Rasionalitas Tindakan Masyarakat Pesisir Melayu Deli Dalam Mempertahankan Eksitensi Budaya Lokal Kota Medan

Pemaknaan eksistensi terkadang dipengaruhi langsung oleh perubahan serta retribelisme budaya secara globalisasi. Kedua pemaknaan ini berdampak pada artinya hidup berbudaya. Karena fleksibelitas dan adaptasi dengan perkembangan zaman serta perubahan budaya terdampak dengan globalisasi. Hal ini dikarenakan cukup pesatnya perkembangan penyebaran informasi. Fenomena daya tarik yang terjadi merupakan bagian dari ganjaran sosial yang merupakan asal usul struktur sosial. Fenomena yang terjadi perubahan budaya bukan hanya struktural akan tetapi perubahan secara intrinsik dan ekstrisik pun terjadi dalam budaya. Perubahan Intrisik dapat berupa kasih sayang, pujian, kehormatan dan lain-lain sedangkan ekstrinsik dapat berupa uang, barang-barang atau jasa konsep pertukaran seperti teori Hooman. Kota Medan merupakan kota multietnik yang terdiri dari beberapa suku atau kebudayaan diantaranya Melayu, Batak, Minang, Jawa, dan suku lainnya. Suku Melayu Deli merupakan suku asli yang menghuni kota Medan. Penyebarannya di Kawasan Deli tua, Pinggiran Sungai Deli dan Labuhan yang terkonsentrasi secara geografis. Pada awal tahun 2021 eksistensi Suku Melayu Deli dianggap mengalami perguncangan setelah Walikota Medan Bobby Nasution mengeluarkan Peraturan Walikota Nomor : 025/02.K/VIII/2021 yang dalam kebijakan tersebut Walikota memerintahkan Pegawai di Lingkungan Pemerintah Kota Medan memakai baju daerah di hari jumat. Kebijakan ini juga banyak mengalami kontradiktif beberapa penggiat dan oganisasi masyarakat melayu Deli menyatakan Walikota harus meninjau kembali atas kebijakan tersebut, Permasalahan terhadap aktifitas serta interaksi yang dibangun oleh masyarakat Melayu Deli di Kota Medan, terdapat pula sebuah kelompok masyarakat yang tetap mempertahankan aktifitas dan serta melakukan sebuah tindakan-tindakan. Tindakan yang dilakukan oleh kelompok sosial ini juga  dilihat sebagai tindakan yang dilakukan untuk menegakkan perilaku turun temurun.. Beberapa perubahan serta pengaruh adanya urbanisasi, serta evolusi sosial diatas baik faktor internal dan eksternal yang  menjadikan Jehan Ridho Izharsyah, salah satu mahasiwa program Doktor Sosiologi mengangkat sebuah penelitian disertas dengan judul Rasionalitas Tindakan Masyarakat Pesisir Melayu Deli Dalam Mempertahankan Eksistensi Budaya Lokal Kota Medan. Menggunakan paradigma interoretatif melalui interaksi dan hubungan sosial, serta pendekatan kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplanatori, eksplorasi, dan deskriptif permaslahan tunggal masyarakat melayu deli yang ada di kawasan pesisir Medan ini mendapati bahwa makna Tindakan yang dilakukan Masyarakat Pesisir Melayu Deli dalam mempertahankan eksistensi budaya lokal Kota Medan dilakukan dengan menitik beratkan kepada pemahaman serta persfektif interpretative tindakan. Makna sosial secara substantive menempatkan posisi tatanan sosial dan penguatan budaya didalamnya dengan tindakan yang telah terbiasa dilakukan dan dalam keadaan sadar. Hal ini terlihat pada terjadinya tindakan yang dilakukan masyarakat melayu pesisir dalam melihat adanya dinamika kelompok sosial yang terjadi pada perjalanan serta sejarah kebudayaan melayu di kota Medan, sehingga munculah ide serta tindakan substantive, tindakan sosial hingga terbentuklah gerakan filantropi budaya seperti Forum Masyarakat Adat Deli (FORMAD) sebagai gerakan sosial budaya dalam menjalankan syiar budaya melayu. Tindakan ini dapat dikatakan sebagai tindakan dengan alat dan tindakan rasional yang berorientasi kepada hasil karena dilakukan secara sadar, upaya ini dilakukan karena terlihatnya dinamika yang kuat serta adanya akulturasi yang lama kelamaan dapat mengancam eksistensi kebudayaan melayu deli itu sendiri. Kemudian, Masyarakat melayu deli pesisir dalam mengambil keputusan hingga berprilaku masih berorientasi kepada kebiasaan dan warisan leluhur yang kuat hal ini terlihat dalam aktifitas masyarakat pesisir melayu deli masih melakukan rangkaian kegiatan tradisional seperti: adat istiadat dalam kandungan, kelahiran, turun tanah, sunat rasul/khitanan, perkawinan, kematian. Ada juga Upacara upah-upah, mandi balimau, upacara ikrar menjadi saudara dan lain sebagainya. Kemudian dalam memutuskan suatu perkara atau pemilihan kepala hingga kepemimpinan juga masih menganut musyawarah yang kuat hingga adanya petuah dari datuk hingga orang yang di tua-kan. Tindakan ini dikatakan sebagai Tindakan Tradisional/ Tindakan Karena Kebiasaan (Tradisional Action). Selanjutnya, tantangan yang lain ialah masyarakat pesisir melayu deli memiliki subyektifitas yang tinggi dalam menilai dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Walaupun mereka mencoba melakukan perjuangan (Struggle Culture) dalam melawan kondisi lingkungan hingga tekanan ekonomi yang cukup tinggi. Tetapi mereka cukup sulit keluar dari keadaan atau situasional tersebut Sehingga muncullah rasa fesimistis serta persfektif antara kepercayaan hingga keputus’asaan. Tindakan ini dianggap sebagai prilaku afectuality. Temuan berikutnya adalah dalam upaya menjaga serta mempertahankan nilai kebudayaan melayu deli, masyarakat pesisir melayu deli di kejuruhan Metar Bilad Deli dan Wilayah Kejuruan Percut melalui Forum Masyarakat Adat Deli (FORMAD) menjalin sebuah interaksi serta kolaborasi sebagai wujud tindakan afektif kepada Pemerintah (Collaboration to Government), kepada Dunia Usaha (Collaboration to Business), kepada Universitas (Collaboration to University), kepada Organisasi Non Pemerintah atau Masyarakat Madani (Collaboration to Non-Government Organization or Civil Society), hingga kepada Media Massa (Collaboration to Mass Media).Tindakan-tindakan tersebut di singkronisasikan kepada program yang disusun seperti Klinik Pantun Nusantara (Cakap-Cakap), Pemberian Ucapan terima kasih Kepada Tokoh Melayu, Kegiatan Sosial (Bakti Sosial), Media Informasi dan Komunikasi (Metar Bilad Tv), Pengembangan Keilmuan (Science Development) dan lain sebagainya. Tidak hanya sampai disitu, berdasarkan tindakan, kolaborasi hingga interaksi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir melayu deli terbentuklah sebuah pola baru yakni Harmonical Structural Wisdom yaitu aktifitas Masyarakat pesisir melayu deli dalam menjalin ukhuwah serta interaksi sosial yang dilakukan dengan pola kerukunan serta gotong-royong dalam paguyuban tersebut. Pola Bargaining Habit Culture yaitu adanya aktifitas-aktifitas khusus yang dilakukan oleh masyarakat pesisir melayu deli misalnya kegiatan saling bertukar makanan tradisional pada upacara hari besar keagamaan, pesta perkawinan, serta peringatan hari besar keagamaan. Combination Kooptasi leader yaitu pola kepemimpinan dengan melakukan kombinasi dengan pola tradisional yang ada. Misalnya dalam memilih kepemimpinan sekalipun norma kelompok masih sangat kuat. Combination Historical Culture yaitu pola yang dilakukan dengan adanya kombinasi antara makna sejarah hingga adanya sebuah pola baru yang terjadi. Penggabungan antara kebiasaan serta keadaan sekarang dengan kebiasaan waktu lampau. dan terakhir Interactional plan Action yaitu pola interaksi yang dilakukan dengan penuh perencanaan. Pemaknaan penuh perencanaan ini adanya semacam kekuatan dalam menjalankan interaksi secara totalitas dan telah mengukur bagaimana tahapan hingga dampak yang akan terjadi hal ini kemungkinan besar dikarenakan mereka memiliki rasa traumatik dari sejarah masa lampau. Melalui penelitian ini mahasiswa asal Sumatera Utara ini berharap perlu adanya tindakan khusus terhadap penguatan kembali kepada nilai-nilai budaya lokal yang telah ada di Medan. Selain itu pembangunan kompetisi pemikiran pemerintah dapat memperhatikan level kehidupan masyarakat pesisir melalui aktifitas serta program pemberdayaan masyarakat sehingga menimbulkan rasa semangat serta optimistis yang tinggi dalam melihat lingkungan serta menjaga keutuhan yang ada. Berikutnya perlunya pihak kesultanan, raja atau datuk kewilayahan dan kejuruhan, masyarakat melayu deli hingga kelompok kepentingan

Tindakan Sosial Keluarga Slum Area Dalam Membentuk Kepribadian Anak di Kota Medan

Kota Medan sebagai kota metropolitan masih banyak ditemukan pemukiman kumuh yang padat dan tidak teratur salah satu kawasan kumuh yang terletak di tengah Kota Medan yang dahulu dikenal oleh masyarakat dengan nama “Kampung Sejahtera”. Masyarakat yang mendiami kawasan ini sangat beragam mulai dari penduduk lokal maupun etnis Tamil sudah cukup lama tinggal didaerah ini. Mayoritas masyarakat slum area tinggal di pemukiman ini yang memiliki kualitas, hidup yang sangat buruk. Kemiskinan dan keterbatasan fiskal kawasan kumuh telah mempengaruhi tingkat pendidikan secara signifikan yang sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Kajian penelitian Tindakan Sosial Keluarga Slum Area Dalam Membentuk Kepribadian yang dilakukan Sigit Hardiyanto, mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang merupakan hasil kajian riset membahas tindakan sosial pervasif normatif dalam membentuk kepribadian. Tindakan sosial pervasif disini dapat dilihat sebagai tindakan yang senantiasa dilakukan oleh orang tua kepada anak secara berulang-ulang. Penerapan kedisiplinan, norma agama sebagai kontrol sosial dan keteladanan orang tua dinilai sangat membantu dalam membentuk kepribadian anak sesuai dengan kaidah nilai dan norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya. Pentingnya pendidikan kepribadian yang dilakukan oleh orang tua kepada anak pada keluarga slum area suku lokal dan Tamil di Kota Medan dapat dituangkan dalam bentuk perilaku orang tua seperti kasih sayang, pemberian motivasi, kemampuan memahami dan mendengarkan dan memiliki kemampuan sebagai problem solver. Kemampuan orang tua dalam membangun kepribadian kepada anak mengacu kepada keteladanan orang tua yang dapat dituangkan dalam bentuk perilaku orang tua seperti kasih sayang, pemberian motivasi secara terus menerus, kemampuan memahami dan mendengarkan dan menjadi pemberi solusi terhadap masalah yang dihadapi anak. Kekuatan aktivitas komunikasi yang senantiasa dilakukan orang tua dalam membentuk kepribadian pada keluarga slum area suku lokal dan Tamil di Kota Medan terdapat pada penanaman perilaku berbasis spiritual keagamaan seperti doktrin takut dengan Tuhan, penerapan kedisiplinan pada anak. Adapun metode komunikasi yang dilakukan dalam membentuk kepribadian anak dengan cara penerapan interaksi secara verbal dan nonverbal. Interaksi verbal disini dilakukan dengan cara memberikan nasihat, gambaran realitas memahami lingkungan sosial tentang dunia sekitar. Komunikasi nonverbal disini dapat dilakukan dengan mengajak anak untuk bermain, kegiatan refreshing keluarga yang didasarkan pada pendekatan perilaku/ behaviorisme yang senantiasa dilakukan orang tua yang mau melakukan sebuah perubahan yang mengikuti pola perilaku kepribadian yang diinginkan sesuai dengan sikap sosial di lingkungan masyarakatnya. Dalam rangka membangun kepercayaan dan keyakinan anak lewat komunikasi, dibutuhkan kredibilitas orang tua (komunikator) yang tercermin dari perilaku orang tua. Hal ini sebagai kunci utama dalam rangka membangun hubungan yang harmonis, terbuka, saling respek. Pentingnya hubungan interpersonal yang dilakukan memerlukan tindakan-tindakan orang tua untuk mencapai kepribadian anak yang diharapkan.

Analisis Kontruksi Sosial Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengelolaan Sampah Pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan

Salah satu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari terkait masalah lingkungan adalah banyaknya sampah rumah tangga yang dibuang tanpa memilah sesuai dengan jenisnya terlebih dahulu. Sampah merupakan limbah dari suatu material yang sudah tidak terpakai lagi. Sebenarnya sampah dapat dikelola dan akan menghasilkan nilai ekonomi. Sampah dibedakan menjadi sampah organik dan an-organik. Sampah organik dapat dijadikan pupuk tanaman dan sampah an-organik dapat didaur ulang atau sebagai komoditas perdagangan. Disinilah dapat dilihat pentingnya keberadaan Bank Sampah. Bank Sampah menjadi wadah awal pengelolaan sampah dan juga sebagai sarana bagi masyarakat untuk menabung karena bernilai ekonomi, sekaligus sarana memberdayakan masyarakat. Keberadaan akan bank sampah ini menarik perhatian Efendi Augus, salah satu mahasiswa program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang yang akhirnya dijadikan topik dalan penelitian disertasinya. Penelitian yang membahas bagaimana proses Konstruksi Sosial Eksternalisasi, Objektivikasi, Internalisasi atas pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah ini dilakukan di Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Mengusung model penelitian lapangan (fiel research) Efendi menggunakan paradigma definisi sosial dalam mempelajari persoalan-persoalan yang diteliti, aturan-aturan yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan-persoalan yang dipelajari. Tindakan sosial yang dilakukan aktor dalam pemberdayaam masyarakat melalui pengelolaan sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan teori Tindakan Sosial (social action theory) Weber dan teori Konstruksi Sosial Peter Berger dan Lukmann. Pendekatan ini sengaja dipilih karena mempermudah peneliti dalam menganalisis dan menjelaskan proses terbentuknya realitas secara sosial melalui mekanisme dialektis pada Pemberdayaan Masyarakat melalui pengelolaan sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Lokasi penelitian di Bank Sampah Mutiara Kota Medan Kecamatan Medan Denai Kelurahan Binjai, dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Menggunakan teknik analisis data dan menggunakan uji keabsahan data dengan trianggulasi. Hasil penelitian penelitian yang ditemukan oleh mahasiswa asal Sumatra Utara ini adalah adanya perubahan pemaknaan yang meliputi penilaian dan pengelolaan sampah serta Pemberdayaan Bank Sampah. Penelitian ini berlangsung ketika masyarakat mulai memahami makna sampah yang diekspresikan melalui aktivitas atau tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengenalan makna sampah diawali dengan ide atau gagasan melalui program Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Melalui program yang dilakukan oleh Bank Sampah Mutiara Kota Medan memberikan pengaruh pada perubahan makna sampah dengan melakukan pemanfaatan sampah. Program ini merupakan sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus yang dilakukan oleh Bank Sampah Mutiara Kota Medan hingga memberikan perubahan nilai pada sampah yaitu tahap penghijauan dan daur ulang. Kegiatan ini dilakukan selama proses interaksi yang berlangsung dengan masyarakat sehingga menciptakan makna baru yang dihasilkan dari hubungan interaksi yang berlangsung dengan kesadaran dari aktor terhadap suatu ide atau gagasan baru. Tindakan yang dilakukan pada proses eksternalisasi melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan Bank Sampah Mutiara Kota Medan merupakan suatu bentuk akumulasi dan stok pengetahuan sosial yang dapat ditransfer dari satu generasi ke generasi selanjutnya sehingga menghasilkan suatu pengalaman untuk menciptakan makna baru melalui proses interaksi yang dilakukan secara terus menerus sehingga dapat membedakan realitas berdasarkan tingkat keakraban. Hasil lainnya ditemukan bahwa terjadi tindakan yang berulang (habitualisasi) melalui program pemberdayaan yang dilakukan oleh Bank Sampah Mutiara Kota Medan yaitu sosialisasi. Interaksi sampah dan pengelolaannya secara berulang-ulang perlu pembiasaan. Seperti yang dikemukakan Berger: “Setiap tindakan yang sering diulang pada akhirnya akan menjadi pola yang kemudian dapat direproduksi dengan usaha sesedikit mungkin”, oleh karena itu, perlu dipahami oleh pelakunya bahwa hal ini adalah sebagai pola. Seperti yang dikemukakan Berger: “Tentu saja tindakan yang telah menjadi kebiasaan mempertahankan karakternya yang bermakna bagi individu, meskipun makna yang terlihat di dalamnya tertanam sebagai hal rutin dalam persediaan pengetahuan umumnya”. Dalam mekanisme pengelolaan Bank Sampah Mutiara Kota Medan untuk meningkatkan ekonomi keluarga pada umumnya ada imbalan sejumlah uang melalui mekanisme, pemilahan sampah skala rumah tangga, penyetoran, penimbangan, pencatatan hasil sampah yang dilaporkan, yang akhirnya dimasukkan kedalam buku tabungan. Dampak program Bank Sampah Mutiara Kota Medan melalui aspek kesehatan dan lingkungan secara umum adalah menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan. Pada fase objektivasi, masyarakat merupakan produk kebiasaan yang diciptakan oleh proses eksternalisasi itu sendiri. Selain itu proses Konstruksi Sosial Internalisasi Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan juga ditemukan bahwa masyarakat yang menjadi anggota Bank Sampah mengaktualisasikan nilai yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya melalui pemilahan, pengelolaan sampah, daur ulang bersifat ekonomi dan lingkungan bersih dan sehat. Pengurus Bank Sampah Mutiara Kota Medan berinovasi dengan mendatangi sekolah-sekolah dengan melakukan sosialisasi program Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Proses Internalisasi ini mereka lakukan dengan cara mensosialisasikannya. Setelah mereka mendapatkan informasi adanya Bank Sampah berikutnya mereka masuk menjadi anggota Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Berikutnya Keterlibatan nasabah di Bank Sampah Mutiara Kota Medan meningkatkan perilaku hidup sehat dan bersih karena mereka telah punya pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka dapatkan dari program pemberdayaan Bank Sampah Mutiara Kota Medan. Mereka senantiasa terus melakukan kebersihan lingkungan rumah tangga, melakukan pemilahan sampah dengan baik. Selain itu mereka juga mengajarkan nilai sampah kepada anak cucunya dimana ini menjadi peran orang tua untuk memberikan pengetahuan karena memiliki ikatan emosi Proses Konstruksi Sosial tahap eksternalisasi, Objektifikasi, dan Internalisasi dimulai dari ketertarikan masyarakat terkait pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah pada Bank Sampah Mutiara Kota Medan, ditambah lagi sosialisasi dari Pengurus Bank Sampah Mutiara Kota Medan yang intens. Kontruksi sosial ini bisa dilanggengkan sampai saat ini, karena sosialisasi yang terus menerus dilakukan oleh pengurus Bank Sampah serta dukungan dari berbagai pihak seperti Pemerintah Daerah. Selain itu Konstruksi sosial ini dianggap berhasil karena adanya output yang jelas dan menjadi kebutuhan masyarakat, yakni konsep Bank sampah dengan menjual sampah mendapatkan uang. ProgramBank Sampah Mutiara Kota Medan dijadikan aktivitas bagi masyarakat baik secara kognitif maupun afektif dalam bentuk pelatihan Lingkungan bersih dan sehat dan pelatihan pengelolaan sampah organik, daur ulang sampah an- organik bernilai ekonomi. Efendi berharap dari penelitian ini agar Bank Sampah Mutiara Kota Medan membentuk kelompok sasaran baru dalam mengupayakan perubahan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang baik dan benar. Bagi Pihak pengelola Bank Sampah Mutiara Kota Medan disarankan melakukan kerjasama dengan instansi yang peduli terhadap lingkungan. Bank Sampah dalam pengelolaan sampah dapat dijadikan rule model bagi pola pemberdayaan masyarakat melalui pemamfaatan sampah. Bagi Pemerintah Daerah agar membentuk Bank Sampah yang dikelola oleh Badan Usaha

Resistensi Paguyuban Pedagang Pasar Tradisional dalam Konflik Penolakan Kebijakan Revitalisasi

Pasar tradisional merupakan penggerak ekonomi masyarakat. Saat ini pasar tradisional tengah mengalami banyak tantangan. Persaingan ini menjadi tidak seimbang karena perbedaan modal antara pedagang di pasar tradisional dengan pasar modern. Fenomena konflik revitalisasi pasar tradisional adalah bukti ketidak berdayaan sektor informal berhadapan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh kelembagaan pemerintah. Hal tersebut menggambarkan betapa pembangunan kurang bersimpati kepada masyarakat sebagai pedagang pasar tradisional. Dampak paling nyata dari revitalisasi pasar, adalah resistensi atau penolakan dari paguyuban pedagang melalui penguatan modal sosial dalam Paguyuban  Pedagang Pasar Tradisional Blimbing  yang mereka bentuk selama ini. Penguatan Modal sosial (social capital) pedagang pasar tradisional tidak hanya sebatas wacana dan diskusi di kalangan akademisi dan ahli sosial, tapi yang terpenting bagaimana konsep itu dapat digali dari kehidupan masyarakat. Melalui alasan dan fenomena tersebut, Sulismadi yang salah satu mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang mengangkat penguatan modal sosial paguyupan pedagang pasar tradisional Blimbing Kota Malang sebagai topik penelitian disertasinya. Hal ini ia jelaskan karena berdasarkan pada pendekatan yang tidak mengabaikan kepentingan paguyuban pedagang, tetapi bagaimana mengangkat paguyuban pedagang dengan kesadaran. Bahwa paguyuban pedagang pasar tradisional mampu mengangkat harga diri paguyuban dengan lebih baik. Dalam Resolusi konflik, Sulismadi menjelaskan bahwa penolakan kebijakan revitalisasi pasar dilakukan melalui paguyuban dan tim tujuh, sebagai wadah silahturahmi dan koordinasi pedagang dalam menyikapi fenomena perubahan dan dinamika yang terjadi serta bertujuan untuk mendayagunakan kekuatan paguyuban pedagang pasar, Paguyupan telah melakukan  pendekatan secara demokratis melalui resolusi konflik, secara persuasif melalui cara; negosiasi, mediasi dan advokasi, dengan harapan mendapatkan solusi antar pihak yang terkait dan juga dapat mengakomodir aspirasi paguyuban, sehingga menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan para pemangku kepentingan (stake holder). Lebih lanjut mahasiswa yang akrab dipanggil pak Sulis ini juga mengungkapkan bahwa Fenomena penolakan ini mengindikasikan bahwa Sistem politik dan aturan perundang-undangan bukan menjadi acuan utama untuk memahami pola hubungan negara dan masyarakat sebagai pedagang pasar tradisional. Sistem politik demokrasi tidak dengan sendirinya menempatkan hubungan negara dengan masyarakat pedagang pasar tradisional sebagai bentuk hubungan yang berasaskan kebebasan, keadilan, dan persamaan. “Bisa jadi, dalam sistem politik demokrasi dan peraturan undang-undang mencerminkan ketiga asas tersebut, kenyataannya pedagang pasar tradisonal hanya dijadikan sebagai objek kekuasaan” ujarnya. Revitalisasi pasar tradisional yang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan kelayakan pasar tradisional. Koordinasi dan kerjasama antar pemangku pasar tradisional merupakan langkah yang harus dilakukan agar program tersebut dapat memberikan hasil dan manfaat yang maksimal bagi semua pihak yang menjadi bagian dari pasar tradisional. Namun program perbaikan pasar tradisional seringkali menimbulkan konflik yang terjadi pada ranah koordinasi antar pemangku kepentingan pada tahap perencanaan program, sehingga membuat salah satu pihak merasa dirugikan karena tidak dilibatkan sejak awal perencanaan program, seperti yang terjadi pada program revitalisasi pasar tradisional Blimbing, Kota Malang. Konflik yang terjadi di pasar tradisional Blimbing ini merupakan permasalahan yang melibatkan Paguyuban Pasar Tradisional Blimbing dan PT. KIS (Karya Indah Sukses). PT. Karya Indah Sukses telah menawarkan sejumlah konsep dalam perjanjian kerjasama dengan Pemerintah Kota Malang mengenai Pasar Blimbing, namun isi perjanjian tersebut tidak mengakomodir aspirasi dan konsep para pedagang pasar tradisional Blimbing. Sulismadi mendapati sebenarnya para pedagang tidak menolak revitalisasi namun ada beberapa hal yang menyebabkan tidak terjadi kesepakatan yaitu perbedaan kepentingan (konsep). Investor dan pemerintah ingin pedagang bergeser ke belakang dan isi depan diisi oleh kondotel dan kios baru, kios baru di jalan raya akan disewakan kepada calon pedang baru. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kepentingan para pedagang, para pedagang menginginkan agar tempat berjualannya direnovasi tanpa digeser mundur dan tidak membangun kondotel dan kios di pinggir jalan raya tetap ditempati oleh para pedagang lama. Kebijakan Revitalisasi pasar tradisional Blimbing Kota malang untuk menjadi pasar modern (Modern Market) ditengarai berpotensi dapat  merugikan paguyuban pedagang pasar. Atas  kebijakan yang merugikan tersebut  pedagang sebagai masyarakat sipil melakukan penolakan dengan berbagai cara antara lain : Protes  demontrasi para pedagang; Memanfaatkan media untuk press realease,; Dialog dengan pemerintah /legislatif,; Doa bersama–istiqotsah,; Meminta advokasi LBH, KOMNAS HAM ; Menyiapkan pagar betis jika terjadi penggusuran, memasang spanduk/baliho protes Revitalisasi Pasar Tradisional Blimbing Kota Malang yang mempunyai kerjasama dengan PT. KIS telah berakhir masa kontrak Revitalisasi sehingga tidak dapat terlaksana dan akan dilakukan peninjauan kembali oleh Pemerintah Kota Malang di tahun 2023 ini.

Pembentukan Kesalehan Mahasiswa Melalui Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

Dewasa ini perilaku mahasiswa mengalami penurunan tingkat kesalehan, diantaranya tawuran antar mahasiswa, minum alkohol hingga hilang kesadaran, mengkonsumsi narkoba, melakukan aksi pencurian, perilaku seks bebas, terlibat geng motor, pembunuhan dan seterusnya. Beberapa faktor yang menyebabkan turunnya derajat ketaqwaan di kalangan mahasiswa antara lain kurang terintegrasinya nilai-nilai keislaman, ketidakstabilan mahasiswa, baik dari segi ekonomi, sosial masyarakat dan politik, pendidikan yang tidak berjalan. layak dalam keluarga, suasana dalam ruangan, tangga lusuh, pengenalan obat-obatan terlarang dan kontrasepsi, banyak artikel tidak berbudaya, gambar pornografi, program televisi non-pendidikan, seni terlarang, tidak menghormati persyaratan moral dasar, kurangnya bimbingan untuk mengisi waktu luang dengan baik cara dan mengarah pada perkembangan moral, tidak ada atau kekurangan tempat untuk membimbing dan menasihati mahasiswa. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, maka perlu adanya upaya untuk minimalisir kejadian-kejadian di atas, diantara cara untuk menghasilkan mahasiswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlakul karimah/mulia perilakunya, seperti tujuan pendidikan nasional tersebut. Hal inilah yang membuat Robie Fanreza, salah satu mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang berfikiran bahwa dengan cara mempelajari agama Islam pada lembaga pendidikan formal baik pada tingkat pendidikan dasar menengah (sekolah dasar hingga perguruan tinggi) maupun tingkat pendidikan tinggi (Kampus) dapat mengurangi dampat dari fenomena tersebut dan mengemasnya dalam sebuah penelitian disertasi. Penelitian yang berfokus pada bagaimana pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini dilakukan dengan mengambil lokasi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan penitiannya, Robie melakukan wawancara dan observasi secara langsung ke Badan Pembina Harian, Pengurus Badan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan mahasiswa dengan bertujuan untuk mengetahui secara langsung setiap proses pembinaan yang dilakukan. Pada disertasinya Robie menuliskan bahwa dirinya mendapati temuan dimana ada peningkatan kesalehan mahasiswa, hal ini dapat dilihat dari ketepatan mahasiswa melakukan sholat lima waktu, cara berpakaian mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan dalam membaca alquran dengan benar, disiplin terkait dengan waktu, peduli terhadap lingkungan, serta mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan. Ia juga mendeskripsikan terkait kesalehan mahasiswa meliputi dua kategori yaitu kesalehan individual yang didukung oleh kajian intensif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, dan dikembangkan oleh lembaga pengembangan tilawatil Qur’an. Sedangkan, kesalehan sosial didukung dengan adanya program kerja yang dimiliki oleh kelembagaan kemahasiswaan seperti bakti sosial, paket dakwah ramadhan, dan penggalangan dana bagi korban bencana alam. Hal ini tentunya terintegrasi dengan pemikiran Muhammad Sobari, yang menyatakan bahwa kesalehan individual dan sosial saling teritegrasi, hal ini dikarenakan harus adanya penguatan kesalehan yang bersumber dari invidual, dan dikembangkan menjadi kesalehan sosial.  Dalam organisasi muhammadiyah, kesalehan indivual dan sosial merupakan spirit teologi al maun yang digagas oleh Ahmad Dahlan, dalam mengembangkan organisasi. Maka untuk itu, saat ini teologi al maun terus menjadi konsep dalam pengembangan amal usaha Muhammadiyah. Temuan berikutnya adalah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara melakukan proses program dan kegiatan melalui Badan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk dan meningkatkan nilai kesalehan mahasiswa. Mahasiswa dididik dalam berbakti, etika, kemajuan, dan keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Membentuk ketakwaan mahasiswa dengan mengambil mata kuliah agama Islam dan mata kuliah kemuhammadiyahan dimulai dari semester pertama sampai dengan semester keempat dengan beban 2 sks diikuti oleh program-program yang ditawarkan oleh Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diselenggarakan sebagai program studi intensif tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam dua hari. Pembentukan kesalehan mahasiswa melalui program mentoring yang dilakukan setelah mengikuti program Kajian Intensif Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan. Mahasiswa mengikuti ujian komprehensif sehingga membentuk tingkat disiplin dalam kesalehan ritual atau pribadi, sosial dan professional. Juga melakukan Sembilan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari di kampus. Selanjutnya melalui program dan kegiatan Badan Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara mampu membentukan kesalehan pada mahasiswa. Kesalehan mahasiswa mampu menyimbangkan kesalehan ritual atau individual dengan kesalehan sosial serta kesalehan professional. Pembentukan kesalehan dengan nilai-nilai keislaman berorientasi pada pembentukan sikap, perilaku saleh, dan kepribadian mulia. Pembentukan kesalehan mahasiswa sebagai upaya untuk mampu membudaya atau kebiasaan berakhlakul karimah. Pembentukan kesalehan merupakan sebuah proses tidak secara instan melainkan harus melalui tahapan-tahapan. Dibalik temuan yang ia tuliskan, mahasiswa asal Sumatera Utara ini juga menyematkan beberapa harapannya dimana pembentukan kesalehan kepada mahasiswa melalui Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan perlu dipertahankan dan ditingkatkan, karena muatan pembentukan kesalehan sangat relevan dengan tuntutan kurikulum, desain kegiatan yang dirancang selain menggembirakan juga memberikan pengaruh yang positif terhadap mahasiswa, serta memberikan pengalaman nyata tentang membentuk kesalehan yang sebenarnya dalam kehidupan mahasiswa. Tidak lupa juga ia memberikan saran kepada lembaga terkait sinergisitas antara dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, masyarakat ditambah aktivitas lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran dapat membentuk perilaku pergaulan dalam berinteraksi, sosialisasi yang saling mempengaruhi dan memudahkan terjadinya pembentukan kesalehan. Kepada para dosen sebaiknya perlu memperhatikan mahasiswa pribadi yang mempunyai potensi utuh seperti kesalehan individual, kesalehan sosial dan kesalehan professional. Dikarenakan potensi ini akan berkembang apabila melalui pendekatan yang baik. Mahasiswa seharusnya diarahkan menjadi sosok pribadi yang saleh.

Potensi Penggunaan Limbah Organik Nasi Kering Sebagai Sumber Energi Pada Broiler

Sampah organik saat ini masih menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh data yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Indonesia menghasilkan 30 juta ton limbah pada tahun 2021. Limbah organik menyumbang 12 juta ton dan 40% dari sampah organik tersebut adalah limbah dari sisa makanan. Nasi sisa menyumbang limbah sebesar 276.000 ton per tahun yang belum terkelola maksimal dan menunjukkan bahwa ada potensi besar untuk mengolah limbah organik ini menjadi bahan pakan alternatif untuk ternak seperti nasi kering. Permasalahan lain ditunjukkan pada sektor peternakan terutama pada bidang peternakan broiler. Tingkat kematian yang tinggi dan performans yang buruk diakibatkan oleh heat stress tinggi sebagai akibat climate change yang terjadi tiap tahunnya. Terlebih lagi Indonesia adalah negara tropis dengan suhu lingkungan diatas 24℃ padahal broiler adalah jenis ternak yang bertumbuh maksimal pada suhu 19℃ sampai dengan 21℃. Keadaan ini diperparah dengan harga pakan yang semakin tinggi karena bahan baku mayoritas impor. Pengolahan sisa bahan organik menjadi nasi kering menjadi solusi untuk tiga permasalahan sekaligus. Selain dapat mengurangi masalah limbah, juga memberikan alternatif pakan yang lebih murah daripada jagung dan mampu mengatasi heat stress sehingga memperbaiki performance broiler. Nasi kering merupakan jenis pati resisten yang baik digunakan untuk ayam pada kondisi heat stress karena kalori rendah dan dapat memperbaiki sistem pencernaan. Melihat potensi akan limbah makanan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak membuat Rusli Tonda, mahasiswa S3 Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ini membuat sebuah penelitian untuk menganalisis potensi penggunaan nasi kering sebagai bahan pakan sumber energi dan sebagai bahan pakan fungsional mengurangi heat stress. Mahasiswa asal Sulawesi Selatan ini menggunakan beberapa tahap dalam melakukan penelitiannya dimana tahap pertana adalah menguji sampel nasi kering yang beredar di pasaran. Sampel nasi kering ini diambil dari tiga daerah wisata yaitu daerah P1 (Lumajang), P2 (Pasuruan) dan P3 (Malang). Hasil sampel di tahap pertama untuk menguji kandungan dari nutrisi nasi kering dari tiga tempat wisata tersebut menunjukkan tidak ada  tidak ada perbedaan signifikan nasi kering yang ada di pasaran terhadap kandungan nutrisi. Selanjutnya di tahap kedua adalah membuat nasi kering dari limbah makanan untuk masuk pada uji proksimat. Rusli mengungkapkan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nasi kering berpotensi sebagai bahan pakan pengganti jagung dan bekatul karena memiliki kandungan protein kasar 7% sampai dengan 12% yang sama dengan jagung dan bekatul. Selain itu, nasi kering memiliki kandungan serat kasar dan lemak kasar yang rendah (dibawah 5%) sehingga menjadi keunggulan produk olahan sampah ini sebagai bahan pakan sumber energi. Tak hanya sampai disitu, dengan menggandeng PT. Zakiyah Jaya Mandiri yang ada di Lumajang, Jawa Timur sebagai mitra, Rusli melakukan eksperimen penerapan langsung pada Broiler serta melakukan uji hematologi di Laboratorium Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta Indonesia. Penggunaan nasi kering dapat mengurangi tingkat heat stress pada ayam broiler yang dibuktikan dengan frekuensi panting lebih rendah. Semakin tinggi frekuensi panting ayam menunjukkan semakin tinggi pula tingkat stress yang dialami. Bobot jantung memperlihatkan  adanya pembesaran atau pembengkakan pada P0 yang menandakan kerja jantung ayam bekerja lebih berat sebagai akibat dari kondisi heat stress. Begitupula jumlah leukocytes pada P0 yang berada pada ambang batas toleransi (40.000 /mm3) yang menandakan bahwa meningkatnya jumlah leukocytes sebagai akibat dari tingkat stress yang tinggi. Rasio H/L pada P0 juga mengalami penurunan drastis dibawah angka normal (0,3 – 0,7). Sedangkan perlakuan dengan menggunakan nasi kering berada pada angka normal. Penggunaan nasi kering juga meningkatkan produktivitas broiler yang dibuktikan dengan PBBH lebih besar. Semakin besar pertambahan bobot badan harian maka akan semakin baik produktivitas. Nasi kering juga menekan tingkat FCR menjadi lebih rendah. Semakin rendah FCR yang diperoleh maka semakin baik performans broiler. Indikator terakhir yang menunjukkan bahwa nasi kering mampu meningkatkan produktivitas adalah dengan meningkatnya IP yang diperoleh. Semakin tinggi IP yang didapatkan maka semakin baik pula produktivitas dari broiler tersebut. Rusli juga memaparkan bahwa pemberian nasi kering meningkatkan nilai ekonomi peternak karena dari aspek kualitas memiliki protein sama dengan jagung tetapi kandungan serat kasar lebih rendah sehingga cocok untuk ayam yang memiliki sistem pencernaan yang sederhana. Atas dasar itulah sehingga produktivitas bisa lebih meningkat. Selain itu, biaya pakan lebih rendah jika dibanding dengan pakan yang disubtitusi seperti jagung. Nasi aking juga memiliki potensi bisnis yang menjanjikan karena dapat mengurangi pencemaran lingkungan jika dikelola secara maksimal. Mengolah limbah sisa nasi menjadi bahan pakan untuk broiler menjadi inovasi baru yang berkelanjutan.

Konstruksi Sistem Pendidikan Islam Model Kuttab

Pendidikan merupakan poros utama dalam memajukan suatu peradaban. Pada dasarnya, pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai yang akan dapat menjadi penolong serta penentu manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk meningkatkan nasib serta peradaban manusia di masa mendatang. Dalam Islam pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal, tetapi merupakan pendidikan sepanjang hayat (long life education). Sebagai konsekuensi logis dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, idealnya dilakukan integrasi antara agama dan ilmu umum di semua jenis dan jenjang pendidikan. Melihat adanya hal tersebut membuat Riduan, mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang ini menjadikannya sebagai tema penelitian disertasi. Penelitian yang memotret persoalan sistem Pendidikan di Kuttab, Integrasi Agama dalam pembelajaran dan prespek Lulusan Kuttab Al-fatih ini bertujuan untuk memahami sistem pendidikan Islam model Kuttab, integrasi antara ilmu dan agama pembelajaranny serta mengetahui kualifikasi kelulusan pendidikan Islam model kuttab yang ada di Al Fatih Malang. Kuttab sendiri merupakan tempat belajar anak untuk belajar membaca dan menulis Al-Qur’an, kehadiran Kuttab dapat dihubungkan dengan semangat umat Islam untuk menuntut ilmu. Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk rajin membaca dan menulis. Melalui tulisan disertasinya, Riduan menjelaskan bahwa Kuttab yang ada pada Al Fatih memiliki karakteristik berbeda dengan sekolah dan madrasah di Indonesia. Secara umum ia menjelaskan bahwa kuttab-kuttab di Indonesia memiliki legalitas sebagai PKBM di bawah Dinas Pendidikan Nasional. Kurikulum Kuttab Al Fatih Malang menekankan pembelajaran Al-Qur’an dengan target minimal 24 juz hafalan yang dicapai siswa. Sedangkan Kuttab yang ada di Al Fatih Malang menerapkan sistem pembelajaran halaqah, terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an yang merupakan model kuttab di era pendidikan Islam klasik. Representasi pendidikan Islam klasik juga terlihat dari metode talaqqi yang diterapkan pada santri dalam menghafal Al-Qur’an. Penerapan model pembelajaran menggunakan integralistik dalam pendidikan agama dalam pembentukan akhlak dan manusia yang baik. Kurikulum Iman morafaqot dalam pembahasan ilmu dipadu padankan dengan pembelajaran Al-Quran yang berkaitan dengan tema yang akan diajarkan. Kuttab Al Fatih Malang menerapkan hubungan ilmu pengetahuan dan agama dengan prinsip iman dan al-Qur’an. Implementasi hubungan ilmu dengan agama berupa pembiasaan yaitu pembiasaan Muroja’ah Al-Qur’an diwujudkan dalam bentuk 3S (Salam, Senyum, Salam). Selain itu hubungan antara sains dan agama di Kuttab diwujudkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas, dalam kegiatan pembelajaran di kelas dimana siswa diajarkan segala sesuatu yang terikat di dunia ini dalam studi sains yang kecil. bagian dari ilmu yang Allah ciptakan itupun datang dan diketahui oleh manusia karena kitab suci Al-Qur’an. Dalam hal kualifikasi, lulusan Kutab al Fatih Malang sudah memenuhi kualifikasi akademik, moral, individual, sosial, maupun kultural. Hasil dari data yang didapat menunjukkan siswa mampu membaca Al Qur’an dan memahami makna beberapa ayat al Qur’án serta mampu mengintegrasikan dengan alam, diantaranya tentang malam, siang, pagi, air, api, energi panas, musim, gunung, laut, sungai, tumbuhan, hewan, dan bumi. Selain itu siswa juga dapat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada materi pelajaran IPA, IPS, Matematika, dan Bahasa Indonesia setara dengan kurikulum madrasah ibtidaiyah/SD yang terintegrasi dengan Al-Qur’an. Dari penelitiannya ini Riduan juga menyusun beberapa proposisi yang ia jadikan sebuah temuan. Walaupun jauh dari kata sempurna, namun kekurangan dalam penelitian ini akan menjadi saran bagi penelitian selanjutnya terhadap bebarapa variabel yang belum diteliti dalam topik penelitian yang sejenis, terutama topik penelitian Konstruksi Pendidikan Model Kuttab.

Konstruksi Sosial Atas Filosofi Jagung Beras di Dalam Laut

Munculnya berita pada beberapa media cetak dan eletronik yang memuat tentang aktifitas aktifitas melaut dan jangkauan wilayah tangkap Nelayan Selam Pesisir Pulau Buaya serta serta masalah penangkapan ikan yang dialami oleh mereka di wilayah perbatasan antar Propinsi maupun antar Negara merupakan fenomena kehidupan nelayan di kabupaten Alor. Nelayan Pesisir Pulau Buaya dikenal sebagai nelayan Selam (Tubo) Tradisionil yang terus berkembang, dan berbeda dengan nelayan Selam lainnya di Kabupaten Alor. Fenomena menariknya adalah adanya Filosofi tentang “Ite Apa Pari java Tahi Onong” atau Jagung Beras Kita di dalam Laut, yang menjadi pendorong masyarakat pesisir pulau buaya menjadi nelayan yang dikenal oleh Masyarakat Kabupaten Alor sebagai Nelayan Peselam (Spearfishing) Tradisionil Yang produktif dan tangguh. Hal ini menjadi menarik untuk ditelah lebih jauh menggunakan pendekatan konstruksi sosial untuk melihat aspek eksternalisasi, objektivitasi dan internalisasi, tentang bagaimana filosofi hidup tersebut membawa perubahan sosial bagi nelayan tradisionil pulau Buaya untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial mereka dengan tetap terjaga identitas mereka sebagai nelayan Peselam Tradisionil di Kabupaten Alor. oleh karena itu Syarifuddiin Darajad yang juga seorang mahasiswa progam studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang menjadikan tema penting dalam penelitian Disertasi dengan judul: KONSTRUKSI SOSIAL ATAS FILOSOFI JAGUNG BERAS DI DALAM LAUT. Syarifuddin mengkaji fenomenologi pada masyarakat nelayan selam tradisonil pesisir Pulau Buaya tentang laut sebagai sumber jagung dan beras di kabupaten Alor diarahkan untuk melihat suatu kenyataan bahwa masyarakat nelayan akan berkembang baik apabila mereka mereka memiliki filosofi hidup yang dikonstruksikan dalam dunia sosial mereka yang kemudian memunculkan pertanyaan tentang Bagaimana Konstruksi Sosial dan Identitas Masyarakat Nelayan Selam Tradisionil Pesisir Pulau Buaya Terhadap Generasi Muda Tentang Laut Sebagai Sumber Jagung Dan Beras Di Kabupaten Alor Filosofi hidup Tentang Jagug Beras di dalam Laut merupakan sebuah makna dari pengalaman subjektif sebagai sebuah pengetahuan masyarakat secara turun temurun, kemudian menjadi sebuah budaya yang dikonstruksikan oleh manusia, dimana telah terjadi dialektika antara masyarakat nelayan pulau buaya dengan filosofi hidupnya menjadi sebuah kepercayaan secara turun-temurun. sehingga Filosofi ini menjadi sebuah realitas objektif diluar diri mereka yang mengalami proses objektivasi ketika nilai filosofi itu berada dalam norma adat dan norma Agama, kemudian secara subjektif nelayan pulau Buaya memaknainya sebagai pedoman hidup mereka. Nelayan Pesisir Pulau Buaya memaknai Laut sebagai Niha Dike Sare, Uma Lipu Pelang Serang, Kapitan laka (Kebun Utama, Sumber Hidup yang Dikelola bersama dan menggunakan peralatan Peralatan yang memiliki multi Fungsi). Yang mana makna ini merupakan hasil dari Konstruksi Sosial berdasarkan pengalaman-pengalam subjektif mereka (Fenomenalogi) yang diterima oleh masyarakat nelayan Selam tradisional pesisir pulau buaya sebagai pedoman hidup mereka secara turun-temurun. Beberapa temuan dari penelitian yang sudah ia lakukan adalah konstruksi sosial atas filosofi laut sebagai sumber jagung dan beras dimaknai oleh makna laut sebagai kebun, makna perahu sebagai rumah bersama dan senapan ikan sebagai alat pancing multi fungsi yang dikonstruksikan dalam pesan adat dalam bahasa Alor. Syarifuddiin  juga mendapati bahwa nelayan selam tradsionil terus beradaptasi diluar lingkungan sosial mereka melalui fase penggunaan perahu dayung, (Tena tanuju), Perahu Layar (Tena sembajo) dan Perahu bermesin (Tena Massing) yang terus membuat mereka berkembang secara turun-temurun di Kabupaten Alor. Tidak hanya temuan dilapangan, Syarifuddiin juga menyusun proposisi tentang Filosofi hidup tentang laut sebagai sumber jagung dan beras tidak akan bermakna pada nelayan tradisonil abila tidak terproses melalui konstruksi sosial pada dialektika eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Berikutnya Identitas yang dimiliki oleh masyarakat nelayan tradisinal merupakan hasil dari proses konstruksi sosial yang terbangun melalui dialektika Eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Hasil dari Implikasi Teoritis yang ia Analisa juga menunjukan bahwa Teori Konstruksi Sosial merupakan teori utama dalam menjelaskan fenomena filosofi Laut sebagai sumber jagung dan beras, sementara teori fenomenologi memberikan gambaran tentang arus kesadaran sosial yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman subjektif menghasilkan sebuah identitas sosial dalam memaknai laut sebagai sumber jagung dan beras.  Penggunaan teori konstruksi sosial sebagai landasan utama dalam menelaah memberikan makna bahwa teori konstruksi sosial masih dapat dipergunakan untuk memberikan penjelasan tentang konstruksi sosial atas filosofi laut sebagai sumber jagung dan beras, namun masih perlu didukung oleh fenomenologi, yang disesuaikan dengan substansi masalah yang diangkat dalam analisah penelitian. Teori konstruksi sosial masih dapat digunakan dalam kajian-kajian ilmiah, dan untuk perkembangan teori tersebut perlu dikaji secara terus menerus agar dapat sesuai dengan perkembangan pemikiran masyarakat terhadap teori tersebut.

Manajemen Dakwah Islam Berkemajuan

Islam hadir di Indonesia melalui proses yang cukup panjang, melibatkan banyak pelaku dakwah dengan model dan gaya berdakwah tersendiri. Hal ini disebabkan Islam masuk ke Indonesia berhadapan langsung dengan mayoritas masayarakat petani yang banyak dipengaruhi oleh kepercayaan animisme yang masih cukup kental. Pada saat itu, proses Islamisasi Indonesia terjadi ketika agama Hindu telah mengakar kuat dan mendarah daging dalam masyarakat setempat, khususnya di pulau Jawa. Bercampurnya budaya Hindu yang mengakar mengakibatkan lahirnya organisasi-organisasi Islam yang merupakan proses pembaruan Islam yang coraknya lebih modern dan terorganisasi, seperti kelahiran Sarikat Dagang Islam, Sarekat Islam, Al-Irsyad, Muhammadiyah, dan NU. Secara tidak langsung, kehadiran organisasi-organisasi tersebut memberi saham bagi pembentukan perkembangan dan kemajuan umat Islam maupun bangsa Indonesia yang bersambung dengan kehadiran gerakan-gerakan Islam sesudahnya hingga saat ini, salah satunya adalah Muhammadiyah. Dengan dasar keinginan untuk maju dan mengembangkan Islam, Ahmad Dahlan (1868-1923) mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Muhammadiyah selalu berupaya melakukan koreksi dan evaluasi terhadap berbagai pemikiran dan pengamalan keagamaan dalam rangka pemurnian aqidah dan ibadah yang disesuaikan dengan ajaran al qur’an dan al-sunnah. Selain itu Muhammadiyah selalu berusaha untuk melakukan pembaharuan dalam berbagai bidang kehidupan, yang disesuaikan dengan kemajuan zaman dengan tidak meninggalkan prinsip-prinsip Islam. Dalam mengelola program dakwahnya, Muhammadiyah telah berupaya melakukan dakwahnya menuju Islam berkemajuan, namun demikian dari segi fungsi-fungsi manajemen masih belum dilakukan secara professional. Melihat akan adanya fungsi yang masih belum dilakukan secara optimal membuat Imam Syaukani mengangkat permasalahan tersebut dalam sebuah penelitian disertasi. Penelitian yang dilakukan mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang ini mengkaji bagimana konsep Islam berkemajuan menurut Muhammadiyah melalui PDM Surabaya serta manajemen dakwah dalam implementasi gerakan Islam berkemajuan. Dalam disertasinya Imam mengungkapkan Islam berkemajuan menurut PDM Kota Surabaya adalah Islam yang terjaga kemurniannya dan mampu menjadi pedoman hidup bagi umat Islam dalam melakukan pembaharuan disegala bidang serta bermanfaat bagi kehidupan alam. Beberapa indikator yang dituliskan diantaranya yang pertama Islam yang dapat menjadi pedoman dalam menyebarkan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Kedua adalah menjunjung tinggi martabat manusia, tidak diskriminatif, toleran, menjauhi: peperangan, terorisme, kekerasan, penindasan, keterbelakangan, dan segala bentuk pengrusakan di muka bumi. Indikator ketiga mampu menjadi pendorong membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan serta mampu memberdayakan sehingga berdayaguna bagi diri dan lingkungan sosialnya. Indikator berikutnya adalah Islam yang mendorong umat manusia untuk kreatif dan inovatif dalam mengejar kemajuan di segala bidang serta Islam yang umatnya mampu melakukan tajrid, tajdid dan berorganisasi secara professional. Upaya dakwah demi terwujudnya Islam berkemajuan dilakukan melalui pencerahan dan dengan amal perbuatan nyata. Manajemen dakwah dalam penelitian ini merupakan upaya merencanakan, mengorganisasi, mengerahkan, serta mengontrol performansi seseorang atau sekelompok orang dalam dakwah, yakni menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran kepada orang lain sesuai ajaran al qur’an dan Sunnah Rasul menggunakan sumber daya manusia dan sumber daya selebihnya, termasuk sarana-prasarana dan dana dalam kerangka mencapai tujuan dakwah. Dalam perencanaan majelis Dikdasmen, PKU, PS, dan tabligh telah merumuskan tujuan dan rencana mencapai program berupa kebijakan-kebijakan dan metode mencapai tujuan. Sedangkan standar pencapaian tujuan dan kebijakan antisipatif Iman belum Menjumpai hal tersebut. Dalam pengorganisasian majelis-majelis telah mendeskripsikan pekerjaan yang harus dilakukan majelis dan mendistribusikannya kepada seluruh staf majelis. Pengangkatan staf majelis didasarkan atas kemampuan, kesanggupan, dan integritasnya. Sarana prasarana majelis masih memprihatinkan, majelis tidak membuat kontrak kerja dengan seluruh staf majelis, juga tidak memberikan fasilitas personal berupa imbal jasa finansial kepada staf pimpinan kecuali kepada full timer majelis. Dalam pengerahan seluruh pimpinan dan staf majelis melaksanakan program kerja sesuai kewajibannya masing-masing, kendala-kendala diselesaikan pada saat rapat periodik, motivasi kerja diberikan dengan pendekatan religi, komunikasi antara pimpinan dan staf  cukup lancar dilakukan pada saat rapat. Pemberian hadiah dan hukuman berbasis kinerja staf tidak diberlakukan. Imam juga mengungkapkan dalam pengendalian dilakukan juga monitoring dan evaluasi, namun belum dirumuskan standar kinerja secara terukur sehingga menyulitkan mengukur kinerja. Hasil evaluasi dikomunikasikan melalui rapat-rapat dan dengan surat. Berdasarkan hasil evaluasi dilakukan tindak lanjut berupa saran-saran perbaikan. Melalui penelitian ini juga imam menyampaikan saran kepada beberapa pihak terkait seperti Majelis Dikdasmen, Pembina Kesehatan Umum, Pelayanan Sosial dan Tabligh PDM Kota Surabaya agar dalam membuat perencanaan organisasi dakwah untuk mewujudkan Islam berkemajuan hendaknya dirumuskan standar kinerja dan dibuatkan program antisipasi serta dalam pelaksanaan kontrol hendaknya dilakukan evaluasi kinerja menggunakan standar kinerja sebagai rujukannya. Kepada Majelis Tabligh hendaknya diprogramkan dakwah pencerahan melalui TV dan website secara interaktif. Selain itu perlu dilakukan evaluasi kepuasan jamaah masjid-masjid atas dakwah pencerahan oleh mubaligh Majelis Tabligh. Metode dakwah di masjid-masjid hendaknya divariasi dengan model diskusi, baik diskusi biasa jika mubalighnya hanya satu orang maupun diskusi panel, sebab hal ini terbukti dapat meningkatkan partisipasi jamaah dalam pengajian. Kepada Peneliti Selanjutnya Imam agra dapat melakukan penelitian dengan model Participation Action Research (PAR) untuk mengembangkan manajemen modern dalam mengelola dakwah Muhammadoyah di Kota Surabaya untuk mencapai Islam berkemajuan sehingga dalam pengelolaan dakwahnya, PDM Kota Surabaya benar-benar melakukan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengerahan, dan pengendalian secara professional.

Pergeseran Paham Keberagamaan Pengikut Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 di Yogyakarta. Lima Belas  tahun kemudian Muhammadiyah berdiri di Bengkulu tepatnya pada tahun 1928 sebagai organisasi sosial keagamaan. Tujuan organisasi ini adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Situasi dan dinamika sosial dan politik, pada tahun 1928 Muhammadiyah Bengkulu mampu berkembang dengan pesat, dengan bermekaran cabang dan ranting di pusat-pusat pasar dan desa-desa yang ada di Bengkulu. Pada awal-awal berdirinya Muhammadiyah di Bengkulu, tentunya sebagai sebuah organisasi yang berasaskan agama Islam, tujuan yang paling penting adalah untuk menyebarkan ajaran Islam, baik melalui pendidikan maupun kegiatan sosial. Selain itu, tujuan yang lainnya juga untuk meluruskan keyakinan yang menyimpang serta menghapuskan perbuatan yang dianggap sebagai tahayul, bid’ah dan khurafat (TBC). Pada titik inilah Muhammadiyah diterima oleh masyarakat yang beragama sangat “sederhana”, menjadi berkembang. Dalam perjalanannya mengarungi zaman yang selalu berubah yang dipengaruhi oleh modernisasi kehidupan yang masif, dan rasionalisasi masyarakat yang didorong oleh tingkat pendidikan yang tinggi, maka secara empiris dan ideologis gerakan ini bernuansa sekularisasi. Dinamika tersebut  menyebabkan kemunduran gerakan Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting di Bengkulu. Fenomena memudarnya cahaya gerakan Muhammadiyah di tingkat Cabang dan Ranting inilah yang membuat Amrullah Boerman, mahasiswa progam studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang tertarik untuk menjadikannya sebuah penelitian disertasi dengan judul: Pergeseran Paham Keberagamaan Pengikut Muhammadiyah. Penelitian yang bertujuan untuk memahami dan bagaimana warga Muhammadiyah melakukan pilihan tindakan tidak terlibat dalam persyarikatan, serta Memahami perilaku akan paham keberagamaan anggota dan pengurus, setelah tidak aktif lagi di organisasi Muhammadiyah ini dilakukan pada Pengurus serta anggota Cabang dan Ranting Muhammadiyah di Bengkulu. Melalui tujannya tersebut, mahasiswa asal Bengkulu ini memutuskan menggunakan metode fenomenologi karena untuk melihat perilaku, paham dan tindakan warga persyarikatan tentunya dimulai dengan subjek-subjek warga yang mau diteliti. Dari subjek-subjek itulah kita bisa melihat substansi tindakan baik dalam ritual maupun tindakan dalam berorganisasi. “Selain itu ada beberapa kriteria tertentu yang saya terapkan dalam memilih subyek untuk penelitian saya, mereka saya pilih dari tiga objek penelitian di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kepahiang” ujarnya. Dalam disertasinya Amrullah mendapati temuan dimana tindakan sosial warga persyarikatan dalam organisasi sangat variatif. Tindakan sosial pengurus Muhammadiyah di tingkat ranting sebagian besar mempunyai pemahaman rasionalitas nilai pada mereka yang umur 60 tahun ke atas, bagi anggota Muhammadiyah yang masih muda (umur 50 tahun ke bawah) mempunyai tindakan rasionalitas instrumental. Temuan berikutnya adalah pada umumnya baik pengurus maupun anggota Muhammadiyah tidak aktif dalam persyarikatan disebabkan oleh otonomi individu yang rasional sehingga beragama menjadi suatu pilihan bukan suatu kewajiban. Pemahaman ajaran Islam dan misi Muhammadiyah warga persyarikatan yang tidak aktif sangat minimalis dalam ritual, akan tetapi mereka masih mempercayai yang transenden (Tuhan), Serta pergeseran pemahaman warga Muhammadiyah yang secara ideologis dan praksis dulunya sangat “puritan” bergeser pada pemahaman minimalis dalam ritual dan kaya dengan fungsinya sebagai kebutuhan individu otonom terhadap spiritual. Selain termuan dari hasil observasi dan wawancara dari para subyek amrullah juga mendapat temuan proposisi penelitian dimana Reformasi dalam kehidupan beragama berimplikasi terhadap sekularisasi dalam kehidupan masyarakat yang ditandai jika Aktivis organisasi keagamaan yang lahir dalam era baby booming, maka akan memegang pahamisme organisasi secara ketat. Tindakan yang dilakukan akan merepresentasikan ideologi yang dianut. Varian  ini disebut Muhammadiyah Sejati (Musej). Proposisi berikutnya adalah jika Aktivis organisasi keagamaan yang berpendidikan, maka dalam bertindak diwarnai oleh rasionalitas instrumental dan modernitas sehingga lebih bersifat materialis dan terjadi privatisasi dalam beragama. Varian ini disebut Muhammadiyah Sekuler satu (Musek-1), Proposisi berikutnya adalah jika simpatisan organisasi keagamaan yang lahir di era milenial, maka mereka tidak ketat dalam memegang paham/isme organisasi. Tindakan yang dilakukan lebih bersifat fungsional, pragmatis dan ritual minimalis. Varian ini disebut Muhammadiyah Sekuler dua (Musek-2). Melalui penelitiannya ini Amrullah berharap Agar  kiranya ada peneliti lain yang melihat kondisi Cabang dan Ranting Muhammadiyah dengan menggunakan metode, dan lokasi yang lain di Indonesia, untuk memberikan gambaran secara umum kondisi keberagamaan umat Islam pada umumnya dan  pengikut Muhammadiyah di tingkat bawah  pada khususnya. Selain itu kepada  institusi Muhammadiyah di tingkat Pusat ia berharap dari fenomena yang ia temukan ini, agar bisa mengambil langkah-langkah strategis dalam kebijakan pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah. Sehingga bisa diimplementasikan di tingkat Wilayah Muhammadiyah seluruh Indonesia, serta bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah agar kiranya memberikan dorongan untuk penelitian-penelitian serupa di setiap tingkatan pendidikan.