini membentuk cara individu memahami dirinya sekaligus bagaimana ia dipersepsikan oleh orang lain dalam komunitas. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai-nilai budaya dalam kesenian Reyog tidak hanya hadir dalam bentuk simbolik, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anggota komunitas. Nilai rapi, misalnya, dimaknai sebagai bentuk kedisiplinan, keteraturan, dan tanggung jawab dalam menjalankan peran. Nilai tangguh mencerminkan kekuatan fisik dan mental, serta semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan. Sementara itu, nilai guyub menjadi dasar bagi terbentuknya solidaritas sosial dan kebersamaan dalam komunitas. Ketiga nilai tersebut terinternalisasi sebagai habitus budaya, yaitu pola perilaku yang terbentuk melalui praktik yang dilakukan secara berulang. Anggota komunitas PPSRP tidak hanya mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam pertunjukan, tetapi juga dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari. Dengan demikian, kesenian Reyog menjadi sarana pembentukan karakter dan identitas sosial bagi para pelakunya. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesenian Reyog Ponorogo memiliki peran yang sangat penting tidak hanya sebagai media budaya, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk identitas dan memperkuat solidaritas komunitas. Identitas sosial pelaku seni Reyog terbentuk melalui interaksi, pengalaman, dan pemaknaan simbolik yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan komunitas. Sementara itu, nilai-nilai budaya seperti rapi, tangguh, dan guyub menjadi fondasi yang memperkuat keberlangsungan komunitas dalam menghadapi perubahan sosial. Ke depan, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian akademik, khususnya dalam bidang sosiologi budaya dan identitas sosial. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat dalam merumuskan strategi pelestarian budaya yang lebih efektif dan berkelanjutan. Komunitas seperti PPSRP memiliki peran strategis sebagai agen pelestarian budaya yang mampu menjembatani antara tradisi dan modernitas. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memperkuat keberadaan komunitas seni, baik melalui kebijakan, pendanaan, maupun pengembangan program berbasis budaya. Akhirnya, pelestarian kesenian tradisional tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya. Melalui upaya yang berkelanjutan, diharapkan kesenian Reyog Ponorogo dapat terus hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia di masa depan. *** *) Oleh Fahyuni Baharuddin *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi  

Ubah Paradigma ‘Horor’ Matematika, Mahasiswa Doktor UMM Gagas Model I-WARM demi Kesejahteraan Emosional Siswa

Selama puluhan tahun, matematika menduduki takhta ganda dalam dunia pendidikan: ia dipuja sebagai fondasi berpikir logis-analitis, namun di saat yang sama, ia menjadi subjek yang paling ditakuti di ruang kelas. MALANG – Selama puluhan tahun, matematika menduduki takhta ganda dalam dunia pendidikan: ia dipuja sebagai fondasi berpikir logis-analitis, namun di saat yang sama, ia menjadi subjek yang paling ditakuti di ruang kelas. Ruang ujian sering kali berubah menjadi panggung ketegangan emosional, di mana siswa merasa cemas, enggan bertanya, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Melihat fenomena yang terus berulang ini, Maria Martini Aba, seorang Mahasiswa Doktor Pendidikan di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan sebuah terobosan akademik. Melalui penelitian disertasinya, ia mencoba merombak cara pandang konvensional terhadap pembelajaran matematika yang selama ini terlalu berorientasi pada nilai angka. Berawal dari Kegelisahan Akademik di Ruang Kelas Perjalanan riset ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kegelisahan akademik dan pengalaman empiris Maria selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan matematika. Ia kerap menemui siswa yang sebenarnya memiliki potensi akademik luar biasa, namun mendadak “lumpuh” secara mental saat berhadapan dengan angka dan rumus. “Mereka merasa takut melakukan kesalahan, khawatir memperoleh nilai rendah, enggan bertanya, bahkan menghindari pelajaran matematika karena merasa cemas,” ungkap Maria dalam keterangannya. Berdasarkan observasi awal yang dilakukannya pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), mayoritas siswa terindikasi mengalami mathematics anxiety (kecemasan matematika) pada tingkat sedang. Sumber kecemasan terbesar bersumber dari proses evaluasi, ujian, serta momok ketakutan akan berbuat salah. Fenomena ini rupanya bukan cuma masalah lokal, melainkan isu global. Berbagai riset dunia mengonfirmasi bahwa kecemasan matematika mampu menyumbat kemampuan berpikir, memangkas motivasi belajar, menurunkan partisipasi aktif, hingga dalam jangka panjang, memengaruhi keputusan karier masa depan siswa. Menggeser Sudut Pandang Lewat Mathematical Well-Being Di tengah membanjirnya penelitian yang mengulik kelemahan, hambatan, dan dampak negatif matematika, Maria mengambil arah yang berbeda. Ia menyadari bahwa masih sangat sedikit peneliti yang mau melihat dari sudut pandang positif: apa yang bisa membuat siswa bertahan dan merasa nyaman dengan matematika? Dari situlah Maria berpaling pada konsep mutakhir bernama mathematical well-being (kesejahteraan matematika). Konsep ini secara radikal menggeser fokus pembelajaran. Target utama bukan lagi sekadar seberapa cepat atau tepat siswa menyelesaikan soal rumit, melainkan: ·       Bagaimana siswa merasakan pengalaman belajar matematika yang menyenangkan? ·       Bagaimana mereka memaknai matematika dalam kehidupan sehari-hari? ·       Bagaimana mereka membangun rasa percaya diri atas kemampuan mereka sendiri? ·       Bagaimana lingkungan sekolah dan guru mendukung pertumbuhan emosional serta psikologis mereka? Melalui risetnya, Maria mengajukan pertanyaan mendasar: Apakah siswa dengan tingkat kesejahteraan matematika yang baik akan memiliki kecemasan yang lebih rendah? Bisakah konsep ini menjadi tameng protektif bagi siswa? Membedah Isi Kepala Siswa dengan Metode Campuran Untuk mengupas fenomena psikologis yang kompleks ini secara tuntas, Maria mengadopsi metode penelitian mixed methods dengan sequential explanatory design. Menurutnya, kesejahteraan dan kecemasan emosional tidak akan pernah cukup jika hanya digambarkan melalui deretan angka statistik belaka. Penelitian ini berjalan secara sistematis melalui beberapa tahapan krusial: 1.    Studi Literatur Mendalam: Mengintegrasikan teori-teori besar seperti Self-Determination Theory, Control-Value Theory, dan Teacher Support Theory. 2.    Pengembangan Instrumen: Menyusun dimensi kesejahteraan matematika dan indikator kecemasan yang divalidasi oleh para ahli agar memenuhi standar ilmiah. 3.    Pengumpulan Data Seimbang: Maria menjaring perspektif dari dua arah, yaitu guru SMA selaku pengelola pembelajaran dan siswa SMA selaku pihak yang merasakan langsung pengalaman belajar tersebut. Temuan Penting: Hubungan Kuat Antara Kebahagiaan Belajar dan Prestasi Riset Maria berhasil memetakan sejumlah temuan penting yang membuka mata para praktisi pendidikan. Pertama, kesejahteraan matematika terbukti merupakan konstruksi multidimensional yang kaya. Di dalamnya mencakup aspek prestasi, kognisi, keterlibatan (engagement), makna, ketekunan, emosi positif, hingga hubungan sosial yang sehat. Kedua, riset ini mengidentifikasi akar penyebab utama kecemasan matematika pada siswa, yang meliputi: ·       Tekanan akademik yang terlalu tinggi. ·       Ketakutan ekstrem terhadap kesalahan. ·       Rendahnya rasa percaya diri. ·       Pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan di kelas matematika. ·       Metode mengajar guru yang terlalu berorientasi pada hasil akhir (result-oriented). ·       Kurangnya dukungan sosial di lingkungan belajar. Ketiga, hasil analisis kuantitatif menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara mathematical well-being dan kecemasan matematika. Artinya, semakin tinggi tingkat kesejahteraan matematika yang dirasakan oleh seorang siswa, maka akan semakin merosot tingkat kecemasan yang mereka derita. Ini menjadi bukti empiris kuat bahwa kenyamanan emosional berbanding lurus dengan kesiapan mental siswa dalam belajar. Melahirkan Model Konseptual I-WARM Sebagai buah manis dari sintesis teori dan temuan lapangannya, Maria merancang sebuah model pembelajaran inovatif yang diberi nama Model I-WARM (Integrative Well-Being and Anxiety Reduction in Mathematics Model). Model ini mengintegrasikan tiga pilar utama yang saling bertumpu: Dimensi Model I-WARM Fokus Utama Dimensi Pedagogis Menekankan praktik pembelajaran di kelas yang mendukung keterlibatan aktif, kebermaknaan materi, dan pencapaian keberhasilan belajar siswa. Dimensi Psikologis Berorientasi pada penguatan kompetensi internal, pemupukan rasa percaya diri, kemandirian (otonomi), serta penumbuhan emosi positif siswa. Dimensi Sosial Menitikberatkan pentingnya kehadiran dukungan guru, solidaritas teman sebaya, serta penciptaan iklim kelas yang aman, inklusif, dan bebas dari intimidasi. Dalam model ini, guru diposisikan sebagai mediator utama yang menjembatani siswa untuk meraih kesejahteraan psikologis sekaligus mengikis habis rasa cemas terhadap matematika. Meski demikian, Maria memberikan catatan objektif bahwa Model I-WARM yang dihasilkannya saat ini masih berada pada level model konseptual. Model ini belum diimplementasikan atau diuji efektivitasnya secara eksperimental di dalam kelas nyata. Ke depan, model ini membutuhkan rangkaian riset lanjutan seperti pengembangan perangkat ajar, validasi skala luas, uji coba terbatas, hingga evaluasi dampak nyata terhadap hasil belajar siswa. Memanusiakan Ruang Kelas Matematika Sebagai penutup disertasinya, Maria menyampaikan harapan besar bagi masa depan wajah pendidikan di Indonesia. Ia memimpikan sebuah pergeseran paradigma, di mana keberhasilan pelajaran matematika tidak lagi melulu diukur dari lembar nilai ujian yang kaku. “Selama ini, keberhasilan pembelajaran matematika sering diukur melalui angka, nilai, dan capaian akademik. Padahal di balik setiap angka tersebut, ada manusia yang memiliki perasaan, harapan, kecemasan, dan kebutuhan psikologis yang perlu dihargai,” pungkas Maria hangat. Ia berharap Model I-WARM dapat memicu gelombang inovasi pembelajaran yang humanis, inklusif, reflektif, dan berkelanjutan. Target akhirnya bukan sekadar mencetak generasi yang mahir berhitung, melainkan melahirkan siswa yang merasa bahagia, percaya diri, tangguh, dan mampu menjadikan matematika sebagai sahabat peralanan hidup mereka. *** *) Oleh: Maria Martini Aba, Mahasiswa Doktor

Antara Hukum dan Rasa, Disertasi Ungkap Kontruksi Sosial Orang Asli Papua Atas NKRI

Disertasi dilakukan melalui penelitian lapangan di Kab Jayapura, Keerom, Wamena, Kota Jayapura, Merauke, dan Manokwari dalam kurun waktu penelitian tahun 2024 hingga 2026   MALANG – Disertasi dilakukan melalui penelitian lapangan di Kab Jayapura, Keerom, Wamena, Kota Jayapura, Merauke, dan Manokwari dalam kurun waktu penelitian tahun 2024 hingga 2026, dengan melibatkan Orang Asli Papua dari unsur tokoh adat, pemuka agama, dan pemuda sebagai subjek utama. Latar Belakang Penelitian Secara yuridis Papua telah menjadi bagian sah dari NKRI sejak Penentuan Pendapat Rakyat (1969), namun realitas tersebut tidak selalu identik dengan pengalaman subjektif masyarakat bahwa NKRI sudah menjadi bagian dalam kehidupannya secara internal ditandai dengan banyaknya narasi dan gerakan yang non NKRI. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Papua tidak semata- mata berada pada ranah legalitas, melainkan bagaimana NKRI dapat diinternalisasi dalam hidup sehari-hari. Untuk melihat hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang Konstruksi Sosial Orang Asli Papua atass NKRI. Fokus Penelitian Penelitian ini berjudul “Konstruksi Sosial Orang Asli Papua atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana OAP sebagai subjek sosial mengonstruksi, menafsirkan, dan menginternalisasi makna NKRI dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman hidup OAP dalam membentuk konstruksi sosial terhadap NKRI, mengidentifikasi konflik dan perbedaan makna yang muncul di antara mereka, serta menganalisis bagaimana status formal sebagai warga negara dinegosiasikan dengan pengalaman eksistensial yang mereka rasakan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi hermeneutik. Informan penelitian adalah Orang Asli Papua dari berbagai latar belakang sosial di lima wilayah Adat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan secara interpretatif dengan menelusuri makna pengalaman hidup (lived experience) dalam kerangka konstruksi sosial, teori pengakuan, dan nasionalisme. Hasil atau Temuan Utama Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi sosial Orang Asli Papua (OAP) atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bersifat tunggal, stabil, maupun final. NKRI hadir dalam kesadaran OAP sebagai makna yang terus dinegosiasikan melalui pengalaman hidup yang konkret. Terdapat perbedaan makna yang signifikan antarindividu dan antarkelompok, yang dibentuk oleh variasi pengalaman historis, posisi sosial, generasi, serta kedekatan atau jarak dengan aparatus negara.     Melalui dialog reflektif antara data empirik dan kerangka teori konstruksi sosial, pengakuan, serta nasionalisme, penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi makna NKRI di kalangan OAP bersifat rapuh dan tidak linear. Proses internalisasi dapat menguat dalam situasi tertentu, namun dapat pula melemah atau terputus ketika berhadapan dengan pengalaman kekerasan struktural, konflik ruang, atau kebijakan yang dirasakan tidak adil. Manfaat dan Kontribusi Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian sosiologi kewarganegaraan dan nasionalisme dengan mengintegrasikan teori konstruksi sosial, teori pengakuan, dan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menegaskan bahwa legitimasi negara tidak hanya bergantung pada legalitas, tetapi juga pada rekognisi moral dalam pengalaman warga. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pemerintah dan pembuat kebijakan untuk merancang pendekatan yang lebih dialogis, empatik, dan berbasis pengakuan dalam pembangunan Papua. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik dan menciptakan relasi negara-warga yang lebih setara. Harapan Harapaan kedepan dari hasil penelitian ini adalah adanya manfaat bagi keberlangsungan kehidupan di Papua dalam pendekatan yang lebih humanis, pemerintah ataupun pihak terkait dapat melakukan prosses dialog untuk menyelesaiakan berbagai problematika yang masih terpendam, pemulihan memori historis dan penguatan ketahanan budaya, inovasi kebijakan berbasis nilai dan kepercayaan sosial serta bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian lanjutan sehingga semakin melengkapi dan menyempurnakan temuan penelitian ini. Hasil disertasi ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan yang lebih inklusif di Papua dan akan dibuatkan dalam buku ber-ISBN perpusnas. *** *) Oleh: Udin Ramazakir, Mahasiswa Doktor SOSIOLOGI Program Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah Malang. *) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi    

Preferensi Konsumen terhadap Produk Hidroponik di Pekanbaru

Di tengah lahan pertanian yang terus menyempit akibat urbanisasi, sebuah disertasi doktor Ilmu Pertanian berhasil membuka wawasan baru tentang masa depan pangan perkotaan. MALANG – Di tengah lahan pertanian yang terus menyempit akibat urbanisasi, sebuah disertasi doktor Ilmu Pertanian berhasil membuka wawasan baru tentang masa depan pangan perkotaan. Asgami Putri, mahasiswa Program Doktor Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2021, berhasil menyelesaikan ujian tertutup disertasinya yang berjudul Preferensi Konsumen Terhadap Produk Pertanian Perkotaan Sistem Hidroponik di Kota Pekanbaru. Disertasi ini tidak hanya menjadi karya akademik, melainkan juga panduan praktis bagi pelaku usaha hidroponik, pemerintah daerah, dan masyarakat yang semakin peduli dengan pangan sehat. Dalam wawancara eksklusif, Asgami Putri menjelaskan latar belakang, metode, hasil, serta harapannya untuk masa depan.AdvertisementTemukan lebih banyakTokoh & MasyarakatTV & VideoBerita online terkini Latar Belakang: Mengapa Memilih Tema Hidroponik di Pekanbaru? Asgami Putri mengungkapkan bahwa pilihan temanya lahir dari keprihatinan nyata terhadap ketahanan pangan di kota-kota besar Indonesia. “Pertanian konvensional semakin terdesak oleh alih fungsi lahan menjadi perumahan, industri, dan infrastruktur. Di Pekanbaru, data Dinas Pertanian dan Perikanan tahun 2025 menunjukkan produksi sayuran dan buah semusim mencapai 19.790 ton, namun konsumsi masyarakat hampir menyamai angka tersebut. Masih ada gap pasokan yang belum terpenuhi, terutama untuk sayuran segar seperti pakcoy, selada, kangkung, dan bayam,” ujarnya. Menurut peneliti, pertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pangan higienis, bergizi, serta ramah lingkungan semakin meningkat. Hidroponik muncul sebagai solusi inovatif: sistem bertanam tanpa tanah yang hemat air, minim pestisida, dan sangat cocok untuk lahan sempit seperti pekarangan rumah, balkon, atau atap gedung. “Urban agriculture bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak. Saya memilih Pekanbaru karena kota ini memiliki keterbatasan lahan pertanian konvensional, tetapi masyarakatnya semakin terbuka terhadap produk berkualitas tinggi,” tambah Asgami Putri. Latar belakang ini didukung fakta nasional dan lokal. Urbanisasi pesat menyebabkan hilangnya lahan produktif, sementara permintaan sayuran hidroponik terus naik karena dianggap lebih segar dan bebas residu kimia. Tanpa pemahaman mendalam tentang preferensi konsumen, pengembangan hidroponik hanya akan berhenti di tahap produksi, bukan pemasaran yang berkelanjutan. Alasan Memilih Metode SEM-PLS Untuk menjawab rumusan masalah secara mendalam, Asgami Putri menggunakan metode Structural Equation Modeling dengan Partial Least Squares (SEM-PLS). “Penelitian ini melibatkan banyak variabel laten yang kompleks, seperti perilaku konsumen, preferensi, kepuasan, faktor sosial, karakteristik demografi, hingga keputusan pembelian. SEM-PLS sangat tepat karena mampu mengukur hubungan langsung maupun tidak langsung antar variabel dengan sampel yang tidak terlalu besar,” jelasnya. Metode ini dipilih karena fleksibel, robust terhadap data non-normal, dan cocok untuk penelitian perilaku konsumen yang bersifat prediksi. Proses penelitian dilakukan di pasar modern Pekanbaru dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang pernah membeli produk hidroponik. Analisis mencakup tiga model hipotesis, evaluasi outer model (validitas dan reliabilitas), serta inner model (R², f², Q², dan path coefficient).AdvertisementTemukan lebih banyakDemografiSurat kabarBerita otomotif terkini Proses Penelitian dan Hasil yang Diperoleh Penelitian berlangsung sepanjang tahun 2025. Responden beragam: mayoritas perempuan, usia produktif, berpendidikan tinggi, berpenghasilan menengah ke atas, dan berasal dari berbagai etnis. Setelah pengumpulan data, dilakukan analisis menggunakan software SmartPLS. Hasil utama yang mengejutkan: Preferensi konsumen sangat kuat dijelaskan oleh model (R² = 0,980). Faktor harga, kandungan gizi, kualitas produk, keberagaman, lokasi, pelayanan, dan sarana fisik berpengaruh positif signifikan. Konsumen lebih memilih hidroponik karena dianggap lebih sehat dan higienis. Kepuasan konsumen (R² = 0,946) dipengaruhi karakteristik demografi (usia, pekerjaan, pendapatan) serta faktor individu. Kepuasan ini menjadi mediator kuat menuju keputusan pembelian (R² = 0,963). Faktor sosial (pengaruh keluarga, teman, media sosial) sangat dominan memengaruhi preferensi dan kepuasan. Kepuasan konsumen berperan sebagai mediator penuh antara faktor sosial dan keputusan pembelian. Meskipun harga hidroponik relatif lebih mahal, konsumen urban Pekanbaru ternyata rela membayar demi nilai tambah kesehatan dan kualitas. “Preferensi saja belum cukup; konsumen baru membeli setelah merasa puas secara nyata,” simpul Asgami Putri. Kesimpulan dan Harapan ke Depan Disertasi ini menyimpulkan bahwa preferensi konsumen terhadap produk hidroponik di Pekanbaru sudah sangat positif. Namun, keputusan pembelian akhir sangat bergantung pada kepuasan aktual yang dibentuk oleh faktor sosial dan karakteristik individu. “Hidroponik bukan hanya solusi teknis atas keterbatasan lahan, melainkan peluang ekonomi dan sosial yang sangat besar jika strategi pemasarannya tepat,” tegas peneliti. Untuk masa depan, Asgami Putri berharap pelaku usaha hidroponik melakukan segmentasi harga yang lebih baik, menyesuaikan rasa dan kemasan dengan budaya lokal multietnis, serta memperkuat promosi melalui media sosial dan edukasi kesehatan. “Produsen harus fokus pada kualitas premium untuk segmen menengah atas, sekaligus menciptakan varian terjangkau bagi masyarakat luas.” Secara akademik, ia berharap penelitian lanjutan dapat menambahkan variabel seperti brand image, loyalitas, dan keberlanjutan lingkungan, serta menggunakan sampel yang lebih luas secara nasional. “Saya berharap pemerintah Kota Pekanbaru dan para pemangku kepentingan pertanian semakin mendukung program urban farming melalui pelatihan, subsidi benih dan nutrisi, serta pasar khusus hidroponik. Dengan demikian, ketahanan pangan perkotaan bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.” Disertasi Asgami Putri ini menjadi tonggak penting di era kota-kota yang semakin padat. Hidroponik bukan sekadar alternatif, melainkan masa depan pangan sehat Indonesia yang hijau, mandiri, dan inklusif. *** *) Oleh: Asgami Putri, Mahasiswa Doktor Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.